RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
BAB 26


__ADS_3

Setelahnya Cindy tidak langsung menemuiku, entah kenapa, mungkin dia malu atau sungkan, atau bisa juga dia tak ingin bertemu denganku tak apalah yang terpenting air titipan dari kakek sudah sampai di tangan nya pikirku mencoba menenangkan diri sendiri.


Mungkin ada sekitar 15 menit aku menunggu, sedikit berbincang kecil dengan ako yang tengah sibuk memainkan gadgetnya, entah siapa yang sedang berbalas pesan dengannya itu.


Tak lama Ibu Cindy yang tadi berpamitan ke dapur kembali menghampiri kami, duduk di dekat ku lalu mengawali obrolan perihal penyakit Cindy


“Udah tau Cindy sakit apa?” tanya Ibu


“Katanya lambung ya bu” Jawabku


“iya bener, emmh udah tahu ya?”


“denger dari anak-anak aja buk di group WA”


“Ouh gitu, sebenernya bukan lambung aja, si”


“Maksudnya buk?, ada yang lain lagi?” ucapku balik bertanya


“Iya”.


Seketika itu pula raut wajah di mukanya berubah, aku yang sedari tadi di sambut dengan senyuman manis oleh si ibu, kini mulai tertegun dengan ekspresi sedihnya itu, perlahan nada bicaranya pun menjadi bergetar menahan tangis ketika menjelaskan kondisi Cindy, anak sulungnya itu


“Ya ampun ofik ngapain malem-malem”.


Suara Cindy mebuyarkan obrolan kami, dengan tergesa-gesa Ibu nya menyeka air mata yang sudah mulai bergulir di tengah cerita tadi, kini Cindy tepat di depan mataku, dengan bantuan Afiw yang memegangi tubuh lemahnya itu.


“Mamah nangis bukan?” tanya Cindy


“Nggak kok, cuman kelilipan aja tadi”


“Yaudah, kalian ngobrol dulu aja ya, umi mau ke dapur lagi” lanjutnya lalu pergi meninggalkan kami.


“Mamah aku nangis bukan Fik?”


kembali Cindy bertanya karna kurang yakin dengan jawaban ibunya


“Nggak kok, emang beneran kelilipan, tadi ada yang jatuh gitu dari langit-langit”


“Emh gitu yah”


“Iyah gitu Cin, hehe”

__ADS_1


“itu kamu kalo sakit di kamar aja, jangn maksain nemuin aku” sambungku


“iyah nanti kalo kerasa lagi ke kamar”


“kamu malem-malem cuman nganterin ini doang?” tanya Cindy


“emh iyah hehe”


“Ya ampun fik, kenapa gak besok aja, kaya gak ada hari lain lagi kamu mah”


“Emmm …”


Baru saja aku membuka mulutku hendak berbohong dengan berbagai alasan, Afiw di samping nya mulai membuka suara yang membuat mulutku kembali tertutup.


“Ya kan barang kali kalo siang kerja, cari nafkah gitu hehe” ujar afiw


Serasa dapet uang 1 Miliar mendengar jawaban Afiw, senang sekali! setidaknya aku tak perlu panjang lebar berbelit dengan alasanku


“Nah iya gitu Cin, bener tuh afiw”


“Iyadeh iya, emng ya kalian ini”


“Kopi nya minum ko”


“hmm apa? Emh iya iya”


“serius amat dari tadi”


“terus gua ngapain lagi?, yakali gua dengerin kalian ngobrol”


“haha, iyaiyadeh”


“masih lama gak?” tanya Ako kemudian


“bentar lagi kok, sabar dikit, lanjut lagi aja chatingan nya”.


Sementara itu hatiku semakin tak karuan, melihat Cindy yang semakin melemah, dan aku, aku orang yang mengaku paling menyayanginya tidak bisa berbuat banyak, seakan tak tahu apa lagi yang harus kuperbuat. Tak lama afiw mengganggu lamunanku, memberitahu bahwa Cindy harus kembali ke kamar, sakit di perutnya kini kembali terasa, dan dia perlu sedikit beristirahat kembali, tentu aku memperbolehkan itu, tak lama setelah mereka masuk ke kamar kami izin untuk pulang, karna memang sudah malam juga, pukul 10 malam mungkin hanya kurang 10 menit, mengingat jalan yang akan kami lalui cukup menyeramkan jika terlalu malam.


“Kenapa gak nginep aja atuh” timbal Ayah Cindy


“emh iyah pak, lain kali aja”

__ADS_1


“yaudah, makasih ya, udah ngerepotin malem-malem” ujar Ibu nya


“Iyah buk gak papa kok, Ofik seneng di repotin Cindy”


“Yaudah ibu kasih tau Cindy dulu ya”


“Gak usah buk, biarin aja dia istirahat”


“Yusdah kami duluan ya buk, Assalamu’alaikum”


Mungkin ini yang di takutkan Cindy selama ini, karna semenjak malam itu, Aku semakin dekat dan sudah mulai akrab dengan rumah yang tepat berada di samping mesjid itu, ada 4 orang di dalam nya, Cindy, adik perempuan nya Bila, dan tentu ayah serta ibu nya, sebetulnya ada satu lagi laki-laki, adik nya yang paling tua, namun ia sekarang sedang berada di pondok yang sama dengan pondok kami dulu, namanya Bashit, aku pernah bertemu sekali dengannya, waktu itu kalo tidak salah aku sedang mengantar aziz yang hendak mengambil barangnya, kebetulan bashit ini lewat dan Aziz langsung memberitahuku bahwa dia ini adik Cindy, yasudah ku isengi saja, pura-pura minta foto selfie, padahal itu pendekatan agar nanti tak lagi canggung jika suatu saat aku ke rumah nya. Tapi bashit ini sama seperti Cindy kakak nya, ia sangat jarang pulang ke rumah dalam situasi apapun, aku sudah tahu pasti dia di ancam Cindy hihi, sebab itu beberapa kali pun aku kerumah nya, belum pernah lagi ku jumpai bashit ini disana.


Megamendung itu menurutku tempat yang sangat nyaman, Sejuk, baik itu dari tempat yang cukup tinggi ataupun dari masyarakatnya, mungkin benar aku belum tahu pasti menganai wilayah ini, tapi rasanya beberapa kali saja kesana, kesan nyaman itu seakan sudah melekat pada diriku, bisa di bilang megamendung ini cocok untuk orang-orang lamban seperti ku, ya! Yang hobinya selonjoran di sofa sambil mainin gadget hehe.


Tak aneh jika hari ini aku merindukan megamendung beserta salah satu rumah yang ada di sana, yang di samping mesjid itu! iyaiya kalian benar, aku tidak rindu rumahnya, aku rindu salah satu penghuni disana, sudah beberapa minggu ini aku tidak kesana karna kesibukanku, banyak sekali yang harus kukerjakan disini, itulah untuk sesaat, sebisaku untuk terus mengatur waktu.


Layar handphoneku menyala ketika menerima notifikasi pesan dari Sulis, ada apa pikirku? Pagi-pagi seperti ini tak biasanya dia mengirim pesan? Kulihat arloji di atas lemari baru menunjukan pukul 05:15, walaupun saat itu aku sedang tidak tidur karna baru selesai sholat, tetap saja aku kaget jika ada orang yang jarang mengirim pesan namun hari ini mengirim pesan, bahkan kurasa pesan dari sulis ini lebih cepat dari pada matahari yg belum terbit.


“Pik?”


“Iya lis ada apa, tumben pagi-pagi?”


“Cindy drop lagi, tadi aku baru pulang nginep di rumahnya”


“Kok bisa?, kenapa kamu tinggal kalo tau dia drop?”


“Bukan nya mau ninggalin, tapi Aku kan ada tugas kuliah hari ini, makannya aku chat kamu, kali aja kamu bisa kesana temenin dia, udah lama juga kan kamu gak kesana?”.


Ya! Sulis benar aku tak bisa memaksa seseorang untuk ikut dengan apa yang kumau, mereka punya kehidupan nya masing-masing, begitu pun sulis yang tengah bergulat dengan mata kuliah nya, aku tak bisa egois!


“Ouh gitu, yaudah lis nanti siang aku kesana,”


“Iyah fik maaf yah!”


“Enggak kok lis, kamu gak salah, kamu kan juga harus beresin kuliah kamu, oiya lis ada group anak-anak SMK?


Kalian ingat aku hanya setengah semester SMK disana, jadi aku tak masuk kedalam group SMK, aku hanya punya group MTS, sedangkan Cindy masuk sekolah saat SMK, sudah pasti ia tak akan mengenal semuanya.


“Enggak lis, boleh minta tolong gak?, tolong chat anak-anak, kita jenguk Cindy siang ini” pintaku


“Ouh iya, iya nanti aku kabarin mereka”

__ADS_1


__ADS_2