RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
Bab 10


__ADS_3

Kami semakin dekat sejak itu, dia semakin terbuka mengenai beberapa hal, terutama, cerita semua tentang keluarganya, begitu pun aku yang berasal dari keluarga sederhana, setiap pulang sekolah Cindy selalu memberiku sebuah kertas dengan bertuliskan “You are the greatest boy” yang dalam bahasa indonesia berarti “ Kamu adalah lelalaki terhebat” Siapa yang akan lupa dengan hal tersebut, Kecil namun begitu bermakna, karna memang hal seperti ini juga adalah hal yang baru bagiku, setelah dekat dengannya, aku merasa dihargai, disayangi, aku merasa aku adalah seseorang yang juga patut diperjuangkan. Memang benar! Cindy bukan wanita pertama yang kusuka, tapi dengannya aku merasakan hal ajaib untuk pertama kalinya, aku merasa hidup untuk pertama kalinya, aku merasa baik untuk pertama kalinya.


Hari –hari berikutnya , Keraguanku sedikit demi sedikit menghilang, aku menjadi semakin yakin akan rasaku, dan aku harus berkata yang sejujurnya, bahwa aku sayang padanya, aku sudah memikirkan matang-matang, dan tak peduli dengan jawabannya nanti, yang terpenting dalam benakku saat itu aku sudah mencoba, Setidaknya aku bisa menghilangkan rasa penasaran ini.


Di ruang perpustakaan, pagi itu, aku akan mengatakan semua kepadanya, tentang apa saja yang memang semestinya kukatakan, kebetulan disana sedang banyak orang, jadi aku meminta tolong pada Nova untuk mengajak Cindy keluar menemuiku, tapi kata Nova, Cindy tak mau. Dasar


“Si opik kan yang butuh, kenapa harus aku yang nyamperin” Begitu katanya,


“ Yaudah nov aku kesana sebentar lagi, tungguin, bilang ke dia jangan kemana-mana,” ujarku kembali meminta tolong pada Nova, “yaudah oke" balas nova.


Aku mulai mempersiapkan mental, dan kata-kata yang nantinya akan kukatakan, aku tak mau terlihat gugup di depannya, "cin mau gak kamu jadi pacarku” Ahh sepertinya terlalu To The Point "Cin aku sayang sama kamu, kamu juga sayang kan sama aku?" Kalo seperti itu aku seperti terlalu yakin kalo dia juga suka padaku, aku terus saja bertengkar dengan diriku sendiri, hingga pada akhirnya aku pasrah, terserah mau seperti apa nantinya, biarkan mengalir saja pikirku, aku hanya tinggal mengikuti kata hatiku saja.


Aku mulai berani menghampirinya, tak perduli dengan orang-orang disana, lagi pula mereka sedang sibuk membaca buku, takkan fokus juga dengan pembicaraanku.


“Cin, aku mau ngomong sesuatu” ujarku.


Dia mulai mendekat


“ Mau ngomong apa pik, biasanya juga gak gini.” Baru satu kalimat aku berbicara dengan nya, keringat didahiku sudah mulai bercucuran, padahal cuaca waktu itu tidak panas. “Kok keringetan si, biasa aja kali pik” dengan santai dia berbicara seperti itu, mungkin dia tak merasakan hal yang sama, apa dia tak ada kecurigaan bahwa aku akan mengungkapkan perasaan kepadanya? Entahlah.


Walaupun terbata-bata perlahan mulai kukatakan semua padanya, “Gini cin, aku mau minta maaf, karna waktu awal kenal kamu, aku sempet gasuka sama kamu, apalagi waktu kita beli cendol bareng, inget kan?” Dia hanya mengangguk saja, “Tapi setelah aku kenal dan deket sama kamu, aku gak bisa lagi bohong soal persasaanku, sejujurnya aku mau bilang ini di hari-hari sebelumnya, tapi waktu itu aku belum siap cin, aku baru bisa jujur sekarang,” lanjutku padanya” Ouh jadi kamu cuman mau bilang gitu? Bilang gak suka sama aku?” Balasnya padaku

__ADS_1


“Bukan cin, bukan gitu maksudku, justru aku mau bilang, kalo aku sayang sama kamu cin, aku mau kita lebih dari temen, ngerti kan?”


“Maksudnya pik?"


“ Ia cin, aku mau kamu jadi pacarku, kamu juga suka kan sama aku?” Dia mulai menelan ludah dalam-dalam mendengar perkataanku tadi, sementara suasana disana tetap riuh dengan anak-anak yang sedang membaca, di tengah keramaian itu dia menjawab pertanyaanku tadi,


“Hmm, sebelumnya aku makasih sama kamu, karna kamu udah mau jujur soal perasaanmu itu sama aku, jujur pik, aku juga mulai suka sama kamu, aku nyaman kalo sama kamu”


Mendengar itu aku mulai sedikit tenang dan bisa tersenyum , lalu dia melanjutkan kembali perkataannya


“tapi aku belum bisa nerima kamu, soalnya di rumah, aku masih ada pacar, aku mau jaga hubunganku dulu sama dia, ya walaupun kita jauhan, tapi aku yakin kok, kalo dia juga sama sepertiku,” sambungnya.


Aku hanya bisa diam dan sesekali menyeka keringat yang terus mengalir,


“ Hmm jadi gitu ya cin, jadi kamu gak bisa ya?” Tanyaku lagi padanya, dengan tangan yang mengisyaratkan meminta maaf dia tersenyum dan menjawab,


“ Iya pik, maaf ya, kita masih bisa temenan kok, jangan sampe gara-gara ini kamu mulai ngejauh sama aku, aku gak mau gitu, kita harus belajar dewasa, kamu paham kan, maksudku?” Aku hanya tertunduk dan menahan malu,


"Ia Cin , aku ngerti kok, aku juga minta maaf, aku gak tau kalo kamu udah ada pacar, harusnya aku tanya dulu sama kamu, harusnya aku jaga sikap, mungkin juga aku terlalu cepet bilang kek gini sama kamu, tapi setidaknya sekarang aku lega aku bisa ngomong semuanya sama kamu, ya walaupun jawabannya gak sesuai harapanku, nggak kok cin, aku gak kan ngejauh dari kamu" lanjutku padanya,


“Nggak kok pik, kamu gak salah suka sama aku, itu hak kamu, tapi aku juga berhak kan suka sama dia pik? Aku paham persaanmu, justru kamu sangat benar dengan jujur langsung kayak gini, kita kan jadi bisa saling tau, iya gak? Pokonya aku janji kamu akan jadi temen terbaikku mulai saat ini" dia kembali seolah menenangkanku, dia tau aku pasti kecewa, tapi dia dengan kedewasaanya mencoba menjelaskan dengan tenang kepadaku.

__ADS_1


Dan ternyata, semua temanku yang ada di sana tidak hanya sibuk membaca, rupanya telinga mereka mendengar semua pembicaraan kami, dengan muka merah mereka mencoba menahan tawa, dan aku juga manusia, siapa yang tak akan malu jika berada di posisiku saat itu, aku hanya bisa terus tertunduk, dan perlahan meninggalkan mereka dengan sedikit mendorong Nova yang saat itu berdiri di pintu keluar, “ Eehh kenapa pik, kok gitu si, udah ngomongnya, ngomong apa emang?” Aku terus berjalan dengan cepat dan tak menjawab pertanyaan Nova tadi, “ Laah ko aneh si, biasanya kan gak gitu tuh orang” Lanjut nova keheranan dengan sikapku.


Hari-hari berikutnya aku sedikit menjauh dari cindy, mungkin sekitar beberapa hari aku tidak menyapa, bukan karna kecewa saja, tapi aku juga harus tahu, dia pacar orang, dan jujur saja, aku juga malu jika harus duluan menyapanya.


Aku yang periang terlalu bodoh untuk menyembunyikan kesedihan, Aziz tau mengapa aku seperti itu, karna sebelum aku bilang semunya pada Cindy, aku sempat memberi tahu Aziz, tapi aku tak mau memberitahunya kalo aku di tolak, Malu lah aku, tapi sepertinya dia juga tau.


“ Udah pik, gak usah terlalu di pikirin” Dengan menepuk bahuku aziz memulai pembicaraan.


Mendengar kata –kata aziz tadi, bukannya semangat aku malah tambah sedih, dari kejauhan Jabar melihat kami sedang mengobrol dan dia mendekat lalu bergabung,


“Kenapa pik, kok kayak yang sedih gitu, udah dari kemaren aku liat kamu kayak yang banyak masalah,” Karna aku tak menjawabnya, dia pun bertanya pada Aziz, dan Aziz mengatakan semua padanya, “ouh gitu" ujar Zabar lagi


"kan kamu yang nyemangatin aku pik waktu aku ditolak sama Lasmini, Katamu kan kalo Thomas Alva Edison aja butuh seribu kali percobaan, aku saja yang mendengar nasehatmu waktu itu sudah mulai paham, dan alhasil, aku biasa aja tuh sekarang, gak ada sedih-sedih lagi.


Karna Aziz tak tahu kalo Jabar sempat di tolak juga oleh lasmini, dia tertawa kencang mendengar itu, sambil mengoceh,


"Ya ampuun bar, lu juga di tolak bukan,? Kesian amat sih kalian, makannya kaya gua, gak cinta-cintaan, happy terus,” dengan nada kesal Jabar menjawab Aziz.


"Hah belum aja lu ziz, Yang penting gua kan normal suka sama cewek, gak kaya lu ngobrol tuh sama cowok mulu, hahaha" Balas zabar.


“Apa lu bilang." Mereka bertengkar dengan sedikiti candaan, dan akhirnya kejar-kejaran kaya anak TK, Bukannya nambah tenang malah nambah strees aku di kelas.

__ADS_1


__ADS_2