RAYUAN ASMARA(Based On True Story)

RAYUAN ASMARA(Based On True Story)
BAB 25


__ADS_3

SEMAKIN BURUK


Aku sudah sangat ahli memperhatikan nya dari jauh, jika saja ada penghargaan, mungkin aku yang paling hebat dalam hal ini, aku tau persis bagaimana kondisinya dari hari ke hari.


Kabar buruk!


Ia tak kunjung membaik dan justru malah sebaliknya, aku sempat berpikir jika pengobatan medis tak jua menemui titik terang, apa salahnya dengan pengobatan alternatif, ini Indonesia, toh kakek ku juga cukup paham tentang hal seperti ini, ya memang, aku berasal dari keluarga yang cukup kental dengan hal-hal semacam ini, sudah sejak kecil aku diperkenalkan dengan hal macam ini, ditambah banyak juga tamu yang datang berkunjung pada kakek, jadi aku sudah sangat paham.


Aku juga sesekali bisa merasakan kehadiran sesuatu yang mungkin bagi kalian dirasa aneh.


Malamnya di rumah, aku akan menceritakan kejanggalan lain saat pertama kali melihatnya lagi di malam itu pada kakek, ya! dari yang ku lihat, ada seperti bayangan hitam yang seakan memeluk tubuh mungil nya, tak mungkin jika aku menceritakan langsung padanya saat itu, setelah bertemu kakek saat mulutku sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu, dengan cepat kubatalkan karna kulihat kakek juga hendak menyampaikan sesuatu


“Sok geura anteurken ieu cai ka rencangan nu te damang tea” (cepet anterin air ini ke temen yang lagi sakit itu), kaget bukan main, “bagaimana bisa kakek tau, padahal sebelumnya aku belum menceritakan apa-apa) walau pun aku sudah sering melihat kakek mengobati orang, tapi baru kali ini aku membicarakan hal seperti ini


langsung dengannya.


“Namina Cindy nya? lahirna dinten jum’at” sambung kakek dengan sebotol air yang masih ia genggam.


Dan malam itu hanya deheman kecil yang keluar dari mulutku saat menjawab beberapa pertanyaan yang kakek ajukan.


Sebagai catatan kembali Aku tidak memaksa kalian percaya akan hal seperti ini, persepsi dan pandangan orang berbeda, aku sangat paham dan menghargai hal itu, namun kalian juga harus bisa menghargai pendapatku.


Tanpa ba-bi-bu dan pikir panjang malam itu juga aku langsung ke rumahnya, karna memang di rumah ku tak ada kendaran yang bisa ku pakai, maka dengan terpaksa aku harus kembali menganggu temanku, kali ini Ako yang ku ganggu, temanku yang kebetulan sudah pulang dari pekerjaannya


“kemana?” tanya Ako


“megamendung, udah ayo! Takut keburu malem”


Helm yang sudah setengah masuk di kepala ako kembali terlepas lalu ia berikan padaku


“tiris, kamu yang bawa, apalagi daerah puncak hiih gak tahan!”


Tanpa kujawab segera kupakai helm bogo itu lalu bergegas tancap gas.


Di tengah perjalanan sesekali kami berbincang kecil, jalanan masih cukup ramai namun lancar tanpa hambatan, kami berdua menerobos hawa dingin tanpa mengenakan jaket, aku hanya memakai sarung peci dan koko putih tipis lengan panjang, kontras dengan Ako yang mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jeans dengan robekan dibagian lutut


“Emang mau ngapain fik ke megamendung?” ujar Ako di sela perjalanan


“Mau jenguk temen seklian nganterin air dari kakek”


“ouh gitu”


"Aduuh" kami bebarengan berteriak ketika aku tak sengaja melewati jalanan berlubang disana


“Lu gak bawa apa-apa kesana? Buah tangan gitu?”


“Yah gua lupa!”


“kira-kira beli apa ya?” tanyaku kemudian


“beli apa malem gini, mau beli buah jauh lagi kalo harus puter ke pasar”


“heem”


“roti aja atuh sama susu” lanjut ako


“nah bener, yaudah kalo ada indomaret atau alfamart kita berhenti dulu”


Motor yang kupacu begitu cepat melawan angin malam di jalan raya puncak seketika melambat ketika dari jauh terlihat indomaret yang sepertinya masih buka, karna tampak begitu terang diantara kios kecil yang mulai menutup dagangan nya dengan terpal


“tunggu bentar ko”


Dengan helm yang masih terikat di kepala, aku bergegas masuk kesana, hawa dingin di jalan di tambah ac di dalam ruangan membuat tubuhku semakin menggigil tak karuan, seperti ibu-ibu! Dengan cekatan aku mengambil dua bungkus besar roti tawar serta sekaleng susu coklat dan messes seres warna warni, butuh 10 menit untuk membayar saja karna antrean cukup panjang, setelah selesai kami segera melanjutkan perjalanan

__ADS_1


“Banyak amat fik”


“gak papa biar dia cepet sembuh”


“pegangan” ujarku kemudian ketika semakin menambah kecepatan.


Kali ini tak memakan waktu lama seperti dulu saat aku pertama kali ke rumah nya, jika dulu aku menghabiskan waktu 3 jam, sekarang hanya satu jam kurang, aku maksudnya kami sudah berada di samping rumah Cindy, perasaan senang dan gugup itu kembali datang tiba-tiba, senang bisa bertemu dengannya lagi, gugup karna mungkin sekarang aku akan bertemu dengan orang tua nya pula.


“Di jalan aja cepet-cepetan sama angin lu bawa motor, eh pas udah sampe malah kayak bocah sawan” tungkas ako dengan nada ejekannya itu


“Lu mah gak ngerasain ko”


“Udah lah cepet, dingin gua!”


“Bentar-bentar, gua udah rapih kan?”


“Astagfirullah, udah udah, lama lu, apa mau gua yang masuk duluan?”


“Yah jangan lah, ini kan acara gua”


Kami berhenti tepat di sebelah jendela kamar cindy, sepertinya ada teman nya juga di dalam, karna samar-samar terdengan suara orang mengobrol.


Demi apapun perasaan gugup ini sangat dahsyat, lebih gugup dari waktu aku mengungkapkan Cindy dulu, kini kami sudah berada tepat di depan pintu rumah nya, dengan tangan gemetar aku memberanikan diri mengetuk pintu, sebetulnya bukan memberanikan diri, hanya saja Ako sedari tadi terus mendesak ku.


“Assalamu’alaikum” ucapku kemudian.


Karna masih belum ada jawaban, ku ulang sekali lagi


“Assalamu’alikum”


kali ini aku mengetuk dengan agak keras agar ada yang mendengar dari dalam, benar saja! tak lama setelahnya pintu terbuka dibarengi dengan seorang ibu yang muncul dibalik pintu.


“Wah, ini pasti ibu nya”


Kalian pikir saja, bagaimana bisa aku tak gugup setelah mendengar banyak cerita tentang si ibu dari cerita Cindy sendiri, dan jujur saat itu aku sudah sangat siap jika ternyata ibu nya tak menyenangkan.


“Emhh ibu” ucapku sembari tersenyum.


Terlihat pula si ibu membalas senyumanku,


Ini kali pertama aku bertemu dan mencium tangan ibu nya, senang sekali rasanya walau masih gugup.


“Cari siapa ya?” tanya nya kemudian


“Emhh Cindy nya ada, buk?”


“Ouh Cindy, ada kok! Yasudah masuk dulu masuk, dingin!”


Memang benar, cuaca saat itu sangat dingin, seolah indonesia punya musim salju dadakan hehe, tanpa berlama-lama kami segera masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu yang masih setengah terbuka, bukan apa-apa! takutnya angin ikut masuk dan mendengar obrolanku nantinya hehe.


Dan satu lagi, aku salah tentang pemikiranku selama ini tentang Ibu nya, ku kira sifatnya ketus dan tak welcome seperti ini, eh ternyata malah sebaliknya, gaya bicaranya persis seperti Cindy, cempreng bawel gimana gituh! sebelas dua belas deh kayak emak ku di rumah, di dalam si ibu tidak sendiri di ruang tengah, di ujung ruangan ada lelalaki yang tengah duduk santai menikmati secangkir kopi yang sepertinya sudah agak dingin.


“Pak! Ini temen nya Cindy”


Aku yakin bahwa itu Ayahnya, terlihat dari cara si ibu memanggil, gawat! Ku kira ayah nya tak ada di rumah, aku hanya mempersiapkan mental untuk bertemu ibu nya tidak dengan Ayah nya, baru saja sedikit tenang karna si ibu ternyata baik, eh jadi gugup lagi deh, huft.


“Eh ada temen Cindy ya, main?”


“Lah kok? kok bisa?” aku bertanya pada diriku sendiri. Ternyata Ayah nya juga baik, padahal aku sudah membayangkan wajah galak seorang Ayah ketika ada teman pria anak nya datang kerumah, seperti di film-film itu loh!


“Hee, iyah pak”


“Kok malem-malem si”

__ADS_1


“Emh enggak pak, sebenernya ada yang mau dikasih”


“Kasih apa? Buat bapak?”


“Bukan pak, hehe”


“iyah-iyah tau, pasti buat Cindy ya, bapak becanda kok”.


Aku tak menghiraukan ucapan terakhir Ayah nya itu, karna tengah sibuk mencari air dan roti yang tadi ku beli.


“Ko, air sama roti dimana?” tanyaku pelan


“Lah emang gak dibawa di luar?” jawab Ako lebih pelan


“Lah kirain udah di dalem”


“Di dalem gimana, emang roti punya kaki bisa jalan sendiri”


“Ya kan gak tau”


“Ada apa? Ko bisik-bisik gitu, bapak jadi gak enak nih” tungkas Ayah Cindy memotong pembicaraan kami


“Emhh enggak kok pak hehe” jawabku sembari berdiri untuk mengambil roti dan air yang tertinggal di luar


“Permisi ke luar dulu ya pak, ada yang ketinggalan” sambungku


Kasihan sekali roti sama air ini, jika mereka punya mulut mereka mungkin akan mengguncingku yang tega meninggalkan mereka kedinginan di luar, sebelum kubawa masuk ke dalam, sedikit ku lap kresek yang sudah berembun akibat suhu dingin.


“Waduh bawa apa itu?” Ucap Ayah Cindy ketika melihatku menenteng sesuatu di balik pintu.


Karna sudah terlanjur di tanya, sebelum sampai di kursi aku langsung memberikan makanan ini


“Hehe, enggak pak, tadi sekalian lewat aja beli roti dulu”


“Ya ampun repot-repot”


“Nggak kok pak, oiya ada air dari kakek juga di dalam”


“Air? Dari kakek?” tanya Ayah Cindy dengan raut wajah bingung


“Iyah pak, sebenernya kami kesini malem-malem ganggu bapak sekeluarga cuman buat kasih air ini dari kakek”


“Maksudnya air buat apa?” tanya nya lagi dengan ekspresi yang masih sama


“Apa mungkin ayah nya tak paham hal seperti ini?” gumamku dalam hati


“Iyah pak, jadi kakek tuh tahu kalo Cindy lagi sakit, terus tadi aku suruh anter air ini, katanya minum terus olesin ke area tubuh yang sering sakit, mungkin bapak masih belum faham, tapi usahakan bisa dari mana saja, yang penting hati kita tetep yakin yang nyembuhin itu Allah” jelasku sebisanya


“Ouh gitu!, yaudah bilangin makasih yah sama kakek nya”


Aku mengangguk.


“Yaudah bentar Bapak panggil Ncin nya dulu ya, mau ketemu kan?”


“Boleh pak hehe”


“Sekalian bapak bawa aja ya ini” ucap nya kemudian mengambil roti dan air


“Iyah pak”


Kemudian ayah nya pergi, menghilang dibalik tembok ruang tengah, sedikit terdengar pula suara si Ayah memanggil Cindy, mungkin supaya cepat menemuiku.


“Kalian santai dulu saja ya di sana, Bapak mau nonton ceramah dulu di TV” ujar Ayah cindy.

__ADS_1


Kami yang sedang duduk santai serentak menjawab “Iya pak”.


__ADS_2