
Berbagai sorakan dan teriakan teriakan bergema dari segala penjuru.
Terik matahari yang sangat panas menyinari arena yang sangat besar berbentuk lingkaran.
Orang orang rela kepanasan menunggu hal yang di inginkan mereka.
Jantung berdegup kencang dan ingin keluar ketika mendengar sorakan semakin kencang.
Mereka semua berkumpul tetapi menyisakan jarak yang cukup jauh dan melihat cahaya luar.
Semua orang yang ikut bertanding sudah bersiap dari awal.
Bahkan ada orang yang tersenyum tetapi badan nya bergetar hebat.
Ada yang melirik lirik lawan seperti akan hal nya dengan hewan buas melihat mangsa nya.
Mega datang dengan napas yang tergesa gesa semua mata melihat nya Mega yang merasakan tatapan itu hanya tertawa pelan.
Orang orang mulai bermain dengan pikiran nya ketika melihat Mega
Dengan badan yang kecil, mata tertutup tentu saja mereka menggap Mega mempermainkan mereka.
Orang orang mulai berteriak dengan kuat agar pertandingan cepat di laksana kan.
Mega nomor 2 dia harus menunggu dan menyaksikan pertandingan pertama.
Selesai juri membacakan sesuata, teriakan semakin hebat tak lama kedua laki laki keluar dari ruangan dan menuju ring.
__ADS_1
"Katon melawan arang api " teriakan wasit yang bergema dengan kekuatan nya ia dapat mengeraskan suara nya.
Di lain sisi arang api merasa kesal ketika julukan nya di panggil bukan karena julukan yang jelek tapi julukan itu menghina nya.
Kerena badan yang hitam dan api nya menyelimuti badan nya sama akan hal dengan arang terbakar.
Katon adalah laki laki berbadan besar dan berotot wajah nya yang sangar cukup menakuti orang tapi tidak dengan arang hitam atau Okto .
Pedang yang yang cukup besar menempel di punggung yang tanpa baju sedikit pun.
Tatapan nya seakan akan meremehkan Okto bahkan dia membuang ludah nya ke lantai semen.
Okto hanya diam tetapi badan nya sudah di selimuti oleh emosi tingkat tinggi.
Api nya kecil menjadi besar seakan akan ingin melahap orang.
ada yang memanggil nama Katon dan ada yang memanggil nama Okto dengan segenap kemampuan nya ia berteriak agar di dengar oleh mereka.
Pedang yang bersinar terang dan memancarkan cahaya matahari putih nya seakan akan tidak pernah di selimuti oleh darah.
Pedang yang besar lebih besar dari badan Okto dan menempelkan nya ke lantai.
Seketika pedang nya menembus lantai semen itu bukan kerena di tekan melainkan karena berat nya.
Okto hanya menatap nya denga tatapan tidak suka okto menyulurkan telapak tangan nya.
Api yang membara tiba tiba terhisap dan membentuk pedang di tangan nya tetapi tidak mengurangi kobaran api nya.
__ADS_1
Penonton semakin semangat sorakan yang riuh memecah keheningan.
Juri yang dari tadi menyaksikan kelakuan mereka mulai berdehem dan menyadar kan mereka.
Wasit menunjuk mereka satu persatu yang mengatakan apa mereka siap.
"Mulai ! " Teriak wasit.
Katon yang dari tadi menungu nunggu teriakan wasit bergerak cepat dia mengayun ngayunkan pedang besar nya ke Okto.
Orang orang tidak dapat mengikuti alur pedang katon berbeda dengan Okto ayunan pedang itu sangat lambat bagi nya.
Setiap ayunan menghasilkan energi cukup besar sehingga menghancurkan lantai semen menjadi bongkahan batu batuan.
Katon tertawa kecil dengan lagak sombong nya senyuman mulai melebar dengan sekuat tenaga nya ia mempercapat dan memperkuat ayunan nya.
Sehingga Okto lebih waspada dia tidak menyerang karena tidak melihat celah.
Dibalik keperibadin Okto sebenar nya dia adalah orang yang telaten dan tidak tergesa gesa berbeda dengan Katon.
Daya hancur nya semakin lama semakin besar bahkan Okto mulai ke walahan menghadapi nya.
Penonton yang ribut setiap saat menjadi diam.
"Ada apa kau tidak melawan jika kau mau menyerah akan ku izin kan tapi harus di bayar oleh nyawa mu " tawa licik pria besar itu jelas terlihat.
Dia sudah merasa menang kerana Okto tidak melawan dan hanya fokus dengan menghindar.
__ADS_1
"Haha tapi maaf ya kau sudah terkena jebakan ku " seketika langkah Katon terhenti pedang nya menjadi hancur berkeping keping dia melihat sekeliling dan menemukan lingkaran besar berwarna merah seperti api.