
"Haha tapi maaf ya kau sudah terkena jebakan ku " seketika langkah Katon terhenti pedang nya menjadi hancur berkeping keping dia melihat sekeliling dan menemukan lingkaran besar berwarna merah seperti api.
"Sejak kapan " wajah pria besar itu menjadi pucat, keringat bercucuran tak henti henti sesekali ia menelan ludah nya sendiri.
Kaki dan tangan nya gemetar hebat Okto dapat melihat itu, dan tertawa kecil.
Ada rasa senang ketika dia berhasil membungkam mulut Katon yang sombong itu,
Katon berusaha keluar dari lingkaran itu tapi kaki nya seperti di tahan dan dinding sebagai penghalang nya.
Walaupun dia bebes tidak mungkin dia bisa bertarung dengan pedang yang sudah hancur berkeping keping.
Pilihan yang tepat adalah berlutut meminta pengampunan layak nya seorang budak melakukan kesalahan dan menantikan hukuman nya.
Dia melakukan nya, dia berlutut senyuman sombong nya menjadi pudar seketika.
Wajah yang ganas menjadi wajah orang tak bersalah meminta pengampunan ,di bangku penonton orang orang menertawai nya, ada juga yang teriak memaksa agar Okto membunuh nya secepat mungkin.
Tapi pikiran Okto bukan lah seperti itu melainkan mempermainkan jika di bunuh kesenangan nya akan lenyap.
Tawa lebar nya jelas terlihat dia menatap Katon dengan Jijik.
Dia mengeluarkan pedang api nya dan mengarahkan nya ke Katon.
Ada yang mengatakan setiap daging harus di potong dulu baru di bakar.
Wajah Katon menjadi pucat ketika melihat Pedang api tepat di depan nya ,jantung berdegup sangat kencang seakan akan ingin menembus keluar.
__ADS_1
Okto meletakan ujung pedang nya tepat di dada laki laki itu.
dia menekan nya dan secara perlahan ujung pedang itu masuk ke dalam tubuh nya walaupun tidak cukup dalam.
Katon berteriak ke sakitan jika tidak di ampuni bunuhlah secepat nya lebih baik dari pada di siksa dan mati.
Okto menyalurkan api nya ke pedang nya.
Sehingga api yang membara tadi masuk melalui lobang tusukan dan membakar organ organ Katon.
Mata nya melebar dia hanya menjambak rambut nya .
Darah mulai merembes dari mulut nya dan hidung nya.
Tidak puas Okto memberi lebih banyak api nya sehingga darah merah mengalir dari kuping dan mata nya.
Anak anak yang melihat kejadian ini menangis dengan keras dan di tenangkan oleh ibu nya.
Bukan kah itu sudah cukup...
Sangat kejam. ...
Apa dia tidak pernah mengampuni orang..
Penonton yang mendukung Okto hanya diam dan tidak ingin mendukung nya lagi, mereka berharap pertandingan ini selesai secepat nya dan yang paling berharap adalah Katon.
Okto menarik pedang nya sehingga lobang bekas tusukan tadi mengeluarkan asap,
__ADS_1
Sesuana menjadi sunyi, hingga bauk gosong merembes dan memasuki hidung orang orang.
Tidak dapat menahan nya akhir nya mereka muntah, Mega juga termasuk.
Katon hanya berlutut dan terdiam mematung, mata nya terbuka lebar darah tidak berhenti henti bercucuran dari mana saja tapi tidak dari tubuh nya mungkin darah nya sudah kering dan menjadi uap .
Mulut bergerak secara perlahan berbeda dengan yang tadi menguci dan meremehkan.
"Bunuh aku " pelan tapi dapat di dengar oleh Okto ,berulang kali di ucapkan nya.
Okto tertawa kecil,
"Aku sengaja tidak mengincar jantung mu "
Laki laki berbadan besar itu hanya diam dan menundukan kepala nya merasa menyesal akan kesombongan nya.
Walaupun Okto tidak ingin membunuh nya tetap saja nyawa nya tidak akan tertolong hanya saja Okto ingin melihat penderitaan orang lebih jelas .
Terik matahari memancarkan cahaya panas, orang orang mulai menjadi emosi melihat perlakuan Okto, juri tidak menghentikan nya jika saja ini tidak pertarungan mati maka audah jelas Juri akan menghentikan nya.
"Baiklah akan ku bunuh kau ,tenanglah di neraka aku yakin api ini akan kalah jika di bandingkan dengan api neraka."
Okto mengibaskan tangan nya sehingga lingkaran merah tadi nenjadi api besar dan tinggi.
Orang orang merasakan kepanasan nya dari jauh ,apa lagi Katon mungkin tidak butuh lama agar tubuh nya menjadi abu.
Katon yang berbadan besar lenyap seketika tidak meninggalkan bekas jika seandai nya orang terbakar pasti menyisakan abu tapi ,api Okto sudah membakar abu nya.
__ADS_1