
# bab 39
Aroma yang menyengat memenuhi kerajaan.
Mayat Mayat bergeletakan, badan yang terpisah, anggota tubuh yang terpisah.
Hari ini pembantaian besar besaran terjadi
Kerajaan terbesar di kerajaan Yan di bantai oleh anggota pasukan hitam, gereja hitam.
Karena tidak memiliki. Persiapan, tidak menyangka akan terjadi seperti ini, sehingga kerajaan ini sangat mudah menyerang nya, seandai nya mereka menyadari kehadiran gereja hitam mungkin saja ini tidak akan terjadi.
Prajurit yang berkumpul banyak berusaha melindungi kerajaan di belakang nya.
Melawan musuh yang tak kalah banyak Gereja hitam membunuh dengan keji tanpa belas kasih ,satu persatu prajurit gugur membuat pertahanan goyah namun walau prajurit itu tau hidup mereka akan sampai di sini, mereka tetap menjalan kan tugas berkewajiban melindungi kerajaan.
Di dalam kerajaan, raja beserta dengan putra nya berkumpul cemas, putra yang ketakutan tetapi sang ayah tak mampu menghibur putra nya.
"Raja !"
teriak seseorang berlari kencang dan berlutut, wajah nya penuh darah, di balik darah itu kepucatan menanti nya.
"Ada apa ?" Raja semakin takut, saat melihat laki laki di depan nya, berjubah hitam tetapi tidak memakai cadar. Memperlihatkan wajah nya, yang garang dan menakutkan.
Srek.....
Satu tombakan mendarat ke tubuh prajurit saat prajurit itu tidak menyadari ke hadiran nya.
Salah satu putra nya teriak, tetapi Raja tidak mengingat satu hal yaitu putri nya Elisabeth dan pangeran Alexsander beserta Lisa calon menantu nya, di mana pun mereka sekarang tidak di ketahui oleh raja sendiri.
__ADS_1
Laki laki itu tersenyum keji, ia melangkah kan kaki melangkahi mayat prajurit tadi.
Memain kan tombak nya, menanti hal yang baru.
"Aku akan dapat hadiah besar jika membunuh mu " ucap pria itu dan memfokus kan tatapan nya ke raja.
Raja langsung berdiri di depan melindungi putra nya.
"Apa, kau mau melindungi nya, tetapi kau sadar itu sangat menakutkan, kan?"suara yang pelan namun penuh nafsu pembunuh.
Laki laki ini semakin mendekat dan kemudian mengayun kan tombak nya, tetapi suatu panah melesat cepat menembus kepala laki laki itu dan jatuh ke lantai tidak lagi bernyawa.
Darah laki laki tadi menciprat mengenai wajah dan baju raja.
Seorang laki laki memakai topeng, topeng hewan mereka bukan hanya satu melain kan banyak.
Prang......
Cangkir teh hancur perkeping keping saat Elisabeth menjatuh kan nya. Ketakutan melihat pria yang di depan nya ,anggota gereja hitam.
Mereka menjadi mudah masuk saat pertahanan kerajaan goyah.
"Siapa kau ?"tanya Elisabeth dengan suara yang gugup wajah Elisabeth penuh degan keringat, badan nya bergetar hebat.
Laki laki di depan nya mengeluar pedang kecil ,
yang sangat tajam. Terlihat dari ujung pedang yang memantul kan cahaya.
Laki laki itu tersenyum sinis, gigi nya yang tidak rata menambah kesangaran nya.
__ADS_1
Laki laki itu semakin mendekat, sedangkan Elisabeth mundur semakin mundur.
Pria itu mengangkat pedang nya dan.
Srakkk......
Suatu pedang penjang menembus badan laki laki itu.
Darah yang merah bertumpah ke lantai membuat Elisabeth histeris.
Laki laki di depan nya tertawa mengejek di balik topeng nya.
"Yo El, lama tidak ketemu apa kau masih dingin seperti dulu ,oh iya aku memberikan kejutan kepada mu ayo ikut aku "laki laki itu tertawa lantang.
"Siapa kau " suara laki laki ini tidak asing bagi Elisabeth namun siapa?.
"Apa kau tidak mengingat ku, aku yang mudah nya kau tindas." kata kata pria di depan Elisabeth penuh dengan pertanyaan, Elisabeth benar benar tidak mengingat nya.
"Lihat wajah ku " laku laki itu perlahan lahan melepas topeng nya.
Mata Elisabeth melebar dan pucat saat topeng laki laki itu terbuka sepenuh nya.
"Apa kau mengingat nya " menampilkan wajah yang penuh dengan goresan dan sayatan piso serta bekas jaitan di leher nya.
Elisabeth menelan ludah nya sendiri. Bukan karena takut melihat wajah nya. Tetapi..
"A, a, adam " kata yang penuh dengan ketakutan akhir nya keluar.
"Oho ,aku kagum melihat mu wajah ku yang hancur karena kau dan kau masih mengenal nya! Aku pikir jika. Kau mencampakan seorang kau tidak akan mengingat nya " senyum sinis,kata kata penuh dengan makna dan sangat menusuk bagi Elisabeth.
__ADS_1