Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
15. Beraksi


__ADS_3

......Happy reading......


Malam ini, Kamelia dan Ansel melanjutkan rencana mereka kembali. Ansel memberitahu Gadis tersebut untuk menemuinya di sebuah cafe valerye.


Ansel duduk ditempatnya menunggu gadis tersebut. Dan tak jauh dari mejanya ada Kamelia yang mengawasi mereka. Tak lama Naya pun akhirnya datang.


Ansel melambaikan tangannya memberitahu keberadaan dirinya.  Naya pun tersenyum senang, kemudian berjalan menuju tempat Ansel.


"Udah nunggu lama ya?" tanya Naya.


"Nggak terlalu lama kok, oh iya kamu terlihat cantik malam ini." Puji Ansel.


Naya tersipu malu mendengar pujian Ansel. "Ma-makasih..." Ucapnya gugup.


"Kamu udah makan?" tanya Ansel.


"Belum," balas Naya.


"Ya udah, kamu makan dulu ya. Kamu pesan aja apa yang kamu mau, nanti gue yang bayar."


"Wah... Makasih Ansel."


Setelah memesan makanan, mereka berdua berbincang ringan sambil menunggu pesanan mereka.


Tak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Kemudian Mereka menikmati makanan mereka.


"Nanti lo mau nggak ikut gue ke suatu tempat? Ada yang ingin gue tunjukkin ke lo," kata Ansel.


"Iya, gue mau." balas Naya sembari tersenyum. Dan Ansel yang mendengarnya pun ikut senang.


"Gimana gue mau nolak, cowok seganteng, setajir dan sekeren Ansel itu jarang banget. Mungkin dia mau ajak gue ke tempat romantis dan menembak gue jadi pacarnya, awww.... Gue nggak sabar," batin Naya senang.


Kamelia yang duduk di seberang mereka menampilkan seringai di bibirnya ketika mangsanya berhasil masuk perangkap.


"Naya..naya.. Gue nggak nyangka Lo sebodoh ini!" Pikir Kamelia.


🍂🍂🍂


Setelah usai makan, Ansel dan Naya pergi menuju mobil Ansel. Sebelum itu, Kamelia telah pergi duluan masuk ke dalam mobil Ansel dan bersembunyi di bagian belakang tempat duduk.


Kemudian, Ansel mengeluarkan kain hitam di sakunya. Naya yang melihat itu menatap heran Ansel.


"Gue mau kasih lo kejutan. Jadi lo harus pakai kain ini dulu," ucap Ansel.


"Sepertinya menarik! Baiklah," balas Naya senang.


Ansel pun menutup mata Naya menggunakan kain tersebut. Setelah itu, Kamelia langsung duduk di bagian tengah penumpang. Ansel dan Kamelia berbicara melalui tatapan satu sama lain.


Kemudian, Ansel melajukan mobilnya ke tempat tujuan mereka. Beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Yang mana tempat tersebut adalah tempat yang sama dengan pembunuhan Adel.


"Ansel, apakah kita sudah sampai?" Tanyanya. Sedangkan Ansel hanya diam.


Ansel pun membawa Naya masuk ke dalam gedung. Kemudian, dia mendudukkan Naya di sebuah kursi. Dia tidak menjawab semua pertanyaan Naya yang sedari tadi bertanya kemana mereka pergi.


"Ansel, ini dimana? Kok Lo nggak jawab pertanyaan gue sih," ucap naya. Kemudian, Kamelia mengikatnya dengan tali.


"Apa ini?! Kok Lo ikat gue?!" tanya Naya yang mulai sedikit kesal.  Sedangkan Ansel tetap diam dan tidak menjawab pertanyaannya.


Kamelia pun membuka penutup mata Naya. Betapa terkejutnya Naya melihat sosok gadis yang sangat ia kenal sekarang berdiri di hadapannya.


"Kejutan!" Ucap kamelia sembari tersenyum.


"E-elo?!! Brengs*k apa-apaan ini! Jadi ini ulah Lo?! Cepat lepasin gue?!" perintah Naya.


Kamelia terkekeh mendengarnya. Kemudian mendekatkan wajahnya sambil menatap tajam Naya, "kalau gue nggak mau gimana?"


Naya menelan susah salivanya melihat tatapan mata Kamelia, ia pun menguatkan hatinya kalau dirinya tidak bakal takut karena setaunya Kamelia adalah gadis pengecut.


"Apa mau Lo hah?!" bentak Naya.


Kamelia menunjuk dirinya sendiri, "gue? Hmm.. apa ya?"


Kemudian Kamelia mengeluarkan sebuah pisau lipat di saku celananya. Naya yang melihat itu mulai takut.


"Kalau gue mau nyawa Lo gimana?" Kata Kamelia sambil tersenyum.


Naya mendengar itu mulai sangat ketakutan, keringatnya mulai bercucuran, dan wajahnya memucat.


Kamelia lagi-lagi kembali tertawa, ia sangat senang melihat reaksi wajah Naya yang sangat begitu ketakutan.


"Lo udah gila?! Gue salah apa sama Lo ha?!" tanya Naya.


Kamelia langsung menghentikan tawanya, matanya melotot tajam ke arah Naya. Ia lalu menarik rambut Naya sampai wajah Naya mendongak ke atas.


"Lo lupa sama perbuatan sendiri ha?! Asal Lo tahu gue bakal membalas semua perbuatan kalian yang udah membuat gue menderita dulu! Gimana? Baik kan gue?" Hardik Kamelia.


"Sstt.. beraninya Lo—"


"Ooh gue tahu Lo pasti lupa ya? Baiklah, sebagai teman baik Lo. gue akan mengingatkan kembali perbuatan lo itu!"  ucap Kamelia sembari menyeringai jahat. Naya yang Mendengar itu pun mulai gemetar.


Kemudian, Kamelia kembali memulai aksinya. Malam itu, mereka kembali membunuh target mereka. Kamelia melampiaskan dendamnya dengan brutal. Di malam sunyi itu, satu nyawa kembali mereka renggut paksa.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Sepulang sekolah, Ray mengajak teman-temannya dan Kamelia juga Divya untuk mampir di sebuah cafe. 


"Akhirnya, setelah sekian abad gue belajar dengan giatnya bisa bersantai juga," ujar Bima meregangkan otot tangannya. 


"Emang Lo di sekolah belajar ya? Setahu gue dan sebagai teman sebangku Lo gue nggak pernah liat tuh. Yang ada sih Lo selalu molor di kelas," celetuk Dika sambil memakan kentang gorengnya.


"Eh nih anak, demen banget sih ngancurin citra gue. Emang Lo nggak gitu juga hah?!"


Dika dengan gaya sok coolnya menyisir rambutnya ke atas, "gue? Cih, kalau gue mah tentu saja nggak. Tapi, hehehe... Nggak pernah sekali," ucapnya cengengesan.


"Hmm.. sama aja bego😑!" 


"Hahaha!... Udah sok keren tapi ujung-ujungnya sama aja! Kalau gitu sekalian aja lu jungkir balik dengan kerennya, hahaha!..." Ujar Divya sambil tertawa.


"Malu-maluin gue aja lo, untung gue dapet temen kayak lo dari giveaway," timpal Ray. Dan membuat mereka semua tertawa kecuali Kamelia yang hanya tersenyum tipis.


"Wih, tega bener lo! Gue sih masih untung. Lah daripada lo, teman dari persugihan tuyul. Dukunnya sih minta tuyul keluar, Eh.. malah  Ray yang keluar. Hahaha!" Balas Dika tak mau kalah.


"Pfff..hahahaha! Gaib dong jadinya!"


Divya tertawa sembari memukul-mukul meja. Tak lama, Bima pun keselek gara-gara tertawa sambil makan. 


"Uhuk! Uhuk! Anjir..gue keselek oy!" Ucap Bima.


Bukannya membantu mereka malah kembali tertawa. Bener-bener teman nggak ada akhlak gini nih.


"Hahaha! karma Lo," ucap Ray.


"Makanya kalau makan tuh pelan-pelan" timpal Divya.


"Untunglah, divya cepat berdaptasi dengan mereka," batin Kamelia sembari tersenyum.


"Uhuk! Uhuk! Hey, Lo pada ngapain sih?! Uhuk! Gue keselek nih nggak ada yang bantu apa?" Teriak Bima.


"Astagaaa sengaja lupa! Nih, nih minum dulu," ucap Dika. Sambil buru-buru memberikan mangkok air ke Bima. Bima pun langsung meneguk air tersebut dibantu Dika.


"Tunggu bentar, bukan ya itu air buat cuci tangan ya?" tanya Divya.


"Ups, oh iya ya" Jawab Dika.


"Pfffff!..." Bima langsung menyemburkan  keluar air dalam mulutnya. Dan hal hasil Dika di depannya pun ikut kena semburannya.


"Bangs*t lo Dika! Lo mau gue sakit hah?!" Seru Bima.


"Anjir! Jorok banget sih lu! Gue refleks tadi jadi ke ambil air cuci tangan," Ucap Dika.


"Hahahah!...basah deh tuh muka gantengnya," ujar Divya.


Dika mendengus," cih, udah baik malah dapet semburan air. Basah deh jadinya," rajuk Dika.


"Hahahah!...Ya udah deh gue minta maaf," tandas Bima.


"Oke, gue maafin. tapi roti sandwich Lo buat gue," ucap Dika lalu menarik piring Bima.


"Eh, enak aja! Lepasin nggak Roti gue!" Bima pun menarik kembali piringnya.


Kamelia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka. Sedangkan divya dan Ray tertawa melihat Bima dan Dika rebutan roti.


🍂🍂🍂


Saat mereka tengah bercanda. Terdengar suara decitan pintu terbuka, terlihat Ansel  beserta kedua temannya dan juga seorang gadis seumuran mereka masuk ke dalam cafe.


Ansel melihat sekeliling cafe. Matanya mendapatkan sosok gadis yang sangat ia kenal. Dia tersenyum senang melihatnya. Tetapi, senyum itu pudar, dan tergantikan dengan amarah. Lantaran melihat Ray disamping Kamelia dan jarak mereka cukup dekat.


Ansel pun melangkah ke arah meja yang ada disebelah rombongan Kamelia. Saat Kamelia menoleh ke samping, betapa terkejutnya ia melihat Ansel dan teman-temannya berada di sana.


Terlebih lagi, dengan sosok gadis yang bersama mereka. Dia terkejut melihat mantan ketua kelasnya SMP dulu. Begitu pun orang saat melihat Kamelia.


"Loh, Lo Kamelia kan?" tanya gadis itu. Sedangkan Kamelia hanya diam dan memilih untuk tidak peduli.


Ray, Bima, Dika, dan Divya langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Kamelia.


"Gue nggak nyangka Lo disini juga, apa kabar? Lo udah banyak berubah ya," ucap gadis tersebut.


"Lo kenal dia?" tanya Ray pada Kamelia.


"Hm, iya. Dia Dara, mantan ketua kelas SMP gue dulu." jawab Kamelia dingin.


"Kok kayak cabe ya, liat aja tuh pakaiannya. Kayak kurang bahan gitu." Bisik Dika pada Bima tapi suaranya masih kedengaran oleh yang lain.


"Bukan kurang bahan, kayak dia nggak punya uang deh buat beli baju. Kain lap di rumah gue aja lebih lebar dari punya dia," timpal Divya berbisik tapi sama aja suaranya kedengaran oleh yang lain.


Mereka semua menahan tawa mereka, termasuk geng Ansel. Dara yang mendengar itu menahan emosinya. Ia mengepalkan tangannya kuat.


"Berani-beraninya dia mempermalukan gue!" batin Dara.


Dara pun menghampiri Kamelia dan duduk disampingnya. Lalu, menatap Kamelia dari atas sampai bawah.


"Oh, iya Lia. Gue inget banget Lo dulu waktu SMP Lo bener-bener cupu banget hahaha... Dan tahu nggak? cara Lo berpakaian itu, hmm nggak banget deh pokoknya," ucap Dara dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Dan sekarang, akhirnya Lo dapet teman juga ya. Dulu kalo nggak salah lo suka menyendiri di kelas. Gue inget banget dulu Lo dikerjain teman  kelas. Kalo nggak salah sih mereka naruh lem dibangku lo, ya. Haha... kalo di ingat lucu juga ya"


"Dara! udah cukup!" Lerai putra.


Kamelia tidak memperdulikan tingkah Dara dan memilih fokus meminum jusnya. Berbeda dengan Divya, Dika, Ray, dan Bima yang sedari tadi menahan emosi. Disisi lain, Ansel menatap Dara dengan tatapan membunuh.


"Berani-beraninya dia menghina Kamelia! Liat aja Lo bakalan mati di tangan gue!" Batin Ansel.


"Dan Lia, Lo juga ingat nggak saat Lo kecebur di kolam yang udah kotor? Hahaha!.. gue ngakak banget ingat ya" Sindir Dara lagi. Tapi, Kamelia  tetap tak memperdulikannnya.


"Hahah..Rasain Lo, emang enak dipermalukan depan teman-teman Lo sendiri." Batin Dara.


"Terus Lia lo ingat nggak–"


"Eh mbak, Bu, Bi, tolong ya Lo bisa diem nggak? Suara Lo nyaring banget, sakit telinga gue dengernya," potong Ray.


"Apa?! Lo panggil gue bibi?!" Bentak Dara.


"Hey Ray, kok Lo banyak banget panggilannya? udah mbak terus ibu dan terakhir bibi," ucap Bima.


"Habis gue bingung harus panggil apa, mukanya aja nggak jelas gara-gara ketutup tepung. Putih banget njirrr kalah paha gue!"


"Wah iya ya! hahaha!..." Tawa Divya.


Dika pun ikut tertawa dan Kamelia hanya tersenyum. Ian dan putra yang mendengar itu pun juga ikut tertawa.


"Brengs*k! Kalian benar-benar—"


"Lo nggak sengaja ketelen toa ya? Hebat bener tuh suara. cocok banget jadi alarm, eh tapi jangan deh, bisa-bisa sekampung kebangun semua." Lagi-lagi ucapannya dipotong, kini giliran Dika.


"Kurang ajar! Kalian siapa sih ikut campur urusan orang?! Kalian nggak liat gue lagi bicara sama teman gue?! Ya, nggak Lia?!" Tanya Dara. Sedangkan Kamelia hanya diam saja sembari menikmati makanannya.


"Maaf nih mbak, bi, Bu. Lo dari tadi ngomong nggak jelas sama siapa sih? Sama Lia? Noh, anaknya aja diem aja. Kalau Lo udah gila, gue bisa kok hubungin rumah sakit jiwa. Gimana baik nggak gue?" Sosor Divya.


"Wih anjay.. bisa aje lu Vya, hahaha!..." Kekeh Bima.


Dara mengepalkan tangannya kuat, dia benar-benar telah dipermalukan oleh teman-teman Kamelia. Ia pun menoleh ke Putra  yang juga ikut tertawa.


Dara pun menghampiri Divya dan mulai melayangkan tangannya untuk menampar wajah Divya. Namun, semua itu terhentikan saat Kamelia menahan tangan Dara.


Kamelia menatap tajam  Dara,"Jangan berani-beraninya Lo sentuh teman-teman gue!"  


"Apa-apaan sih?! Lepasin tangan gue!" Ucap Dara.


Kamelia menekan pergelangan tangan Dara dengan kuat. Hal hasil membuat Dara berteriak kesakitan. Kamelia pun melepaskan tangan Dara sampai gadis itu terjatuh ke lantai.


Kamelia berjongkok di depan Dara, dengan aura dinginnya menatap tajam Dara.


"Gue nggak ingat kita pernah temanan dan gue nggak sudi temanan sama orang bermuka dua kayak lo!" Ketus Kamelia.


Ray, Dika, Bima, Divya, Ian, dan Putra bergidik ngeri mendengar ucapan Kamelia dan tatapan mata Kamelia yang sangat tajam. Membuat siapa melihatnya langsung takut.


Ansel yang melihat itu tersenyum miring, "tidak hanya lidah, tapi juga tubuhnya bakal gue cincang, lalu beri makan pada anjing!" Ucapnya dalam hati.


Dara gemetar takut, tapi hatinya ingin ia menahan dirinya untuk tidak terlihat seperti pengecut. Namun, tubuhnya tidak bisa di ajak kerja sama. Ia malah gemetaran melihat tatapan Kamelia.


"Brengs*k! Sejak kapan sih cupu ini berani seperti ini?!" Batin Dara.


Kamelia lalu berdiri. Lalu menatap sinis Dara dari atas.


"Satu lagi, gue nggak akan segan nyakiti Lo kalo lo sampe berani nyentuh teman-teman gue! Camkan itu!" Ancam Kamelia.


Setelah itu, Kamelia pergi meninggalkan cafe dan disusul teman-temannya yang lain.


Tak lama setelah Kamelia dan gengnya keluar, Dara yang merasa sudah dipermalukan pun  mulai berdiri dan pergi keluar dari cafe juga.


Di sisi lain, Ian menatap heran putra yang tidak mengejar Dara.


"Lo nggak ngejer dia?" Tanya Ian pada putra.


"Buat apa?" tanya putra balik.


"Bukannya dia itu pacar Lo ya?"


"Nggak lagi, sekarang dia bukan siapa-siapa lagi buat gue!"


"Eh, sejak kapan kalian putus?"


Putra menghela nafasnya, "gue udah lama putus sama dia, dan nggak sengaja ketemu dia, terus dia ya maksa ikut gue. Ya udah gue iyain aja. Eh nggak nyangka gue bisa dapet tontonan menarik disini."


Ian terkekeh mendengar ucapan Putra, sedangkan Ansel mengepalkan tangannya kuat dan menatap tajam kepergian Dara.


🍂🍂🍂


...Next?...


...Iya atau nggak?...


...Gimana menurut kalian cerita ini? Cerita ya di komen...


...Sampai ketemu di part selanjutnya👋...

__ADS_1


...With love ...


...PUSRI...


__ADS_2