Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
40. Pembalasan sesungguhnya


__ADS_3

...Happy reading...


Nampak tiga orang sedang menatap bangunan megah di depan mereka. Di malam yang gelap itu mereka akan melancarkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.


Sebelum itu, mereka sudah terlebih dulu melumpuhkan satpam yang berjaga hingga tak sadarkan diri dan mengikatnya dengan erat.


"Siap?" Tanya salah satu dari mereka.


"Siap!"


"Oke, jalankan sesuai rencana!" Setelah itu, mereka berpencar menjadi dua kelompok. Dua orang bertugas untuk menyelinap ke lantai atas. Dan dia akan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan bagiannya.


Saat ini, kedua orang itu tengah mengendap-endap. Nampak mereka yang melangkah dengan hati-hati. Kemudian, sang cowok berhenti melangkah. Dia mendongak ke atas atau lebih tepat menatap kamar seseorang.


"Itu kamar dia," ucapnya. Temannya pun mengangguk sebagai balasannya.


"Kita akan naik kesana pake tangga."


"Oke. Tapi, tangganya mana?"


"Kalo itu biar gue yang cari. Lo tunggu disini." Lalu ia pun melangkah pergi.


Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah tangga. Lalu menyandarkannya dan bersiap untuk naik keatas.


"Lo duluan!"


"Iya." Ia pun menaiki tangga tersebut dengan sang cowok yang memegangi tangga agar tidak goyah. Tak lama ia pun sampai di balkon sebuah kamar.


Ia menatap sekitarnya untuk memastikan bahwa keadaannya aman. Setelah itu, ia memberitahu temannya tadi untuk segera naik. Dia yang melihat isyarat itu langsung saja menaiki tangga secara perlahan.


Dan kini mereka berdua sudah berada di atas sana. Lalu, sang cowok melangkah mendekati jendela. Ia mengintip ke dalam kamar apakah ada orang atau tidak. Tapi ternyata tidak ada orang didalamnya.


Dan inilah adalah waktu yang tepat untuk mereka bisa masuk kesana. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang ternyata sebuah kunci.


"Kunci?" Ucap temannya bingung. Pasalnya darimana dia mendapatkannya.


"Hm." Kemudian, ia masukkan kunci itu ke lubangnya.


"Emang bisa?" Tanyanya lirih


"Tentu bisa," balasnya dengan senyum penuh kemenangan. Dan yaps, pintu itu pun terbuka.


Ia yang melihat itu hanya bisa menganga. Tidak disangka ternyata itu memang berguna. Dia mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar yang nampak luas itu.


Ketika mereka sedang menatap keadaan kamar tiba-tiba terdengar suara knop pintu yang diputar. Mereka yang mendengar langsung saling menatap seolah bicara lewat tatapan.


Tak lama pintu pun terbuka. Nampak seorang gadis dengan piyama berwarna pink bercorak hello kitty memasuki kamar itu. Melangkah kearah kasurnya berada.


Merebahkan dirinya dan memainkan handphone-nya sembari tengkurap di atas kasur king-size tersebut.


Di sisi lain, dua orang yang memasuki kamar itu bisa bernafas lega karena mereka masih sempat untuk sembunyi. Sang cowok bersembunyi di kamar mandi dan si cewek berada di dalam lemari pakaian.


...🔥🔥🔥...


Ketika ia sedang tertawa tiba tiba lampu di kamarnya mati. Hingga membuat keadaan sekitar menjadi gelap hanya ada cahaya dari ponsel yg digenggamnya. Dia menautkan alis, merasa heran. Tidak biasanya lampu di kamarnya mati.


"Ck, pake mati lagi" gerutu Claretta. Lalu, ia beranjak dari kasurnya. Namun, ketika sedang memakai sendal. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang melintas. Ia pun menolehkan kepalanya ke kanan tapi tidak ada apapun disana.


"Perasaan gue aja kali," ucapnya.


Ia pun mulai melangkahkan kakinya dengan senter dari ponsel. Tapi, baru saja ingin memutar knop pintu. Dia dikejutkan dengan suara seseorang.


"Hiks... hiks... hiks...."


"Aku... hiks, sa--lah ap--a hiks, sama ka--lian."


Claretta yang mendengar suara itu langsung menegang dibuatnya.

__ADS_1


"Suara... ini, nggak-nggak mungkin. Dia kan udah mati," ujarnya.


Ia menatap sekelilingnya. Akan tetapi dia tidak menemukan apapun disana. Suara itu semakin jelas di pendengarannya. Dia kembali mencari asal suara itu dengan cahaya ponselnya.


Ketika ia berjalan ke arah balkon. Dia merasa ada seseorang yang melintas dibelakangnya. Dengan cepat ia membalik badannya. Namun tidak ada siapapun.


"Siapa?"


"Lo nggak usah main-main sama gue!" Ucapnya menyembunyikan rasa takutnya.


Bukannya jawaban yang ia dapatkan. Ia kembali di kagetkan dengan suara yang sama seperti tadi.


"Hiks... am--pun, aku... hiks minta maaf...."


"Apa salahku? Kenapa kalian selalu mengganguku!"


"Pembunuh! Kalian pembunuh!"


Suara-suara semakin membuatnya takut. Dia saat mengenal suara ini.


"Nggak-nggak mungkin," ucapnya tak percaya.


"Aku akan balas perbuatan kalian! Akan kubuat kalian menderita! Hahaha...."


"Nggak mungkin." Ia menutup telinganya dengan kedua tangan. Agar tidak mendengar suara itu.


Lalu terdengar suara orang tertawa. "Hihihi...." seketika ia berhenti berguman dan menegang mendengar tawa yang tak biasa itu. Dengan perlahan ia mendongak.


Dan betapa terkejutnya ia melihat dia hingga membuatnya jatuh terduduk. "Lo..."


Di hadapannya ada seorang gadis berambut panjang berpakaian putih dengan darah di sekitar wajahnya.


Dia menatap tajam Claretta. "Pembunuh! Aku akan membalas semua perbuatanmu!"


Dia mulai mendekat kearah Claretta. Claretta berusaha menjauh dengan menarik tubuh mundur hingga mentok di dinding.


Di sisi lain, seseorang tengah bersiap menjalankan aksinya. Dia sudah tidak sabar untuk membalaskan semuanya. "Bersiaplah! Ini akhir bagian kalian," ucapnya sinis.


Lalu, ia melangkah menuju pintu utama rumah itu. Ditatapnya lekat pintu didepannya sebelum akhirnya ia membukanya kasar.


...🔥🔥🔥...


Di ruang keluarga itu terdapat sepasang suami istri tengah menonton acara televisi menikmati waktu santai. Tanpa mereka tahu bahwa seseorang sedang mengincar mereka berdua.


Saat tengah asyik dengan kegiatan mereka. Tiba-tiba terdengar suara pintu utama yang dibuka secara kasar membuat mereka kaget.


Brakk!!


"Astaga, apa itu?" Ucap seorang wanita. Masih dengan keterkejutannya.


"Ck, siapa yang berani-beraninya berbuat seperti itu." Dia pun beranjak dari sofa dan melangkah pergi.


Sesampainya disana, ia melihat seseorang berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya.


"Siapa kamu?"


"Beraninya kamu masuk ke rumah saya," ucapnya.


Sedangkan, orang itu hanya menatapnya dan tersenyum miring.


"Saya? Oh iya saya lupa memperkenalkan diri," ucapnya.


"Kenalin saya Kamelia Chanthavy," ucapnya masih mempertahankan senyumnya.


Dia mendengar nama itu langsung terkejut terlihat jelas dari wajahnya.


"Chan... thavy...." ucapnya seolah tak percaya.

__ADS_1


"Iya. Saya anak dari Keenan Chanthavy orang yang sudah Anda bunuh." Dan menengang mendengar ucapan gadis didepannya.


"Dan saya akan membalas apa yang telah Anda lakukan pada keluarga saya."


"Ba... gaimana? Aku sudah menyuruh mereka untuk membunuh semuanya," katanya.


"Dan apa kamu bilang? Ingin membalas saya? Kamu bercanda, haha...."


"Bocah seperti kamu bisa apa?" Ucapnya remeh.


"Bisa apa? Cih!" Lalu, ia mengambil sesuatu di saku jaketnya. Mengarahkan benda itu kearah pria tadi.


Dari dalam terlihat seorang wanita berjalan kearah mereka. "Siapa mas?" Serunya. Namun, ia dikagetkan dengan seorang gadis yang tengah menodongkan pistolnya pada suaminya.


"Ka--mu siapa? Mau apa kamu?" Ucapnya terbata-bata.


"Saya mau membunuh kalian!" Dan mereka kaget mendengar ucapannya.


"Kenapa? Kaget?" "Kalian emang pantes buat mati," ucapnya.


Dia yang panik mulai berteriak meminta pertolongan. "Satpam! Satpam," teriak wanita itu.


"Meski Anda teriak sepuasnya! Tidak akan ada orang yang akan menolong kalian!"


"Karena malam ini malaikat maut akan menjemput kalian, hahaha!"


"Mas! Cepat lakukan sesuatu mas," pintanya pada sang suami. Tapi sang suami hanya menatap lekat orang yang tangah berdiri di depannya. Sembari mengacungkan pistol.


Di dalam kamar, Claretta terlihat ketakutan. Wajahnya terlihat pucat.


"Pergi! Pergi! Gue mohon maafin gue!" Ucapnya dengan air mata yang sudah menetes.


"Gue tahu gue salah karena udah sering bully. Gue mohon banget."


Dia terus melangkah mendekat. "Gue nggak akan maafin kalian."


"Kalian harus menerima balasannya, hahaha." Setelah itu, ia menjulurkan tangannya dan mencekik Claretta. Sehingga ia sulit bernafas.


"Gu--e mo--hon, lep--asin gue." Berusaha melepas tangan yang mencekiknya. Mata itu menatap dirinya seakan ingin membunuhnya.


Lalu secara kasar ia melepas Claretta hingga ia terjatuh. Dengan punggung membentur dinding.


"Gue mohon hiks... maafin gue hiks...." Claretta menangis sembari menunduk.


"Hiks... gue hiks... minta maaf Rina hiks...."


Saat ia tengah menangis tiba-tiba lampu di kamar menyala. Dengan cepat ia mendongak dan mendapati kamarnya kosong hanya ada dirinya.


Dorr! Dorr! Dorr!


Suara tebakan itu terdengar jelasnya di pendengarannya. "Selamat tinggal," ucapnya sinis.


...**🔥🔥🔥...


...Gimana next, nggak?...


...Menurut kalian ceritanya gimana?...


...Seru nggak? Penasaran nggak?...


...Vote and comment ya, guys!...


...Thank you for all...


...💙Love us💙...


...PUSRI**...

__ADS_1


__ADS_2