
Dorr! Dorr! Dorr!
Suara tebakan itu terdengar jelasnya di pendengarannya. "Selamat tinggal," ucapnya sinis.
Peluru itu tepat mengenai kepala pria hingga ia terjatuh dengan darah yang bercucuran. Istri-nya yang melihat itu dibuat histeris.
"Mas!" Namun tak lama dari itu dia merasakan hal yang sama dengan suami dan tergeletak di lantai yang dingin.
Kedua orang itu tergeletak dengan sangat mengenaskan. Sedangkan, dia hanya menatap datar mereka.
"Setiap perbuatan pasti ada balasan. Dan ini adalah balasan kalian karena telah membunuh keluargaku." Setelah itu, ia melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Di malam yang gelap nan sunyi itu. Dia berhasil membalaskan dendamnya selama ini.
Kemudian, ia berjalan menuju tempat mereka berpisah tadi. Nampak dua orang berdiri disana menunggu dirinya.
Ansel yang menyadari kedatangan Kamelia langsung berkata,"gimana?"
"Beres," balasnya singkat.
"Oke. Kita juga udah selesai semuanya."
"Ayo!" Lalu, mereka melangkah pergi dari sana dan masuk ke dalam mobil.
Di kamarnya Claretta masih menangis. Dia benar-benar takut sekarang. Kejadian tadi teringat jelas di kepalanya.
"Hiks... hiks...." setelah itu, ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
Dia ingin segera menemui orangtuanya. Dengan cepat ia menuruni tangga menuju lantai satu. Namun, alangkah terkejutnya ia mendapati keadaan mereka yang begitu mengenaskan tak berdaya di lantai. Dengan darah yang membasahi lantai.
"Papa! Mama! Hiks...." ia berlari kearah orangtuanya.
"Hiks... i--ni nggak mu-- hiks ngkin. Ma, Pa bangun . Jangan tinggalin aku. Hiks...."
"Mama! Papa!" Teriaknya histeris.
"Hiks... hiks... hiks...."
...🔥🔥🔥...
Sebuah mobil berhenti di dekat jembatan. Lalu, nampak tiga orang keluar dari dalam mobil. Seorang cewek dengan pakaian serba hitamnya berjalan menuju pembatas jembatan.
Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya, yakni pistol. Itu adalah pistol yang ia gunakan untuk menembak. Yah, dia adalah Kamelia dan kedua temannya.
Ia menatap lekat benda yang di pegangnya. Lalu, ia mengangkat tangannya dan melempar benda itu ke dalam sungai yang dibawah jembatan.
Lalu, ia berbalik menghadap kedua temannya. "Thanks untuk malam ini."
"Gue yang harusnya berterima kasih. Karena lo gue bisa balas perbuatan dia sama gue selama ini," ucapnya sambil tersenyum. Kamelia pun membalas senyumannya.
"Kalo bukan karena lo nolongin gue waktu itu. Mungkin gue udah lama mati bunuh diri," ujarnya. Mengingat kejadian waktu itu.
Flashback on
Terlihat seorang gadis dengan kondisi yang kacau berdiri jembatan. Matanya menatap kosong ke depan. Dengan sisa air mata di pipinya.
"Hiks... gue hiks... salah apa?"
"Kenapa gue selalu menderita? Kenapa?"
"Gue benci hidup! Gue benci mereka! Gue benci dunia ini!" Teriaknya melampiaskan isi hatinya.
__ADS_1
Lalu, ia mulai naik ke pembatas jembatan bersiap untuk melompat.
Di lain sisi, nampak seorang gadis yang sedang berjalan sambil menikmati lagu dari earphone-nya. Tangannya ia masukkan ke dalam saku hoodie. Dia melangkah dengan santai.
Namun, ketika ia mendekati jembatan yang akan dilewatinya. Dia menangkap sosok orang tengah berdiri. "Ini cewek gila atau gimana?" Batinnya.
Lalu, matanya terbelalak melihat orang itu ingin melompat dan dengan cepat ia berlari menuju sana.
Sesampainya, ia langsung menarik tangan orang tersebut. Hingga acara bunuh dirinya gagal.
"Lo gila?" Ucapnya.
"Lo kira bunuh diri bisa nyelesain masalah!"
Cewek itu hanya menunduk. Tak lama air matanya kembali menetes.
"Hiks... g--ue capek. Dan lo nggak akan ngerti apa yang gue rasain!"
Kamelia hanya menatap datar cewek itu. Dia tahu mengapa cewek memilih bunuh diri. Dia tahu kalau orang ini lelah dengan semua yang dialaminya. Dibully hampir setiap hari pasti membuatnya tertekan. Hingga memutuskan bunuh diri seperti tadi.
Tapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak mau orang lain merasakan apa yang pernah ia rasakan dulu. Cukup dia saja.
"Kalo gitu, gue bakal bantu lo buat balas dendam sama mereka," ujarnya. Dia yang mendengar perkataan Kamelia langsung menatapnya.
Kamelia yang mengerti tatapan kembali bersuara. "Daripada lo bunuh diri. Lebih baik lo balas semua perbuatan mereka selama ini ke lo."
"Gi--mana caranya?" Tanyanya.
"Untuk itu gue punya rencana. Sekarang lo ikut gue."
"Oh iya, nama lo siapa?" Tanyanya. Meski ia sering melihat cewek ini disekolah tapi dia tidak tahu namanya.
"Ayo!" Ajaknya. Ia melangkah pergi menuju apartemennya bersama Rina.
Flashback off
"Gue berterima kasih banget sama lo."
"Iya, sama-sama."
"Oh iya, gue pulang duluan," ujarnya.
"Nggak bareng kita aja. Biar kita anterin lo," balas Kamelia.
"Nggak usah. Lagian gue mau pergi ke suatu tempat."
"Oh oke."
"Bye!" Ucapnya sambil lambaikan tangan.
"Gimana mau pulang?" Tanya Ansel. Setelah sekian lama dia hanya menyimak percakapan kedua gadis itu.
"Ah iya. Ayo pulang!" Kamelia melangkah kearah mobil begitu juga Ansel. Setelah mereka masuk Ansel langsung menyalakan mesin mobil.
Dan melajukan kendaraannya ke rumah Kamelia. Sesuai ucapan Kamelia ketika mereka sudah berada di mobil tadi. Malam ini mereka akan ke rumah keluarga Kamelia.
Selama perjalanan hanya keheningan yang menemani. Kamelia hanya termenung seakan memikirkan sesuatu dan Ansel yang fokus dengan kemdaraan yang di kemudikan.
...🔥🔥🔥...
Tak lama mobil yang dikendarai Ansel berhenti di sebuah rumah. Kamelia langsung ke dalam rumahnya diikuti Ansel dibelakangnya.
__ADS_1
Kamelia langsung menuju kamarnya yanga ada di lantai dua. Sedangkan, Ansel pergi ke dapur terlebih dahulu.
Sesampainya di kamarnya, ia mendudukkan diri ditepian kasur. Sejenak ia termenung memikirkan masa lalunya. Setiap dia kembali ke rumah ini, memori lama akan berputar otomatis dikepalanya.
Lalu, matanya tak sengaja menangkap bingkai foto yang berada di atas meja samping tempat tidurnya. Disana terdapat gambar dia bersama keluarganya sedang tersenyum bahagia.
Kemudian, ia mengambil bingkai itu dan menatapnya lekat. "Ma, Pa, Bang, Lia rindu kalian! Lia pengen banget ketemu kalian," ucapnya lirih. Lalu, air mata menetes di pipinya.
Sungguh, perasaannya begitu sesak saat ini. Apalagi mengingat memori-nya bersama keluarga. Ada banyak hal yang selalu bisa membuat dia menangis ketika berada di rumah ini.
Foto itu di ambil waktu mereka berada Disneyland, Jepang. Saat itu, keluarga mereka pergi liburan ke jepang selama tahun baru. Dan ia sangat senang waktu itu.
Tapi, sekarang hidupnya berbeda. Tidak ada lagi keceriaan yang ada hanya kehampaan.
Semua kenangan itu semakin membuat air matanya ingin terus keluar.
"Hiks... hiks... hiks...." isaknya. Sosok yang kita tahu selama ini begitu kuat dan berani. Nyatanya adalah sosok yang rapuh.
"Ma, hiks... aku kangen. Kangen masakan mama. Kangen cerita sama mama, hiks."
Kini, Ansel tengah berada di dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu menuangnya ke dalam gelas. Setelah itu, dia meneguk air sampai habis.
Setelah selesai ia melangkah pergi. Ia menaiki tangga satu persatu menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai, ia dikejutkan dengan suara tangisan Kamelia yang terdengar pilu. Lalu, ia mendorong pintu dihadapannya perlahan. Kemudian, ia melangkah masuk dan berjalan kearah Kamelia yang sedang menangis di tepian kasur.
"Hiks... pa aku rindu kalian. Aku rindu main sama papa, di manja sama papa, hiks... aku rindu di dongengin papa, hiks...."
Ansel duduk disamping Kamelia. Lalu ia menyandarkan kepala Kamelia dibahunya. Dan mengelusnya memberi ketenangan.
"Aku juga rindu abang, hiks... aku kalian hiks...." lalu ia memeluk bingkai foto itu erat.
Ansel pun memeluk Kamelia membiarkan gadisnya menangis sepuasnya dipelukannya. "Hiks... hiks... hiks...."
Dia mengelus punggung Kamelia dan membiarkannya menangis. Tanpa sadar dia tertidur dipelukan Ansel karena lelah menangis.
Ansel yang merasa Kamelia tidur segera melepas pelukannya perlahan-lahan. Lalu menidurkannya di kasur. Dengan hati-hati ia mengambil bingkai yang berada digenggamnya.
Lalu, ia menyelimuti Kamelia sampai dadanya. Setelah itu, ia mulai beranjak dari sana. Namun, kagiatan itu terhenti ketika sebuah tangan menggengamnya.
"Jangan pergi," ucap Kamelia setengah sadar.
Ansel yang mendengar itu menatap Kamelia. Lalu ia ikut membaringkan dirinya disana. "Iya, aku disini."
Kemudian, Kamelia memeluk tubuh Ansel. "Good night, my girl," ucapnya lirih. Dan menyusul Kamelia ke alam mimpi
...🔥🔥🔥...
...Gimana next, nggak?...
...Menurut kalian ceritanya gimana?...
...Seru nggak? Penasaran nggak?...
...Vote and comment ya, guys!...
...Thank you for all...
...💙Love us💙...
...PUSRI...
__ADS_1