Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
36. Hukuman


__ADS_3

...Happy reading...


Keesokan harinya, Dika dan Bima sedang berjalan memasuki  area sekolah. Sembari mengobrol dan diselingi dengan tawaan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan.


Terlihat pak Adi sedang berdiri di depan koridor sekolah sambil membawa sebuah mistar kayu panjang.


Beberapa murid terlihat takut melewatinya. Terlebih lagi pak Adi terkenal dengan sebutan guru killer.


Bima yang melihat pak Adi langsung menepuk pundak Dika.


"Hey Dik, Dik!" Seru Bima sembari memukul pundak Dika.


"Apaan sih?!" risih Dika. Lalu, menepis tangan Bima.


"Lihat tuh! gimana nih, singa sekolah ada di depan situ. Mana gue gak pake dasi gini, aduh..." ucap Bima gelisah.


Dika pun mengikuti arah pandang Bima,"njirr...bisa mati gue! Mana baju gue gak di masukin lagi," timpal Dika. Yang juga ikut gelisah. Kemudian, cepat-cepat merapikan bajunya.


Bima lalu mengecek di dalam tasnya dan menemukan dasinya. "Fyiuhh... Untung gue bawa cadangannya," ucapnya lega.


Setelah merasa rapi, mereka pun berjalan dengan gagah dan beraninya melewati pak Adi. Mereka tersenyum penuh kemenangan saat pak Adi tidak menahannya.


"Heheh... setelah puluhan tahun akhirnya hari ini gua bisa lolos juga dari jeratan pak Adi." Batin Bima senang.


"Patut dirayakan nih, hehehe..." batin Dika.


Namun, semua kesenangan dan usaha mereka berdua ternyata sia-sia. Dari belakang tas mereka ditarik oleh seseorang membuat mereka berhenti melangkah.


"Siapa sih narik-narik tas gue?! Gue bacok baru—"


"Sstt... liat ke belakang!" bisik Dika memotong ucapan Bima.


"Apaan sih? Sst..sstt..mau cosplay jadi ular kobra lo?"


Bima pun menoleh ke belakang, lalu betapa terkejutnya dia ternyata yang menarik tas mereka adalah pak Adi.


"Ngomong apa kamu?!" Tanya pak Adi.


"Eh..ng-gak  kok pak, anu..hmm tadi mau bilang nanti tas saya bocor kalo ditarik terus," jawab Bima.


"Banyak alasan kamu! Kalian berdua ikut bapak!" Perintah pak Adi. Kemudian, pak Adi menarik mereka berdua menuju lapangan.


"Loh, mau ngapain pak?" tanya Dika dan Bima.


"Ikut saja!" Balas pak Adi.


Mereka berdua pun mengikuti pak Adi. Sesampainya mereka di lapangan upacara, terdapat Ian, Putra, Ray, dan Divya sedang berdiri sembari hormat bendera di sana.


"Loh, ngapain kalian disini?" tanya Dika.


"Makan seblak! Emang Lo nggak liat apa kita lagi ngapain?!" Balas Ray.


"Kyahaha...kasian banget di hukum!" Tawa Bima dan diikuti Dika.


"Diem lo biawak!" Balas Ian. Yang mulai ikut kesal.


"Nggak usah ketawa-ketawa! Kalian berdua juga bapak hukum! Berdiri di sana!" Perintah pak Adi.


"Loh kok kami di hukum juga pak?" tanya Dika.


"Apa kamu lupa? kemarin kalian  membolos sekolah!"


"Waduh, kok bisa Ketahuan," gumam Bima.


"Sudah! Sekarang berdiri di sana!" Perintah pak Adi.


Dengan langkah terpaksa Dika dan Bima pun berjalan mendekati Ian, Putra, Ray, dan Divya. Mereka berempat pun tertawa dan mengejek balik Dika dan Bima.


"Hahaha!...emang enak lo!" Ejek Ian sembari cengengesan tertawa.


"Ck, nyesel gue hari ini sekolah." Decak Bima.


"Hahah!..Makanya nggak usah bolos sekolah," timpal Putra.


"Diem lo sampah kecoa!" umpat Dika.


Beberapa menit kemudian, Ansel dan Kamelia berjalan bersama melewati koridor. Bima yang melihat itu lantas memanggil mereka berdua.

__ADS_1


"Woy Lia! Ansel!" Teriak Bima.


Sontak semua orang menoleh ke arah Bima lantaran suaranya yang keras. Kamelia dan Ansel yang merasa namanya di panggil pun menghentikan langkahnya dan menoleh.


Kamelia dan Ansel melihat dengan tatapan bingung melihat Ian, Putra, Dika, Bima, dan Ray begitu juga Divya yang sedang berdiri di tengah lapangan sembari hormat bendera.


Mereka berdua pun berjalan mendekati mereka.


"Nah ini nih pasangan sejoli! pak hukum mereka juga pak!" seru Bima.


"Kenapa bapak harus hukum mereka?" Tanya pak Adi.


"Loh, bukannya mereka juga bolos sekolah pak?" tanya Putra balik pada pak Adi.


"Iya pak, nggak adil kalo mereka nggak dihukum juga!" Timpal Ian. Sedangkan Divya ikut mengangguk membenarkan ucapan Ian.


"Iya betul pak, apalagi tuh yang namanya Ansel patut dihukum tuh pak," kata Ray menunjuk Ansel. Kemudian, mendapatkan tatapan sinis dari Ansel.


"Sini lo berdua, hormat juga bareng kita!" Perintah Dika. Kemudian, mendapat tatapan tajam dari Ansel dan berhasil membuat Dika menciut.


"Bicara apa kalian?! Kamelia dan Ansel mereka berdua kemarin izin tidak masuk sekolah, sedangkan kalian berlima membolos di saat jam pelajaran. Ngerti kalian!" Jelas pak Adi.


"Apa?!" Teriak mereka bersamaan tak percaya.


"Sekarang udah jelas kan?! Bapak mau pergi dulu!" Ucap pak Adi. lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.


Bima mendengus mendengarnya ia tidak terima dengan hukuman ini.


Sedangkan, Kamelia dan Ansel menatap mereka dengan pandangan mengejek yang membuat mereka semakin kesal dibuatnya.


"Ck, lain kali kalo mau bolos izin dulu," saran Kamelia sembari terkekeh melihat mereka berenam.


Sedangkan Ansel menatap datar mereka berenam. "Bodoh!" Ucapnya. Lalu, mengajak Kamelia pergi meninggalkan mereka berlima.


Dika, Bima, Ian, Putra, dan Divya yang mendengar itu dibuat menganga lebar tak percaya apa yang dikatakan Ansel.


"Apa?! Dasar teman lucknut lo!" Teriak Ian, Putra, Dika, dan Bima bersamaan.


"Wah..sini lo kalo berani!" Tantang Ray.


Mereka ber enam pun dihukum sampai jam istirahat berdering.


🍂🍂🍂


Dikantin mereka di satu meja yang sama. Dengan Bima masih menggerutu dengan hukuman yang diterimanya. Dia juga mengeluarkan sumpah serapahnya untuk pak adi.


"Dasar pak singa! Gue sumpahin lo nanti jomblo seumur hidup baru tau rasa lo!" Oceh Bima.


"Mana tangan gue rasa mau patah ini jadi dua bagian!" Ucapnya lagi.


Sedangkan Ray yang disampingnya mulai jengah mendengar semua ocehan Bima.


"Berisik lu biawak! Bisa diam nggak sih lo? Lo nyuruh gue keselek terus masuk rumah sakit dan mati gitu, iya?!" Ucap Ray kesal.


"Kalo gitu sih Alhamdulillah, jadi gue nggak perlu bayar hutang ke lo." gumam Bima.


"Ngomong apa lobarusan?!"


Ansel mendengarnya itu pun langsung tersenyum miring, kemudian membalas perkataan Ray, "kalo lo mati ya tinggal di buang aja kok susah amat."


"Apa Lo bilang?!"


"Udah-udah jangan berisik, nggak malu apa diliatin orang-orang  meja kita selalu berisik kaya mau ada bentrok aja." Lerai Putra.


Ray dan Ansel yang mendengar itu pun sama-sama berdecak kemudian, menatap sinis satu sama lain.


"Apa liat-liat?!" Bentak Ansel.


"Idih...najis gue liatin lo!" Balas Ray.


Dika yang duduk disebelah Bima pun mengetuk kepala Bima memakai sendok membuat dia mengaduh kesakitan.


BLETAK!


"Argh!.. sakit njir! Apaan sih lk?!" Bentak Bima pada Dika.


"Apa? Bukan aku yang ngetok." Balas Dika dengan wajah pura-pura bohong.

__ADS_1


"Nggak mau ngaku lo hah?! Siapa lagi kalo bukan lo yang mukul kepala gue pakai sendok!"


"Jangan asal nuduh aja ya! Disini semua orang pegang sendok semua. Tuh, Kamelia pegang sendok, Divya juga, Ian dan putra juga, dua orang bucin (Ansel dan Ray) juga pegang sendok, pak Adi juga pegang sendok. Jadi jangan tuduh aja!"


Disisi lain, pak Adi yang berada di ruang guru merasakan hawa dingin di belakang punggungnya. "perasaan apa ini?" Batin pak Adi.


"Banyak alasan lo! Udah ngaku aja pasti lo kan?!" Suruh Bima.


"Yaelah gak percayaan amat dah, tanya aja tuh Divya." Tunjuk Dika pada Divya.


Divya yang tidak tahu akar masalahnya hanya menatap bingung mereka berdua. "Kenapa?" tanya Divya.


"Tuh kan, Divya aja bilang bukan gue!" Ucap Dika.


"Hey, dia aja nggak tau masalahnya apa! Sejak kapan dia bilang bukan lo pelakunya!" balas Bima.


Dika dan Bima pun terus adu mulut, dan Divya juga ikut terseret karena mereka berdua.


Sedangkan Ian dan Putra sibuk melerai mereka berdua. Sampai - sampai mereka berdua ikut kena lemparan makanan.


Putra yang terkena lemparan roti dari Ray pun membalas melempar. Tetapi, sasarannya kurang tepat dan malah mengenai wajah Ian.


"Kepar*t kau putra!" Ucap Ian dengan wajah menahan marah dan senyum terpaksa.


"Ups, sorry gak sengaja." Balas putra.


Ian pun mengambil roti di atas meja, "Makan nih roti!"


Ian pun membalas melemparkan roti ke wajah putra dan tepat sasaran. Ian terkekeh melihatnya, lalu putra pun membalasnya dengan roti ukuran besar dan melemparkannya ke Ian dan tepat sasaran.


Setelah itu, Mereka pun ikut aksi lempar-lempar makanan. Orang-orang di kantin menatap bingung mereka semua. Keadaan sekitar meja tersebut kacau balau. 


Disisi lain, Kamelia duduk diam di tengah-tengah keributan teman-temannya itu. Dia pun menghela nafasnya lelah melihat tingkah merekaari semua.


"Kalian bisa diam nggak!" Seru kamelia.


Akan tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mendengarkan Kamelia. Lalu, Kamelia pun berdiri. Tiba-tiba, ada sebuah roti melayang ke wajahnya.


Semua orang langsung terdiam. Kamelia menundukan kepalanya. Semua orang merasakan bulu kuduknya berdiri melihat Kamelia.


"Aduh, mati kita! Ratu es mau ngamuk tuh!" Bisik Dika.


"Siapa pelakunya?" Bisik Divya.


Dengan ragu-ragu Bima bertanya pada kamelia, "A-anu Lia, Lo gak—".


Kamelia langsung menatap tajam mereka semua. Mereka semua kaget dan langsung menelan salivanya susah.


"Kalian semua bisa diam ngggak sih?! Duduk! atau gue tusuk pake garpu satu- satu!" Kata kamelia. menatap mereka semua dengan garpu mengacung kearah mereka.


Mereka yang melihat tatapan tajam kamelia sekaligus garpu yang siap menusuk mereka langsung meneguk saliva susah payah.


"Hah, gila serem banget!" Batin mereka semua. Tak kecuali Ansel dan Ray yang ikut mengatakan Kamelia begitu menyeramkan kalau sedang marah.


Mereka pun langsung duduk diam di kursinya masing-masing.


Kamelia pun tersenyum melihatnya. "bagus!" pujinya.


"Tapi, sebelum itu kalian semua beresin kekacauan yang kalian buat ini!" ucapnya lagi dengan tatapan dingin.


Mereka pun melihat sekeliling mereka. Banyak makanan yang berserakan di lantai. Mereka pun menghela nafas mereka lelah.


"Ba-baiklah..." Ucap Mereka semua kompak.


🍂🍂🍂


...Next?...


...Iya atau nggak?...


...Gimana menurut kalian cerita ini? Cerita ya di komen...


...Sampai ketemu di part selanjutnya👋...


...With love ...


...PUSRI...

__ADS_1


__ADS_2