
...Halo, apa kabar?...
...gimana hari kalian? baik atau gimana?...
...oh ya, tinggal berapa part lagi menuju ending...
...yuk semangat. share juga ke teman-teman kalian...
...jangan lupa komen di setiap paragraf...
...Happy reading guys...
Divya berdiri di gerbang sekolah sembari memainkan ponselnya. Ia sedang menunggu gojek yang tadi ia pesan. Kenapa dia tidak pulang dengan yang lainnya? Jawabannya karena ia ada urusan makanya pulang duluan.
Saat ia sedang menunggu, tak jauh dari sana ada dua orang yang sedang memperhatikan dirinya.
"Sst, itu bukan orangnya?" tanyanya pada sang teman.
"Em, iya deh kayaknya," jawabnya.
"Yaudah, ayo cepatan!"
Kedua orang itu pun mendekat ketika keadaan sekitar nampak sepi. Lalu salah satu dari mereka membius Divya dan segera membawanya ke mobil yang tak jauh dari tempat mereka.
Setelah berhasil memasukan Divya dengan cepat mereka melajukan kendaraan tersebut. Tanpa mereka sadari ternyata mereka salah menangkap orang.
Tak lama, mobil itu berhenti disebuah bangunan yang terbengkalai. Mereka dari mobil lalu membuka pintu samping mobil. Kemudian, salah satunya membopong tubuh Divya untuk dibawa ke dalam sana.
Lalu, ia dudukan Divya di kursi yang tersedia dan mengikatnya menggunakan tali. Dan temannya tadi sedang memanggil bos mereka. Beberapa menit kemudian, terlihat tiga orang melangkah mendekat.
"Apa-apaan ini! Saya suruh kalian bawa Kamelia bukan dia," ucapnya emosi.
"Lah salah orang dong," katanya lirih. Ketika mendengar sang bos berkata mereka salah orang.
"Dasar nggak becus!" makinya.
"Udahlah, nggak usah dipikirin. Kita bisa manfaatin dia nanti," ujar cowok disampingnya.
Ia yang mendengar ucapan laki-laki langsung tersenyum. Dan ia mendapatkan ide yang sangat menarik.
"Ide bagus," katanya.
"Kalian jaga dia jangan sampai kabur!" perintahnya. Lalu, ia melangkah pergi dengan cowok tadi.
"Siap bos!" jawab mereka.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Kring! Kring! Bel istirahat pun berbunyi. Kamelia langsung bergegas keluar kelas.
"Woy, Lia! Mau kemana?" Tanya Bima.
"Kelas Divya," balasnya sedikit berteriak. Karena ia sudah ada di pintu kelas.
"Eh, buset dah tuh orang main tinggal aja," katanya.
"Udahlah, nggak usah dipikirin," ujar Dika.
Ray mulai beranjak dari bangkunya dan melangkah keluar diikuti mereka berdua.
Kini, Kamelia sedang berjalan menuju kelas Divya. Terlihat anak kelas Ipa1 satu per satu keluar dari kelas untuk istirahat. Sesampainya, ia dikejutkan dengan kehadiran Ansel dan temannya yang baru saja keluar kelas.
Ansel yang melihat kehadiran Kamelia sontak menaikan alisnya sebelah.
"Ngapain?"
"Di dalam ada Vya, nggak?"
"Nggak tahu," jawabnya cuek.
Kamelia yang mendengar jawaban itu sontak berdecak. "Ck," kesalnya.
"Vya nggak masuk," ujar Putra.
"Ha, nggak masuk? Sakit?"
"Alfa dia-nya," kata
Kamelia langsung terdiam memikirkan sesuatu. Nggak biasanya dia nggak masuk batinnya. Apa dia kena masalah? Soalnya dari kemarin dia nggak bisa dihubungi?
"Hei!" tegur Ansel. Dia yang mendengar itu langsung tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Lo kenapa?"
"Nggak papa," "kalo gitu, gue pergi dulu." Setelah itu, ia melangkah pergi sambil memikirkan kenapa Divya tidak masuk sekolah hari ini.
Kini, Kamelia sedang berada di kelasnya duduk melamun memikirkan sesuatu. Hingga kegiatannya itu terganggu oleh suara berisik seorang Bima.
"Lia!" serunya. Dia yang mendengar suara itu tentu saja mendengus kesal.
Lagi. Ia kembali memikirkan apa yang terjadi dengan Divya.
"Lo kenapa?" tanya Ray.
"Ha, gue?"
"Iya, lo kenapa? Lagi ada masalah?" Dika dan Bima yang mendengar pertanyaan Ray langsung menatap Kamelia.
"Hm, lo tahu Vya kemana atau dia bilang sesuatu gitu?"
"Emang kenapa sama Vya?" tanya Bima.
"Dia hari ini nggak masuk sekolah dan sejak kemarin nggak bisa dihubungi,"
"Gue takut terjadi sesuatu sama dia."
"Sakit kali dia makanya nggak bisa dihubungi," kata Dika.
"Iya, santai aja. Besok juga dia pasti masuk," ucap Bima.
"Tapi---" ucapannya terpotong karena suara bel masuk berbunyi. Kelas yang tadinya sepi sekarang mulai terisi satu per satu oleh penghuninya.
Tak lama guru yang mengajar pun masuk kelas dan memulai pelajarannya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu. Kini, Kamelia mulai beranjak dari bangkunya melangkah keluar kelas diikuti trio kampret. Dia berjalan dengan rasa gelisah. Entah ia merasakan firasat buruk terjadi pada Divya.
Dari tadi dia terus menghubungi nomor ponsel temannya itu tapi tidak ada balasan. Ratusan pesan dan puluhan panggilan tidak jawaban sama sekali. Dan hal itu semakin membuat dia cemas. Jika firasatnya benar terjadi.
"Hei, lo kenapa? Gue perhatikan daritadi kayak gelisah, kenapa?" tanya Ray yang berada disambingnya.
"Entahlah. Tapi gue punya firasat buruk kalo Vya dalam masalah," balasnya.
"Udah coba hubungi dia?"
Dari arah berlawan terlihat tiga cowok sedang berjalan menuju mereka. Ansel dan kedua temannya kini sudah berada di hadapan Kamelia. Mereka bertiga habis dari lab kimia karena kelas mereka melakukan praktik.
"Ayo pulang," kata Ansel. Ketika ia sudah di dekat Kamelia.
Kamelia yang sedang berbicara dengan Ray menolehkan kepalanya.
"Iya," jawabnya singkat. Setelah itu, mereka berjalan menuju parkiran.
Ketika mereka tiba di parkiran sekolah tiba-tiba ponsel Kamelia berbunyi tanda ada pesan masuk. Kamelia yang menerima pesan pun langsung membuka layar ponsel berharap itu pesan dari Divya.ย
Namun, ia malah mendapati nomor tak dikenal mengirim pesan padanya. Dengan penasaran ia membuka pesan tersebut.
[Kalo mau teman lo selamat datang ke alamat ini. Sendiri!]
Dan terdapat foto Divya yang tengah terikat disebuah kursi. Kamelia yang melihat hal itu langsung mengeram menahan emosi. "Sial," umpatnya.
Mendengar umpatan kesal Kamelia. Ansel lamgsung menolehkan kepalanya menatapnya. "Kenapa?" Kamelia yang mendapat pertanyaan itu langsung menjawab dengan rasa emosinya.
"Divya diculik," ucapnya cukup keras lantaran emosi. Firasatnya benar-benar terjadi bahwa Divya tengah dalam masalah.
"Apa!" teriak Bima dan Dika. Saat mendengar Divya diculik. Mereka langsungย mendekati Kamelia.
"Vya diculik?"
"Dimana Vya sekarang?"
"Siapa yang nyulik dia?"
"Lo nggak bercanda, kan?"
Mereka berdua memberondong Kamelia dengan pertanyaan-pertanyaan. Tanpa mereka tahu kini dia sedang menahan emosinya. "Kalian bisa diam nggak, sih!" bentaknya.
Dika dan Bima langsung terdiam mendengar suara Kamelia yang penuh akan amarah. "Sekarang Vya diculik dan pelaku mau gue kesana. Sendirian!" ujarnya.
"Nggak. Gue nggak bakal biar lo kesana sendiri," kata Ansel. Kamelia menatap Ansel. "Kenapa?" tanyanya.
"Benar kata Ansel, Lia. Lo nggak mungkin kesana sendirian. Kita bakal bantu lo karena Divya juga teman kita," ujar Ray.
__ADS_1
"Kalo mereka tahu gue nggak sendirian. Mereka bakal nyiksa Divya dan gue nggak mau itu terjadi."
Sungguh, saat ini perasaan tidak karuan. Dia takut terjadi sesuatu dengan temannya itu. Setelah sekian ia menutup hati untuk tidak memiliki seorang teman cewek. Dan kini ia mulai menganggap Divya sebagai temannya sebab dia mampu membuatnya dirinya untuk kembali percaya pada seseorang.
"Dengar!" kata Ansel. Memegang kedua bahu Kamelia untuk menatap matanya.
"Gue nggak akan biarin lo sendirian. Dan kita bakal bantu buat nyelamatin Vya. Sekarang kita perlu rencana untuk melakukan hal itu."
"Jangan khawatir," ucapnya lembut. "Hm." Ia menganggukan kepalanya.
"Okey, sekarang kita siapkan rencana!"
Setelah itu, mereka mulai menyusun rencana untuk menyelamatan Divya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Kini, Divya sudah sadar dari pingsan. Dan ia mendapati dirinya tengah terikat disebuah kursi. Di menatap sekelilingnya. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.
"Tolong! Tolong saya!" teriaknya meminta tolong.
"Tolong! Lepaskan saya!" Saat ia tengah berteriak. Seseorang melangkah mendekatinya dengan senyuman yang menyebalkan.
"Halo," sapanya. Divya yang mendengar suara sontak menolehkan kepalanya. Ia melotot menatap orang di depannya.
"Lepasin gue bangsat!"
"Lepas? Oh, nggak semudah itu," ucapnya.
"Mau lo apasih!"
"Mau gue?" Memegang dagunya seolah berpikir.
"Hm, gue mau teman lo itu mati," ucapnya. Menatap mata Divya.
"Gila lo! Lepasin gue!"
"Hahaha, percuma lo teriak gue nggak akan lepasin."
"Nah sekarang sekali nunggu teman lo datang. Gimana kita main-main dulu," ucapnya. Lalu, dia mengeluarkan pisau lipatnya.
Kemudian, ia berjalan memutari tubuh Divya sembari memainkan pisaunya. "Gimana? Lo mau mulai dari mana?"
"Paha, lengan atau... wajah," ucapnya dengan senyum iblis.
"Lepas! Dasar gila!"
"Aduh, berisik banget. Dari mulut lo aja kalinya biar lo nggak berisik." Lalu, tangannya menggores lengan Divya.
"Ssh," ringisnya menahan pedih.
"Ops, sengaja hahaha!"
Di sisi lain, mereka sudah selesai menyusun rencana. Dan sekarang mereka bersiap menuju tempat Divya disekap. Semua berboncengan kecuali Ray, dia hanya seorang diri.
"Siap?" tanya Ansel.
"Siap!" jawab mereka serentak.
Ansel mulai melajukan motornya diikuti yang lainnya. Dia memimpin rencana mereka. Dibelakangnya Kamelia tengah memikirkan Divya berharap cewek itu tidak kenapa-kenapa.
Ansel yang tahu cewek yang diboncengi sedang cemas mengusap tangan Kamelia yang melingkar di tubuhnya dengan lembut mencoba menenangkannya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dalam waktu 30 menit. Akhirnya mereka berhenti tidak jauh dari lokasi Divya berada. Mereka sengaja berhenti disana agar tidak ketahuan. Sesuai rencana Kamelia akan kesana sendirian dan mereka akan mengikuti diam-diam dibelakangnya.
Ketika waktunya tiba, mereka akan melancarkan aksi mereka. Karena dapat dipastikan ada beberapa orang yang berjaga disana.
Mereka sudah turun dari motor masing-masing bersiap untuk menjalankan rencana. "Sekarang!" perintah Ansel. Kamelia mengangguk yakin kepada mereka sebelum pergi. "Hati-hati," kata Ansel dan dibalas anggukan Kamelia.
Kemudian, mereka berempat mengikuti Kamelia dengan jarak lima meter dibelakangnya. Sedangkan, Bima dan Dika ditugaskan untuk menjaga motor sekaligus mengawasi keadaan sekitar.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
...Gimana next, nggak?...
...Menurut kalian ceritanya gimana?...
...Seru nggak? Penasaran nggak?...
...Vote and comment ya, guys!...
...Thank you for all...
__ADS_1
...๐Love us๐...
...PUSRI...