
...Happy reading...
Claretta, Davina dan Zelmira sedang berjalan menuju ke kantin bersama. Setelah kejadian kemarin, semua orang di sekolah semakin membenci mereka bertiga.
Kepala sekolah menutup kasus tersebut yang sudah pasti dibantu siapa lagi kalau bukan ayahnya Claretta untuk membungkam para reporter.
Akan tetapi, mereka tidak berani menunjukkan kebenciannya kepada Claretta dan gengnya. Mereka hanya diam dan menahan emosi mereka.
Sementara itu, Claretta dan gengnya tidak merasa bersalah atas kejadian tersebut. Malah mereka menertawakan dan mengejek semua orang yang kemarin berani menentang mereka bertiga.
Nampak Claretta dan gengnya sedang berjalan sambil mengobrol membahas tentang kejadian kemarin dan siswi bunuh diri itu, diiringi dengan tawaan serta ejekan mereka.
"Hahaha! Dia aja yang mentalnya lemah. Gitu aja langsung bunuh diri," kekeh Zelmira.
"Cih, emang baperan tuh anak. Apalagi cewek kemarin yang sok berani ngatain Claretta. Pengen banget gue injek-injek tuh muka nya," timpal Davina.
"Hahaha!.. kalian tenang aja cewek kemarin udah gue beri pelajaran. Kalian tahu kenapa dia nggak masuk hari ini?" tanya Claretta. Membuat kedua temannya itu penasaran.
"Karena dia di skors selama 3 Minggu," sambung Claretta sembari tersenyum miring.
"Serius? Hahaha! Rasain emang enak," ucap Zelmira sembari tertawa. Dan Davina pun ikut tertawa.
"Oh iya guys, kalian duluan aja ke kantin. Gue mau ke toilet dulu," kata Claretta. Lalu berjalan duluan.
"Ok, ketemu di kantin di tempat biasa ya," balas Davina.
Setelah itu, Claretta pun pergi ke toilet. Setelah menunaikan hajatnya. Ia melangkah menuju wastafel dan mencuci tangannya.
Dia melihat dirinya sekilas di cermin untuk melihat penampilannya. "Hmm perfect," pujinya untuk dirinya sendiri sembari tersenyum.
Saat ia sedang membasuh tangan tiba-tiba ia merasa ada bayangan lewat dibelakangnya. Dengan cepat ia menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun disana.
"Kok gue ngerasa ada orang lewat ya? Hm, tau ah mungkin hanya perasaan gue," ucapnya.
Lalu ia berbalik menghadap cermin. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat cermin itu berwarna merah seperti darah yang terdapat tulisan kata "pembunuh".
"A-A-apa..ini?!..." tanyanya terbata - bata. Kemudian, perlahan berjalan mundur menjauhi wastafel.
Claretta terpaku melihatnya, jantungnya mulai berdetak kencang, matanya melebar tak percaya apa yang dilihatnya,dan tangannya gemetar dengan perlahan dia menutup mulutnya.
Ketika ia sadar dari rasa kagetnya dengan cepat ia berlari keluar dari toilet tersebut. Jantungnya terus berdetak kencang, keringat dingin terus bercucuran di wajahnya, dan wajahnya sedikit memucat.
Sementara itu, Orang-orang yang berlalu lalang terlihat bingung dan bertanya-tanya melihat Claretta berlari keluar dari toilet dengan wajah penuh ketakutan.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Kamelia dan teman-temannya sedang duduk di kantin sembari menikmati makanannya dan diselingi tawa serta candaan trio kampret. Siapa lagi kalau bukan Dika, Bima, Ray serta Divya yang ikutan bercanda.
Di antara banyaknya meja, hanya meja mereka yang paling berisik dan ribut dengan suara lantang dan suara tawa yang bisa membuat orang kepo ingin tahu apa yang mereka bicarakan sampai tertawa terbahak-bahak begitu.
"Buset pedes banget! Siapa nih yang ngasih sambel ke mangkok gue?! Ayo ngaku!!" tanya Bima sambil mendesis kepedasan dengan wajah sedikit memerah.
"Pffftt hahaa! Hululu kasihan banget sih, ini nih minum," ucap Dika sambil menyodorkan segelas air.
Bima hanya menatap gelas tersebut, "Nggak mau." Tolak Bima.
"Ya elah udah baik juga malah di tolak, kek cintanya Udin ditolak Maimunah aja lu," ucap Dika.
"Sss ha ssss ha. Gue nggak percaya sama Lu! Ogah gue ntar cuci tangan lagi lu kasih ama gue," balas Bima dengan wajah penuh curiga sembari menahan pedas di mulutnya.
"Ya udah, nih minum aja punya gue," Ucap Divya. Sembari menyodorkan segelas air pada Bima.
"Nah ini nih baru temen gue, Lo emang baik banget Vya bukan kayak nih kadal!" Menatap sinis Dika.
"Makasih Vya," Ucapnya lagi sembari tersenyum manis tapi membuat Dika dan yang lain mual melihatnya.
"Uuwekkk!" ucap Dika. Yang mual melihat Bima.
Bima pun meneguk air diberikan Divya tadi. Tiba-tiba, matanya melebar kemudian dia menyemburkan air yang diminumannya keluar dari mulutnya. Dika, Ray dan Divya tertawa melihat tersebut.
"Njirr asin banget! Air apa ini?!" tanya Bima.
"Perkenalkan rasa es terbaru yaitu rasa laut asin, diperkaya dengan seratus persen garam dan air." ucap Ray dengan nada seperti orang di iklan tv.
Sementara itu, Divya dan Dika terbahak-bahak melihat Bima dan Ray. Sedangkan Kamelia hanya tersenyum melihat kelakuan jahil mereka ke Bima.
"Huek. Cih! Tega bener kalian pfff asin banget! Awas aja kalian!" ucap Bima.
"Hahaha!...April mop Bima!" Serentak Divya, Dika dan Ray.
"Selamat anda telah dikerjain! Anda akan mendapatkan kesialan selanjutnya dari kami," ucap Dika dengan nada bicara seperti pembawa acara tv.
Bima langsung menyodorkan gelas air berisi larutan garam tadi ke mulut Dika dan berhasil membuat Dika merasakan keasinan di mulutnya. Mereka pun kembali tertawa melihat ekspresi Dika.
"Anjir asin banget! Eh Ray lo juga harus—"
"Wah, lagi ngobrolin apa, nih ? Kayaknya seru, boleh ikut gabung nggak?" Tanya seseorang memotong pembicaraan Dika. sembari tersenyum membawa nampan berisi makanan.
Sontak Ray, Dika, Bima, Divya dan Kamelia langsung menoleh. Ternyata itu adalah Ian kemudian disampingnya ada Putra dan juga Ansel.
Tanpa minta izin terlebih dahulu, Ansel pun langsung mendudukan dirinya disebelah Kamelia. Sehingga Kamelia berada diantara Ansel dan Ray.
__ADS_1
Putra dan Ian pun ikut duduk. Mereka duduk disebelah Bima. Mereka semua menatap heran Ansel dan gengnya tiba-tiba ikut gabung makan bersama.
Ray menatap sinis Ansel, "nggak sopan banget sih asal duduk aja!"
Ansel melirik Ray sinis, "Gua nggak butuh izin lo. Toh Kamelia pacar gua, jadi seharusnya lo yang sadar diri!"
Ray mengepalkan tangannya kuat, dia benar-benar membenci laki-laki di hadapannya ini. Mereka berdua saling menatap sinis satu sama lain.
Sedangkan Kamelia biasa saja seakan tidak terganggu dengan kehadiran mereka berdua dan memilih untuk menikmati makanannya. Begitu pun juga Ian dan putra yang fokus dengan makanan mereka.
Bima yang merasakan aura gelap dari dua laki-laki ini mencoba mencairkan suasana. Namun, dia sedikit bingung harus membicarakan apa. Dia pun langsung menoleh ke Dika dan memberikan kode.
Dika yang melihat itu sontak terkejut dan menggelengkan kepalanya tanda tidak mau karena takut. Kemudian, Bima melotot dan Dika pun menyerah lalu menghela nafasnya lelah.
"A-anu... Be-bentar lagi kita ujian kan? A-apa kalian udah belajar?" tanya Dika gugup.
Sontak semua orang langsung menoleh ke Dika. Mereka terdiam begitu pun juga Bima dengan wajah sedikit terkejut tak percaya apa yang dikatakan Dika barusan.
Ansel dan Ray yang tadinya saling menatap sinis satu sama lain langsung menoleh ke Dika dengan tatapan bingung.
"Pfffff hahahah!....." Tawa Bima.
"Wah gila sejarah baru! Seorang Dika membicarakan tentang ujian. Ck, ck harus di apresiasi nih," ucap Divya.
"Lo nggak lagi kesambet kan?" tanya Ray dengan tampang serius menatap Dika.
Dika yang mendengar semua itu pun hanya bisa tersenyum pasrah. "Hiks, salah gua apa coba," batinnya.
"Gua nggak nyangka tampang kayak lo mau belajar juga," ucap Ian sembari sok serius menatapi wajah Dika.
"Apa lo bilang?!" ucap Dika sembari memaksakan senyumannya.
"Hadeh. Lo nggak boleh gitu Ian," bela Putra.
Dika tersenyum senang dengan mata berbinar-binar menatap putra. "Hm, ternyata hanya Lo tahu perasaan gua. Temen -temen gua pada laknat semua." Ujar Dika terharu.
"Walaupun tampangnya kayak berandalan kek gini, males belajar, kucel, kumal, dan kaku gini kita harus mengapresiasi dia," sambung Putra.
Hal hasil membuat semua orang tertawa, terlebih lagi Bima yang terus tertawa terbahak-bahak melihat Dika.
"Njir, ternyata lo laknat juga ya." Ucap Dika. Lalu menatap semua orang yang suasana tadinya mencengkam sekarang terlihat santai.
"Hah, akhirnya tenang juga," ucap Dika dalam hatinya lega.
Kemudian, Mereka pun menikmati makanan mereka dengan diselingi tawa dan candaan Dika, Bima, Ian, Putra yang sekali kali terkadang ribut dan saling mengejek satu sama lain.
__ADS_1
🍂🍂🍂