Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
42. Kamelia merah


__ADS_3

...Happy reading...


Dia berjalan menuju taman belakang sekolah. Sesampainya disana, ia dikejutkan dengan pemandangan di depan matanya. Disana ia melihat dua orang tengah duduk dibangku taman sambil berciuman.


Membuat hatinya sakit melihatnya. Dia tidak menyangka bahwa mereka tega melakukan itu padanya. Dia hanya menatap nanar mereka yang kini berpelukan dengan mesra.


"Sayang," ucapnya manja.


"Kenapa sayang?"


"Aku mau kamu putusin dia."


"Hm, emang kenapa?"


"Ish, pokoknya aku mau kamu putusin dia. Kan kamu udah punya aku. Lagian kamu ngapaian pacarin cewek kayak dia."


"Iya-iya, nanti aku putusin. Udah jangan ngambek." 


Dia yang melihat dan mendengar percakapan mereka hanya bisa menangis. Dia kecewa dan sakit hati. Tega sekali mereka berbuat seperti itu dibelakangnya.


Bagaimana dia tidak sakit hati melihat sahabatnya sedang bermesraan dengan pacarnya. Dia tidak tahu bahwa selama ini mereka selingkuh dibelakang dirinya. Ya, mereka adalah Davina dan Haikal. Dan gadia yang tengah menatap mereka itu adalah Kamelia.


"Hiks... ken--napa kalian tega lakuin itu sama aku, hiks. Apa salahku?" Dia menangis sesenggukan. Setelah itu, ia pergi meninggalkan tempat itu.


Kamelia melangkah di koridor sekolah. Rambutnya yang tergerai indah membuatnya terlihat semakin cantik. Meskipun mata nampak sembab karena habis menangis.


Akan tetapi ia merasa aneh, karena orang-orang menatap sinis dirinya. Padahal, setahunya ia tidak melakukan kesalahan. Hingga suara orang-orang terdengar menyindir bahkan menghina.


"Eh lihat! Nggak tahu diri banget rebut pacar sahabat sendiri," ujar salah satu siswi.


"Dasar nggak tahu malu!"


"Cewek munafik!"


"Dasar pengkhianat! Bermuka dua!"


Sedangkan, ia yang mendengar perkataan mereka yang memaki dirinya tidak mengerti. Sebenarnya, apa yang terjadi sampai mereka semua berkata seperti padanya.


Tak lama tiba di kelasnya. Ketika ia memasuki kelasnya. Teman-temannya juga menatap sinis dirinya. Ia jadi semakin bingung dibuatnya.


Ia yang penasaran menghampiri temannya. "Kalian kenapa? Kok aneh?" Tanyanya.


"Aneh? Lo yang aneh, dasar cewek munafik!" Dia yang mendengar perkataan temannya itu terlonjak kaget.


"Dasar pelakor! Wanita ular, pacar sahabat sendiri kok direbut! ******!"


"Maksud kalian apa?" "Aku nggak tahu maksud kalian apa?"


"Nggak usah pura-pura bego lo!"


"Nggak usah berlagak nggak tahu deh!"


"Aku beneran nggak tahu. Maksud kalian apa?" tanyanya bingung sekaligus sedih melihat sikap teman kelasnya.


"Cih, lo itu udah rebut Haikal dari Davina! Dasar pelakor!"  Dia kembali terkejut mendengar ucapan temannya.


Yang mengatakan jika ia merebut Haikal dari Davina. Padahal, ia tidak pernah merebutnya. Karena nyatanya, Davina lah yang merebut Haikal darinya. Bahkan, mereka dengan teganya selingkuh dibelakangnya selama ini.


"A--ku nggak per--nah rebut Haikal" ucap terbata-bata.


"Alah, nggak usah bohong. Semua udah kalo lo rebut pacar sahabat sendiri!"


"Pergi lo dari sini. Nggak sudi kita liat lo di kelas ini! Dasar pelakor!"


"Pergi lo!" Lalu orang itu melempar kertas kearah gadis tersebut diikuti yang lainnya menyuruh dia pergi.


"Dasar munafik!"

__ADS_1


"Pengkhianat, huhu!"


"Orang kayak lo nggak pantas disini, pergi sana!"


Dia yang menerima perlakuan seperti itu hanya menundukkan wajahnya lalu ia berlari keluar kelas dengan air mata yang sudah menetes dipipinya.


...🔥🔥🔥...


Di sebuah rumah mewah itu terdapat sepasang suami istri sedang menikmati waktu santai mereka sambil menonton televisi.


"Anak-anak belum pulang, ma?" Tanya sang suami pada istrinya.


"Belum pa, abang lagi ada acara di kampus. Kalo adek katanya pulang telat karena kerja kelompok," jelas istrinya.


"Gitu ya," balasnya. Setelah itu, mereka kembali menatap televisi di depan mereka.


Tapi, kegiatan itu terhenti ketika mereka mendengar suara pintu yang dibanting kasar.


Brakk!


"Astaga, itu suara apa?" Ucapnya kaget.


"Nggak tahu. Coba papa liat dulu." Kemudian, ia beranjak dari sofa.


Sesampainya, ia melihat dua tiga orang berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu dengan memegang pistol ditangan.


"Siapa kalian? Mau apa kalian kesini?"


"Siapa kita Anda tidak perlu tahu. Dan kedatangan itu untuk melenyapkan Anda!"


Lalu ia mengangkat pistolnya dan Dor! Dor!


Suara tembakan langsung terdengar. Sang istri yang sedang berada di ruang keluarga terkejut mendengar suara tembakan tersebut. Dengan cepat ia pergi menemui suaminya. Dan ia terkejut mendapati suaminya tertembak.


"Mas!" Teriaknya. Berlari menuju suami-nya yang sudah tergeletak tak berdaya.


"Mas, bangun mas, hiks...." dia memangku kepala suami-nya dipangkuannya.


"Apa salah suami saya?" isaknya.


"Suami Anda sudah mati," ucapnya sarkas.


"Tidak! Mas bangun, mas hiks." Saat ia tengah menangis, orang itu kembali mengangkat pistolnya bersiap untuk menembakkan peluru kembali.


"Hiks... ma--" ucapan itu terpotong ketika suara tembakan terdengar dan menembus kepalanya. Membuat terjatuh disamping sang suami dengan kondisi yang sama mengenaskan.


...🔥🔥🔥...


Seseorang laki-laki terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Apalagi, ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana sang ibu ditembak dihadapannya hingga mati. Sudah pasti dirinya sok melihat itu semua.


"Ma, Pa," lirihnya. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal. Terlihat emosi di kedua matanya.


Dengan emosi ia melangkah mendekati mereka dan menghajarnya.


Bak! Bak! Bak!


Dia menghajar mereka secara brutal dan tanpa ampun. Dia menarik kerah baju orang di depannya lalu memukulnya.


"Kenapa kalian bunuh orang tua saya, hah!" "Kenapa?"


Mereka yang melihat temannya dipukul langsung ikut menyerang sehingga terjadilah perkelahian.


Dia menyerang mereka. Satu lawan tiga. Meski kalah jumlah ia tetap berusaha mengalahkan mereka. Tak jarang ia juga mendapatkan serangan balasan.


Namun, ia tidak menyerah. Dia terus menajarkan mereka sampai mereka kewalahan. Saat ia hampir mengalahkan mereka, dirinya merasakan peluru menembus kakinya hingga ia terjatuh.


Setelah itu, peluru kembali mengenainya tepat dibagian dadanya. "Akh!" Teriaknya. Lalu ia terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Hah... hah...." ucapnya mereka ngos-ngosan akibat perkelahian tadi.


Lalu, sang ketua mengeluarkan handphone dari saku celana dan menelpon seseorang.


"Halo, misi selesai" lapornya kepada orang di seberang telpon.


"Siap bos!" Kemudian, ia memasukkan kembali handphone-nya.


"Ayo pergi!" Setelah itu, mereka pergi meninggalkan rumah itu. Dengan ketiga korban yang sudah tak berdaya.


Kamelia memasuki halaman rumahnya. Namun, ia merasa aneh. Kenapa rumahnya terlihat sepi? Selain itu, dimana satpam yang biasa berjaga di gerbang.


Seakan itu tidak penting, ia kembali melanjutkan langkahnya. Lalu, ia mengeryit heran mendapati pintu rumah yang terbuka. Tidak biasanya? Batinnya.


Lalu, ia masuk ke dalam rumah dan ia dibuat mematung ketika melihat semua keluarga-nya sudah tergeletak di lantai dengan darah dimana-mana.


"Mama! Papa! Abang!" Ia berlari menuju mereka.


"Ma! Pa! Bangun," ucapnya sambil mengoyangkan tubuh mereka agar bangun. Akan tetapi hasilnya nihil karena nyatanya mereka sudah meninggal.


"Hiks... jangan tinggalin, ma, pa hiks." Saat ia sedang menangis, dia mendengar suara lirih seseorang memanggilnya.


"Li--a" dia langsung mendongakkan kepalanya dan menoleh kearah orang yang memanggilnya.


Dia melihat kakaknya sedang berusaha mengatakan sesuatu. Dengan cepat ia mendekati sang kakak. "Bang," ucapnya.


"Jang--an nangis," ucapnya terbata-bata.


"Ab--ang mau ka--sih ini ke kamu." Memberikan benda itu kepada Kamelia. Dengan bingung ia menerima benda tersebut.


"Bang, jangan tinggalin Lia hiks. Abang harus bertahan, hiks," isaknya.


"I--tu pe--tunjuk bu-at kamu." Setelah mengucapkan itu, ia tak sadarkan diri.


Kamelia yang melihat sang kakak menutup mata langsung histeris. "Abang! Bangun bang! Jangan tinggalin aku, hiks. Bangun!"


Di malam itu, dia kehilangan keluarganya dan tinggalah dirinya sendiri. Sejak itu, ia terus mengurung dirinya di kamar dan menangisi kepergian mereka.


Dia bisa merelakan kepergian mereka karena itu terlalu menyakitkan. Baru saja ia dikhianati dan sekarang ia harus kehilangan orang-orang yang ia cintai. Betapa kejamnya hidup ini.


"Hiks... hiks... Ma, Pa, Abang kalian jahat banget ninggalin aku sendirian disini, hiks...."


Hingga hal tidak terduga terlintas dipikirannya. Yaitu balas dendam. Dia langsung menghentikan tangisnya dan berpikir keras.


Beberapa menit kemudian, ia sudah memutuskan akan balas dendam kepada mereka yang telah membunub keluarganya.


"Aku akan balas dendam. Siapapun kalian, aku tidak akan melepaskannya."


"Aku tidak akan memaafkan mereka yang sudah melakukan semua ini sama keluargaku."


"Aku akan membuat mereka merasakan apa yang kurasakan bahkan lebih dari ini." Ia mengepalkan tangannya dan membulatkan tekadnya.


"Mulai hari ini adalah awal yang baru untuk sosok Kamelia. Jika dulu aku adalah Kamelia putih maka sekarang aku adalah Kamelia merah," ucapnya.


Dan sejak itu, Kamelia menjadi sosok yang dingin tak tersentuh dengan teka-teki yang dimilikinya. Menjadi gadis yang penuh akan balas dendam.


...🔥🔥🔥...


...Gimana next, nggak?...


...Menurut kalian ceritanya gimana?...


...Seru nggak? Penasaran nggak?...


...Vote and comment ya, guys!...


...Thank you for all...

__ADS_1


...💙Love us💙...


...PUSRI...


__ADS_2