
...Happy reading...
Ansel menunggu Kamelia di atas motornya. Ia berniat mengajak Kamelia ke suatu tempat agar cewek itu bisa mengistirahatkan pikirannya. Karena ia tahu akhir-akhir ini keadaan Kamelia agak kacau.
Tak lama kemudian, Kamelia datang dengan tampilan yang simple. Dia memakai hoodie dan jeans hitam khas gayanya.
"Lo mau ngajak gue kemana?" Tanyanya kepada Ansel.
"Udah ikut aja. Entar juga tahu," balasnya. Setelah itu, Kamelia naik keatas motor. Lalu, Ansel melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Jalanan terlihat ramai karena banyak kendaraan berlalu-lalang. Sebab, ini adalah malam minggu sehingga banyak orang yang menghabiskan waktu bersama orang terkasih.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka tiba ke tempat tujuan. Dan ternyata Ansel membawanya ke taman hiburan.
"Ngapain lo bawa gue kesini?"
"Sst... nggak usah bawel, oke?" Ansel turun dari motornya dan menarik Kamelia untuk masuk ke taman hiburan.
Kamelia menatap sekelilingnya. Terlihat disana suasananya sangat ramai. Banyak orang-orang yang datang untuk menikmati bersama keluarga, teman atau pacar mereka. Kerlap-kerlip lampu menambah kesan meriah dari tempat ini.
"Lo mau naik bianglala, nggak?" Tanya Ansel.
Kamelia yang mendengar pertanyaan Ansel menoleh padanya. "Kenapa?"
"Mau naik itu nggak?" Tunjuknya kearah bianglala. Kamelia mengikuti arah tunjuk Ansel. Ia menatap lekat itu lama teringat akan sesuatu.
Seorang anak kecil nampak ceria. Dengan penuh semangat dia menarik sang kakak untuk menemani dirinya.
"Bang, Lia mau naik itu" katanya sembari menunjuk bianglala yang tengah berputar.
Sang kakak pun menatap adiknya. "Kamu yakin?" Tanyanya kakak.
"Yakin kak," ucapnya semangat.
"Yaudah. Kalo kita pesan tiket dulu."
"Yeay, Lia sayang Abang!" Sang kakak yang melihat adiknya ceria pun tersenyum.
"Lia! Hei!" Tegur Ansel.
"Hah..."ucapnya linglung karena baru sadar dari lamunan.
"Gimana?"
"Hm, iya."
"Oke. Gue pesan dulu tiketnya."
Tak lama Ansel kembali dengan kedua tiket ditangannya. Setelah itu, mereka bersiap naik bianglala setelah memberikan tiket ke penjaga. Bianglala pun berputar dan hanya keheningan yang menemani mereka berdua.
Ansel menatap lekat Kamelia yang berada di hadapannya. Sedangkan, Kamelia tengah menikmati pemandangan dari bianglala. Ini adalah hal yang ia sukai ketika menaiki ini. Dan ia juga bisa menatap bintang-bintang yang memenuhi langit malam.
__ADS_1
Lagi-lagi kondisi ini membuatnya teringat memori masa lalunya. Dimana ia pernah ke taman hiburan bersama keluarganya. Saat itu, ia berumur sepuluh tahun. Saat itu, ia mengajak kakaknya untuk naik permainan ini dengan senang hati sang kakak menyetujuinya. Dan orangtua mereka memilih menunggu ditempat tak jauh dari sana.
"Huh...." Kamelia hanya bisa menghela nafas ketika memori itu melintas dipikirannya. Dan Ansel sejak tadi memperhatikan dirinya tanpa ia sadari.
...🔥🔥🔥...
Dia melangkah masuk ke dalam ruang itu. Kemudian, ia membalut tangannya dengan sebuah kain. Setelah itu, dirinya mendekat ke benda berwarna hitam seperti guling dan mulai memukulnya.
Buk buk buk!
Tidak hanya memukul dia juga menendang benda tersebut. Seakan-akan ia tengah berhadapan dengan seorang musuh. Memukulnya tanpa ampun.
Gadis itu terus memukul samsak di depannya dengan sekuat tenaga, menyalurkan emosi yang membara. Kejadian waktu itu mampu membuat dirinya emosi sekaligus sedih. Ia sedih mengingat apa yang terjadi pada keluarga. Dan amarah ketika ia tahu siapa dalang dari semua kejadian itu.
Buk buk!
"Gue akan balas kalian! Lihat aja nanti!" Buk!
Dia terus melampiaskan emosi pada benda di depannya. Kejadian waktu teringat jelas di kepalanya membuatnya semakin dipenuhi amarah.
Flashback on
Kamelia terus menyerangnya dan pria itu terus menghindari serangannya. Sesekali dia juga melayangkan tendangan. Lalu, katana itu menggores bahu kanannya.
"Sialan!" Umpatnya. Seketika darah mengucur dari bahunya. Kemudian, ia melihat ada pisau di atas meja dengan cepat ia mengambilnya.
Setelah itu, terjadilah pertarungan sengit antara mereka berdua. Perpaduan suara katana dan pisau terdengar nyaring diruang itu.
Dia bangkit dan kembali menyerang. Sehingga pertarungan terjadi. Lalu, pisaunya menggores pipi kiri Kamelia. Pertarungan semakin sengit sampai akhirnya Kamelia berhasil menusukan katananya ke perut laki-laki itu.
Kamelia menusukkan katana-nya ke perut pria tersebut. Membuat dia kesakitan. Dengan tetap menusukkan katana, Kamelia kembali bertanya,"siapa yang nyuruh lo bunuh keluarga?"
"Jawab!" Bentaknya.
Pria itu perlahan mulai bicara,"or--ang yang nyu--ruh kita adalah...," "David Adikara."
Kamelia yang mendengar jawaban pria itu memegang erat katana-nya. Saat nama seorang yang merupakan dalang pembunuhan keluarganya terucap. Emosi dalam dirinya membuncah.
Sedangkan, Ansel yang baru saja sampai juga dibuat terkejut mendengar ucapan pria itu. Dia menatap Kamelia yang berada di depan sana.
Lalu, ia menusukkan pedangnya lebih dalam hingga menembus perutnya. "Akh!" Teriaknya ketika katana itu menusuknya lebih dalam.
Setelah itu, Kamelia menarik katana itu dengan sekali gerakan. Dan tubuh pria itu terjatuh dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Flashback on
Buk buk!
"Hah...hah..." keringat membasahi tubuhnya. Bulir-bulir keringat menetes dari dahinya. Kemudian, ia melepaskan balutan kain ditangannya. Melangkah keluar dari ruangan tersebut menuju dapur. Lalu, Ia mengambil air dari dalam kulkas dan meneguknya hingga tak tersisa.
"Hah..." ucapnya ketika merasakan segarnya air tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, dirinya termenung seperti memikirkan sesuatu.
...🍂🍂🍂...
Nampak seorang gadis tengah duduk sambil menikmati minumannya. Suasana bising disekitar tak mampu mengganggu dirinya. Seakan itu adalah hal yang biasa ia dengar.
Gadis itu adalah Davina. Saat ini, ia berada di meja bar tempat biasa dia dan teman-temannya nongkrong. Namun, kali ini dia hanya seorang diri tanpa Claretta dan Zelmira.
"Satu lagi!" Pintanya kepada bartender di depannya. Setelah itu, ia kembali meneguk gelasnya yang sudah di isi bartender tadi.
"Hah...." ia meletakkan gelasnya. Dia terlihat kesal nampak dari raut wajahnya.
"Kamelia sialan!" makinya. "Lihat aja nanti. Gue bakal buat lo menderita!"
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Kemudian, orang itu mengeryitka alisnya ketika mendengar Davina menyebut nama Kamelia.
Setelah itu, ia melangkah menuju meja bar dimana Davina berada. Sesampainya, dia kaget melihat orang di depannya adalah orang yang dikenalnya.
"Davina," ucapnya. Davina yang mendengar seseorang memanggilnya pun menoleh dan ia tak kalah kaget melihat orang di hadapannya.
"Haikal?"
"Iya, ini gue Haikal. Lo apa kabar?" Ia pun duduk disebelah Davina.
"Gue baik."
"Lagi ada masalah?"
"Hm," balasnya.
"Oh iya, lo masih ingat Kamelia nggak? Soal---"
"Kamelia?" Potongnya cepat.
"Iya," balas bingung ketika melihat respon Davina. "Gue ketemu dia kemarin di taman," ucapnya. Dia terdiam mendengar ucapan Haikal. Namun, suatu rencana terlintas di otaknya.
...🍂🍂🍂...
...Gimana next, nggak?...
...Menurut kalian ceritanya gimana?...
...Seru nggak? Penasaran nggak?...
...Vote and comment ya, guys!...
...Thank you for all...
...💙Love us💙...
...PUSRI...
__ADS_1