
...Happy reading...
Seorang pria paruh baya sedang duduk di meja kerjanya dengan mata fokus menatap layar laptop di hadapannya.
Sembari memijat keningnya yang sedikit pusing memikirkan pendapatan perusahaan yang semakin menurun dan ditambah banyak pegawai yang mogok kerja.
Membuatnya semakin pusing memikirkannya. Dia menghela nafasnya kasar sembari mengacak-acak rambutnya. Ia begitu frustasi akan semua itu.
"Arghh!!!kenapa bisa jadi begini?!!" Teriaknya.
Tiba-tiba, telpon berdering memenuhi seisi ruangan tersebut yang tidak ada siapa pun kecuali pria paruh baya tersebut.
"Siapa lagi ini?! Mengganggu saja!" Umpatnya. Lalu, mengangkat telpon tersebut.
"Ada apa?! Kalian tahu kalau saya sedang sibuk sekarang?!" Bentaknya.
"Ma.. maaf pak...anu..." Ucap seseorang di telpon terbata - bata.
"Pabrik kita kebakaran pak! Lalu banyak korban yang tewas dalam insiden ini!"lanjutnya.
"Apa?! Bagaimana bisa?!!!"
"Sa...saya juga tidak tahu pak tiba-tiba saja—"
"Temukan penyebab semua masalah ini!! Atau kamu tahu akibatnya!!" Potong pria itu.
Kemudian, dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia benar-benar syok mendengar hal itu ditambah dengan masalah perusahaan yang masih belum kelar.
"Aaarrrghh!!!!" Teriaknya sembari melemparkan vas bunga yang berada di atas mejanya ke arah dinding dan pecah.
PRANG!...
Suara vas bunga tersebut terdengar sampai ke keluar ruangan. Beberapa pegawai mendengarnya terkejut dan mulai takut karena atasan mereka akhir-akhir ini sering marah.
"Siapa pun dia aku akan membunuhnya!!" Ucapnya geram sembari mengepalkan tangannya kuat.
🍂🍂🍂
Sepulang dari apartemen Kamelia. Di perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba hasrat ingin membunuh Ansel muncul.
Waktu yang menunjukan pukul tengah malam membuat jalan nampak sepi. Lalu, matanya menangkap sosok wanita malam berdiri pinggir jalan dengan pakaian seksinya.
__ADS_1
Ansel pun menghampiri wanita itu, terlihat wanita itu terkejut melihat sosok Ansel yang memiliki paras tampan.
Wanita itu berpikir dia tidak pernah bertemu laki-laki tampan sepertinya kecuali orang-orang tua yang hidung belang yang kebanyakan sudah beristri.
Dia berpikir mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya bisa mendapatkan laki-laki tampan dan terlebih lagi jauh lebih muda darinya, membuatnya semakin tergoda.
"Hai sayang... Kamu tergoda ya dengan kecantikan aku?" Tanya wanita itu dengan nada sedikit menggoda.
Ansel tersenyum miring. "mau ikut dengan ku?" tanyanya.
"iiiih...kamu nakal deh...mau ngajak kemana sih?.."
Ansel mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu, lalu berbisik. "Ikut aja, gue jamin lo akan senang." ucapnya kemudian tersenyum.
Wajah wanita itu memerah disaat Ansel mendekatkan wajahnya ke arahnya. Dia benar-benar sangat tampan dan menggoda, pikir wanita itu.
"Baiklah sayang..." balas wanita itu.
Ansel tersenyum penuh kemenangan, akhirnya mangsanya jatuh ke dalam perangkap.
"Benar-benar gadis bodoh!" ucapnya dalam hati.
Setelah itu, Ansel pun mengajaknya pulang ke rumahnya. Sesampainya dirumahnya, ia mengajak wanita itu ke ruang tempat biasa dirinya melakukan aksi.
Ansel pun menyuruhnya duduk di atas meja panjang yang berada di tengah ruangan tersebut. Wanita itu pun menurutinya dan duduk di atas meja tersebut.
"Sayang...kita gak cari tempat lain aja mainnya, Disini gelap bangettt...aku takut..." ucapnya dengan nada dimanja - manjakan.
Ansel menghampiri wanita itu, kemudian tersenyum menatapnya sembari membelai bibir wanita tersebut. " Ini adalah tempat yang bagus dan tepat untuk memulai permainan." Ucapnya
"Tapi aku nggak suka—"
Ansel langsung memasukan tangannya ke dalam mulut wanita itu. kemudian menarik keluar lidah wanita itu keluar dan memotongnya menggunakan pisau lipat di saku celananya.
"Arrghhh!!!!...." Jerit wanita tersebut. Kemudian meronta-ronta kesakitan.
Ansel terkekeh kemudian memegang lidah wanita itu menggunakan jari jempol dan telunjuknya.
"Gue jijik dengan mulut lo yang selalu manggil gue sayang!!! So, terima kasih lah ke gue karena gue nggak robek tuh mulut!! Sebagai gantinya lidah lo yang gue potong!!" Ucap Ansel dengan sorot mata sinis.
Wanita itu menangis merasakan sakit yang luar biasa di dalam mulutnya. Dia telah memilih mangsa yang salah. Tidak seharusnya dia ikut dengan laki-laki picik seperti dia, pikir wanita itu.
__ADS_1
Setelah itu, Ansel menjatuhkan lidah wanita itu ke lantai lalu menginjak - injaknya sampai hancur seperti daging habis di cincang.
Wanita itu gemetar ketakutan. Lalu, mencoba untuk melarikan diri. Dia pun turun dari meja dan berlari. Saat tepat di depan pintu keluar ruangan tersebut pintunya terkunci.
Wanita itu menggedor-gedor pintu, sembari menangis tersedu-sedu meminta pertolongan. Dia tidak bisa berteriak karena lidahnya sudah tidak ada lagi.
Ansel yang melihat itu hanya tertawa melihat tingkah bodoh wanita itu. Dia pun mengambil sebuah kapak kemudian, mendekati wanita tersebut.
Wanita itu terus menggedor-gedorkan pintu. Kemudian, menoleh ke belakang nampak Ansel berjalan mendekatinya sembari membawa kapan di tangannya.
Wanita itu terus menangis dan berusaha untuk berbicara namun tidak bisa, sembari terus menggelengkan kepalanya agar Ansel tidak terus mendekatinya.
Ansel tersenyum lebar dengan wajah sedikit ada bercak darah, sembari berkata "ayo kita bermain! Tapi main apa ya?"
"Ah aku tau! Ayo kita main dokter bedah!" Sambungnya.
Lalu, menarik rambut wanita tersebut dan menggeretnya. Wanita itu merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Rasanya kulit kepalanya ikut terlepas karna tarikan itu.
Ansel menghempaskan jambakannya dengan kasar. Wanita itu terduduk di lantai sambil menangis dan tubuhnya gemetar ketakutan.
Ansel berjalan mendekati meja yang terdapat banyak senjata mulai dari pisau yang ukuran dari terbesar hingga terkecil, pistol, belati, panah, dan banyak lagi.
"Yah..Mari kita lihat, disini kita akan menggunakan alat apa dulu." Ucapnya. Memikirkan alat apa yang akan dia gunakan.
Ansel mengambil pisau berukuran sedang, yang ujungnya begitu lancip dan tajam. Kemudian, dia pun tersenyum, kemudian berkata"Hmm, baiklah kita mulai dari alat ini dulu."
Ansel berbalik dan melihat wanita yang mulutnya penuh dengan darah yang mengalir keluar. Wanita itu benar-benar sangat ketakutan. Dia benar-benar salah memilih mangsa.
"Permainan dimulai!" Ucap Ansel Sembari tersenyum lebar dengan sorot mata tajam.
Malam itu satu nyawa direnggut secara paksa lagi. Ansel terus menyiksa wanita itu dengan sadis dan kejam. Dia membelah perut wanita tersebut dan mengobrak abrik organ-organ di dalamnya.
Tidak ada kata kasihan di matanya dan hatinya. Hanya ada dua kata yaitu senang dan begitu menikmati aksinya itu. Itulah apa yang dipikirkan Ansel saat ini.
🍂🍂🍂
...Next part guys!...
...Gimana part ini menurut kalian?...
...Terima kasih sudah membaca🍂...
__ADS_1
......with love......
...Pusri...