
...Happy reading guys...
...Sorry baru update kemarin habis kuota...
...jadi hari aku double up-ya...
...selamat membaca manteman...
Selama seminggu ini, Claretta terus mengurung dirinya di kamar tanpa berniat untuk keluar. Davina dan Zelmira setiap hari datang kerumahnya. Membujuk Claretta agar keluar dari kamar tapi lagi-lagi hasilnya sama.
Tok tok tok
"Clae, keluar yuk!"
"Lo nggak kangen apa sama kita?"
"Iya, clae. Lo nggak kangen apa ke sekolah? Jangan ngurung diri terus entar lo kenapa-napa."
"Clae! Jangan bikin kita tambah khawatir sama lo. Lo jangan ngurung diri di kamar gini, Clae!"
Akan tetapi, sepertinya Claretta masih tidak menghiraukan seruan mereka. Setiap hari mereka datang hanya untuk membujuknya tapi sama sekali tidak ada hasilnya. Mereka khawatir kalau Claretta bertindak nekat seperti bunuh diri.
"Clae! Lo dengerin kita nggak? Clae!"
Tok!--- tangan Davina berhenti ketika ia melihat knop pintu di depannya diputar. Perlahan pintu terbuka dan memperlihatkan orang yang selama beberapa hari terus mengurung dirinya di dalam sana.
Dia berdiri dengan wajah pucatnya dengan tatapan kosong.
"Clae," ucap mereka bersamaan. Davina dan Zelmira menatap prihatin keadaan Claretta yang begitu kacau. Lalu, mereka berdua langsung memeluk Claretta membawanya ke dalam dekapan mereka.
"Clae, akhirnya lo keluar juga. Kita khawatir banget sama lo, tau!"
"Syukurlah," ucap Zelmira.
Akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Karena Claretta mau keluar dari kamar dan berbicara dengan mereka lagi.
Hari ini Claretta kembali masuk sekolah setelah seminggu lebih ia hanya berdiam diri di kamarnya. Meskipun keadaan nya masih belum baik baik saja setidaknya ini lebih baik daripada sebelumnya.
Saat ini mereka sedang melangkah di koridor sekolah. Banyak siswa-siswi yang menatap mereka atau lebih tepatnya Claretta yang sudah lama tidak terlihat. Kini, mereka bisa kembali melihat queen of bullying sekolah itu.
"Eh, itu claretta," tunjuk seseorang pada temannya ketika melihat Claretta.
"Ada kang bully," sindirnya.
"Ck, ngapain sih tuh orang masuk lagi. Kenapa nggak sekalian aja nggak masuk bikin orang kesal aja."
Terdengar suara bisik-bisik dari murid murid yang mereka lewati. Sebenarnya itu bukan bisik-bisik karena ucapan mereka terdengar sangat jelas. Tapi Claretta tidak menanggapi perkataan mereka semua karena mood-nya tidak baik.
"Kenapa nggak enyah aja tuh orang!"
"Sekalian aja mati gitu,"
"Ck, kasihan banget sih nasib lo. Makanya jangan suka bully orang kena karma, kan."
Davina yang mendengar ucapan itu langsung mendekati gadis yang sedang berdiri dengan kedua temannya sambil menyilangkan tangan di dada dengan wajah menyebalkan.
"Maksud lo apaan ngomong gitu tentang sahabat gue, hah!" Bentaknya.
"Apa! Emang pantaskan sahabat lo dapatin itu. Karena itu adalah karma sebab udah sering bully orang!" Katanya menantang.
"Lo--" geramnya.
"Apa!" Dia mengangkat wajahnya manantang Davina. Davina yang melihat itu tentu saja emosi.
Berani-beraninya nih cewek nantangin dia. Dengan emosi memenuhi dirinya ia langsung saja menarik rambut cewek itu hingga ia kesakitan. "Rasain lo! Nggak usah sok berani lo ngelawan gue!" Ucapnya masih menjambak rambut gadis tersebut.
Bukannya takut cewek itu malah membalas Davina dengan menjambak rambutnya tak kalah kuat sehingga terjadilah aksi saling jambak menjambak diantara mereka.
"Lo pikir gue takut, hah!" Balasnya.
"Lo mau cari mati, hah!"
Mereka terus saling jambak sembari menahan rasa sakit di kepala masing-masing. Tidak ada satupun orang yang berniat menghentikan aksi mereka sampai suara seseorang terdengar menggema di koridor itu
"Apa-apaan ini!"
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
Kantin terlihat sangat ramai bahkan lebih ramai dari biasanya. Bukan karena siswa-siswi yang sedang istirahat. Akan tetapi, karena adanya keributan ditengah-tengah kantin yang menarik atensi semua orang untuk menyaksikan.
"Lo bilang apa barusan, hah! Gila? Lo yang gila!" Teriaknya tidak terima.
"Lo yang gila! Stress!" Balasnya. Saat ini, Claretta sedang bertengkar dengan Reva, dia adalah cewek yang tadi pagi berkelahi dengan Davina.
Tidak ada satupun dari mereka yang berniat memisahkan. Semua orang hanya menonton dan menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka.
"Hajar terus Clae! Nggak usah dikasih ampun biar tahu rasa dia!" Kata davina.
"Lepasin rambut gue!"
"Lo yang harusnya lepasin, gila!"
Claretta menarik rambut itu semakin kuat sehingga sang pemilik berteriak kesakitan. "Akhh!"
"Sialan!" Dia pun membalas perbuatan Claretta. "Sst.." ringisnya merasakan kepalanya seakan ingin lepas.
Disisi lain, Kamelia, Divya dan trio kampret sedang berjalan menuju kantin. Sesampainya dikantin mereka bingung mendapati kehebohan disana.
"Ada apa tuh," ucap Bima penasaran.
"Nggak tahu. Gimana kalo kita kesana?" Kata Dika.
"Ayo!" Balas Bima semangat. Setelah itu, mereka melangkah mendekati keramaian disana. Sedangkan, Kamelia dengan malas mengikuti mereka.
Bima menerobos kerumunan untuk bisa berada di depan sana.
"Wow! Eh, sini-sini," kata Bima. Menyuruh mereka mendekat sambil menggerakan tangan.
"Ada apaan?" tanya Dika penasaran. Ia berjalan ketempat Bima berada.
"Sini cepatan! Lo harus liat pertengkaran ini bro," katanya heboh.
Dika pun mendekati Bima dan bisa melihat Claretta yang sedang berkelahi saling jambak rambut.
"Wah, hajar terus," ucap Bima dan Dika memprovokasi mereka. Dasar manusia laknat bukan dipisah malah dibikin tambah panas. Dasar kampret.
Sedangkan, kamelia berdiri tak jauh dari kerumunan orang-orang dan menatap datar pemandangan di depannya. Ketika tengah menatap perkelahian di depannya tiba tiba ide gila terlintas dikepalanya.
Dia tersenyum licik lalu ia mengeluarkan handphone di saku roknya dan menghubungi seseorang.
Ketika ia tengah berbicara melalui telepon. Tanpa ia sadari seseorang berjalan mendekatinya dan berdiri disampingnya.
"Iya, SMA Airlangga. Hm, terimakasih," ucapnya. Lalu, ia memasukan kembali hpnya ke dalam rok.
"Siapa?" Tanya orang disampingnya. Kamelia yang mendengar suara itu sontak menolehkan kepalanya.
Bisa ia lihat kini Ansel sedang ada disebelah dirinya menanti jawaban atas pertanyaan tadi.
"Bukan siapa-siapa," balasnya cepat.
"Hm." Setelah itu, keadaan hening mereka kembali menatap perkelahian di depan sana.
"Lo gila, hah! Lepasin tangan lo dari rambut gue, anjing!" teriak Claretta.
"Lo yang harusnya lepasin! Dasar gila!"
"Lo--"geramnya. Dengan sekuat tenaga Claretta menarik tangan agar terlepas lalu mendorong hingga terjatuh ke lantai.
Bakk!
"Aww," ringisnya. Ketika ia merasakan sakit di bokongnya. Temannya yang melihat itu sontak terkejut. Lalu ia langsung membantunya.
"Gila lo ya," ucap teman Reva tak habis pikir.
"Teman lo yang gila!" ujar Davina.
"Makanya jangan sok berani mau ngelawan kita!" kata Zelmira.
Sedangkan, Claretta yang belum puas melangkah maju untuk menyerang kembali. Dan ia menyerang dengan brutal. Kuku-kuku tajamnya dia gunakan untuk mencakar wajahnya cewek itu. Membuat orang-orang yang melihat meringis dibuatnya.
"Sst, gila! Apa nggak sakit itu di cakar," kata Bima dengan mimik wajah yang aneh.
__ADS_1
"Sakitlah bego," ujar Dika.
...🔥🔥🔥...
Saat claretta melakukan aksinya. Beberapa orang berpakaian serba putih melangkah mendekati kerumunan itu. Mereka yang melihat hal itu tentu saja bingung. Kenapa mereka ada disini.
Dua orang mendekat dan menahan Claretta yang akan kembali menyerang. "Hiks... sakit," ucapnya merasakan sakit di wajahnya karena cakaran.
"Dasar gila," kata temannya.
"Lepasin!" Berontaknya.
"Gue bilang lepasin! Kalian dengar nggak sih," amarahnya.
"Maaf tapi Anda harus ikut kami," ucap petugas itu.
"Maksud Anda apa bilang gitu? Anda mau bawa teman saya ke rumah sakit jiwa, hah!" kata davina.
"Anda pikir teman saya gila? hah!" Ucapnya tidak terima.
"Bawa aja pak dia memang gila," ucap Reva.
"Diam lo!" Sedangkan, Claretta masih berusaha memberontak.
"Lepasin gue!"
Di lain sisi, seseorang menatap datar pemandangan di depan sana dan orang disebelahnya menatap dirinya.
"Apa?" tanyanya. Ketika ia merasa orang disebelahnya ini tengah menatap dirinya.
"Itu ulah kamu, kan?"
"Hm," balasnya singkat.
"Ck, dasar" dengusnya.
Kini, Claretta sudah dibawa petugas menuju mobil ambulance. Kedua petugas terus berusaha agar Claretta tidak lepas karena ia memberontak sedari tadi.
"Lepasin gue! Gue bilang lepasin!"
"Gue nggak gila, lepasin!" berontaknya. Tapi tidak dihiraukan sama sekali.
Banyak orang yang melihat itu dengan tatapan berbeda. Tidak menyangka, kasihan, bersyukur, prihatin, menghina dan mencaci mereka lontarkan. Katanya dia pantas mendapatkan itu. Mereka adalah orang-orang yang membenci Claretta.
Sedangkan, kedua teman Claretta yakni Davina dan Zelmira terus memaksa petugas melepaskan Claretta.
"Pak, lepasin teman saya. Dia nggak gila, pak," kata Zelmira.
"Lepasin teman saya!" Bentak Davina. Namun, langkah mereka terhenti sebab petugas yang lain menghalangi mereka.
Davina yang melihat itu langsung berontak. "Lepas!" Dia berusaha melepas tangan petugas itu yang menahan dirinya.
Akhirnya, Claretta berhasil dibawa masuk ke dalam mobil dengan segera petugas menutupnya. Lalu, ia memanggil temannya yang sedang menahan Davina tadi. Petugas itu langsung melepaskannya dan pergi.
Davina yang sudah bebas langsung berlari menuju mobil sambil berteriak. "Clae!"
Mobil melaju meninggalkan area sekolah. Davina jatuh berlutut dengan kepala menunduk. Tak lama terdengar isak pelan darinya. "Hiks... Clae," isaknya.
Sedangkan, Zelmira sudah menangis sejak tadi. Semua orang menatap mereka dengan berbagai macam tatapan.
Kamelia yang sedari tadi melihat kejadian di depannya hanya menampilkan raut datarnya. Tak ada rasa kasihan sama sekali. Disampingnya ada Ansel yang diam saja menyaksikan semua kejadian itu. Kedua orang itu hanya menatap dingin apa yang sudah terjadi barusan. Dasar pasangan kejam!
...🔥🔥🔥...
...Gimana next, nggak?...
...Menurut kalian ceritanya gimana?...
...Seru nggak? Penasaran nggak?...
...Vote and comment ya, guys!...
...Thank you for all...
...💙Love us💙...
__ADS_1
...PUSRI...