Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
29. Ancaman


__ADS_3

...Happy reading...


Terlihat di kamarnya, claretta duduk di depan meja riasnya sembari termenung dengan tangan sibuk menyisiri rambutnya.


Dia terus memikirkan kejadian yang  menimpanya akhir - akhir ini yang berhasil membuat dirinya merasa ketakutan.


KRING!... KRING!...KRING!...


Suara dari ponselnya berhasil membuat dirinya terkejut. Dia pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kasurnya untuk mengambil ponselnya.


Dia menelan salivanya susah, kemudian dengan rasa penuh waspada dia mengecek ponselnya. Setelah itu, ia menghela nafasnya lega lantaran ternyata yang menelponnya adalah Davina.


Kemudian, dia pun mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Claretta.


"Lo dimana sekarang?" tanya Davina dari telpon.


"Gue ada di rumah, kenapa?"


"Ya udah, gue ama Zelmira ke rumah lo ya. Ada sesuatu yang harus gue ceritain."


"Oke."


Setelah itu, Davina menutup telponnya. Sembari menatap ponselnya Claretta penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Davina nanti.


Tidak berapa lama, Davina dan Zelmira pun tiba di rumah Claretta. Kemudian, Claretta mengajak mereka berdua untuk ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, mereka duduk di kasur empuk milik Claretta.


"Lo mau cerita tentang apa?" tanya Claretta pada Davina.


"To the point aja ya, gue mendapatkan pesan teror dari seseorang," kata Davina. Berhasil membuat Zelmira dan Claretta terkejut mendengarnya.


"Serius lo?!" tanya Claretta.


"Siapa yang kirim?!" tanya Zelmira penasaran.


"Nah itu jadi permasalahannya! gue nggak tahu siapa yang ngirim itu ke gue. Terus yang lebih parahnya lagi, dia ngirimin paket ke gue yang isinya serius gila banget!!!" ucap Davina sedikit syok.


"A-apa isinya?" tanya Claretta.


Davina pun menceritakan kejadian dimana dia pertama kali mendapatkan pesan teror tersebut dan paket yang berisi foto-foto dia yang penuh dilumuri dengan darah.


Claretta dan Zelmira Mendengar itu mulai takut. Mereka benar-benar tidak menyangka Davina bakal mengalami kejadian hal seperti itu.


Terlebih lagi Claretta yang juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di alami oleh Davina.


"Gu-gue juga ngalamin hal itu, dan gue nggak tahu siapa yang ngirim begituan ke gua," kata Claretta.


"Yang bener?! Kok gue nggak ngalamin itu ya," ucap Zelmira bingung yang merasa tidak menerima pesan teror juga.


"Gimana ceritanya?" tanya Davina pada Claretta.


"Gu-gue dikirimin sebuah kotak, dan isinya..." Claretta terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya.


"Loh kok diem? Isinya apa?" tanya Davina yang sangat begitu penasaran.


Claretta menelan susah salivanya, "isinya badan orang sudah dimutilasi."


"Apa?!!" Teriak mereka berdua.


Mereka berdua terkejut mendengar hal itu. Zelmira mulai sedikit mual membayangkan apa yang dibicarakan oleh Claretta tadi.

__ADS_1


"Mu-mutilasi?! Maksud Lo badannya udah di potong - potong gitu?" tanya Davina.


Claretta menggangguk, lalu menceritakan kejadian aneh yang ia alami beberapa hari ini.


Tak hanya itu, dia pun menceritakan kejadian dimana ia sering melihat penampakan Rina yang merupakan siswi bunuh diri saat itu.


"Mungkin itu halusinasi lo yang terlalu mikirin omongan orang- orang," kata Zelmira.  Sedangkan Davina menatap tak percaya Claretta.


"Gue gak berhalusinasi Zel, serius gue gak bohong. Gue benar-benar lihat dan gue yakin kalau—"


TOK! TOK!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Sontak Membuat mereka langsung menghentikan pembicaraan mereka.


"Siapa?!" tanya Claretta.


"Ini bibi non," balas bi Susi. Yang merupakan asisten di rumah Claretta.


Claretta berjalan kearah pintu kamarnya dan membukanya. Dia Menatap malas orang di depannya.


"Hm, ada apa?" tanya Claretta.


"Ini ada paket untuk non," kata bi Susi. Lalu memberikan kotak yang di tangan nya kepada Claretta.


Setelah itu, bi Susi pun pamit undur diri dan berjalan pergi meninggalkan kamar Claretta dan kembali bekerja.


Claretta pun menutup kamarnya. Davina dan Zelmira yang melihatnya membawa sebuah kotak pun penasaran dengan isi nya.


"Apaan tuh?" tanya Zelmira.


"Nggak tahu," balas Claretta mengendikan bahunya.


"Disini juga gak ada nama dan alamat pengirim nya." Sambungnya lagi.


Karena penasaran, mereka pun membuka kotak tersebut. Akan tetapi mereka terkejut melihat isi di dalam kotak tersebut.


Claretta dan Davina tak kalah terkejutnya melihat isi dalam kotak tersebut. Claretta langsung melempar kotak tersebut ke lantai dan membuat isi dalam kotak tersebut pun ikut berserakan di lantai.


Terlihat seekor kucing yang sudah tak bernyawa. Kucing tersebut penuh dengan luka sayatan dan dengan darah yang terus keluar dari luka tersebut.


Mereka bertiga sama-sama syok melihat isi kotak tersebut. Keringat dingin mereka mulai bercucuran, dengan jantung yang terus berdetak kencang.


"Si-siapa..se-sebenarnya...yang kirim ini semua?!" Tanya Claretta terbata -bata.


"Jangan-jangan...peneror itu yang kirim ini semua!" Ucap Davina. Sedangkan Claretta dan Zelmira mendengar itu mulai merinding ketakutan.


Claretta pun memberanikan diri dan mulai berjalan mendekati kotak tersebut. Kemudian, dia melihat sebuah surat di dekatnya dan mengambilnya. "Surat?" Gumamnya.


Davina dan Zelmira terlihat bingung melihat Claretta yang terus berdiri di dekat kotak tersebut. Mereka berdua pun beranjak dari kasur dan berjalan menghampiri Claretta.


Dari belakang, Davina menepuk pundak Claretta dan bertanya padanya, "ada apa?"


Davina terkejut melihat Claretta yang terlihat sangat pucat dan tangan yang gemetaran sembari memegang sebuah kertas. Davina yang penasaran pun ikut membacanya.


Kemudian, betapa terkejutnya dia saat membaca nama yang tertera di dalam surat tersebut dan ternyata  orang yang mengirim kotak berisi bangkai kucing itu adalah dia.


...Gue nggak akan biarin hidup kalian tenang gitu aja. Tunggu saja pembalasan gue!!...


..._Rina_...


Tangan Claretta gemetar ketakutan, dengan perlahan dia menutup mulutnya dengan tangannya. Ia terduduk lemas melirik bangkai kucing tersebut. Kemudian, meremas kertas di tangannya.


"Ng-nggak... gak mungkin itu dia..." ucapnya lirih.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Kamelia sedang jalan-jalan bersama Divya dan trio kampret di alun-alun kota.  Ketika sedang berjalan ada seorang laki-laki yang tak sengaja menabrak Bima.


BRAK!!....


Bima meringis merasakan sakit di bahunya. Dia pun berhenti lalu, menoleh kebelakang melihat orang tersebut hanya pergi tanpa minta maaf terlebih dahulu. Dia pun merasa kalau orang tersebut sengaja menabraknya tadi.


"Hey! Lo sengaja ya nabrak gue ?!" Tanya Bima pada orang yang menabraknya. Sedangkan orang tersebut terus berjalan tanpa memperdulikan Bima.


"Cih, ini orang bukannya minta maaf malah pergi aja!" umpat Bima kesal. Lalu, ia berjalan menghampiri laki-laki tersebut dan menarik bahunya.


"Hey lo budek ya?!" Kata Bima.


Laki-laki itu menepis tangan Bima dari bahunya. Lalu, menatap sinis Bima.


"Yaelah, gue kira udah tua ternyata seumuran. Lo tadi sengaja ya nabrak gue, ayo ngaku?!!" tanya Bima.


"Berisik, Bangs*t!! Umpat laki-laki itu.


"Apa lo bilang?! Lo mau cari masalah sama gue hah?!"


"Kenapa? Emang lo ada bukti kalau gue sengaja nabrak lo tadi hah?!"


Bima mengepalkan tangannya kuat. "Brengs*k!" umpatnya.


Kamelia, Divya, Ray dan Dika yang mendengar keributan itu memutar tubuhnya dan melihat Bima yang terlihat sedang  marah sembari adu mulut dengan seseorang.


"Bima kenapa tuh?" tanya Ray.


"Nggak tau, coba kita samperin aja dia." Usul Dika. Kemudian, Mereka pun menghampiri Bima.


Kamelia terkejut melihat laki-laki yang bersama dengan Bima begitu pun laki- laki itu yang terkejut dan termenung melihat kamelia.


"Woy kenapa lo diem aja hah?!" Teriak Bima pada laki-laki di hadapannya itu.


Laki - laki itu pun langsung sadar dari lamunannya. Kemudian menatap tajam Bima. "Apa?! Udah gua bilang kalau lo ga ada bukti. Jangan  asal nuduh aja, ngerti lo?!" Tunjuk laki-laki itu.


"Lo bener-bener—"


"Udah Bim tenang! Kalian nggak malu apa diliatin  banyak orang?! Udah!" Lerai Ray.


"Tapi diaia duluan yang cari masalah!!" Tunjuk Bima.


"Apa?! Lo yang duluan nuduh gue!" tuduh laki-laki itu.


"Tenang Bim...tenang oke, nggak enak diliatin orang-orang." Bujuk Dika.


Bima menghela nafasnya kasar lalu menatap sinis laki-laki dihadapannya itu. "Kali ini gue maafin el! Tapi, awas aja kalo lo ketemu gue lagi! Habis Lo!!!" Ancamnya.


Setelah itu, Bima berjalan pergi diiringi Dika, Divya, Ray, dan Kamelia di belakangnya. Kamelia berhenti, kemudian menoleh ke arah laki - laki itu sekilas, dia pun kembali melangkahkan kakinya.


Laki-laki itu menatap kepergian Kamelia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Akhirnya, setelah sekian lama gua bisa ketemu sama lo, Kamelia!" Batinnya sembari tersenyum miring.


🍂🍂🍂


...Next?...


...Iya atau nggak?...


...Gimana menurut kalian cerita ini? Cerita ya di komen...


...Sampai ketemu di part selanjutnya👋...

__ADS_1


...With love ...


...PUSRI...


__ADS_2