Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
48. Akhir segalanya


__ADS_3

...Happy reading guys...


"Hai Kamelia," sapanya dengan seringai menghiasi wajahnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap datar orang di hadapannya saat ini.


Davina melangkah mendekati Kamelia lalu ia mengerakan tangannya untuk mencengkram dagunya.


"Tak disangka, gue bisa balas lo semudah ini," ucapnya tersenyum.


"Cuih!" Kamelia meludah di depan Davina.


"Sialan lo!" bentaknya, karena Kamelia yang berani-beraninya meludah.


Plakk! Ia menampar wajah Kamelia kuat hingga sudut bibirnya berdarah.


"Beraninya lo!" marah Davina, lalu menampar wajah Kamelia kembali.


Kamelia yang menerima tamparan itu hanya tersenyum remeh. Kemudian, ia mengangkat wajahnya dengan angkuh. Lalu menendang Davina dengan kaki kanan nya hingga cewek itu termundur.


"Lo!" geram Davina. Sedangkan, Haikal hanya melihat apa yang terjadi sekaligus berjaga-jaga jika ada yang datang.


Dengan langkah lebar ia melangkah mendekati Kamelia untuk memukulnya namun tangan itu terhenti ketika sebuah tangan menahannya.


"Lo..." ucapnya terkejut. Pasalnya, Kamelia menahan tangannya. Sejak kapan ikatannya terlepas? Batin Davina.


Tanpa ia tahu bahwa dari awal Kamelia tidak diikat sama sekali. Memang tangan Kamelia di ikat tali dengan tali namun itu hanya untuk mengelabui mereka. Karena nyata itu cuma di lilitkan tanpa ikatan yang kuat.


"Bodoh!" umpat Kamelia. Tak lupa seringai di bibirnya. Karena berhasil masuk ke dalam perangkapnya.


Haikal yang melihat itu tak kalah kaget. Dia dengan cepat bergerak menuju mereka tapi langkahnya terhenti ketika Ansel menghadang dirinya.


"Lawan lo gue!" tantang Ansel.


Ansel maju menyerang Haikal hingga terjadilah pertarungan yang sengit. Mereka menghajar satu sama lain.


Davina mengerakan tangan satunya untuk menyerang Kamelia. Tapi Kamelia lebih dulu mengetahuinya.


"Lepas!" sentaknya kasar, hingga Kamelia melepaskannya. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari belakang punggungnya.


Lalu, ia mengeluarkan benda itu dan menodongkan pistol tersebut pada Kamelia. Kamelia yang melihat Davina mengarahkan pistol hanya menampilkan raut muka datar.


Tanpa rasa takut, ia berjalan mendekati Davina membuat cewek itu waspada sambil mengacungkan pistolnya.


Saat ia sudah di hadapan cewek itu dengan cepat dirinya menyentak tangan Davina sehingga pistol terlempar cukup jauh. Davina kembali memundurkan langkahnya.


Terlihat kedua pemuda itu yang masih bertarung satu sama lain. Nampak juga wajah mereka yang terdapat beberapa lebam dari pukulan yang masing-masing mereka berikan.


"Cih," decih Haikal, ketika merasakan sudut bibirnya berdarah akibat pukulan Ansel. Lalu ia kembali membalas perbuatan Ansel.


Ketika ia memundurkan langkahnya. Ia merasakan menginjak kayu. Dengan cepat melihatnya dan ternyata benar itu se balok kayu. Ia mengambilnya untuk melindungi dirinya.


Kemudian, ia memukulkan balok itu kepada Kamelia.


"Shh..." ringisnya. Ia memegang dahinya yang terluka dan berdarah. Davina kembali ingin melayangkan pukulan kepada Kamelia.


Tapi Kamelia dengan cepat menahannya. Dan membalas memukul Davina membuat ia tersungkur.


Ia dengan susah payah bangkit dari jatuhnya. Ia kembali mengambil pistol di tersimpan di balik punggung. Untung mereka sudah bersiap sebelumnya. Lalu ia menembak satu peluru kearah Kamelia tanpa mengenainya.


"Berhenti atau lo gue tembak," ancamnya. Akan tetapi, Kamelia tidak menghiraukan ancaman itu.


Kemudian, ia juga mengeluarkan pistol miliknya. "Lo ajak gue main tembakan, hah!"


Ia mendekati Davina dengan tangan mengacungkan pistol. Memberitahu dia bahwa bila cewek menembakkan peluru maka ia juga akan melakukan hal sama.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama sampai sebuah tembakan mengenai seseorang. Sang penembak kaget karena ia salah sasaran. Peluru itu berhasil menembus punggung belakang Haikal dan membuat darah keluar dari sana.


Davina menjatuhkan pistolnya dan tangan miliknya bergetar. Saat ia ingin menembak Kamelia dengan cepat Kamelia memutar arah tembakan nya hingga mengenai Haikal.


Haikal terjatuh setelah menerima tembakan itu. Tubuhnya terbujur lemah lalu matamya menatap Davina yang terkejut. Dengan ekspresi tidak menyangka.


"Nggak, nggak mungkin! Gue bukan pembunuh!" ucapnya tidak percaya. Ia menatap tangan yang gemetar.


"Tapi lo udah bunuh dia. Itu berarti lo pembunuh!" kata Kamelia di telinga.


"Nggak! Gue bukan pembunuh!" teriaknya. Lalu, ia berlari keluar dari bangunan itu sambil terus berkata ia bukan pembunuh.

__ADS_1


Kamelia menatap kepergiaan Davina tanpa ekspresi lalu melihat Haikal yang sudah kehabisan banyak darah.


"Ayo pergi!" ajaknya pada Ansel. Kedua orang itu meninggalkan Haikal yang sekarat.


Davina berlari cukup jauh sehingga ia sampai di jalan utama. Keadaan dirinya sangat kacau. Dia terus meracau. "Gue bukan pembunuh. Gue nggak bunuh Haikal. Kamelia yang membunuhnya. Benar, gue bukan pembunuh," ucapnya.


Tanpa sebuah truk melajukan kearahnya. Tin! Tin! Tin!


Namun cewek itu tidak mendengarnya karena sibuk dengan pikirannya.


"Gue bukan pembunuh."


"Gue buk---" Brakk! Tubuh itu tertabrak dan terlempar ke seberang jalan. Darah bercucuran dimana-mana.


Dengan sisa kesadaran ia berkata,"---an pem-bunuh." Setelah itu, ia menutup matanya.


Tak jauh dari sana dua orang yang berniat mengejarnya hanya menatap datar kejadian yang terjadi di depan mata mereka.


Orang-orang mulai mengerubungi tubuh Davina dan menghubungi rumah sakit. Tapi melihat kondisi gadia itu yang parah bisa dipastikan nyawa sudah melayang.


Ansel dan Kamelia melajukan motornya karena masalah mereka sudah selesai. Tanpa harus membuang membawa tenaga karena karma mereka sudah menjempunya.


🔥🔥🔥


Sebuah motor memasuki lingkungan sekolah lalu berbelok kearah parkiran. Setelah itu, kedua orang itu turun dari atas motor tersebut. Kemudian, mereka berjalan menuju kelas. Nampak suasana sekolah yang mulai ramai karena para siswa telah berdatangan.


Mereka melangkah bersama di koridor sekolah. Lalu, kedua orang itu melihat pemandangan yang sering mereka namun kali ini pelakunya berbeda. Di depan sana tiga orang cewek sedang mem-bully Zelmira. Yaps, dia adalah satu anggota The Queen yang seringkali mem-bully anak-anak di SMA Airlangga.


Tapi kini, malah gadis itu yang kena bully. Karena nyatanya, roda kehidupan itu terus berputar. Tidak selamanya mereka yang di atas akan berada di puncak begitupula sebaliknya. Dan kini gadia itu sedang merasakannya.


Sejak Claretta masuk ke rumah sakit jiwa dan Davina yang ia tidak ketahui keberadaan. Dia hanyalah seorang diri sehingga mereka yang membenci The Queen memiliki kesempatan untuk membalas perbuatan mereka.


"Dengarnya lo itu nggak berguna. Sekarang The Queen udah nggak ada. So, lo nggak usah sok berani ngelawan gue. Ngerti?"


"Ck, lo itu pengecut yang nggak tahu diri," balas Zelmira.


"Apa lo bilang, ha!" Ia menjambak rambut Zelmira dan membuatnya meringis kesakitan.


"Shh... lepasin rambut gue!"


"Gue peringatin lo sekarang nggak ada apa-apanya kalo bukan karena Claretta. Dasar miskin!" Lalu ia melepaskan tangannya dari Zelmira secara kasar sehingga ia memundurkan langkahnya. Kemudian, mereka pergi meninggalkan Zelmira.


Sedangkan, Kamelia dan Ansel hanya menatap pemandangan itu dengan tatapan datar. Tak ada raut kasihan dari wajah mereka. "Ayo kelas," ajak Ansel. "Hm." Kedua orang itu kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.


Kamelia masuk ke dalam kelas. Disana sudah ada trio kampret yang tengah berbincang. Ia mendudukan dirinya dan hal itu menarik atensi ketiga orang itu.


"Eh Lia, tumben siang biasanya udah datang duluan," ujar Bima.


"Lagi malas," balasnya singkat.


"Lia, kemarin lo hilang kemana?" tanya Bima.


"Iya, padahal kemarin kita mau ngajak lo nongkrong," kata Dika.


"Gue ada urusan kemarin. Besok aja kalau mau nongkrong."


"Oke."


Kring! Kring! Bel masuk berbunyi. Semua orang mulai berhamburan menuju tempat masing-masing. Tak lama seorang wanita paruh baya memasuki kelas dan pelajaran pun di mulai.


"Baiklah anak-anak sampai disini pelajaran kita hari. Selamat istirahat." Ia melangkah keluar kelas.


Murid-murid langsung bersorak senang. "Yeay istirahat!"


"Kantin yuk! Lapar gue," ucap Bima sambil mengelus perutnya.


Kamelia beranjak dari tempatnya. Dan melangkah keluar kelas. Ray yang melihatnya beranjak barkata, "lo nggak ke kantin?"


"Nggak." Ia pun kembali melanjutkan langkahnya keluar kelas.


"Udahlah, kita aja yang kantin," kata Dika. Setelah itu, mereka juga pergi meninggalkan ruang kelas menuju kantin sekolah.


🔥🔥🔥


Byurr!

__ADS_1


"Ups, sengaja," ucapnya menyeringai. Zelmira menggeram menahan kesal melihat baju yang basah karena jus jeruk yang ditumpahkan orang di depannya.


"Maksud lo apa hah!" teriaknya tak terima.


"Aduhh, nggak usah teriak kenapa? Suara lo itu jelek," ejeknya.


"Sialan!" Lalu, Zelmira langsung menarik rambut cewek dihadapannya ini.


"Akh!" Dia pun yang tak mau kalah membalas menjambak rambut Zelmira. Membuat mereka saling menjambak rambut satu sama lain dan membuat mereka jadi pusat perhatian orang-orang di kantin.


"Dasar ******!"


"Akh! Lo yang ******!" Mereka mengumpat satu sama lain.


Tak jauh dari pusat pertengkaran itu, ketiga cowok tengah menikmati makanan mereka. Ketiga orang itu langsung menoleh ketika mendengar keributan.


"Wow, ada berantem tuh! Seru kayaknya," ujar Bima. Ya, ketiga orang itu adalah Bima, Dika dan Ray.


"Siapa yang berantem?" tanya Dika.


"Zelmira sama Reva," jawab Bima, ketika ia melihat kedua orang itu tengah saling jambak. Sedangkan, Ray lebih memakan baksonya daripada melihat pertengkaran tersebut.


"Ohh."


"Gila sih! Emang paling mantap lagi makan gini ada tontonan gratis," celetuk Bima. Lalu ia menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya.


"Benar banget! Kapan lagi coba ada hiburan kek gini," balas Dika. Dasar kedua orang ini! Bukannya melerai atau apa tapi mereka malah dengan senang hati menikmatinya. Emang kampret!


Ansel, Ian dan Putra memasuki kantin langsung disajikan keributan. Ansel menatap datar pemandangan di depannya. Lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin mencari keberadaan seseorang. Akan tetapi, ia tidak menemukan keberadaan seseorang yang di carinya.


"Ada yang lagi berantem tuh," celetuk Ian.


"Seru kayaknya," lanjut cowok itu.


"Udahlah, nggak usah ngurusin mereka lebih baik kita pesan makanan," kata Putra.


Ansel berbalik badan dan melangkah pergi keluar kantin. Putra yang menyadarinya langsung menahan tangannya. "Mau kemana lo?" Ian menatap mereka bingung.


"Gue ada urusan," jawabnya singkat. Lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kantin sekolah.


Setelah kepergian Ansel, Putra menarik Ian untuk memesan makanan dan setelahnya kedua orang itu ikut bergabung di meja trio kampret berada.


Kamelia berdiri di dekat pembatas rooftop sekolah menatap langit yang nampak cerah dengan warna birunya. Seseorang berjalan mendekati dirinya tanpa berbalik pun ia tahu siapa yang datang. Dia adalah Ansel karena siapa lagi jika bukan cowok itu.


"Udah gue duga lo pasti disini," ucapnya. Ketika ia sudah berada disamping Kamelia. Ansel mengikuti Kamelia yang menatap pemandangan langit dari tempat mereka berada.


Angin berhembus menerpa wajahnya mereka memberikan sensasi sejuk dan juga rasa tenang. Hanya ada keheningan yang terjadi selama beberapa menit.


"Dendam lo udah terbalas," ucapnya membuka suara, lalu menatap Kamelia sebentar. "Sekarang apa yang akan kau lakukan," lanjutnya.


"Entahlah, mungkin menikmati masa sekolah," ujarnya sambil mengendikan bahu acuh.


"Cih, menikmati sekolah," dengusnya. Apakah gadis itu bercanda? Pikirnya tidak yakin.


Kembali terjadi keheningan diantara mereka. "Misi kita udah selesai. Sesuai kesepakatan lo harus memenuhi permintaan gue," ucap Ansel.


"Hm, aku akan memenuhinya," balasnya.


Ansel menghadap ke Kamelia begitu juga dengannya sehingga kini mereka tengah berhadapan dan menatap satu sama lain. Ansel menatap lekat manik coklat milik gadis itu.


Lalu, ia mendekat kearah Kamelia dan menyisakan jarak yang begitu dekat. Ansel masih menatap wajah Kamelia sedangkan yang tengah ditatap bingung. Nih cowok ngapain sih? Ketika ia tengah berpikir seperti itu, ia merasakan benda kenyal menyentuh bibir membuat Kamelia terpaku.


Saat ini, Ansel mencium dirinya tak lupa ia ******* bibir manis itu. Dan Kamelia mulai menikmati ciuman mereka. Lalu, Ansel menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Kamelia mengenggam erat seragam Ansel. Selama satu mereka melakukan hal itu sampai akhirnya Ansel menyudahi kegiatan mereka.


Kamelia terengah karena kegiatan tadi dan langsung menghirup oksigen. Ansel menatap Kamelia dengan tangan yang melingkar di pinggang cewek itu. Lalu, ia menempelkan dahi mereka sehingga bisa merasakan deru nafas masing-masing.


Kamelia membalas tatapan Ansel padanya. Bertatapan satu sama lain. "Aku ingin kamu jadi milikku, se-la-ma-nya," ucap Ansel serius dengan penekanan di kalimat akhirnya.


Ini adalah akhir kisah mereka. Dua orang yang awalnya asing kini menjadi dekat karena kesepakatan yang pernah mereka buat. Banyak hal yang telah terjadi. Dan semua itu mereka dengan senang hati. Berakhirnya cerita ini maka berakhir kisah mereka berdua.


...Ending...


Thanks guys udah baca cerita aku. Senang banget bisa menyelesaikan cerita ini. Makasih buat kalian yang selalu nunggu Revenge the sweet. Maaf jika aku sering buat kalian nunggu. Maaf juga kalau ceritakan kurang menarim dan ending tidak memuaskan. Aku sangat berterima kasih banget karena udah baca karyaku.


See you guys. Ketemu lagi di karyaku selanjutnya. Bye-bye!👋💙

__ADS_1


__ADS_2