
...Happy reading...
Keesokan harinya, nampak semua orang di sekolah ramai memperbincangkan berita pagi tadi yang berhasil mengegerkan semua orang termasuk sekolah Airlangga.
Seorang siswi dari sekolah Airlangga melakukan aksi bunuh diri dengan terjun dari atas jembatan.Β Karena aksinya itu, hal hasil membuat nama sekolah Airlangga tercoreng.
Ditambah lagi dengan pesan terakhir yang ditinggalkan siswi tersebut. Bahwa dirinya diperlakukan tidak adil di sekolah itu.
Dia selalu di buli oleh teman-temannya. Pihak sekolah yang seharusnya membantu malah berpihak pada orang yang membulinya.
Terlihat di sekolah Airlangga semua orang sibuk membincangkan kejadian tersebut. Semua sibuk saling menuduh dan menyalahkan kejadian tersebut karena tidak menolong siswi itu disaat di buli Claretta.
"Hey kamu tadi lihat tv kan?"
"Iya, gila bangett!"
"Bukan kah dia yang kemarin di buli Claretta dan gengnya ya?"
"Gue ikut sedih mendengarnya,"
"Hiii...serem gue takut lewat kelasnya apalagi jembatan dia lompati."
"Kita semua seharusnya kemarin menolongnya dan kejadian ini ga bakal terjadi!"
"Ini semua karena Lo!"
"Apa?! Seharusnya Lo bantu dia kemarin di buli."
"Hadeh...hancur deh nama sekolah kita."
"Ini semua ulah Claretta dan gengnya!"
"Iya kita harus minta pertanggung jawaban sama dia! Enak aja, gara-gara dia kita semua kena imbasnya!"
Claretta beserta gengnya berjalan angkuh disepanjang koridor. Namun, mereka sedikit bingung dengan tatapan orang-orang di sana yang biasanya segan melihat mereka kini terlihat sinis.
Terlebih lagi melihat sosok Claretta membuat mereka melihatnya lebih sinis sambil berbisik satu sama lain. Claretta yang mulai risih pun menatap mereka kembali tak kalah sinis.
"Kalian kenapa liatin gue kayak gitu hah?!" Bentak Claretta.
Sekejap semua orang terdiam dan kembali berbisik.
"Dasar pembunuh gak tahu diri!" Teriak salah satu siswi. Semua orang langsung menoleh ke arah siswi tersebut.
"Apa Lo bilang?! Brengs*k, Berani Lo sama gue?!" Tantang Claretta. Lalu berjalan mendekati siswi itu.
"Kalau iya kenapa hah?! Lo kan yang bunuh Rina?! Gara-gara Lo semua orang menderita tahu nggak!! Dasar pembunuh! Mati aja sana!!" Bentak siswi tersebut.
__ADS_1
Disisi lain, Davina dan Zelmira ingin membantu Claretta. Tapi mereka mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam. Karena semua orang disana pun ikut membela siswi tersebut ketimbang Claretta.
Claretta yang mendengar itu pun menatap marah siswi tersebut. Lalu, menarik rambut siswi itu dan siswi tersebut tak mau kalah dan mulai menarik rambut Claretta juga, hingga terjadi aksi jambak-menjambak.
"Arrghh!! Lepasin gue bangs*t!!!" Teriak Claretta.
"Nggak bakal, dasar pembunuh!!! Lo juga harus mati cewe l*nte !!" Hardik siswi tersebut.
Sementara itu, Kamelia dan teman-temannya melangkah menuju kelas. Akan tetapi, langkah mereka terhenti saat melihat keributan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Apaan tuh kok rame banget?" tanya Dika.
"Hadeh...siapa coba yang pagi-pagi kayak gini buat keributan, emang tuh orang gak ada kerjaan lain apa?" ucap Divya.
"Nggak tau tuh, mungkin tuh orang bosen sekolah kali ya." Balas Bima.
Bima yang penasaran pun langsung menghentikan seseorang yang berlalu lalang dan bertanya mengenai apa yang terjadi.
"Eh bro, disana ada apa kok rame banget?" tanya Bima. Lalu orang tersebut menceritakan apa yang terjadi. Mereka yang mendengar cerita itu tak habis pikir.
"Ooh masalah berita pagi tadi ya. Mampus tuh Claretta dan gengnya! Hahah syukurin emang enak di buli satu sekolah!! Ujar Divya senang.
"Gue turut berduka juga sih untuk siswi itu, oh iya nggak salah namanya Rina ya?" tanya Bima.
"Iya namanya Rina. Tapi gue nggak habis pikir tuh Claretta dan gengnya emang gak ada otak sampe buat anak orang mati bunuh diri kek gitu," ucap Dika kesal.
πππ
Hari itu, Kamelia jalan-jalan di taman mencari udara segar. Saat ia tengah berjalan tiba-tiba ada orang pria bertubuh besar berotot dan sedikit tinggi yang tak sengaja menabraknya.
"Sstt.. aww," ringis Kamelia merasakan bahunya sedikit sakit.
Kamelia langsung menoleh ke belakang dan melihat orang yang menabraknya tadi malah pergi tanpa minta maaf terlebih dahulu.
"Cih, bukannya minta maaf malah pergi begitu saja!" umpat Kamelia.
Saat dia melihat orang tersebut matanya menangkap tato dengan gambar naga yang terukir di leher pria tersebut.
"Tato itu... kok gue merasa gak asing melihatnya. " Batin Kamelia.
Tak ingin ambil pusing, kamelia kembali melangkahkan kaki nya menelusuri taman dan menikmati keindahan langit senja di taman kota tersebut.
πππ
Di malam yang sunyi itu. Di dalam ruangan yang sedikit gelap dan hanya ada cahaya remang-remang lampu. Dia melakukan rutinitasnya dikala hasrat dalam dirinya tak tertahankan. Apalagi kalau bukan menyiksa dan membunuh orang lagi.
Menikmati setiap aksi yang dilakukannya tanpa belas kasih. Orang itu tak lain adalah Ansel si psikopat kejam yang bersembunyi dibalik wajah tampan yang dimilikinya.
__ADS_1
Ansel tersenyum senang nampak deretan giginya yang rapi dan putih itu menghiasi senyumannya itu. Melihat darah terus menetes di mata kanan korbannya membuat dia semakin menggila.
Terlihat Pria paruh baya sedang terikat dengan satu mata sudah tidak ada lagi. Dengan darah yang terus menetes. Pria itu meringis kesakitan merasakan sakit di area matanya.
Pria itu terus memohon ampunan kepada Ansel yang memakai penutup kepala dengan hoodie hitam. Namun, masih terlihat senyumannya yang dibawah cahaya lampu dengan mata melotot tajam.
"Sa-saya mohon lepasin saya.. saya janji..saya tidak bakal melaporkan mu ke polisi...tolong kasihanilah saya," mohon pria paruh baya itu.
Ansel terkekeh mendengar ucapan pria dihadapannya itu. Lalu, dia pun mengambil sebuah katana dan berjalan menghampiri pria tersebut sambil menyeret katana tersebut.
Pria itu gemetar ketakutan dikala Ansel mulai mendekati dirinya. Ansel yang melihat korbannya ketakutan semakin membuat dia ingin menyiksanya lebih lama.
Setelah berada di depan pria tersebut. Ansel menyeringai dan mulai mengangkat ke atas katana yang dipegangnya.
"Aku akan mengampuni mu," ucap Ansel.
Pria itu menatap Ansel tak percaya dengan mata berbinar binar, "benarkah?" tanyanya.
"Terimakasih banyak aku sangatβ"
Ansel langsung menebas kepala pria tersebut sebelum pria itu menyelesaikan bicaranya. Kepala pria itu terjatuh ke lantai, darah muncrat keluar dari leher pria tersebut sampai mengenai wajah Ansel.
Ansel tertawa terbahak-bahak dengan wajah dan baju penuh denganΒ bercak darah. "Hahaha!... Gimana gue baik bukan? Karena gue telah memberikan kematian tidak menyakitkan ke lo pak tua! Hahaha!!..."ucapnya sembari tertawa.
Ansel menoleh ke belakangnya dan menatap dua orang yang sedang terikat dengan wajah penuh ketakutan.
Ansel menyeringai menatap mereka, lalu berkata, "ayo, kita bermain!"
Malam itu, Ansel membunuh tiga orang karena dia sudah lama tidak melakukan hobinya itu.
Meskipun dia beberapa hari ini membunuh seseorang. Tapi itu bukan kehendaknya sendiri. Jadi saat ini ia tengah melampiaskan hasratnya tersebut.
πππ
...Gimana next, nggak?...
...Menurut kalian ceritanya gimana?...
...Seru nggak? Penasaran nggak?...
...Vote and comment ya, guys!...
...Thank you for all...
...πLove usπ...
...PUSRI...
__ADS_1