Revenge The Sweet

Revenge The Sweet
46. Save Divya


__ADS_3

...Happy reading guys...


Kemudian, ia berjalan memutari tubuh Divya sembari memainkan pisaunya. "Gimana? Lo mau mulai dari mana?"


"Paha, lengan atau... wajah," ucapnya dengan senyum iblis.


"Lepas! Dasar gila!"


"Aduh, berisik banget. Dari mulut lo aja kalinya biar lo nggak berisik." Lalu, tangannya menggores lengan Divya.


"Ssh," ringisnya menahan pedih.


"Ops, sengaja hahaha!" Dia tertawa keras melihat hal itu. "Dasar gila!" desis Divya.


Sedangkan, dia yang mendengar desisan itu hanya tersenyum. Seakan-akan ia akan melakukan hal menyenangkan.


"Gimana? Menyenangkan, kan?"


"Lepasin gue! Cewek gila!" berontaknya.


"Ckck, udahlah mending lo nurut aja. Kita berikan kejutan buat sahabat lo datang nanti," seringainya.


Dia kembali memainkan pisau ditangannya dan mulai menggoreskannya di tubuh Divya membuatnya menahan rasa perih dan sakit yang ia rasakan.


Kamelia berjalan menuju bangunan yang ada dihadapannya. Sesampainya, ia melihat dua orang berbadab kekar berjaga di pintu masuk bangunan tersebut. Setelah ia berhasil melewati kedua orangtua dengan menunjukkan pesan yang dikirim pelaku padanya. Dia pun melangkah masuk menuju tempat Divya berada.


Setelah melewati beberapa lorong akhirnya ia sampai. Sebelum masuk ia menghela nafas terlebih dahulu. Kemudian, ia kembali melangkah dan langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.


Tangannya terkepal melihat hal itu dan rahangnya mengeras. Di depan sana tiga orang sangat ia kenal. Divya yang sedang diikat dikursi dan disamping seseorang cewek yang sangat benci sedang menggoreskan pisau di lengannya. Dan di sisi lain, seorang laki-laki yang tidak kalah ia benci. Ya, mereka adalah Haikal dan Davina.


"Wah, lihat siapa yang datang!" katanya. Lalu, ia tersenyum sinis. Kamelia melangkah kearah mereka.


"Apa mau lo?" ucapnya tenang.


"Mau gue?" Ia berjalan mendekati Kamelia sambil memainkan pisau ditangannya.


Saat ia berhadapan dengan Kamelia. Dia mengacungkan pisau itu ke wajah Kamelia. Lalu berkata," lo mati."


Sedangkan, Kamelia diam memperhatikan tindakan Davina. Kemudian tangannya terangkat lalu memegang tangan Davina. Ia menggerakan tangan itu sehingga kini pisau tersebut ada di depan mata Davina.


"Lo yang akan mati," ucapnya penuh penekanan. Davina dengan susah payah menelan saliva-nya ketika mata tajam Kamelia menatapnya dengan tatapan membunuh.


Lalu, Kamelia menyeringai melihat reaksi Davina. "Kenapa? Takut?"


"Hah, ta-kut? Siapa yang takut? Yang ada lo yang harusnya takut!" katanya tak mau kalah.


"Oh ya." Kamelia berjalan kearah Haikal lalu berhenti ketika ia sudah tiba dihadapannya.


"Lama tidak bertemu, Hai-kal" ucapnya dengan senyum miring.


"Tentu, lama tidak bertemu," balasnya dengan smirk.


...🔥🔥🔥...


Kini, Ansel, Ray, Putra dan Ian sedang bersembunyi di balik semak-semak. Mereka tengah menunggu timing yang tepat untuk menyerang dan masuk ke dalam untuk membantu Kamelia yang sudah pergi duluan.


"Ayo!" ajak Ansel.


"Oke," balas mereka pelan.


Setelah itu, mereka keluar dari persembunyian. Kedua orang itu langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar langkah seseorang. Dan bisa dilihat kini di depan mereka ada empat pemuda berjalan kearah mereka.


"Siapa kalian?" Adalah kata pertama yang keluar dari mulut pria berbadan besar itu. Saat keempat pemuda berada tepat dihadapannya.


"Kalian nggak perlu tahu," ucapnya.


"Hajar!" perintah Ansel.


"Hyaaa!" Mereka maju untuk melawan kedua pria berbadan kekar itu. Aduan tinju mereka layangkan.

__ADS_1


Bak! Bak! Bak! Sekali mereka juga menghindari serangan yang diberikan. Cukup mudah bagi untuk melawan dua orang itu karena mereka berempat. Setelah berhasil mengalahkan kedua orang itu mereka mulai melangkah masuk.


Baru beberapa langkah mereka masuk sudah ada beberapa orang yang menghadang mereka.


Ian yang melihat hal itu langsung berdecak. "Ck. Bakal lama nih urusan."


"Udahlah, hajar aja" kata Putra.


"Apa boleh dibuat," ujar Ray. Sedangkan, Ansel tanpa banyak kata langsung menyerang mereka karena ia tidak ingin membuang-buang waktu.


Ansel menangkis pukulan yang melayang padanya lalu ia memberikan tendangan kepada lawannya.


"Ngapain sih kita berdua disini. Dikira kang parkir apa ya" ujar Bima.


"Tau tuh. orang gue juga mau nyelematin Vya masa disuruh jaga disini sama lo lagi" kata Dika.


Rasanya menyebalkan harus bersama dengan Bima. Kenapa harus dia sih batin Dika tidak terima.


Sejak tadi yang mereka lakukan adalah mengumpat dan menggerutu. Tidak terima karena di suruh siaga di tempat mereka berhenti tadi.


"Emang tuh orang nggak tau apa kalo gue ini seorang ahli bela diri," ucapnya sambil menepuk dadanya.


"Sok-sok an lo ngaku ahli bela diri. Liat musuh aja langsung lari."


"Wah, lo ngeremehin gue?"


"Kalo iya kenapa, hah!" Tantang Dika.


"Sini lo maju lawan gue. Kita buktiin siapa yang lebih hebat," ucapnya menantang.


"Ayo!" Setelah itu, terjadilah pertarungan antara mereka berdua. Memilih adu kekuatan dengan bela diri siapa yang paling ahli. Saat teman-teman nya pada sibuk untuk menyelematkan Divya dari musuh.


Sedangkan, mereka malah mencari ribut sendiri dengan perkelahian yang tidak berguna ini. Dasar kampret!


...🔥🔥🔥...


"Akh!" ringisnya. Ketika merasakan sakit diperutnya akibat menerima pukulan Kamelia yang begitu kuat.


"Sialan lo!" umpatnya. Menatap Kamelia dengan berang.


"Gue balas lo!" Haikal langsung maju menyerang Kamelia. Dengan sigap ia menghindari serangan itu dan terjadilah perkelahian di antara mereka berdua.


Sedangkan, Davina hanya melihat mereka di samping Divya yang terikat. "Lepasin gue!" ucap Divya. "Diam lo! Nggak usah berisik atau mulut gue sumpal pake nih pisau," ujarnya. Sambil mengacungkan pisau itu ke mulut Divya.


Divya yang melihat pisau itu langsung memilih diam daripada mulutnya harus merasakan goresan pisau itu.


Divya yang melihat pisau itu langsung memilih diam daripada mulutnya harus merasakan goresan pisau itu.


"Gue nggak akan biarin lo lepas, Kamelia!" teriak Haikal. Dan memberikan pukulan ke dia. Akan tetapi, Kamelia berhasil menghindar.


Mereka terus bertarung dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya Kamelia dibuat lengah karena mendengar suara Divya.


"Aww," rintihnya. Ketika merasakan tubuhnya kembali di gores oleh Davina.


Davina tersenyum melihat hal itu. "Biar teman lo itu hilang fokus," ucapnya.


"Divya!" serunya. Dan hal itu membuatnya lengah hingga ia menerima pukulan di wajahnya dan membuat sudut bibirnya berdarah. Bak!


"Sial!" ujarnya. Ia menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Haikal kembali melayangkan pukulan padanya. Kamelia yang belum siap seakan pasrah menerima pukulan itu. Namun, tanpa di duga seseorang datang membantu sehingga ia tidak kena pukulan lagi.


"Lo bebasin Vya biar gue urus dia," kata Ansel padanya.


"Oke."


"Sekarang lawan lo, gue!"


"Cih, siapa takut!" Dan terjadilah pertarungan diantara mereka.


Kamelia melangkah kearah Divya dan Davina berada. Ia tersenyum sinis menatap Davina yang berdiri disana.

__ADS_1


"Sekarang giliran lo," ucapnya. Davina yang melihat Kamelia semakin dekat mulai was-was.


Lalu, ia langsung menyerang Kamelia brutal. Kamelia menyeringai melihat hal itu. Baginya mudah untuk mengalahkannya apalagi melihat cara menyerang Davina yang buru-buru dan memiliki celah dimana-mana.


Kamelia menendang perutnya. "Ugh," rintihnya. Lalu, ia kembali memberi pukulan hingga dia terjatuh ke lantai. "Akh!"


Kemudian, ia berjongkok di depan Davina lalu mengcengkram dagunya. "Waktunya balas dendam," seringainya. Ia mulai menggoreskan pisau itu ke tubuh Davina sama halnya yang ia lakukan pada Divya.


"Akh!" rintihnya.


"Gimana? Enak?"


Sret! "Ssh..." lalu ia kembali menggoreskan pisau itu ke pipinya. Sret! "Akh!" teriaknya.


"Lo terlihat cantik dengan goresan ini," ucapnya dengan senyum manisnya.


Bak! Ansel menendang Haikal hingga terjatuh lalu ia memukulnya dengan membabi-buta sampai Haikal tidak sempat membalasnya.


"Terima ini!" Bak! Bak! Bak!


Dia memukul wajah itu sampai membiru tak rasa kasihan sama sekali untuknya. Biarkan cowok ini merasakan akibat dari perbuatannya.


Kamelia melepaskan cengkramannya dari Davina. Ia berdiri mendekati Divya. Melepaskan tali yang mengikatnya. Sedangkan, Davina yang melihat hal itu mulai bangkit.


Haikal membalas pukulan Ansel hingga ia terlepas dari cengkramannya. Lalu ia bangkit dan ingin menyerang Ansel namun terhenti ketika ia mendengar suara Davina.


"Haikal, kita pergi!" teriaknya. Ia yang mendengar itu langsung menoleh kearahnya. "Ayo!" Setelah itu, mereka berlari lewat belakang meninggalkan tempat tersebut.


Ansel yang melihat itu ingin mengejar tapi dihentikan oleh Kamelia. "Nggak usah dikejar," perintahnya. Ansel langsung menatapnya. "Kenapa?"


Ikatan ditubuh Divya sudah terlepas. "Makasih." Lalu, ia menghadap ke Ansel. "Gue punya rencana buat mereka," ucapnya. "Baiklah."


Tak lama Ray, Putra dan Ian datang dengan ngos-ngosan.


"Hah... hah...."


"Akhirnya berhasil juga ngalahin mereka," ucap Ian.


Ray langsung mendekati Divya. "Lo nggak papa, Vya?"


"Nggak papa," balasnya.


"Shh, nggak papa darimana luka gitu," ringis Putra ketika melihat luka ditubuhnya.


"Mana pelakunya?"


"Kabur," balas Ansel singkat.


"Kok lo biarin kabur sih harusnya lo tangkap," sewot Ian.


"Udahlah, sekarang kita bawa Vya pulang buat ngobatin lukanya," lerai Kamelia.


Ray langsung memapah tubuh Divya dan mereka berenam mulai melangkah keluar meninggalkan bangunan tersebut. Kembali ke tempat Bima dan Dika berada.


...🔥🔥🔥...


...Gimana next, nggak?...


...Menurut kalian ceritanya gimana?...


...Seru nggak? Penasaran nggak?...


...Vote and comment ya, guys!...


...Thank you for all...


...💙Love us💙...


...PUSRI...

__ADS_1


__ADS_2