
...Happy reading...
Kamelia melayangkan tinjunya namun berhasil ditangkis. Tak ingin menyerah dia terus melayangkan pukulan ke titik vital yang bisa membuat lawan mengalami cidera cukup parah. Akhirnya, dia berhasil melayangkan tinjunya di bawah dagu pria berbadan kekar itu.
Dan mereka berhasil menumbangkan mereka satu persatu. Tersisa satu orang yang memberi mereka perintah tadi.
Kamelia langsung saja menghajarnya tapi laki-laki itu berhasil menghindari gerakannya. Sampai Ansel datang membantunya dan menyuruh pergi.
Kamelia pun langsung menuruti perintah Ansel. Baru saja ia masuk pria-pria berbadan kekar langsung menghadang dirinya. Ia melihat itu menyiapkan pistol dan siap untuk ditembakkan.
Dia menodongkan pistolnya dan menembakkan ke orang-orang yang menghalangi jalannya. Dengan tatapan tajamnya ia menembakkan peluru dalam pistol tersebut. Sehingga membuat beberapa dari mereka berhasil dilumpuhkan.
Selain itu, dia juga berusaha menghindari setiap serangan yang diberikan kepadanya. Meski dia sedikit kewalahan karena jumlah mereka yang banyak.
Sedangkan ia hanya seorang diri sebab Ansel masih mengurusi masalah di dekat pintu masuk.
Kamelia melangkah maju sambil menembakkan peluru pistolnya pada orang-orang yang menghalangi dirinya hingga ia berhasil melewati mereka.
Setelah itu, ia bingung mau kemana karena ada dua arah berbeda. Antara ke kanan atau ke kiri.
Pada akhirnya, ia memilih ke kanan untuk mencari ruang tempat bos mereka berada.
Disisi lain, Ansel tengah bertarung dengan yang lainnya. Dia terus mengerahkan kemampuannya meski ia sudah lelah sebab jumlah yang begitu banyak.
"Hah...hah...." Ansel kembali melayangkan tinjunya pada lawannya. Meski jumlah mereka tak sebanding dengan dirinya. Dia tetap mengerahkan kemampuannya.
Saat ia ingin melayangkan pukulan ke orang yang ada dihadapannya. Tanpa disadari dari arah samping seseorang mengarahkan pisau kearahnya. Tak sempat menghindar akhirnya pisau itu berhasil menggores bahu dilengannya.
"Aish!" Ringisnya pelan. Memegang bahu kanannya ketika merasakan perih dilengan kanannya. Ansel menatap nyalang orang yang telah melukainya. Dengan emosi yang tinggi ia menghajar orang itu dan merebut pisaunya. Lalu ia arahkan ke pisau itu kearah perut laki-laki tersebut.
Jleb!
"Akh!" Teriak pria itu.
"Terima dan rasakan sakitnya!" Ujar Ansel sinis.
"Berani-beraninya lo sama gue!"
"Gue bakal buat lo merasakan sakit yang sesungguhnya!"
"Rasakan ini!" Menusukkan pisau ditangan lebih dalam. Dan membuat laki-laki berteriak kesakitan, " Akh!" Sedangkan, Ansel tersenyum melihat orang dihadapannya saat ini kesakitan.
Kemudian, ia menarik pisau itu secara paksa dan membuat orang itu terkulai lemas karena kehabisan darah. Setelah itu, ia bergegas menyusul Kamelia yang sudah pergi terlebih dulu.
πππ
Dilain tempat, Divya dan lainnya masih mencari keberadan Ansel dan Kamelia. Kini, mereka sedang menuju tempat Ansel.
Sesampainya di rumah Ansel. Mereka langsung turun dari mobil. Dengan Ian yang menuntun mereka. Lalu, mereka masuk ke dalam akan tetapi hanya sepi yang mereka temukan.
"Anjir, seram banget nih rumah," ujar Bima.
__ADS_1
"Gila sih kek rumah hantu. Besar tapi nggak ada orang," ucap Dika.
"Kayaknya mereka nggak ada," kata Putra.
Setelah itu, mereka pergi dari sana karena tidak menemukan keberadaan Kamelia dan Ansel. Dan mereka kembali mencari mereka meski tidak tahu kemana mereka akan mencari keberadaan dua orang itu.
πππ
Setelah melewati lorong yang cukup panjang. Akhirnya Kamelia menemukan sebuah ruang yang berada diujung sana. Ia pun melangkah menuju pintu tersebut dengan tetap waspada jikalau nanti ada serangan tiba-tiba.
Kemudian, dia mendorong pintu secara perlahan menggunakan tangan kirinya. Sedangkan, tangan kanan memegang pistol yang siap untuk ditembakkan.
Setelah pintu terbuka, ia menatap sekelilingnya. Nampak ruang yang kosong seperti tidak ada orang di dalamnya.
Tapi dari arah belakang seseorang melangkah mendekatinya, siap untuk memukulnya. Namun, Kamelia menyadarinya sehingga ia langsung berbalik badan dan memundurkan langkahnya dengan mengacungkan pistolnya.
"Besar juga nyalimu untuk masuk kesini, bocah" ucapnya sinis. Kamelia hanya menatap datar orang didepannya tersebut.
Kamelia langsung menyerang pria ituΒ dan dia berhasil menangkis serangannya. Kemudian, ia membuang pistolnya yang sudah tidak memiliki peluru. Lalu, menghajar orang itu dengan sekuat tenaga meskipun pukulan dan gerakan lainnya bisa ia hindari.
Tak menyerah, Kamelia terus berpikir bagaimana caranya ia bisa mengalahkan orang tersebut. Dia terus mencari celah untuk menendangnya.
Sampai akhirnya waktu yang ia tunggu tiba. Dengan sekuat tenaga ia menendang aset berharga pria itu dan membuatnya berteriak kesakitan.
"Akh!" Teriaknya. Merasa sakit dibagian ************.
Ia pun menatap tajam Kamelia,"dasar bocah sialan!" Umpatnya.
Dengan nafas terengah-engah Kamelia berusaha tetap fokus dengan lawannya. "Siapa orang yang sudah membunuh keluarga Chanthavy?" Tanya Kamelia datar.
"Apa maumu?"
"Saya tanya, siapa pembunuh keluarga Chanthavy?" Sembari menodongkan pistolnya pada pria itu.
"Jawab!"
Pria itu berdiri dengan perlahan. Kamelia yang melihatnya mulai waspada. "Keluarga Chanthavy, ya?"
"Kau tahu, keluarga itu sudah mati 2 tahun lalu," ujarnya. Kamelia yang mendengarnya mengepalkan tangan.
"Mau tahu bagaimana mereka mati?" Tanyanya. Kamelia yang sudah emosi melayangkan tinju pada pria itu. Dan mengenai pipinya. Membuat sudut bibirnya berdarah.
"Aish! boleh juga pukulan lo," ucapnya sambil terkekeh. Setelah itu, pria itu menyerang Kamelia hingga terjadilah pertarungan antara mereka berdua.
πππ
Kamelia memberikan tendangan tapi serangan itu kembali ditangkis. Lalu sebuah tinju mengarah ke mukanya. Dan Kamelia menyilangkan kedua tangan menjadi tameng.
Pertarungan pun terjadi, mereka saling menyerang satu sama lain. Dari pukulan hingga tendangan mereka layangkan. Kamelia menendang perut pria itu dan membuat dia menahan sakit.
"Jawab pertanyaan saya tadi! Siapa yang sudah menyuruh kalian membunuh keluarga Chanthavy!"
__ADS_1
"Kalo lo tahu, mau apa?"
"Gue bakal lakuian hal yang sama dengan apa yang kalian lakukan."
"Hahaha, lo pikir bisa ngalahin gue, ha!" Remehnya.
Dengan gerakan cepat Kamelia mengambil katana dipunggungnya lalu menyerang pria itu, "kurang ajar!" Teriaknya. Dia menghindari serangan katana dari Kamelia.
Kamelia terus menyerangnya dan pria itu terus menghindari serangannya. Sesekali dia juga melayangkan tendangan. Lalu, katana itu menggores bahu kanannya.
"Sialan!" Umpatnya. Seketika darah mengucur dari bahunya. Kemudian, ia melihat ada pisau di atas meja dengan cepat ia mengambilnya.
Setelah itu, terjadilah pertarungan sengit antara mereka berdua. Perpaduan suara katana dan pisau terdengar nyaring diruang itu.
Kamelia terus bergerak menyerang hingga pria itu terkena meja dan membuat barang-barang disana terjatuh. Menatap sengit satu sama lain.
Dia bangkit dan kembali menyerang. Sehingga pertarungan terjadi. Lalu, pisaunya menggores pipi kiri Kamelia. Pertarungan semakin sengit sampai akhirnya Kamelia berhasil menusukan katananya ke perut laki-laki itu.
Kamelia menusukkan katana-nya ke perut pria tersebut. Membuat dia kesakitan. Dengan tetap menusukkan katana, Kamelia kembali bertanya,"siapa yang nyuruh lo bunuh keluarga Chanthavy?"
"Jawab!" Bentaknya.
Pria itu perlahan mulai bicara,"or--ang yang nyu--ruh kita adalah...,"
Kamelia yang mendengar jawaban pria itu memegang erat katana-nya. Saat nama seorang yang merupakan dalang pembunuhan keluarganya terucap. Emosi dalam dirinya membuncah.
Sedangkan, Ansel yang baru saja sampai juga dibuat terkejut mendengar ucapan pria itu. Dia menatap Kamelia yang berada di depan sana.
Lalu, ia menusukkan pedangnya lebih dalam hingga menembus perutnya. "Akh!" Teriaknya ketika katana itu menusuknya lebih dalam.
Setelah itu, Kamelia menarik katana itu dengan sekali gerakan. Dan tubuh pria itu terjatuh dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Kemudian, ia berbalik dan melangkah pergi bersama Ansel. Tak lama mereka sudah ada dipintu keluar.
Kamelia yang melangkah dengan tatapan dinginnya dan Ansel berjalan disisi-nya sambil memainkan korek api. Setelah keluar dengan tetap melangkah, Ansel melemparkan korek api tadi ke belakang.
Tak lama muncullah api yang mulai mengelilingi tempat tersebut karena sebelumnya mereka sudah menebarkan bensin keseluruh tempat itu.
Di malam sunyi itu, sebuah api berkobar menghanguskan tempat itu. Dan dua remaja tadi tetap melangkah menuju mobil mereka.
Di dalam mobil, Kamelia menatap kobaran api disana. "Ini baru permulaan, tunggu saja nanti. Aku akan membuat kalian menderita."
πππ
...Next?...
...Iya atau nggak?...
...Gimana menurut kalian cerita ini? Cerita ya di komen...
...Sampai ketemu di part selanjutnyaπ...
__ADS_1
...With love ...
...PUSRI...