Sahabat Sebangku

Sahabat Sebangku
Episode Ke - 55


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Tidak terasa sudah dua bulan Winda dan Adinda melaksanakan PKL di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), hari ini juga tepat dimana Winda bertambah umur menjadi 16tahun beda setahun dengan Adinda , jika kini Winda bertambah umur menjadi 16tahun namun Adinda berubah umur menjadi 17tahun pada bulan November nanti.


"Ciee nambah umur nihh jadi 16tahun". Ujar Adinda.


"Bukan nambah tapi berkurang loh". Ujar Winda.


"Masa sihh?". Tanya Adinda.


"Iyaa bertambah usia tapi berkurang karena ngga tau kan kematian, kehidupan, rezeki, jodoh kan udah di atur sama Allah SWT". Jawab Winda.


"Hmm baiklah, kalau semua udah diatur sama Allah SWT, yaa kamu jangan terus mikirin s dia dongg". Ujar Adinda sebal.


Bagaimana Adinda tidak sebal pada sahabatnya itu, karena akhir - akhir ini sahabatnya terus saja menangis atau sedih setiap curhat tentang cowok yang selalu dia sebut namanya waktu sholat istikhoroh.


Winda yang melihat wajah sahabatnya yang sebal pun tak peduli seakan dirinya tidak salah apapun, Winda mengerjakan tugas yang dikasih Pak Dudi begitu juga dengan Adinda walaupun masih sebal dengan sahabatnya mereka tetap mengerjakan tugas yang diberikan oleh pegawai disana.


Beberapa jam kemudian waktunya istirahat, Adinda dan Winda pun keluar untuk jajan karena mereka sudah mendapatkan uang dari yang memberikan tugas. Mereka juga mempunyai teman yang bernama Siska, Anggi dan Yuni. Winda serta Adinda gabung dengan mereka bertiga yang sudah memakan lotek, Adinda dan Winda pun memesan makanan mereka seperti biasanya.


"Ngga kerasa yaa wii, PKL udah 2bulan aja sebulan lagi dong kita beres". Ujar Adinda.


"Iya benar kataa kamu Din, nanti kita sibuk bikin laporan PKL juga, sidang ahh banyak yang harus kita lewati". Ujarnya diangguki oleh Adinda.


"Ehh kalian udah selesai?". Tanya Adinda yang melihat teman baru nya selesai istirahat.


"Iyaa nihh, tapi dia belum". Ujar Yuni menunjuk ke Siska.


"Ohh iyaa dehh Yun". Ujar Adinda diangguki Yuni.


Winda tetap lah Winda yang pendiam tidak seperti Adinda, semenjak mengenal mereka Adinda pun berubah menjadi lebih berani mengobrol dengan teman baru. Yaa seperti itulah Winda, dia hanya cuek saja sambil memainkan ponselnya entahlah pusing.

__ADS_1


Setelah mereka selesai istirahat, Winda dan Adinda ke masjid untuk sholat Dzuhur bersama, walau Adinda bersahabat dengan lima orang namun Winda lah yang paling dekat dengan Adinda, sehingga kemanapun berdua jadi wajar mereka kalau terpisah tidak bisa karena rasa nyaman.


"Wii, laporan baru sampai bab berapa?". Tanya Adinda.


"Baru sampai bab 4 sih, kamunya din?". Tanya Winda.


"Wahh keren udah bab 4 aja, aku masih jauh soalnya kehapus file nya". Ujarnya sendu.


"Sabar, semua akan mudah ko". Ujar Winda menyemangati Adinda.


"Makasihh wi". Ujar Adinda diangguki oleh Winda.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai sholat Dzuhur dan langsung bergegas ke kantor. Kini mereka dilantai yang sama dulu mereka berbeda lantai, Winda lantai tiga sedangkan Adinda lantai dua yang penuh dengan tugas.


"Wii, kayanya hari ini aku lembur". Ujar Adinda.


"Emang ngerjain apaan?". Tanya Winda.


"Baiklah, jangan terlalu kecapean ya". Ujar Winda.


"Oke, kamupun". Ujar Adinda diangguki Winda.


Adinda pun pindah tempat duduk karena tugas dari A Pirda harus duduk disamping nya, soalnya emang tempat mengerjakan Input Data hanya disitu terkadang Adinda lebih banyak ditugaskan yang berhubungan dengan komputer, berbeda dengan Winda yang selalu ditugaskan dengan banyaknya berkas Sertifikat Tanah namun juga dibantu oleh temannya yang lain.


"Din". Panggil A Pirda.


"Iyaa a?". Tanya Adinda.


"Nanti kalau udah di input, berkas nya di satukan sesuai desa atau kota yaa". Ujar A Pirda.


"Siapp a". Ujar Adinda sambil mengerjakan kembali tugasnya.

__ADS_1


"Siip, kalau gitu aa pergi keluar bentar, kalau ada apa - apa chat aja ya kan udah punya nomor nya". Ujar A Pirda hanya diangguki oleh Adinda.


Beberapa jam kemudian, Adinda telah selesai Menginput Data Sertifikat Tanah tersebut lalu membereskan sesuai dengan desa atau kota seperti yang A Pirda bilang padanya. Setelah itu, Adinda membuka komputer kembali mengerjakan tugas laporan PKL, hingga tidak sadar sekarang sudah melebihi batas waktu pulang.


"Dinda belum pulang?". Tanya Pak Boma.


"Belum pak, sedikit lagi juga selesai". Ujar Adinda.


"Yaudah jangan terlalu lama duduk ya, takutnya sakit". Ujar Pak Boma.


"Siap pak". Ujar Adinda.


"Sok kerjakan aja dulu". Ujar Pak Boma hanya diangguki oleh Adinda dengan senyuman.


Beberapa menit kemudian, ada notifikasi pesan dari kekasihnya yang menanyakan sudah pulang belum nya, Adinda menjawab masih di kantor, jadi kekasihnya pun menjemputnya dan menyuruh Adinda ketika sudah segera keluar kantor hanya didiamkan oleh Adinda karena ia sedang membereskan barang ke tas nya.


Sesudah itu ia pun keluar kantor sambil berlari kearah kekasihnya, lalu berjalan sedikit takut jatuh soalnya jalan pudunan sambil tersenyum Adinda memegang tangan kekasihnya.


"Maaf yaa nunggu lama". Ujar Adinda.


"Iyaa gapapa, yaudah ayoo naik". Ujar Lutfi.


"Siapp". Ujar Adinda.


"Let's goo". Ujar Adinda dan Lutfi.


Maafin teteh, buat aa kerepotan harus jemput segala. Batin Adinda.


Bagaimana kelanjutannya?


Jangan lupa Like, Coment and Vote nya Ya:)

__ADS_1


__ADS_2