
Seminggu berlalu, kini Adinda melaksanakan PKL sendiri karena Winda sakit mungkin terlalu memikirkan lelaki itu yang tak lain adalah Hafidz. Ingin rasanya Adinda memukul wajahnya, karena Hafidz lah penyebab Winda selalu sakit ketika memikirkan tentangnya.
"Din, Winda kemana?". Tanya Pak Boma.
"Masih sakit pak". Jawab Adinda.
"Sakit apa dia, din?". Tanya lagi pak Boma.
"Katanya demam pak". Ujar Adinda.
"Yasudah, semoga cepat sembuh ya biar Dinda ada temannya". Ujar Pak Boma
"Aamiin yaa rabbal'alaamiin pak". Ujar Adinda seraya tersenyum.
Adinda pun mengerjakan tugas yang diberikan Pak Dudi, cukup lelah bagi Adinda karena mengerjakan segalanya seorang diri tanpa bantuan sahabatnya itu. Adinda menghela nafas panjang, ia sangat pusing karena sedari tadi ia duduk namun waktu berdiri pusing itu menjadi membuat kepala Adinda berat.
Pak Boma yang melihat Adinda memegang kepala serta jantung nya pun menghampiri Adinda, sesampainya Pak Boma sampai ia langsung melihat wajah Adinda yang terlihat pucat mungkin karena Adinda belum sarapan tadi pagi.
"Dinda, kamu sakit?". Tanya Pak Boma.
"Ehh pak, engga kok". Ujar Adinda sedikit tersenyum.
"Kamu jangan bohong, muka kamu udah pucat gitu". Ujar Pak Boma membuat yang lain melihat ke Adinda.
"Yaudah mending pulang aja, istirahatin yaa Dinda". Ujar Bu Vivy.
"Tapii bu, yang bantu disini siapa? kan teman aku sakit, terus yang dua di basecamp". Ujar Adinda.
"Yaudah ngga papa, lebih baik pulang aja". Ujar Bu Ikeu.
"Kamu udah makan belum?". Tanya Bu Metty.
"Belum bu, soalnya ngga keburu". Ujar Adinda lemas.
"Lain kali jangan lupa sarapan dulu dari rumah ya". Ujar Bu Metty.
__ADS_1
"Iyaa bu siapp". Ujar Adinda.
"Yaudah kamu pulang, ada yang jemput?". Tanya Bu Santi.
"Ada kok bu, udah di depan". Ujar Adinda.
"Yaudah kamu masih kuat jalan kan?". Tanya Bu Santi.
"Kuat kok bu". Ujar Adinda.
"Yaudah, nih uang buat kamu beli makanan sebelum pulang". Ujar Bu Santi memberikan uang pada Adinda.
"Ibu ini terlalu besar". Ujar Adinda melihat uang Rp. 100.000 merasa tak enak.
"Iyaa gapapa, ini ambil aja". Ujar Bu Santi, mau tak mau Adinda pun mengambilnya.
Adinda pun sudah berada di depan kantor BPN menunggu kedatangan pacarnya, setelah beberapa menit kemudian orang yang ditunggu akhirnya datang, Lutfi melihat pacarnya pucat pun khawatir dengan segera ia menyuruh Adinda naik, setelah itu Lutfi menjalankan motornya dengan tangan Adinda yang sudah memeluk pinggang nya.
"Sakit apa hem?". Tanya Lutfi di tengah jalan.
"Kamu lupa sarapan lagi ya". Ujar Lutfi.
"Iyaa lupa hehe". Ujar Adinda kikuk.
"Lain kali, jangan lupa sarapan dulu yaa sayang, aa takut kamu sakitnya lama, nanti gimana PKL nya kalau kamu masih sakit?". Tanya Lutfi khawatir.
"Iyaa nanti ngga akan lupa kok, iyaa semoga engga lama sakitnya, aamiin yaa rabbal'alaamiin". Ujar Adinda tersenyum.
"Iyaa aamiin yaa rabbal'alaamiin, sayang". Ujar Lutfi hanya diangguki oleh Adinda.
Beberapa jam kemudian, Adinda sampai di rumahnya tepat jam 10 pagi dan pacarnya pun telah pulang karena ingin istirahat, Adinda masuk ke kamarnya setelah memberitahukan kepada ibunya bahwa ia sakit dan ingin istirahat, ibunya pun mengangguki perkataan Adinda dengan syarat jangan melupakan waktu makan.
Adinda membuka HP nya, melihat ada chat masuk dari Winda yang menanyakan kabar Adinda namun Adinda tidak menjawab karena ia sangat lelah dan ingin tidur dengan nyenyak agar sakitnya sembuh. Setelah mengganti baju dan membersihkan diri Adinda pun tidur dengan nyenyak sambil memeluk guling kesayangannya.
"Dinda, bangun sayang sholat dzuhur dulu". Ujar ibunya.
__ADS_1
"Hoaamm, iyaa bu". Ujar Adinda masih mengantuk.
"Cepat sana ambil wudhu terus sholat, jangan lupa kebawah untuk makan siang". Ujar Ibunya perhatian.
"Iyaa bu, nanti Adinda ke bawah". Ujar Adinda hanya diangguki oleh sang ibu.
"Cepatt yaa, saoalnya ada kakak ipar kamu dan kakak mu datang ke rumah". Ujar ibunya membuat Adinda bersemangat tentunya karena akan bertemu dengan ponakannya.
Beberapa menit kemudian, Adinda menuruni tangga dan melihat ponakannya itu langsung berlari dari tangga untung saja ia tidak jatuh kalau engga kan sakitt, Adinda menyalami tangan kakak iparnya begitu juga dengan kakaknya lalu memeluk ponakannya dengan erat.
"Kamu PKL berapa bulan lagi din?". Tanya Kakaknya.
"Bulan depan beres kok tanggal 29 November 2019". Jawab Adinda yang masih memeluk ponakannya.
"Yaudah kalau semua udah selesai nanti kita ke Garut ya, ketemu sama kakek dan nenek". Ujar Kakaknya membuat Adinda girang.
"Asikkkk, okee siap kak". Ujar Adinda girang karena akhirnya ke Garut setelah bertahun tahun tidak menemui kakek dan nenek nya.
Mereka pun makan bersama walau sedikit kacau, karena ponakannya tidak bisa diam ditempatnya membuat Adinda kesusahan ketika memakan. Karena tidak tahan melihat ponakannya tidak diam, ia pun menyimpan makanan yang belum habis lalu mencuci tangan dan menggendong ponakannya dengan bahagia.
"Ateu kangen kamu". Ujar Adinda mencium pipi gembul ponakannya.
"Cepet besar, biar nanti main sama ateu yaa". Lanjut Adinda tersenyum.
"Ahhh gemesnya ponakannya ateu". Ujar Adinda terus menerus mencium wajah ponakannya.
"Udah siniin, dede makan aja biar Muti sama kakak". Ujar Kakaknya hanya diangguki oleh Adinda.
Setelah semua selesai makan, Adinda langsung menggendong Muti namun ketika melihat adik kecilnya akan menangis, ia mengembalikannya kepada kakak lalu menggendong adik kecil lelakinya mencium pipi nya yang sediikit tirus karena sakit.
Adik sama ponakan, sama sama lucu. Batin Adinda.
Bagimana kelanjutannya?
Jangan lupa Like, coment and Vote:)
__ADS_1