
Menginjakan kakinya kembali ke tempat yang penuh hingar bingar surganya para pemburu dosa seperti dirinya membuat Kai merasa hidup kembali, setelah di sibukkan dengan segala urusan kantor yang sungguh menguras tenaga dan pikirannya.
"Hai Kai, lama tak jumpa, baru dari luar kota, kah? Ayo,,, ke ruangan mana kita?" Sapa Mira si LC senior dan primadona di kalangan para pemandu karaoke di sana bergelayut manja di lengan Kaisar saat pria itu baru saja tiba di lobby klub.
Hampir saja Kai tergoda dengan bujuk rayu Mira yang biasa menemaninya menikmati malam di ruang karaoke, sampai tanpa sengaja matanya menangkap sosok biduanincarannya lewat tepat di hadapannya, gaun panjang hitam menerawangnya berhasil membuat dirinya terhipnotis, matanya terus mengikuti kemana arah langkah Laura yang sama sekali tak menghiraukan kehadirannya, langkah Laura terlihat angkuh seoalah pria-pria yang berada di lobby dan memperhatikan gerak langkahnya itu hanya sekumpulan makluk transparan yang sama sekali tak terlihat di matanya.
"Emh, sepertinya aku sedang tidak mood untuk bernyanyi malam ini," ujar Kai seraya mengurai pelukan Mira di tangannya, langkahnya lantas bergegas mengikuti jejak kaki Laura, membuat Mira mendengus kesal dan menghentakan kakinya karena merasa kalau lagi-lagi tamu langganannya harus berpaling karena si biduan angkuh itu.
Beberapa tamu loyalnya memang sudah tak lagi datang ke area karaoke, entahlah mereka kini lebih senang menghabiskan malamnya di bar memelototi Laura sang bintang pentas yang selalu menempatkan dirinya setinggi bintang sehingga tak satu pria pun dapat meraihnya.
"Awas saja Laura,,, aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Gumam Mira dengan tatapan tajam yang penuh bencinya.
Sementara beberapa saat yang lalu, Laila atau Laura yang bru saja bersiap untuk tampil terpaksa harus kembali ke parkiran, karena ponselnya tertinggal di motornya, beruntung ponselnya tak hilang, hanya saja, saat dirinya hendak masuk lagi dan baru sampai ke lobby, Laura mengernyit, melihat sosok pria yang spertinya samar-samar pernah dia temui sedang di gelendoti oleh Mira si primadona karaoke yang selalu saja mencari-cari masalah dengannya, namun tak pernah dia ladeni sekali pun.
__ADS_1
'Bukankah dia pria gila yang waktu itu bertemu di kafe?' gumam Laura dalam hatinya, dia berjalan melewati Kai dengan sok tak peduli, padahal dalam hatinya dia degdegan tak karuan jika sampai Kai mengenali dirinya, tak banyak pemilik tempat makan yang menolak jika karyawannya adalah pekerja di tempat hiburan malam, karena stigma di sebagian besar masyarakat wanita yang bekerja di tempat hiburan malam adalah wanita yang tidak benar dan sudah pasti bukan wanita baik-baik.
Namun saat dia mengintip dari ujung matanya, tampak jelas kalau Kai sedang melihat ke arahnya, bahkan pandangannya terlihat terus mengikuti kemana arah dirinya pergi, membuat Laura mempercepat langkahnya guna untuk menghindari Kai yang dirasa kini mengikutinya
Kai memang benar kini mengikutinya, tapi jika Laura berpikir kalau Kai mengikutinya karena Kai mengenali wajah Laura saat di kaffe milik sahabatnya, itu salah besar, karena perbedaan saat dia menjadi Laila di kaffe dan saat menjadi Laura di klub itu sangat jauh perbedaannya, 'The power of make up' dapat membuat aura bintang Laila di atas pentas bak diva terkenal tanah air.
Sementara Laila tanpa make up dia hanya teteh-teteh pekerja kaffe biasa yang betulan berwajah cantik saja.
Laura menoleh sekilas, lalu menundukan wajahnya, berusaha menyembuyikan parasnya yang tertutup make up tebal saat itu.
"Kenapa undangan ku untuk bertemu di kamar 2202 tidak kau penuhi?" Tanya Kai 'to the point'.
"Hah, udangan bertemu? Aku tak pernah mendapat undangan bertemu di kamar 2202, lagi pula kalaupun aku mendapatkan undangan itu, sudah jelas aku akan menolaknya," ketus Laura sambil terus saja berjalan tak menghiraukan Kai yang kini ikut berjalan terburu karena ingin berjalan bersisian dengan Laura.
__ADS_1
"Aku mengundang mu lewat mami Dewi, minggu kemarin."
"Mami Dewi tak mengatakan apapun pada ku tentang kamar 2202!" ucapnya jujur.
Laura memang mengatakan jujur apa adanya, mami Dewi memang tak pernah megatakan apapun tentang undangan bertemu dari pria yang kini mengajaknya bicara dengan sok akrab itu. Adapun mami Dewi memang tak mengatakan itu pada Laura karena dia sudah yakin jika Laura pasti tak akan mau menemuinya.
"Aku menunggu mu selepas kau selesai bernyanyi malam ini di tempat yang sama, kamar 2202, dan aku pastikan kau akan menyesal jika tak menemui ku kali ini, aku tak main-main dengan ancaman ku ini!" gertak Kai.
"Tunggu saja sampai kau beruban di sana, dan aku tak akan pernah datang ke sana!" ujar Laura menghilang di balik pintu bertuliskan 'Khusus karyawan, selain karyawan dilarang masuk'
"Aku akan menunggu mu, dan jangan pernah menganggap kalau aku hanya menggertak mu!" teriak Kai yang seperti tau kalau saat ini Laura sedang bersandar di balik pintu dengan dada yang bergegup kencang dan kaki yang tiba-tiba terasa lemas.
Sorot mata coklat muda milik Kai itu sungguh membuat Laura bergidik ngeri saat tak sengaja bertabrakan kala matanya mencuri pandang ke arah Kai tadi saat mengobrol.
__ADS_1