Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Pelet sang Biduan


__ADS_3

"Hmmm,,,,Laura," gumam Kai menyebutkan nama panggung Laila. dia seperti sedang terkena sihir seorang biduan, aura Laila yang bersinar di atas panggung itu membuat jiwa penasaran Kai meronta-ronta.


"Panggil mami kalian ke sini!" Titah Kai pada para wanita yang kini terlihat sedikit merasa kecewa karena belum sempat menikmati tubuh atletis Kai yang menawan malah sudah di suruh pergi, meski Kai memberi mereka beberapa lembar uang berwarna merah sebagai tips, namun bukankah jika berhasil tidur dengan pria pemegang kartu hitam itu mereka akan mendapatkan noninal lebih dari itu? sesal mereka yangbterpaksa pergi meninggalkan Kai meski berat hati.


Menemani tamu vvip pemegang kartu hitam adalah sebuah gengsi dan menjadi kebanggan tersendiri bagi para wanita yang mencari rupiah dan kesenangan dari tempat klub bergengsi itu.


Tidak sampai sepuluh menit menunggu, mami Dewi yang di tunggu Kai akhirnya datang menghampiri pria yang masih 'anteng' memperhatikan sang biduan yang masih melantunkan nyanyiannya dengan suara yang membuat nyaman para pengunjung.


"Apa bos mencari saya?" tanya wanita berusia pertengahan empat puluhan, atau beberapa tahun lebih muda dari ibunya itu menghampiri.


Jangan bayangkan penampilan mami Dewi seperti mami-mami yang menor dengan badan yang melebar, wanita yang sudah termasuk dalam kategori tak muda lagi itu masih terlihat segar dengan badan langsing dan dandanan elegan, penampilannya tak kalah dengan para pekerja wanita yang berada dalam asuhannya itu, bahkan kalau sekilas orang akan mengira kalau mami Dewi masih berusia sekitar dua puluh tahunan akhir.

__ADS_1


"Bisa buatkan janji temu dengan dia malam ini?" Jari telunjuk Kai mengarah pada wanita yang asik dengan mic ditangannya.


"Laura?" Mami Dewi mengakat sebelah alisnya.


"Hemm" angguk Kaisar.


"Tapi, sepertinya malam ini Laura tidak bisa, dia sudah ada janji lain." Mami Dewi beralasan.


"Kau tau siapa aku di sini, aku tamu prioritas, batalkan janjinya dengan orang lain dan suruh temui aku di tempat biasa, kamar 2202 setelah dia selesai bertugas." Ucap Kai seraya menyebutkan nomor kamar tempat biasa dirinya menginap di hotel Z yang masih satu kawasan dengan klub itu, ayahnya dulu mempunyai saham di hotel itu, dan sekarang sudah di alihkan pada dirinya sebagai anak satu-satunya dan pewaris tunggal semua kekayaan yang di tinggalkan sang ayah.


"Tidak ada tapi, tidak ada alasan, aku akan menunggunya, berarti sekitar----tiga atau empat jam lagi seharusnya dia sudah selesai bekerja, bukan? Pergilah, ingat aku menunggunya," putus Kai seakan tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan wanita di hadapannya itu.

__ADS_1


Kaisar menghabiskan minumannya sendirian sambil membayangkan malam ini akan di temani Laura si biduan cantik yang sejak tadi mencuri perhatiannya itu bergumul di atas ranjang hotel yang empuk, dadanya yang besar dan menyembul bahkan sudah seperti berada di depan wajahnya kini, karena efek minuman yang memabukan yang membuatnya sedikit berhalusinasi.


"Ah sial, gue mabok biduan ini!"Ucap Kai sambil mengusap kasar wajahnya sendiri karena matanya seperti tak mau berpaling melihat ke arah panggung.


Setelah dirasa klub hampir tutup sekitar kurang lebih satu jam lagi, dan minumannya juga sudah tak bersisa, Kai memutuskan untuk bergegas menuju hotel, di kamar 2202 tempat khusus dirinya menginap dia akan membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan sang biduan, dia tak ingin kesan pertama bertemu dengan wanita cantik itu dirinya dalam keadaan kacau karena minuman yang di tenggaknya.


Kai menatap dirinya di cermin saat baru saja selesai mandi untuk menghilangkan efek mabuknya, bibirnya terangkat dia sedang menertawakan dirinya sendiri, ini benar-benar sejarah baru, seorang kaisar Abdi Prawira se antusias itu bahkan sampai berdandan rapi dan wangi hanya untuk bertemu seorang wanita, dan wanita itu seorang penyanyi klub, ini tidak benar, dia sampai rela menunggu lebih dari satu jam lamanya untuk persiapan pertemuan perdana mereka.


"Gue pasti udah gila, atau kena pelet biduan ini, masa gue gini amat nunguin cewek," gumamnya sambil lagi-lagi dia melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ting nong,,,,,

__ADS_1


Suara bel pintu hotel membuat jantung Kaisar tiba-tiba berdetak kencang, padahal selama ini dia tak punya riwayat kelainan jantung.


Seorang wanita berdiri tegak di ambang pintu seraya melemparkan senyum termanisnya, saat Kaisar membukakan pintu kamar hotel untuknya.


__ADS_2