Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Menjebak dirinya sendiri


__ADS_3

Kali ini Laura bernyanyi tak lepas seperti biasanya, apalagi tepat di hadapannya Kai terus saja menatap tajam ke arah dirinya yang sedang bernyanyi, sungguh Laura tak ingin mempedulikannya, dan ingin mengabaikan keberadaannya itu, namun ternyata itu sangat sulit, posisi duduk Kai yang sengaja memilih tempat berhadap hadapan dengan dirinya, mau tak mau tatapan mereka berulang kali bersirobok dengan tatapan mata coklat Kai yang seakan sedang menerornya dari kursi penonton lewat pandangan yang terus menguncinya.


Sesekali bahkan Kai menyunggingkan senyum smirk dan sengaja mengangkat gelas minuman ke arahnya, membuat Laura merasa tak nyaman saat tampil, biasanya dia selalu bisa mengendalikan keadaan, bahkan tamu-tamu yang seperti Kai bisa dengan mudahnya dia abaikan, tapi tidak untuk Kai, dia sungguh merasa sangat terganggu malam ini.


"Ada apa dengan mu Lau?" tanya Mami Dewi selepas Laura menyelesaikan perform-nya untuk malam ini.


"Mi, apa beberapa hari yang lalu ada tamu yang meminta untuk bertemu dengan ku di kamar hotel 2202?" tanya Laura penasaran.


"2202? Ah iya, tuan Kai memang sempat memaksa ku untuk mempertumakan dengan mu di sana, tapi tenang saja, semua sudah aku atasi." jawab Mami Dewi dengan percaya diri.


"Tuan Kai?" Laura mengerutkan keningnya.


"Iya, Tuan Kaisar Abdi Prawira, apa kau mengenalnya?" Pertanyaan itu hanya di jawab gelengan kepala oleh Laura.


"Dia salah satu pemilik black card di sini, tamu prioritas, lumayan berpengaruh dan berbahaya, ada apa memangnya?" Sambung Mami Dewi penasaran, karena tak biasanya Laura bertanya dan penasaran dengan tamu yang mengajaknya bertemu, padahal biasanya setelah di bereskan oleh dirinya, Laura tak akan bertanya apapun tentang siapa dan bagaimana tamu itu, kecuali kalau tamu-tamu seperti Hendrik yang tak kapok mengirimkan hadiah mewah padanya meski berulang kali sudah di tolaknya, dia merasa perlu menemuinya untuk menegaskan agar pria itu tak kembali mengganggu dirinya dengan hadiah-hadiah yang tak akan membuat luluh dirinya sedikitpun.


"Ah tidak, aku hanya bertanya, tadi pria itu bertemu dengan ku di lobby dan menanyakan kenapa aku tak menghadiri undangannya untuk bertemu beberapa hari yang lalu, dan aku sempat sedikit kebingungan karena seingatku aku tak mendapat undangan apapun," kilahnya.

__ADS_1


"Karena aku tau kau pasti akan menolaknya seperti biasanya, makanya langsung aku atasi sendiri. Atau jangan-jangan kau tertarik padanya, dan menyesal telah menolaknya? Rasanya mustahil juga sih, kalau ada wanita yang menolak pesona Tuan Kai yang banyak di gilai para wanita, kau salah satu wanita beruntung, bisa di undang untuk bertemu dengannya." Urai Mami Dewi seraya tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan pesona Kaisar yang seperti punya magnet tersendiri bagi para wanita.


Namun sayangnya Laura hanya menanggapi ucapan panjang lebar Mami Dewi dengan hanya mengendikan kedua bahunya saja.


Berbanding terbalik dengan apa yang tengah di bayangkan Mami Dewi saat ini, yang di pikirkan Laura justru tentang keberlangsungan pekerjaannya di kafe, sungguh dia tak mau sampai dia di keluarkan dari kafe gara-gara Arga si pemilik kafe yang sebetulnya dia taksir itu mengetahui tentang siapa dirinya sebenarnya, dan apa pekerjaannya selain menjadi pegawai di dapur kafe miliknya.


Laura memang menyimpan rasa suka pada bosnya di kafe itu, baginya Arga lain dari pada yang lain, meskipun tak se-tajir para tamu yang sering menggodanya dan menawarinya dengan berbagai kemewahan, namun Arga mempunyai tempat tersendiri di hati Laura, sosok Arga yang di nilainya sangat mandiri dan giat dalam bekerja menjadi nilai plus tersendiri bagi Laura sehingga diam-diam dia menyimpan perasaan itu untuk Arga.


"Ah, sepertinya aku benar-benar harus menemui pria bernama tuan Kai itu, sebelum dia membongkar tentang siapa diri ku pada Mas Arga, aku tak mau Mas Arga salah menilai tentang diri ku yang bekerja di klub malam seperti ini, aku harus memastikan apa yang di inginkan pria bermata coklat itu agar dia tak membocorkan rahasia ku." Batin Laura, sungguh dia tak dapat membayangkan bagaimana nanti Arga yang di kenalnya sangat alim itu jika tau tentang sisi lain yang sengaja di sembunyikannya itu.


Laura masih saja keukeuh berpikiran kalau keinginan Kai bertemu dengannya dan ancaman yang di layangkan Kai itu terkait tentang pekerjaannya di kafe dan klub, jadi dia harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan Kai sesegera mungkin.


Langkah Laura yang kini sudah kembali menjadi Laila dengan celana jins dan kaos oblong sederhana tanpa make up itu berjalan melalui lorong hotel, matanya terus mencari dan memerika setiap angka yang tertempel di pintu kamar-kamar hotel yang kesemuanya tertutup rapat itu.


Pikirnya tak perlu lagi menyembunyikan identitasnya, sebagai Laila, toh Kaisar juga sudah tau tentang siapa dirinya jika tak sedang berperan sebagai penyanyi klub.


"2200, 2201,,, ah, ini dia 2202!" gumamnya berbicara sendiri.

__ADS_1


Tangan Laura terulur memencet bel yang tepat berada di sebelah kanan pintu dengan angka 2202 tertempel di sana.


Hampir saja Laura menyerah dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu setelah sekitar lima menit berlalu pintu tak juga di buka dari dalam.


Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba pintu itu terbuka, lagi-lagi matanya bertubrukan dengan manik coklat muda yang tatapannya kini terasa aneh dan sulit untuk di artikan oleh Laura.


Laura langsung masuk ke dalam kamar hotel yang terbuka lebar meski tanpa di persilakan Kai yang setia dengan pandangannya yang sulit untuk di artikan itu.


"Aku sudah ada di sini, sekarang katakan apa maumu Tuan Kaisar Abdi Prawira? Apa yang harus aku lakuakn agar anda tak membocorkan tentang pekerjaan malam ku pada pemilik kafe, jujur saja aku sangat memerlukan pekerjaan sebagai pegawai dapur di kafe itu untuk tambahan pemasukan ku, apa anda masih berpikiran untuk membocorkannya pada bos tempat ku bekerja di kafe bahwa aku pekerja klub kalau malam hari? Aku hanya orang kecil yang ingin mencari rezeki untuk menghidupi keluarga ku, tolong pakailah hati nurani mu!"


Tanpa basa basi Laura langsung saja memberondong Kai dengan ucapan-ucapan yang berhasil membuat Kai mengernyit, berpikir dan lalu tersenyum.


Beberapa menit yang lalu saat bel kamar hotelnya berbunyi, dia sempat mengintip dari lubang intip pintu hotel untuk memastikan jika yang datang benar-benar Laura, dia tak ingin membukakan pintu kamarnya lagi jika yang datang ternyata Mami Dewi.


Namun betapa kagetnya Kai, karena ternyata yang berdiri di depan pintu kamarnya kini adalah wanita yang rasa-rasanya pernah dia lihat namun entah dimana, dan sungguh wajah itu tak asing baginya, namun dia tetap tak bisa mengingat siapa sosok perempuan itu, terlebih memikirkan bagaimana dia bisa berdiri di depan pintu kamarnya dan apa keperluannya sungguh membuat otaknya sama sekali blank.


Hingga akhirnya, beberpa menit kemudian sat wanita itu terlihat akan meninggalkan depan pintu kamarnya, tiba-tiba Kai memutuskan untuk membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Wanita asing yang sama sekali tak dapat dia kenali baik sebagai Laura maupun sebagai Laila si pegawai kafe itu pun menerobos masuk ke dalam kamar dan berbicara panjang lebar sehingga membuatnya hanya bisa terdiam karena tak di beri kesempatan untuk bicara atau bertanya, awalnya dia tak mengerti tentang arah pembicaraannya yang di maksud wanita di hadapannya, sampai Laura menyebut tentang pegawai dapur di kafe, dia baru teringat tentang wanita berdada penuh di kafe Arga yang membantu dirinya kabur dari Monik, bahkan kini Kai juga sudah bisa menarik kesimpulan dan tersenyum geli saat menyadari jika wanita di hadapannya itu adalah si wanita berdada besar pegawai kafe sahabatnya yang kalau malam hari menjadi penyanyi klub yang kini sedang dia nantikan kehadirannya itu.


"Hahaha,,, kau menjerat leher mu sendiri Laura!" tawa Kaisar dalam hatinya karena kini dia punya banyak alasan untuk menjerat dan menjabak Laura agar tunduk dan patuh pada keinginannya.


__ADS_2