
Keriuhan tiba-tiba terjadi di area bar, semua mata dan perhatian tertuju ke arah panggung tempat biasa Laura bernyayi, bukan,,, perhatian mereka bukan sedang mengagumi suara dan penampilan Laura di atas panggung seperti biasanya, namun karena tiba-tiba saja standing mic yang biasa Laura pakai saat bernyanyi dan memang proferti panggung itu tiba-tiba saja teraliri aliran listrik yang membuat Laura langsung kejang dan lunglai di lantai saat baru saja dia memegang gagang besi penyangga micnya itu, baru sekitar tiga lagu yang Laura nyanyikan saat itu, dan pertunjukan harus terhenti.
Kaisar yang saat itu sedang tak begitu memperhatikan cctv di ruangan kerjanya di klub Z langsung loncat dari tempat duduknya seketika saat melihat sosok Laura di gotong turun dari panggung oleh Pras sang manajer klub.
Sungguh kali ini Kaisar merasa kecolongan, rasa-rasanya hanya beberapa menit saja dia berpaling dari layar yang menunjukan gambar setiap ruangan di klub, namun biduannya sudah mendapat kecelakaan seperti itu.
"Berikan pada ku!" Kaisar merebut tubuh Laura dari pangkuan Pras, selain hatinya yang cemas dengan keadaan Laura, kini hatinya juga panas dan marah akibat Pras dengan lancangnya mendekap tubuh Laura.
"Maaf, tapi ini masalah karyawan, anda hanya tamu tak di perkenankan ikut campur dalam masalah ini," Pras berlari mengejar Kaisar berusaha merebut kembali tubuh mungil Laura yang langsung di bawa pergi menuju parkiran, hendak di bawanya ke rumah sakit.
"Sebaiknya kau diam, dan bawa mobil ku ke depan loby, dia harus segera di bawa ke rumah sakit, kunci mobil ku di saku jaket depan ku!" ujar Kai seraya memiringkan tubuhnya menunjukkan saku jaket tempat dimana kunci mobilnya berada.
Dengan patuh Pras mengikuti arahan Kai,bahkan kali ini dia berperan bak sopir yang mengantar tuan dan nyonya mereka karena Kai duduk di kursi belakang sambil terus mendekap Laura sementara Pras hanya bisa menyetir sambil sesekali melihat apa yang dilakukan Kai pada Laura dari kaca spion atas.
Pras memang menyukai Laura, dia bahkan pernah secara terang-terangan mengutarakan perasaannya pada biduan cantik itu, namun Laura menolak pria yang telah beristri itu dengan tegas, Laura mengatakan kalau dirinya hanya ingin mencari nafkah di klub bukan untuk mencari masalah, apalagi Novi istri Pras adalah keponakan pak Wirya pemilik Klub, rasanya jika Laura meladeni perasaan Pras sama saja dirinya bunuh diri.
Meskipun Pras masih sering memberi perhatian lebih dan rumor di antara para karyawan juga sangat santer kalau Laura adalah simpanan Pras, namun sang biduan biasanya hanya menganggapnya angin lalu, baginya selama dirinya tak menanggapi Pras atau para hidung belang lainya di klub, dia yakin tak akan terjadi sesuatu, karena perselingkuhan itu bukan tentang si pria saja yang mata keranjang dan jelalatan, namun tentang wanitanya yang juga meladeni si hidung belang itu, kalau wanitanya tak membukakan pintu, maka perselingkuhan itu tak akan terjadi.
Lagi pula pantang bagi Laura menjalin asmara denganpria beristri, takut karma, katanya.
"Anda boleh pergi tuan, biar Laura saya yang menjaga." Ujar Pras penuh percaya diri, rasanya dia sangat tidak suka dengan Kaisar yang tiba-tiba ikut campur dan sok peduli dengan keadaan Laura, lagi pula bukankah Kaisar hanya orang luar, pikirnya.
__ADS_1
Saat ini Laura juga sedang di tangani dokter, jadi menurutnya kehadiran Kaisar yang hanya sebatas pengunjung itu terlalu jauh mencampuri urusan intern klub.
"Kau yang harus pergi dan lanjutkan pekerjaan mu, pastikan keadaan di klub terkendali, jangan lupa periksa kembali semua peralatan yang tadi di pakai Laura, cari tau penyebab terjadinya masalah ini." Tegas Kaisar.
"Itu masalah manajemen kami, untuk apa anda ikut campur?" Pras mulai ngotot karenamerasa Kai mulai mengatur dan memerintahnya seenaknya, tentu saja Kai berhak melakukan semua itu, karena tanpa sepengetahuannya, dirinya adalah pimpinan di sana.
"Pergi atau aku hubungi pak Wirya sekarang juga!" ancam Kaisar.
Tentu saja Kaisar sudah memperlajari sifat dan karakter orang-orang di manajemen klub Z sebelumnya, dan untuk Prasetyo, pria yang menjabat sebagai manajer klub dan menaruh hati pada Laura, Kaisar mencari tau lebih detail, ternyata Pras yang merupakan suami dari keponakan pak Wirya itu sangat takut dan patuh pada paman dari istrinya sekaligus pemilik klub tempatnya bekerja itu, dia selalu ingin terlihat sempurna dan hebat dalam segala hal di mata Wirya, katakan lah Pras seorang penjilat ulung.
Sepeninggal Pras dari sana, dokter yang memeriksa Laura keluar dari IGD, mengatakan kalau keadaan Laura sudah stabil meski belum sadar, namun sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.
Mata Kaisar tak lepas memandangi wajah Laura yang terlihat pucat, menurut dokter tak ada yang serius terjadi pada diri wanita itu, hanya saja tadi irama jantungnya sempat tak stabil akibat sengatan listrik beberapa detik itu.
"Kamu sudah sadar, mana yang sakit, aku akan panggil dokter dulu," Kai bangkit dari tempat duduknya.
Namun langkahnya terhenti karena tangannya di cekal oleh Laura, memintanya untuk tetap berada di dekatnya.
"Jangan pergi kemana-mana, aku takut." Ucapnya Lirih.
"Ada apa? Ada hal yang aku tak tau?"
__ADS_1
"Sebelum kejadian itu ada seorang pria memberikan kertas pada ku, biasanya mereka memberi tips atau tidak request lagu yang ingin di nyanyikan, tapi tulisan di dalamnya mengatakan saatnya kau mati, karena aku panik aku pegangan pada standing mic, namun ternyata-----" Laura tak sanggup lagi menceritakan apa yang di alaminya semalam, itu terlalu singkat dan mengerikan.
"Aku takut,,, aku takut Kai," ucapnya dalam isak tangis.
Kaisar memeluk erat tubuh Laura yang terus terisak ketakutan, ini bukan sekedar ancaman lagi, tapi upaya pembunuhan, tak terbayangkan oleh Kaisar jika sampai karena kejadian itu terjadi hal yang sangat serius pada diri Laura, sepertinya dirinya tak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Uluuuh,,,,, uluuuh,,,, pasiennya ternyata malah lagi peluk-pelukan mesra, padahal kita semua menghawatirkan keadaan sang bintang pentas klub kita," suara Mira membuat Laura sontak saja mengurai pelukannya di tubuh Kai, apalagi melihat mata Mira yang sangat tidaak suka menyaksikan adegan romantis itu.
Mira datang bersama mami Dewi dan beberapa karyawan lainnya, agak aneh juga Mira yang di kenal sangat tidak dekat dan sangat tidak suka dengan Laura bersikeras untuk ikut menjenguk ke rumah sakit, sepertinya dia ingin memastikan keadaan Laura dengan mata kepalanya sendiri.
"Ah iya Mir, aku ingin bicara," kata Kaisar melirih sekilas ke arah Mira yang langsung tersenyum saat Kai berbicara padanya.
"Oke, di sini atau---" ujar Mira genit.
"Di sini!" Kai menunjuk sofa yang tak jauh dari ranjang tempat berbaring Laura, pria itu tak ingin meninggalkan Laura barang semenit pun.
"Apa kejadian yang menimpa mu saat itu si pelaku benar-benar menyebut nama ku?" tanya Kai langsung pada pointnya.
"Iya, wanita itu mengatakan untuk menjauh dari mu, aku rasa kejadian Laura kali ini juga ulah calon istri mu, kai. Dia sangat mengerikan." Mira bergidik teringat akan malam dimana dirinya di sekap di dalam gudang.
"Dari mana kau tau kalau itu calon istri ku?"
__ADS_1
"A-aku hanya menebaknya, bukannya saat itu, saat di tempat spa kamu mengatakan sedang menunggu calon istri mu, jadi aku hanya menebaknya."
Mendengar ucapan Mira Laura menoleh ke arah wajah Kaisar yang sepertinya salah tingkah, entah mengapa rasanya hatinya panas saat Mira mengatakan kalau dirinya bertemu dengan Kai di tempat spa saat menunggui calon istrinya, padahal pria itu sering mengatakan padanya kalau dirinya tak menyukai wanita yang di jodohkan dengannya itu dan menginginkan Laura untuk membantunya menggagalkan perjodohan itu, apa selama ini dirinya sedang di permainkan Kaisar?