
"Aku ingin pulang dan memastikan keadaan ibu dan adik ku baik-baik saja di kampung," kata Laura sambil terisak, dia sungguh akan sangat merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada ibu dan adiknya di sana.
"Akan sangat berbahaya jika kamu bepergian sendiri di saat-saat seperti ini, aku akan menemani mu pulang." Putus Kaisar, selain dirinya yang memang merada khawatir dengan keselamatan Laura, dia juga tak mau jika Laura sampai pergi meninggalkannya dengan alasan pulang kampung, setidaknya jika dirinya ikut pulang ke kampung halaman Laura, gadis itu tak akan pulang terlalu lama, dam Laura tak akan pergi jauh darinya, karena dia bisa terus memantau keberadaannya.
"Hah, ikut aku pulang? Mana bisa seperti itu, apa yang ibu dan orang desa katakan nanti, jika aku pulang bersama seorang pria, akan banyak pertanyaan dari mereka untuk kita nantinya, itu akan sangat merepotkan!" tolak Laura yang tak ingin ibu ataupun warga salah paham jika sampai melihat dirinya pulang membawa seorang pria.
"Kita hanya tinggal menjawab pertanyaan mereka lah, gitu aja repot! Atau kalau tidak, gak usah di jawab sama sekali, cuekin aja, beres kan." Jawab Kaisar dengan entengnya.
"Mana bisa seperti itu!" gumam Laura kesal karena Kaisar seolah menganggap enteng semua persoalan.
"Bisa! Serahkan saja semuanya pada ku." Ujar Kaisar penuh percaya diri.
Namun sayangnya, belum saja mereka memulai perjalanan pulang kampung, ponsel Laura kembali berdering, kali ini dari security klub. Laura sempat terdiam beberapa saat dan menimbang-nimbang apakah dia akan menerima panggilan telepon itu atau tidak, jarang sekali keamanan klub menelponnya.
"Halo!" Melihat Laura yang kebingungan Kaisar justru merampas ponselnya dan menerima panggilan itu, dia berjaga-jaga jika yang menghubungi Laura adalah si peneror.
"Apa ibu mu bernama bu Wati?" Kaisar menoleh ke arah Laura yang tiba-tiba tersentak dan mengangguk, dari mana Kaisar tahu nama ibunya.
"Ba-bagaimana kamu tahu nama ibu ku?"
__ADS_1
"Tak usah banyak tanya dulu, lebih baik ikut aku sekarang juga!" Kaisar mengapit tangan Laura dan mengajaknya untuk ikut pergi bersama dirinya.
"Kita ke klub?" Tanya Laura lagi saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan lobi klub Z.
"Laila!" Seorang wanita setengah baya dengan seorang anak kecil berhambur mendatangi Laura yang baru saja melangkahkan kaki memasuki loby klub.
"Ibu?" Laura terbelelek kaget saat ibu dan adiknya berada di hadapannya kini.
Sungguh rasanya seperti mimpi, tapi tunggu dulu, bagaimana bisa ibu dan adiknya itu sampai ke ibukota dan tahu dimana alamat tempat dirinya bekerja? Bukankah selama ini dia tak pernah memberi tahu ibunya tentang pekerjaannya di klub, dia hanya mengatakan kalau dia bekerja di sebuah perusahaan musik.
"Ba-bagaimana ibu bisa sampai ke sini?" gagap Laura.
"Wanita siapa, bu?" Lirih Laura, perasaannya kini campur aduk, antara kesal, marah, malu sekaligus bahagia karena bisa bertemu dengan ibunya.
"Kenapa La, kenapa kamu bekerja seperti itu?"
"Bu, tolong ikut saya dulu, mari kita bicara di tempat lain, banyak orang menonton kita di sini." Kaisar menyela obrolan ibu dan anak yang kini berlangsung di loby dan di tonton oleh setiap orang yang berlalun lalang di sana.
"Siapa dia?" Wati bertanya pada putrinya yang mulai berlinangan air mata dan tak mampu mengangkat wajahnya di hadapan sang ibu.
__ADS_1
"Perkenalkan, saya Kaisar, saya kekasih Lau--Laila, maaf jika saya belum memperkenalkan diri secara resmi sebelumnya, mari ikut saya."
Wati tak terlihat begitu antusias dengan apa yang di ucapkan Kaisar tentang pengakuan dirinya yang memperkenalkan diri sebagai kekasih putrinya, gosip tentang putri kesayangan dan kebanggaannya yang menjadi wanita penghibur di ibu kota sudah menyebar se-kampung, bahkan beritanya sudah sampai ke kampung sebelah.
Kaisar membawa mereka semua ke hotel Z miliknya, akan sangat riskan jika dia membawa mereka ke apartemennya dan bu Wati mengetahui jika putrinya tinggal satu atap dengan pria yang belum sah sebagai pasangannya, itu akan semakin memperkuat tuduhan Laura sebagai wanita 'nakal'.
"Kalian ngobrol-lah dulu berdua, biar adik mu aku ajak jalan-jalan." Kaisar sengaja membiarkan Laura dan ibunya mengobrol dari hati ke hati, sementara Kaisar akan membawa adik laki-laki Laura untuk jalan-jalan.
"Siapa nama mu, dek?" Tanya Kaisar membuka pembicaraan dengan bocah laki-laki berumur sekitar sebelas tahunan itu.
"Firman, kak." Jawab bocah yang terkesan pendiam dan pemalu itu.
Kaisar yang selama puluhan tahun menjadi anak tunggal itu terlihat kebingungan saat harus menyikapi seorang anak kecil, dia tak punya pengalaman sebagai kakak, ataupun sebagai ayah, sehingga sepanjang perjalanan mereka berkeliling ibu kota lebih banyak saling terdiam.
Sampai ponsel Kaisar berdering, dan dia berbincang di telepon sebentar.
"Kamu ikut kakak ke rumah sebentar ya!" ajak Kaisar, rupanya ibunya menghubunginya dan menyuruhnya untuk pulang, Kaisar lupa kalau sejak seminggu yang lalu ibunya mengabari kalau dia sudah kembali ke tanah air, namun Karena kesibukan Kaisar, dia belum sempat menemui ibunya.
Firman mengekor Kaisar saat di ajak masuk ke rumah orangtuanya, mata bocah itu terus memindai sisi kanan dan kiri objek-objek yang di laluinya, dia baru pernah memasuki rumah mewah seperti itu, sampai dia bertemu dengan Dara, ibunya Kaisar Firman terlihat kaget,
__ADS_1
"Lho, kok tante ada di sini? Tante juga terlihat sedikit lebih tua dari beberapa hari yang lalu saat datang ke kampung?" Ujar Firman polos, namun tak ayal ucapan polos Firman membuat Kaisar kaget, setengah mati.