
"Hahaha,,, kau menjerat leher mu sendiri Laura!" tawa Kaisar dalam hatinya karena kini dia punya banyak alasan untuk menjerat dan menjebak Laura agar tunduk dan patuh pada keinginannya
Kai manggut-manggut dan menyembunyikan tawa kepuasannya, apalagi setelah tau kalau Laura bekerja di kafe milik sahabatnya, tentu saja itu akan lebih mudah lagi baginya untuk membuat Laura berada dalam genggamannya.
"Katakan apa yang kau inginkan dari ku? Agar kau tak membocorkan tentang ini semua pada bos ku di kafe?" tanya Laura lagi.
"Apa bos mu di kafe itu galak sekali, sampai-sampai sepertinya kau sangat takut padanya?" pancing Kai lagi, dia tertawa geli dalam hatinya, mana ada ceritanya Arga galak, dia itu pria ter sabar, ter-alim, ter-lurus dan ter-baik hati yang pernah Kai kenal.
"Tentu saja tidak, dia baik, santun, tak angkuh dan sombong seperti anda, karena itu aku tak mau jika dia berprasangka jelek pada ku karena pekerjaan lain ku dan memecat ku gara-gara itu."
Mendengar Laura memuji pria lain yang bahkan pria itu merupakan sahabatnya sendiri itu tetap saja membuat hati Kai merasa kesal.
"Baik, aku tak akan mengatakan itu pada A- mhhh bos mu, tapi dengan satu syarat!" Hampir saja Kai keceplosan akan menyebut nama Arga barusan.
"Apa itu?" tantang Laura.
"Jadi kekasih pura-pura ku selama sebulan ke depan!" Ujar Kai dengan santainya, membuat mata Laura membeliak tak percaya.
"Apa maksud mu, Tuan Kaisar Abdi Prawira?" Geram Laura kesal.
__ADS_1
"Hahaha,,, rupanya sebelum ke sini kau mencari tahu tentang diri ku terlebih dahulu, sampai-sampai kau hafal nama lengkap ku, oh iya aku lupa, aku kan memang terkenal, tak susah untuk sekedar mencari tahu nama lengkap ku saja," ucap Kaisar dengan sombongnya, membuat Laura yang memang dasarnya sudah tak suka sedari awal dengan Kaisar pun semakin muak melihat tingkahnya yang angkuh itu.
Andai saja Laura tak menyimpan rasa pada Arga, dia pasti tak akan keberatan sama sekali dan tak akan ambil pusing jikapun Kai harus membocorkan tentang pekerjaan malamnya dan meski dia harus kehilangan pekerjaan siangnya itu.
"Oke, maksud ku ayo kita sama-sama saling membantu, aku membantu mu tak membuka siapa diri mu pada bos kafe mu itu, dan kau membantuku menjadi kekasih pura-pura ku, ayolah,,,hanya sebulan saja!" Bujuk Kai.
"Kenapa membantu mu harus dengan cara berpura-pura menjadi kekasih mu?"
"Aku di jodohkan, tapi aku tak suka dengan wanita itu, buat dia menjauh dari ku dan mundur dari perjodohan ini." Wajah Kai terlihat serius saat menjawab dan menceritakan alasan mengapa dia meminta Laura menjadi kekasih pura-puranya.
Meskipun memang itu alasan yang sesungguhnya dan bukan tipuan karena dia sudah mulai jengah dengan Monik yang selalu saja menempel seperti lintah pada dirinya, namun percayalah kalau itu bukan satu satunya alasan Kai meminta Laura untuk menjadi kekasih pura-puranya, masih banyak alasan lainnya yang di inginkan Kai dari Laura, salah satunya tentu saja mendapatkan hati sang bintang pentas itu.
Terkadang Kai juga melihat sikap Laura seperti sedang bercermin, angkuhnya, ketus, arogant dan dinginnya sungguh cerminan dirinya dalam kemasan wanita.
Kini Kai bisa mengerti seberapa kesal dan sebalnya orang-orang saat mengobrol dengan dirinya, karena kini dia pun merasakan seperti yang orang-orang rasakan saat dirinya mengobrol dengan Laura.
Terkadang Kai sampai tak habis pikir, bagaimana bisa Laura bisa seketus dan se dingin itu saat berbicara dengannya, sementara selama ini semua wanita yangbertemu dengannya hampir di pastikan selalu memuja ketampanan dan kekayaan dirinya, mereka selalu berbicara penuh kesopanan, bahkan tak jarang mereka juga berlomba-lomba untuk berakting se-anggun mungkin dan lemah lembut untuk mendapatkan hati nya, dan jika itu tidak berhasil juga biasanya jurus terakhir dari para wanita itu adalah merayu dan menggodanya dengan berbagai cara agar Kai bisa sekedar melirik pada mereka, namun Laura justru bersikap sebaliknya, Kai merasa seperti mahluk gaib di hadapan Laura, ketampanan dan kekayaan yang di milikinya sama sekali tak berarti di mata biduan cantik yang kini tampil polos tanpa make up itu, namun sialnya justru di mata Kaisar tampilan sederhana Laura malah lebih membuat Kai semakin tertarik dan terobsesi untuk mendapatkan Laura si biduan klub itu.
"Bagaimana, deal or no deal?" tanya Kai seekali lagi, meminta kepastian dari Laura yang sejak tadi seperti menimbang-nimbang sesuau.
__ADS_1
Padahal Kai berani taruhan jika hal itu dia minta pada wanita lain, sudah pasti wanita itu akan langsung setujutanpa harus mempertimbangkan apapun, jangankan hanya untuk sebulan saja, menjadi kekasih pura-pura seumur hidupnya pun mereka pasti akan sangat setuju dan tak akan ada protes atau pertimbangan apapun.
"Satu bulan?" Tanya Laura yang lantas di angguki Kaisar.
"Hanya pura-pura dan misi ku hanya membuat wanita yang di jodohkan dengan mu mundur saja, kan?" Laura memastikan lagi jobdesknya sebagai kekasih pura-pura Kai, dia tak mau terjebak dalam permainan pria yang tentu saja tak dia percayai sama sekali itu.
"Hmmm iya,,, dan aku akan merahasiakan pekerjaan malam mu pada bos kafe mu yang alim, baik hati dan pekerja keras itu!" ketus Kai menirukan kata kata pujian yang di lontarkan Laura untuk Arga.
"Satu lagi, dia juga ganteng!" Sambar Laura dengan lugasnya.
"Cih, ganteng? Jelas ganteng aku kemana mana lah!" decih Kai tak terima, padahal Laura tidak sedang membandingkan dirinya dengan Arga, dia hanya sedang memuji Araga, bos yang dia taksir.
"Emangnya Anda tau wajah dia? Pede sekali!" Laura memutar bola matanya kesal.
Tentu saja Kai sangat mengenal bos kafe itu, secara mereka bersama sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai kuliah masih satu universitas dan fakultas yang sama, mereka juga sama-sama dari keluarga berada dengan orang tua yang pengusaha sukses meski tak sesukses keluarga Kai, yang membedakan di antara mereka hanya Arga rajin dan Kai malas, Arga alim dan Kai berengsek, itu saja, selebihnya bisa di katakan imbang, karena kalau berbicara masalah ketampanan tentu saja itu bersifat relatif tidak bisa di samakan antara penilaian si A dan si B.
"Jadi keputusannya?" Todong Kai lagi tak ingin memperpanjang obrolan tentang Arga, dia hanya ingiin kepastian tentang keputusan yang Laura ambil.
"Ya aku setuju, deal! Mulai besok." Jawab Laura pada akhirnya, sengaja dia memilih hari esok untuk memulai kesepakatan mereka, selain besok adalah awal bulan, sehingga memudahkan dirinya untuk menghitung lama kebersamaan mereka sesuai kesepakatan,Laura juga tak mau jika harus menunda-nunda perjanjian mereka, bukankah lebih cepat di lakukan maka akan lebih cepat juga selesai? Pikirnya, simple.
__ADS_1