Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Niat Baik


__ADS_3

"Ga, asisten koki di kafe lu itu, siapa namanya,,, boleh juga, ya!" Pancing Kai saat siang itu dia datang ke kafenya.


"Wah, pantesan lu rajin banget datang ke sini tiap hari, ternyata ada udang di balik dapur, dia cewek baik-baik Kai, jangan di main-mainin lah, kasian!" Ujar Arga yang sebenarnya agak syok dengan selera sahabatnya yang tiba-tiba berubah itu, Arga sangat tau betul wanita seperti apa yang biasanya menarik perhatian Kaisar.


"Kasian? Emang mau gue apain? Kata-kata lu itu seolah-olah gue cowok bajingan yang tukang mainin cewek," Kesal Kaisar.


"Ya emang kenyataannya gitu, kan?" ledek Arga.


"Ah sialan lu, tapi ada yang mau gue omongin nih, gue sama asisten koki lu sebenarnya udah jadian," kata Kaisar.


"Wah parah lu, gercep juga ya! Tapi asli mending lu cari cewek lain lah, jangan dia, kasian dia Kai, masih polos, cewek kampung jangan lu bego-begoin."


Wajah Arga berubah khawatir mengingat track record sahabatnya yang sering gonta ganti wanita dan hanya di jadikan mainannya saja, apalagi menurutnya Laila hanya gadis kampung yang masih polos yang gampang Kai tipu, Arga akan sangat merasa bersalah jika sampai Laila di 'rusak' Kaisar.


Andai saja Arga tau kalau Laila tak sepolos yang dia pikir, sungguh Laila sangat sukses memerankan sosok gadis desa lugu nan polos hingga membuat Arga percaya dan berpikiran kalau Laila benar-benar gadis yang terlalu lugu untuk menjadi pasangan Kaisar.


"Lagi ngomongin apa sih, seru amat kayaknya,"


Suara Monik yang tiba-tiba menyela obrolan mereka berdua membuat kedua pria itu merapatkan bibir mereka dan tak lagi melanjutkan obrolan, entah kapan dan dari mana datangnya Monik, siang itu. Padahal tadi Kaisar sudah berusaha sembunyi-sembunyi keluar dari kantor saat Monik masih berada di ruang rapat, namun ternyata dia malah menyusulnya ke kafe.


"Kok ninggalin sih,!" protes Monik melirik ke arah Kaisar.

__ADS_1


"Emang ada peraturan yang mengharuskan bos ngajak sekretarisnya istirahat siang bareng?" ketus Kai.


"Ya enggak sih, cuma biasanya kan bareng." Kelit Monik.


"Si Kai lagi gak biasa, lagi error otaknya." Arga yang justru malah menimpali perkataan Monik, dia merasa agak iba pada Monik yang terus mengejar-ngejar sahabatnya itu meski Kai terus mengabaikannya.


"Gue pergi, males banget kemana-mana di buntutin!" Kai berdiri dari kursi tempatnya duduk dan bergegas pergi dengan wajah yang kecut, gagal sudah niat dia menemui Laila karena ternyata Monik malah mengikutinya ke sana.


Jam 6 pagi pintu kamar kontrakan Laila sudah di ketuk-ketuk dari luar, wanita yang masih terlelap dalam mimpinya itu terpaksa harus bangun dan memeriksa siapa manusia yang sudah berani-beraninya mengusik waktu tidurnya yang berharga itu, padahal jam setengah empat subuh dirinya baru terlelap karena semalam pulang dari klub Kaisar memintanya untuk menemani pria itu makan di salah satu restoran cepat saji yang bka 24 jam, meski pun lelah dan terkantuk-kantuk, Laila menemaninya samai selesai, entahlah, rasanya dia tak bisa menolak jika permintaan itu datang dari seorang kaisar.


"Kamu lagi?" Mata Laila yang tadinya terasa berat da ngantuk itu tiba-tiba terbelalak dan mendadak segar bgar saat mengetahui sosok Kaisar si 'penjajah' dalam hidupnya itu berdiri di ambang pintu menghdap ke arahnya.


Mata Kaisar mengedar ke semua penjuru ruangan, hanya ada kasur ukuran sedang di gelar di lantai beralaskan karpet, lantas satu lemari dua pintu model jadul, dan sebuah meja pendek di pojok ruangan dengan piring dan gelas kotor bekas makan yang belum di bereskan, sementara di ujung ruang kamar berkuran 6x6 meter itu terdapat ruangan lain yang di tutup tirai anti air, kalau tebakan Kai benar, sepertinya itu kamar mandi, karena penasaran, Kai berjalan menuj ruangan yang hanya tertutp tirai agak transparan itu, benar saja kamar mandi berukuran 1,5x1,5 meter itu meski sempit tapi terlihat bersih dan rapi, hanya ada toilet duduk dan shower.


"Hey, kau sungguh tidak sopan masuk-masuk ke kamar orang tanpa permisi!" Kesal Laila karena merasa kini Kai sedang mengobok-obok ranah pribadinya.


"Kau bukan orang lain, kau pacar ku, wajar lah main ke tempat pacarnya, normal saja, kok!" ujar Kai cuek.


"Wajar? Mana ada orang normal bertamu pagi-pagi buta begini?" gerutu Laila dengan kesalnya.


"Aku tak bisa tidur!" Kai menjatuhkan tubuhnya di kasur tempat Laila biasa beristirhat, tangannya meraih remote tv dan menyaalakan televisi 32 inci yang tertempel di dinding dan menghadap ke arah dirinya kini berbaring dengan santainya seperti di rumah sendiri.

__ADS_1


"Tidak bisa tidur, lantas kenapa ke sini?"


"Aku mau numpang tidur!" jawab Kai memposisikan bantal di kepalanya agaar terasa nyaman saat di buat sandaran.


"Tuan Kaisar yang terhormat, uang anda sngat banyak,anda bisa menginapdi hotel mana pun yang anda mau, kenapa harus mengganggu ku dan tidur di kasur ku? Lagi pula jam setengah tujuhaku harus ke kafe, tolong biarkan aku beristirahat dengan tenang!" sekuat tenaga Laila menahan amarahya meliahat kelakuan menjengkelkan Kaisar, tak ada satu orang pun yang pernah datang ke kamarnya kecuali Kaisar yang selalu merasa irinya paling berhak atas diri Laila karena bertameng sebagai kekasih dari sang biduan cantik itu.


"Aku sudah meminta izin cuti pada Arga untuk satu minggu ke depan, dan Arga sudah memberikan izin nya."


"Satu minggu,,,? Kamu keterlaluan, kamu gak bisa seenaknya mengatur hidup ku, aku bukan budak belian mu!" Sentak Laila merasa sangat marah karena Kai memperlakukan dirinya sesuka hatinya, bagaimana bisa Arga memberi izin cuti selama itu begitu saja, selain itu kesempatan untuk bertemu dengan bos pujaannya akan hilang selama satu minggu ini gara-gara Kaisar, benar-benar hal ini membuat Laila merasa sangat kesal dan marah di buatnya.


"Tak usah banyak protes, waktu kita bersama sudah berjan sat minggu lebih, dan belum ada pergerakan nyata apapun dari mu untuk melepaskan Monik dari ku, dia semakin menempel pada ku, aku sudah mulai jengah dengan sikapnya." Keluh Kaisar menagih janji pada Laila.


"A-aku hanya belum sempat dan belum ada waktu saja, kau tau kan kalau aku tak pernah ada waktu luang, aku selalu sibuk bekerja siang malam." Kelit Laila yang dalam hati kecilnya memang mengakui klau dirinya belum bisa memenuhi janjinya untuk membuat Monik menjauh dari Kai, selain alasan yang dia kemukakan tadi pada Kaisar, jujr saja dirinya merasa sedikit insecure dengan tampilan modis Monik yang di rasanya jauh lebih elegan di banding dengan dirinya.


"Untuk itu aku meminta izin cuti untk mu selma satu mingg kedepan, kalau sampai satu bulan ini kau tidak berhasil membuat Monik menjauh dari ku, maka waktu pacara kita akan di perpanjang!" ancam Kisar.


"Ish,,, mana bisa begitu!" protes Laila.


Sebenarnya apa yang di lakukan Kaisar bukan sepenuhnya bertujuan seperti itu, seminggu lebih bersama dengan Laila, mengikuti kesehariannya, mengantar jemput dia bekerja di kafe dan di klub membuatnya merasa Laila terlalu memforsir tubuhnya dan tak pernah membiarkan dirinya untuk beristirahat dengan baik, Kaisar hanya tak ingin Laila sakit karena kelelaha, namun dia yakin kekasih pura-puranya itu pasti akan menolak jika dia menyarankan untuk beristirahat, jadi hanya dengan cara paksa seperti inilah dia membuat Laila merehatkan tubuhnya sejenak, paling tidak setelah bekerja di klub dia bisa tidur nyenyak seharian untuk mengumpulkan tenaganya lagi untuk tampil malam harinya.


Agak ekstreem memang cara yng di tempuh Kaisar, tapi setidaknya niatnya memang baik.

__ADS_1


__ADS_2