Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Idola kampung


__ADS_3

"Kenapa kamu tak mengatakan pada ku kalau saat di tempat spa bertemu wanita mu?" Tiba-tiba saja nada bicara Laura menjadi terdengar agak kesal dan ketus.


"Emh, bukankah waktu itu aku sudah bilang kalau aku bertemu dengan Monik saat sedang menunggu mu?" gagap Kai yang memang hanya mengatakan bertemu dengan Monik saat itu.


"Maksud ku Mira." ujar Laura lagi.


"Ah,, itu karena buat ku tak penting, dan rasanya aku malas untuk membicarakan hal yang tak penting." Kilah Kai.


"Apa itu berarti Monika penting bagi mu? Karena saat itu pertemuan mu degannya kau bicarakan pada ku?"


Ada hal yang mungkin Kaisar lupa, kalau wanita itu tak pernah salah, satu kata saja kesalahan akan terus menjadi senjata untuk mencecarnya.


"Sudahlah, aku tak perlu mendengar kebohongan mulut buaya seperti mu, yang penting saat ini cepat selesaikan masalah mu ini dengan wanita mana pun yang kini berulah, aku tak mau menjadi korban salah sasaran dari wanita-wanita mu yang bertebaran di mana-mana itu," sambar Laura saat Kaisar baru saja membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaannya tadi, biduan itu tak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara,.


Terkadang kalau di pikir-pikir itu semua membuat Kaisar merasa lucu plus menggelikan, bagaimana tidak seorang Kaisar yang ucapannya selalu di dengar dan tak bisa terbantahkan itu di paksa harus diam dan tak bisa berkutik sedikit pun di hadapan Laura yang hanya seorang biduan klub biasa, sementara penyanyi terkenal tanah air saja yang sempat berpacaran dengannya dan di putuskan secara sepihak oleh Kaisar sampai saat ini masih sering menghubunginya dan memohon untuk kembali bersama dirinya.


"Untuk tiga hari ke depan kau tak usah ke klub dulu, sebaiknya istrirahat dan pulihkan dulu dirimu, aku juga khawatir kalau orang itu akan mencelakakan mu lagi." Kaisar.


"Tapi---"

__ADS_1


"Tolong untuk kali ini menurutlah pada ku, aku akan meminta izin langsung pada pak Wirya."


"Aku sudah cuti dari kafe siang hari, sekarang harus libur nyanyi juga, aku bingung harus ngapain." Rengek Laura membayangkan kalau hari-harinya pasti akan sangat membosankan karena tak ada kegiatan apapun.


"Kamu hanya perlu menemani ku, dan aku akan menjaga mu."


Obrolan antara Kaisar dan Laura harus terhenti siang itu karena suara bel, ya,,, mereka kini sudah berada di apartemen Kaisar karena tadi pagi selepas teman-teman klubnya menengok di rumah sakit, Laura meminta untuk pulang, dia merasa tak nyaman berada di sana, dan mau tak mau akhirnya Kaisar mengabulkan permintaan Laura, karena Laura mengancam akan tetap pergi meski Kaisar tak mengizinkan.


"Masuk Mat!" titah Kaisar, saat tau yang datang adalah Rahmat asisten pribadinya yang sengaja di tunjuk oleh ibunya itu.


Kaisar memang sengaja memerintahkan Rahmat untuk datang ke apartemennya, Kaisar bahkan tak peduli jika pria yang usianya lebih tua darinya beberapa tahun itu akan melaporkan tentang keberadaan Laura di apartemennya, toh Rahmat juga bukan baru pertama kalinya melihat dirinya dengan seorang wanita, mungkin bedanya Rahmat tak pernah melihat Kaisar membawa wanita manapun ke tempat-tempat yang di anggap privasi seperti apartemen, rumah orang tuanya dan juga kamar hotel 2202 tempat dia bersembunyi jika sedang bertengkar dengan ibunya.


Mata Rahmat langsung tertuju pada mahluk cantik yang juga matanya tertuju padanya dari sofa ruang tengah yang tak bersekat dan bisa melihat dengan jelas ke arah pintu tempat Rahmat baru saja masuk.


"Kang Mamat?" Sapa Laura bangkit dari sofa empuk yang di dudukinya.


"Lela?" cicit Kaisar sambil terbengong melihat dua orang yang kini seperti sedang bereuni di hadapannya itu.


"Iya ini Lela, tetangga kampung saya, dia bintang pentas, biduan terkenal di kampung, hampir semua acara hajatan dan hiburan pasti dia yang jadi artisnya." Rahmat bercerita dengan antusias.

__ADS_1


"Ah, kang Mamat mah suka melebih-lebih kan, 'kumaha damang (Bagaimana kabarnya/sehat?)?'" Tanya Laura dalam logat sunda yang cukup kental.


"Sae, samulihna (Baik, bagaimana dengan kamu).Rasanya kayak mimpi ketemu artis kampung idola di sini, bagaimana ceritanya bisa di sini? Denger-denger katanya ikut lomba nyanyi idol-idolan, gimana hasilnya, sukses?"


Kedua orang itu kini mengobrol di kursi ruang tamu mengabaikan Kaisar yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan percakapan mereka yang kadang tak dapat di mengerti bahasanya olehnya.


"Hmmm!" dehem Kaisar karena kini dirinya merasa terasing di rumahnya sendiri.


"Ah maaf tuan, saya jadi lupa kalau tuan yang memanggil saya ke sini, habisnya saya seneng banget ketemu Lela, tuan tak pernah tau rasanya jadi orang perantauan, saat bertemu orang satu kampung itu rasanya sangat bahagia sekali!" Rahmat menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udah, nostalgia dan reuniannya?" ketus Kaisar.


Rahmat tertunduk, dia tau kalau dirinya terlalu antusias tadi saat bertemu Laila.


"Gak usah galak-galak napa Kai, kasian tau!" seloroh Laura.


"Oke, karena kalian sudah saling kenal, La,, ini Rahmat asisten ku, dan Mat,, bintang pentas idola lu itu pacar gue, lu denger baik baik dia pacar gue!" Kaisar mempertegas ucapannya.


Tentu saja membuat Rahmat melongo, bagaimana bisa tuannya tiba-tiba pacaran dengan Laila si biduan kampung idolanya, sementara dia sangat tahu kelakuan berengsek dan bejat Kaisar, sungguh dia tak bisa merelakan jika Laila hanya menjadi objek mainan dari tuannya yang terkenal playboy itu.

__ADS_1


"Pa-pacar tuan?" beo Rahmat, sementara Laura hanya terdiam tak mengiyakan maupun tak menyangkal pernyataan Kaisar saat Rahmat melirik padanya dan matanya seolah meminta penjelasan dari biduan tetangga kampungnya itu, tentu saja Laila tak bisa mengatakan apapun, dia sudah terikat perjanjian dengan Kaisar, apalagi dirinya kini juga tak punya tempat tinggal lain selain di apartemen milik kekasih palsunya itu, bukanya tidak bisa atau tidak mampu mencari kontrakan lain untuk di tempatinya, hanya saja keadaan saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk tinggal sendirian, dia masih perlu waktu sampai Kaisar mengurus semua masalah ini dan masalah mereda, baru dia akan mulai mencari tempat baru.


"Kau urus pekerjaan kantor selama tiga hari ke depan, karena aku ada urusan lain yang harus di selesaikan, dan satu lagi,,, jangan mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya di sini, apalagi Monik." Ujar Kaisar, meskipun dia yakin kalau pria yang sangat setia pada ibunya itu akan menceritakan apa yang terjadi saat ini, namun paling tidak dia tak menceritakan tentang keberadaan Laila di apartemennya pada Monik atau pada siapapun, karena dia belum tau siapa yang sebenarnya yang ingin mencelakakan biduannya itu, dia harus berhati-hati terhadap segala kemungkinan.


__ADS_2