Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Dia Kamila


__ADS_3

Sesampainya di hotel, Kaisar di kejutkan dengan kedua wanita yang hendak di jemputnya itu tidak berada di kamar yang dia siapkan untuk mereka beristirahat dan mengobrol tadi.


Kamar terlihat sepi, beberpa kali Kaisar terlihat menghubungi Laura, namun tak ada jawaban, ponsel Laura tidak bisa di hubungi.


Kaisar menuju resepsionis menanyakan keberadaan Laura dan ibunya.


"Oh, tamu itu tadi pergi bersama ibu anda dan juga beberapa anak buahnya satu jam yang lalu." Kata resepsionis dengan yakin, hampir semua karyawan di hotel mengenal Dara, pemilik hotel tempat mereka bekerja itu, karena Dara adalah atasan yang sangat ramah dan peduli terhadap para pekerjanya.


"Ibu ku?" ulang Kaisar seolah tak percaya dengan apa yang di sampaikan resepsionis itu padanya, bagaimana bisa ibunya menjemput Laura dan Wati satu jam yang lau, sementara saat itu ibunya sedang mengobrol dengan dirinya di rumah.


Merasa ada yang tidak beres, Kaisar meminta melihat rekaman cctv di sana, setelah melihat rekaman kamera pengawas, Kaisar cukup tercengang dengan apa yang di lihatnya, benar kata Firman, ada wanita yang sangat mirip dengan ibunya, hanya saja terlihat lebih muda jika di lihat dengan seksama, namun jika di lihat secara sepintas, wajah mereka hampir tak ada bedanya sama sekali.


Ini gila, ada dua orang dengan wajah yang sangat mirip, seperti kembar, namun ibunya tak pernah mengatakan kalau dia punya kembaran, lantas apa hubungan wanita yang mirip dengan ibunya itu dengan Laura? Mengapa wanita itu terus mengusik Laura mengatas namakan dirinya, sementara dirinya tidak kenal sama sekali dengan wanita itu, pikir Kaisar.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu lagi, Kaisar langsung menghubungi ibunya dan menceritakan apa yang terjadi, dia juga bahkan mengirimkan rekaman cctv hotel pada ibunya.


"Cepat kembali ke rumah!" Alih-alih memberi penjrlasan, namun hanya itu balasan yang di kirim Dara untuk putranya.


"Bu, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, siapa orang itu, mengapa wajahnya sangat mirip dengan ibu?" Cecar Kaisar, tak sabaran.


"Hmm, aku pikir dia tak akan kembali lagi," Daea menghela nafas yang sangat panjang, berat rasanya membuka luka lama dan menceritakannya kembali saat ini, namun itu semua harus di lakukannya, mengingat ini sudah menyangkut orang-orang yang tak berdosa seperti Laura dan ibunya yang di paksa untuk terlibat dalam permasalahan dirinya di masa lalu.


Namun mau tidak mau kini dia harus membongkarnya kembali karena ternyata Kamila yang dia pikir sudah tiada itu kembali hadir mengusik kehidupan tenangnya, tidak tanggung-tanggung, bahkan kini Kamila mengusik kehidupan putra semata wayangnya, ibu mana pun di dunia inibtak akan pernah membiarkan anaknya di usim oleh siapapun, apalagi Dara tau bagaimana jahat dan kejamnya Kamila.


Jujur saja, kepulangannya kali ini dari luar negeri yang di percepat dari jadwal pun sebenarnya berkaitan dengan Kamila, salah satu anak buahnya yang bertugas mengawasi Kaisar melaporkan kalau dia seperti mrlihat Kamila, tadinya Dara pikir itu hanya salah lihat, namun setelah dia menerima dan melihat rekaman cctv yang di kirimkan Kaisar dia menjadi sangat takin kalau Kamila selamat dari kecelakaan kapal saat itu.


"Aku tak menyangka jika ada cetita se-tragis itu terjadi di keluarga kita," Kaisar terlihat sangat antusias dan mendengarkan dengan seksama saat Dara menceritakan permasalahan yang terjadi antara dirinya, suaminya dan juga Kamila.

__ADS_1


"Begitulah, sepertinya dia mengincar sesuatu dari keluarga ini, jika hanya harta yang dia incar mungkin ibu tak akan begitu protektif, tapi jika sudah menyangkut kamu, nyawa pun ibu pertaruhkan untuk melindungi mu." Tegas Dara.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kaisar.


Pesan berisi foto dimana Laura dan Bu Wati sedang duduk di dalam sebuah mobil.


'Suruh ibu mu untuk datang ke sini dan membebaskan mereka berdua!' begitu isi pesan yang tertulis di layar, membuat Kaisar sejenak menahan nafasnya karena berada dalam situasi yang sangat sulit saat ini, kekasihnya berada di tangan orang jahat, sementara untuk menyelamatkannya, dia juga tak mungkin mendorong ibunya ke ambang jurang kematian, benar-benar pilihan yang bisa dia pilih di antara keduanya, ini terlalu sulit dan bukan pilihan.


"Kenapa, nak?" Dara seperti bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi pada anaknya.


"Penculik itu mengirimkan ini," Kaisar menunjukkan pesan yang baru saja di terimanya, jujur sebenarnya dia tak ingin memberi tahu ibunya tentang pesan itu, namun merahasiakannya bukan pilihan yang tepat saat ini, karena dia juga perlu masukan dari sang ibu dalam menghadapi masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2