
Merasa tak terbiasa ada orang lain di kamarnya, membuat Laila justru tak bisa beristirahat, dia hanya bisa menonton Kaisar yang tertidur dengan lelap dan nyaman di kasur miliknya.
"Ishh,,, dosa apa nenek moyang ku dulu sampai aku harus menanggung beban se berat ini, menjalin hubungan palsu dengan manusia arogan seperti ini!" gumamnya lirih.
"Bukan nenek moyang mu yang salah, tapi kau sendiri yang buat kesalahan dengan ku, bisa-bisanya menyalahkan nenek moyang!" jawab Kaisar yang ternyata tak sepenuhnya tertidur itu, sejak tadi dia juga berusaa untuk tertidur dengan memejamkan kedua matanya, namun sialnya telinganya masih bisa mendengar semua suara di sekitarnya, telinga Kaisar memang agak sensitif dengan suara, gerakan atau suara lirih pun bisa mengganggu tidurnya, terlebih suasana pagi di kontrakan Laila ternyata sangat gaduh dengan aktivitas para penghuni yang mulai berkegiatan pagi, sungguh beda dengan suasana apartemennya yang terasa sunyi dan nyaman tanpa gangguan suara apapun.
"Kenapa pake pura-pura tidur segala sih!" Laila melempar pandangannya jauh ke arah berlawanan tempt dimana Kisar berada saat mata coklat muda pria itu bertubrukan dengan pandangannya.
"Aku gak bisa tidur, jalan yuk, cari sarapan mumpung weekend, sambil olah raga pagi!" Ajak Kaisar bangkit dari rebahannya.
"Kenapa kamu tak pulang dan tidur di rumah mu sendiri?" kesal Laila.
"Aku ingin di sini, kecuali---"
"Kecuali apa?"
"Kecuali kau ikut aku pulang ke apartemen ku!" Kaisar menaik turukan alisnya.
"Gak sudi!" ketus Laila.
"Ya sudah, berarti seminggu ini aku nginep di sini!"
"Eh, apa maksudnya, mana bisa begitu?" Panik Laila takut jika Kaisar benar-benar akan menginap di kontrakannya selama satu minggu lamanya, apalagi Kaisar selama ini di kenalnya selalu nekat, bukan tidak mungkin kalau dia mampu melakukan apa yang di ucapkannya, seperti yang sering dia lakukan padanya selama ini.
"Tinggal pilih, aku yang menginap di tempat mu atau kau yang menginap di tempat ku? Simpel kan?" seringai licik Kaisar sungguh tak Laila sukai sama sekali, rasa-rasanya dirinya selal berada di bawah kendali pria arogan itu tanpa bisa melawan atau mengatakan tidak.
__ADS_1
Namun kali ini Laila sedang tak ingi menglh, dia akan bgeming pada pendiriannya untuk tak mengikuti keinginannya untuk menginap di apartemen Kaisar, ada pu tentang ancaman Kaisar yang katanya akan menginap selama seminggu di kontrkannya dia hanya akan menontonnya, karena dia yakin orang yang terbiasa hidup dalam kemewahan seperti Kaisar tak akan mungkin kuat jika harus tinggal di kontrakan sempit miliknya yang minim dengnn fasilitas itu, Laila yakin Kaisar bahkan tak akan kuat menghabiskan waktu sehari pun di kontrakannya.
"Aku tak terbiasa tinggal di rumah pria asing, maaf aku gak bisa!" tolak Laila.
"Berarti kau sdah biasa memasukan pria asing ke kontrakan mu untuk menginap?" Pancing Kaisar, sungguh dirinya sangat penasaran dengan cerita kehidupan sang biduan yang membuat dirinya seakan menjadi seperti bukan dirinya sendiri.
"Jaga ucapan mu ya, aku tak pernah memasukan pria manapun ke kamar kontrakan ku!" Rupa-rupanya Laila merasa tersinggung dengan tuduhan Kaisar.
"Apa itu berarti aku pria pertama yang datang ke sini?" Kai sadar kalau Laila merasa kesal dengan pertanyaannya yang sebelumnya.
"Kau menerobos dan memaksa masuk ke sini, dan aku tak pernah mempersilahkan kamu untuk masuk, apalagi dengaan lancangnya tidur di kasur ku." Ujar Laila dengan judesnya.
"Karena aku kekasih mu!" kelit Kaisar membela diri.
Kaisar ingin memberikan hari-hari santai untuk Laila di masa-masa cuti kerjanya, Kaisar ingin Laila menikmati separuh waktunya sebelum dia kembali bekerja di klub malam harinya.
**
Laila terihat seperti malas-malasan saat Kaisar mengajaknya mendatangi sebuah salon spa mewah, seumur-umur, dirinya belum pernah asuk ke tempat perawatan kalangan manusia-manusia yang seperti tak pernah pusing dengan harga beras dan sembako yang terus naik, token listrik yang terus berbunyi karena minta di isi.
"Ayolah, sekali-kali kau harus menikmati hal-hal seperti ini, jangan hanya terus saja menyiksa tubuh mu dengan memaksanya bekerja keras sian dan malam, namun tak memberikan reward atas kerja keras yang di lakukannya, kau harus lebih menyanyangi dan menghargai diri mu sendiri, memanjakan diri mu sendiri itu bukan suatu kejahatan." Ceroscos Kaisar panjang lebar, karena masih melihat raut enggan di wajah Laila untuk menerima perawatan tubuhnya.
Sebenarnya bukannya Laila tak mau melakukan semua itu, tentu saja seperti halnya wanita-wanita lain dia pun inin memanjakan diri dengan ke salon, belanja dan lain sebagainya selayaknya yang para wanita kebanyakan sukai, namun setiap dirinya mencoba melakukan itu, dia selalu merasa bersalah, apalagi jika teringat denga ibunya di kampung yang setiap hari harus berangkat subuh dan pulang sore hari untuk berjualan sayur di pasar, Laila merasa menjadi anak yang paling kejam dan tak tahu diri karea mengambur-hamburkan uang yang seharusnya bisa di gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.
Meskipun selama dia bekerja dia tak pernah absen mengirimi ibunya uang, dia masih belum tenang krena cita-citanya untuk membukakan toko kelontong untuk ibuya belum juga terlaksana, jadi dari pada uangnya dia hamburkan untuk hal yang tak jelas menurutnya, dia lebih memilih untuk menabungnya, toh dia tak akan mati hanya karena tak melakukan perawatan wajah dan tubuh di salon dengan biaya yang tak sedikit itu, bukan? Pikirnya.
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu pikirkan? Ayo cepat masuk," titah Kaisar tanpa bantahan seperti biasanya.
Dengan sabar Kasar menunggui kekasih pura-puranya itu melakukan serangkaian perawatan tubuh, sementara dirinya hanya duduk di ruang tunggu sambil memangku laptopnya memngerjakan beberapa pekerjaan yang semakin menumpuk, apalagi kini dirinya juga menghandle klub Z.
"Hai Kai!"
Suara yang kini menjadi sangat familiar di telinga Kaisar namun sangat tak ingin dia dengar itu tiba-tiba membuyarkan konsentrasinya.
"Ah, kenapa kemana pun aku pergi harus bertemu dengan mu? Apa dunia se-sempit itu!" kesal Kaisar saat menyadari jika yang menyapanya dan berdiri di hadaapannya adalah Monik, wanita yng ibunya jodohkan dengannya.
"Mungkin kita berjodoh Kai," seloroh Monik.
"Aku tak tau kalau kamu suka spa di sini juga, kalau aku tau kita bisa spa bareng,"
"Aku hanya mengantar," ujar Kaisar,dia merasa jika sepertiny sudah saatnya dia memberi tahu Monik kalau dirinya suudah puny kekasih dan untuk stop berharap benar-benar menjadi pasangan hidupnya.
"Mengantar siapa?" tanya Monik, alisnya bertaut menerka-nerka wanita mana yang bernasib sangat mujur bisa di antar Kaisar spa, bahkan pria itu rela menunggui nya.
"Tentu saja kekasih ku," ujar Kaisar dengan santainya, matanya bahkan kini sudah kembali menatap layar laptopnya mengabaikan Monik yang memasang raut wajah sedih dan kecewa.
"Oh, oke. Aku pulang duluan, aku tak ingin menganggu mu!" kata Monik dengan suara tercekat dan langsung di balas dengan anggukan kepala Kaisar tanpa dosa sedikit pun.
Namun rupanya Monik tak benar-benar pulang, dia memilih untuk duduk di tempat yang agak jauh dari ruang tunggu dan berniat untuk melihat wanita mana yang Kaisar akui sebagai kekasihnya itu, dia akan melaporkannya pada Dara, ibunya Kaisar.
Tak selang berapa lama, seorang wanita berpakaian minim menghampiri Kaisar dan mencium pipi kanan dan kiri Kaisar dengan mesranya, Monik mengambil beberapa gambar wanita itu dan langsung pergi dari tempat itu, rasanya dia tak kuat berlama-lama menonton kemesraan pria yang di harapkan menjadi pasangannya itu bermesran dengan wanita lain di depan matanya.
__ADS_1