Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Ada Apa Dengan mu


__ADS_3

"Kenapa kamu diam saja?" tanya Kaisar saat mereka sudah kembali ke apartemen dini hari itu, karena banyak hal yang harus di selesaikan oleh Kaisar, terpaksa Laura yang saat itu di paksa untuk cuti menemani Kaisar bekerja di ruangannya sampai jam operasional klub berakhir.


Sejak kejadian di loker itu Laura menjadi sangat pendiam, atau lebih tepatnya mendiamkan Kaisar.


"Kamu ingin aku bagaimana?" Laura balik bertanya.


"Ya seperti biasanya saja, ini terkesan seperti kamu mendiamkan ku. Apa aku ada salah pada mu?"


"Hmmm,,, entahlah, aku bingung. Aku merasa hidup ku kini kacau." keluh Laura.


"Apa kamu sedang mengeluh dan menyalahkan ku atas rentetan masalah yang terjadi pada mu? La,,,aku minta maaf, dan aku berjanji akan melindungi mu, percaya pada ku." Kaisar meraih jemari Laura, namun wanita itu menepisnya.


"Siapa mereka? Siapa wanita yang menargetkan ku itu? Dia membawa-bawa nama mu, dia pasti orang di sekitar mu, tolong lah Kai, selesaikan segera, aku butuh ketenangan, kedamaian. Aku juga butuh kerja untuk menghidupi karluarga ku." Berbicara masalah keluarga, Laura jadi teringat kalau tujuannya ke klub adalah untuk mengambil ponsel dan dompetnya, dia berniat mentransfer uang bulanan untuk ibu dan adiknya.


Namun saat membuka ponsel, beberapa pesan masuk dari nomor yang tak di kenalnya, membuat Laura syok.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kai seraya mendekati Laura yang kini tiba-tiba menjauh saat dirinya mendekat ke arahnya.


"Tidak, tidak ada apa-apa, tolong beri aku waktu untuk sendiri." Laura meninggalkan Kaisar untuk masuk ke dalam kamar yang di sediakan Kaisar untuk di tempati Laura.


Kaisar tak banyak protes, dia merasa mungkin Laura lelah dan masih kaget dengan kejadian demi kejadian uang yang menimpanya akhir-akhir ini.


Kaisar hanya membiarkan kekasih pura-pura nya itu untuk masuk dan beristirahat, mungkin dengan begitu dia akan merasa lebih baik dan lebih tenang, pikirnya.


Terkadang dengan diam dan menyendiri biasanya akan membuat diri lebih relaks, setidaknya itu yang sering Kaisar alami.


Bangun tidur Kaisar sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk Laura, hari ini dia ingin mengambil hati biduan itu, sekalian sebagai permintaan maafnya karena masalah yang timbul yang sepertinya berhubungan dengan dirinya, namun sayangnya dia sendiri pun tak tau siapa yang menyebabkan masalah itu terjadi.


Sudah hampir jam sepuluh pagi, namun Laura tak juga keluar dari kamarnya, sementara sarapan yang dia buat sepertinya sudah mulai dingin, Kaisar mondar mandir di depan pintu kamar Laura, menimbang-nimbang apakah dirinya harus mengetuk pintu kamar Laura untuk membangunkannya, atau membiarkannya beristirahat lebih lama lagi.


Sungguh Kaisar tak pernah penuh pertimbangan seperti ini dalam menghadapi wanita di waktu sebelumnya, dia akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan tanpa memilirkan atau mempertimbangkan apakah si wanita menyukainya atau tidak, mengganggunya atau tidak, dia tak akan peduli, namun hanya dengan Laura, Kaisar menjadi pria pemikir dan penuh pertimbangan.

__ADS_1


Hampir sepuluh menit Kaisar berada di depan kamar Laura, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu.


Pintu kamar dii ketuk berulang kali namun tak ada jawaban apapun dari dalam kamar, Kaisar menempelkan telinganya di pintu seperti orang bodoh, berharap bisa mendengar pergerakan dari dalam, tapi tiba-tiba saat dia menyandar dengan telinga menempel di pintu, ternyata pintu itu malah terdorong dan terbuka begitu saja.


Ternyata pintu kamar itu tak di kunci, bahkan saat terdorong pelan, pintunya terbuka dengan mudahnya.


"La,,, apa kamu di kamar mandi?" teriak Kaisar, karena tak mendapati Laura di tempat tidur yang terlihat rapi seperti tak di tiduri itu.


Namun lagi-lagi tak ada jawaban dari Lauran dari dalam kamar mandi yang berada di pojok kamar itu.


Kaisar penasaran, dia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi tang terbuat dari kaca gelap itu, benar saja, Laura pun tak ada di sana, feeling Kaisar sudah tak enak, dia membuka lemari baju di kamar itu, baju-baju Laura sudah tak ada di tempatnya, hanya ada beberapa lembar baju yang sepertinya tak terbawa, dan beberapa barang yang memang tak di bawa Laura karena sepertinya dia hanya mbawa satu buah koper saja, karena hanya satu koper yang hilanb tak berada di tempatnya.


Kaisar buru-buru mengecek kamera pengawas di seluruh ruangan apartemen nya, dan nampaklah Laura yang sedang menggeret kopernya dengan mengendap-endap sekitar pukul setengah lima subuh.


"La, apa yang terjadi pada mu?" lirih Kaisar menyesali kepergian Laura yang tiba-tiba dan pergi begitu saja bahkan tanpa pamit dan berbicara padanya, sementara di luaran sana orang yang sedang mengincarnya pasti masih berkeliaran, dan itu membuat Kaisar bertambah was was.

__ADS_1


__ADS_2