Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Jabatan ganda


__ADS_3

Sore ini Kai berada di sebuah resto mewah, berbincang hangat dengan Wirya, pemilik klub Z, tempat dimana Laura bekerja.


Klub Z memang berada di kawasan hotel tempat Kai juga menanamkan saham di sana, tapi kepemilikan klub berdiri sendiri di luar hotel, hanya saja klub berada di sana karena Wirya juga sama halnya seperti Kai, punya saham di hotel tersebut.


"Maaf, ibu ku mungkin terlalu sibuk dan tidak sempat membalas proposal anda, beliau juga kini berada di luar negeri, jadi untuk segala keputusan berada di tangan saya saat ini." Kai berbasa basi.


"Ah, tidak apa, aku juga berani mengajukan proposal ini karena aku dan ibu mu berteman baik dulu, atau lebih tepatnya kami saling mengenal saat dulu ibu mu sama-sama tinggal di singapura, saat itu ibu mu masih mengandung mu, sekarang kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan hebat." Kata Wirya.


"Aku setuju dengan proposal anda, tapi aku punya sedikit syarat." Ujar Kai memulai transaksinya dengan pria seumuran ibunya yang terlihat seperti benar-benar sedang membutuhkan uang itu.


"Syarat?" Wirya mengulang ucapan Kai padanya.


"Ya, aku ingin posisi di klub anda, aku ingin menjadi pemimpin di sana, tenang saja,,, anda tak perlu membayar ku, aku hanya ingin melihat dan memastikan manajemen tempat aku menanamkan modal itu berjalan dengan baik." Kilah Kai beralasan.


Wirya terlihat tercenung beberapa saat, memastikan kalau syarat yang di inginkan Kai itu benar-benar karena Kai ingin memantau manajemen bisnisnya.

__ADS_1


"Berapa lama?" Tanya Wirya.


"Hanya tiga atau empat bulan saja cukup!" Kata Kai mengangkat kedua bahunya.


"Tiga bulan, bagaimana?" Putus Wirya.


"Emh,,, oke! Percayalah, aku tidak berniat buruk oada bisnis anda, dana yang akan aku gelontorkan untuk klub anda tidak sedikit, aku pebisnis, meskipun feeling ku masih bisa di gunakan dengan baik, tapi ada baiknya di imbangi dengan melihat dan membuktikannya secara langsung bukan? Lagipula, bukannya itu akan menguntungkan anda, selama tiga bulan anda mendapatkan pemimpin seperti saya di perusahaan anda secara cuma-cuma."Seperti biasa Kai menyombongkan dirinya.


Kai itu sebenarnya pebisnis hebat, mungkin sudah turunan dari ayahnya, hanya saja dia terlalu malas untuk bekerja dan lebih memilih bersenang-senang menukmati harta ayahnya, padahal beberapa proyek yang pernah dia pegang selalu berhasil dan menghasilkan banyak keuntungan untuk perusahaan yang masih di kelola ibunya itu, dan beberapa pengembangan usaha selain di bidang pabrik makanan yang di tinggalkan ayahnya itu juga hasil dari tangan dingin Kai.


Tentu saja Kai menyambut uluran tangan Wirya dengan senyum lebarnya, berbagai rencana untuk menaklukan Laura si biduan yang di nilainya sangat sombong itu langsung terlintas di kepalanya.


'Tunggu pembalasan ku, Laura. Kau tak akan bisa lagi menolak ku!' Bisik Kai dalam batinnya seraya menyunggingkan senyum liciknya.


"Oke,, anda sudah bisa mulai bekerja besok," ujar Wirya.

__ADS_1


"Kai, panggil aku dengan sebutan Kai saja, anda teman ibu ku, tak harus terlalu resmi dalam memanggil ku, berarti tiga bulan kedepan aku akan berada di sana selepas aku menyelesaikan pekerjaan kantor ku."


"Hahaha,, bukankah selama ini setiap malam nak Kai memang selalu berada di klub?" Ledek Wirya.


"Itu berbeda tujuan," kilah Kai di sambut gelak tawa di antara keduanya.


**


Akhirnya hari ini Kai bisa kembali ke dunia malam yang sudah beberapa hari ini di tinggalkannya, sungguh hari ini dirinya sangat bersemangat, Pekerjaan di kantor pun segaja dia selesaikan dengan cepat, supaya sebelum sore dia bisa meninggalkan kantor dan bersiap-siap untuk menjalankan pekerjaan barunya sebagai pemimpin baru di Klub Z, dia juga meminta Wirya untuk merahasiakan tentang dirinya yang menjabat sebagai direktur di klub itu untuk sementara waktu menggantikan Wirya dari para karyawan klub, Kai beralasan kalau nanti dirinya sendiri yang akan mengatakan semua itu pada para karyawan kalau saatnya tiba, beruntung Wirya percaya saja dengan semua rencana yang akan di lakukan Kai di klubnya yang memang sedang kekurangan dana itu, karena selain memberikan kucuran dana yang tidak sedikit untuk klubnya, Kai juga berjanji ankan mengobservasi kesalahan apa saja, dan mencari tahu apa yang terjadi pada manajemen klub sehingga omset yang di lihatnya dengan sekilas mata seperti besar karena selalu ramai pengunjung dan klub itu juga bukan klub sembarangan dimana pengunjung yang datang tak hanya sekedar datang dan minum sekedarnya, tapi mereka menghabiskan uang mereka di tempat itu, sehingga agak sedikit kaget jika Wirya menyatakan kalau klubnya sedang mengalami kekurangan dana sementara klub miliknya tidak sedang melakukan renovasi atau perbaikan apapun, jika tamu seperti dirinya saja bisa menghabiskan uang minimal di atas sepuluh juta sekali bertandang ke sana, seharusnya jumlah uang yang di keluarkan tamu lain pun tak ada begitu jauh selisih dengan apa yang di keluarkan oleh dirinya.


Begitulah, sebenarnya Kai itu pintar, dan kritis untuk masalah bisnis, selain pintar mengelola, perhitungan dia dalam bisnis pun hampir selalu benar, namun ya itulah, karena merasa tak ada motivasi untuk bekerja, semua itu di kalahkan oleh rasa malasnya begitu saja.


"Kai, eh pak, ini masih siang, kenapa anda pulang? Apa anda tidak enak badan?" tanya Monik yang tak tahu menahu tentang Kai yang kini mempunyai jabatan ganda itu.


"Apa aku harus selalu laporan pada mu tentang apa yang akan aku lakukan, apa yang aku kerjakan? Ingat. Kau hanya sekretaris ku, bertindaklah sesuai jobdesk!" Ujar kai dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2