
Dua pria itu seakan sedang mengikuti lomba lari maraton berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan apapun juga, mereka benar-benar menghawatirkan keadaan Laura di dalam sana, kecelakaan yang terjadi kemarin membuat dua pria itu seakan paranoid akut dan cemas berlebihan.
"Apa yang terjadi?" tanya kedua pria itu serempak saat berada di dekat Laura yang berdiri mematung di depan lokernya.
"I-itu!" cicit Laura tergagap sambil menunjuk ke arah likernya yang kini sudah terbuka.
"Ah, sial!" Pekik Kaisar sambil membawa Laura menjauh dari pintu lokernya.
sebuah kotak berisi bangkai tikus yang terlihat sangat menjijikan teronggok di dalam kotak besi yang hanyaberukuran sekitar 30X50 cm itu.
Loker yang memang di peruntukan bagi para karyawan menyimpan barang-barangnya selama bekerja itu kini terlihat sangat mengerikan, bangkai itu sepertinya belum terlalu lama di raruh di loker milik Laura, terbukti dari baunya yang belum begitu menyengat.
"Siapa yang berani melakukan ini semua?" Teriak Prasetyo pada semua orang yang kini berkerumun di tempat itu, saat ini memang jamnya karyawan datang untuk bekerja, jadi ruang loker lumayan rame dengan karyawan.
"Cih, ini yang kau bilang hanya karyawan yang boleh masuk ke ruangan ini demi keamanan? Lantas aku harus menyalahkan karyawan yang mana atas kelalaian yang terjadi saat ini?"Kaisar membalas teriakan Pras.
Kini Kaisar lebih punya alasan untuk meneriaki manajer sombong itu lebih keras dari sebelumnya, urusan keselamatan Laura membuat darahnya mendidih, manusia macam apa sebenarnya yang sedang mene ror seorang wanita tak berdaya seperti Laura ini, apalagi dalam hal ini dirinya ikut terlibat karena si pene ror itu menjadikan namanya sebagai alasan dia berbuat semua itu.
"Ini semua salah mu yang bermain api dengan Kaisar, dasar munafik, katanya tak ingin menjalin hubungan apapaun dengan tamu, buktinya apa? makanya jangan sok kecantikan deh jadi cewek, merasa semua pria menginginkan mu, tau rasa kan, akhirnya!" cibir Mira yang kebetulan ada di ruangan yang sama dengan mereka.
__ADS_1
"Tutup mulut mu! Tak ada yang meminta pendapat mu saat ini." Bentak Kaisar dengan tatapan galaknya.
Sementara Pras hanya terdiam sambil sesekali mencuri pandang ke arah Laura yang kini sedang menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Kaisar yang dengan sangat posesif mengungkungnya seolah tak ingin lagi siapapun mengusik biduannya.
"Kami akan menyelesaikan masalah ini secara intern, silakan anda tunggu di luar, biar masalah Laura kami yang menyelesaikan." Akhirnya gemutuh panas di dada Pras akibat cemburu melihat Kai yang mendekap Laura membuat dirinya menggunakan kekuasaannya sebagai manajer untuk mengusir Kaisar dari tempat itu.
"Kau mengusir ku?" geram Kai, tangannya mengepal seperti tak tahan ingin meninju wajah manajerr songong yang tanpa sadar sudah mengusir atasannya sendiri.
"Kai, sudahlah. Lagi pula aku tak apa-apa, pak Pras juga benar, ini memang ruangan khusus karyawan, tak sebaiknya kamu di sini, tunggu aku di lobby, setelah urusan ku dengan mami Dewi selesai, aku akan menemui mu." Ujar Laura menengahi, dia satu-satunya orang yang paling merasa serba salah dalam posisi ini, setelah membuat kegaduhan di ruangan itu, lantas membuat Kaisar dan Pras bersitegang, bagaimana pun Pras adalah atasannya, dan dia masih membutuhkan pekerjaan ini, jadi pilihan menyuruh Kaisar untuk pergi adalah pilihan yang terbaik menurutnya.
Mendengar permintaan Laura yang malah memilih memintanya untuk pergi dari ruangan itu, Kaisar bertambah marah dan tanpa basa basi segera meningga;lkan tempat itu dengan perasaan dongkol menuju ruangan kerjanya di klub tanpa ada yang mengetahui.
"Aku rasa kamu harus mulai menjauh dari Kaisar, apapun hubungan mu dengannya, dia membawa pengaruh buruk pada mu dan juga mengganggu kenyamanan para karyawan di sini, lihatlah akibat buruk yang di timbulkan dari pria itu, setelah sebelumnya Mira yang menjadi target sasarannya sampai babak belur, lalu kejadian kesetrum di atas panggung, dan sekarang---" tegur Pras pada Laura yang hanya bisa tertunduk tak berani membela diri.
Mungkin memang benar apa yang di katakan manajernya itu kalau semua ini berkaitan dengan Kaisar, namun untuk menjauhi Kaisar, dirinya juga punya perjanjian sendiri dengan Kaisar, tak bisa meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa, apa hubungan kalian sudah sangat jauh? Laura,,, Laura,,, apa yang kamu lihat dari Kaisar? Jangan tertipu dengan wajah tampan dan banyak uangnya saja, dia pria yang kasar, pemain perempuan, dan lagi lihatlah,,, apa kamu ingin bernasib sama dengan Mira jika tetap mempertahankan hubungan mu dengan dia? Lepaskan dia, aku akan menjaga mu dan melindungi mu, ingat, keselamatan mu lebih utama di bandingkan perasaan cinta, lagi pula pria seperti Kaisar itu tak mungkin bisa di andalkan, dia menebar cintanya di mana-mana!" kata Prasetyo panjang lebar berceramah, bak sambil berenang minum air, dia menasehati agar Laura meninggalkan Kaisar seolah-olah dia sungguh menghawatirkan keselamatan wanita itu, namun di sisilain dia juga sedang berusaha mencari celah agar dirinya bisa masuk ke dalam kehidupan sang biduan.
"Tapi---" cicit Laura kini dia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Tapi apa ? Laura, apa kamu bermimpi menjadi nyonya besar dan merubah prinsip hidup mu yang tak ingin kaya tanpa berusaha dengan keringat sendiri?" nada bicara Pras meninggi.
Bruakkkk!
Suara meja kayu yang di tendang oleh Kaisar sampai terjungkal menghentikan pembicaraan Prasetyo yang jelas jelas sedang membicarakan dirinya, entah sudah berapa lama Kaisar berdiri di ruangan itu dan mendengar semua ucapan Prasetyo yang memojokan dirinya.
"Kau bilang semua ini karena aku? Hey bung, kau menuduh tanpa bukti, jangan asal mangap kau punya mulut, jangan karena cinta mu yang bertepuk sebelah tangan pada Laura lantas kau menjelek-jelekan aku!" Kaisar mencengkeram kerah baju Pras dengan tangan kirinya.
"Aku akan memanggil keamanan jika anda tak melepaskan tangan anda di baju ku!" ancam Pras.
"Panggillah, kalau perlu kumpulkan semua karyawan di sini, agar semua orang tau bagaimana sikap bejad mu, dan aagar semua orang tau kalau mulai malam ini kau aku pecat!" teriak Kaisar tak lagi dapat menahan emosinya, bahkan dia melayangkan tinjunya ke rahang Pras sampai pria itu tersungkur.
"Hai tuan, apa anda mabuk? Ini klub Z, bukan perusahaan anda, tentu saja anda tak bisa memecat ku dengan seenaknya, sebaliknya aku akan melaporkan tindakan kasar mu ini pada polisi!" ancam Pras.
"Laporkan, dengan begitu kita akan sama-sama masuk penjara, aku ,malah senang bisa menghajar mu di dalam sel!" Kaisar melemparkan sebuah flashdisk ke wajah Prasetyo.
"Apa ini?" tanya Pras.
"Itu adalah bukti rekaman kau yang hendak memasukan kotak berisi bangkai tikus tadi ke loker milik Laura, kau mungkin percaya diri karena cctv sudah kau rusak, namun kau tak pernah tau ada cctv lain yang hanya direktur kalian yang tau di mana tempatnya, dan aku sebagai direktur mu yang baru menggantikan paman istri mu, saat ini juga memecat mu, tindakan mu ini sudah termasuk kategori kriminal!" ucap Kaisar membuat mulut Pras kini bungkam tak berani melawan.
__ADS_1