
Dara menghela nafasnya dengan berat, tak salah lagi, orang yang di incar Kamila adalah dirinya, wanita itu sengaja melakukan segala cara termasuk mengganggu kehidupan putranya hanya karena ingin membalas dendam pada dirinya.
"Ibu akan pergi ke sana." Putus Dara.
"Tapi bu," Kaisar merasa serba salah saat ini, tentu saja dia tak mungkin melepas ibunya pergi begitu saja sendirian, di lain sisi dia juga tak mungkin membiarkan Laura berada lama-lama di tangan Kamila.
"Aku akan pergi bersama mu, bu." Kata Kaisar pada akhirnya, dia tidak bisa membiarkan ibunya pergi sendirian.
"Tidak nak, yang Kamila inginkan itu ibu, lagi pula ini masalah lama ibu dengannya, biarkan kami menyelesaikannya sendiri." Cegah Dara, dia tak mau Kaisar ikut terlibat dalam masalah masa lalu nya, jika pun harus ada yang di korbankan dari dendam Kamila, biarlah Dara menanggungnya sendirian.
"Jika aku tidak boleh ikut, maka ibu pun tidak boleh pergi, biar aku sendiri yang menyelamatkan Laura." Ancam Kaisar, sehingga membuat Dara tak punya pilihan lainselain mengizinkan putranya untuk turut serta pergi bersamanya, daripada Kaisar diam-diam pergi sendiri tanpa sepengetauannya.
__ADS_1
**
"Apa benar di sini tempatnya?" Dara memutar pandangannya melihat seluruh bangunan kosong , tempat dimana Kamila mengajak mereka bertemu.
"Sepertinya benar, tapi--" Kaisar pun mulai curiga dan ragu-ragu dengan keadaan bangunan kosong yang terasa sepi itu, nyaris seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Selamat datang, Dara. Senang akhirnya kita bisa berjumpa lagi setelah sekian lama." Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar menggema di ruangan kosong itu.
Kaisar terperangah menyaksikan dua orang wanita dengan wajah yang nyaris tak bisa di bedakan di hadapannya, jika ada ungkapan bak pinang di belah dua, maka inilah sebuah kenyataan yang tak hanya sekedar peribahasa.
"Bu, apa ibu yakin tak mempunyai saudara kembar?" bisik Kaisar tak percaya jika antara ibunya dan wanita lain di hadpnnya itu tak mempunyai hubungan darah atau ikatan apapun.
__ADS_1
"Jikapun aku punya hubungan darah dengannya, aku tak akan pernah sudi untuk mengakui dia sebagai saudara ku, untungnya kami tak terikat hubungan apapun selain terikat dendam dan saling benci satu sama lain." Dara tersenyum sinis setengah mengejek.
"Jangan lupakan kalau kita juga terikat pada seorang suami yang sama, kita keluarga, dan anak mu harusnya anak ku juga, begitu pun anak ku, harusnya menjadi anak mu juga!" Kamila tergelak.
"Apa maksud mu, dia anak ku dan kau tak pernah punya anak dari suami ku, satu satunya anak yang kau punya dan kau gugurkan adalah anak Yoga, kau pembunuh kakak dan keponakan ku, wanita iblis!" Dara tak bisa menahan rasa marahnya saat dia harus teringat kembali pada almarhum kakaknya yang meninggal saat menyelamatkan dirinya dari penyerangan yang di lakukan Kamila padanya, apalagi saat mengingat kalau Kamila juga menggugurkan bayi hasil dari hubungannya dengan Yoga, dengan begitu secara tidak langsung dia membunuh kakak dan keponakannya juga.
"Hahaha, kakak mu yang bodoh itu memang pantas mati, apalagi dia juga meninggalkan anak yang juga sama bodohnya dengan dirinya, sampai-sampai aku merasa menyesal telah melahirkan dan membiarkannya hidup di dunia ini dengan biaya yang tidak sedikit." Umpat Kamila, entah siapa yang sedang dia bicarakan saat ini, hanya saja, Dara dan Kaisar di buat terperangah saat sosok Monik tiba-tiba masuk ke ruangan tempat mereka berbincang dengan di ikuti oleh Laura dan bu Wati yang berjalan di belakangnya dengan kedua tangan terikat dan mulut di sumpal, tak lupa beberapa orang pria berbadan tinggi besar menjaga mereka.
"Monik?" Pekik Kaisar dan Dara secara bersamaan.
"Ya, inilah anak Yoga yang bodoh itu, aku hanya menugaskannya untuk mendekati satu pria saja bisa gagal dan kalah hanya oleh seorang penyanyi rendahan, dasar tidak berguna!" Tangan Kamila dengan entengnya mendorong kepala Monik hingga terjengkang ke belakang, dari kata-kata dan juga tindakannya, sepertinya Kamila sudah biasa melakukan kekerasan pada Mobik yang dia sebut sebagai anak dari Yoga itu.
__ADS_1
"A-apa, dia anak kak Yoga?" Gagap Dara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.