Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Calon mantu


__ADS_3

"Lho, kok tante ada di sini? Tante juga terlihat sedikit lebih tua dari beberapa hari yang lalu saat datang ke kampung?" Ujar Firman polos, namun tak ayal ucapan polos Firman membuat Kaisar kaget, setengah mati.


"Bu, ibu ke kampungnya Laura, menemui bu Wati? Jadi selama ini yang mengancam Laura itu ibu?" Tuduh Kaisar.


"Kampung? Laura? Bu Wati? Apa-apaan, siapa itu? Ancaman apa?" Dara terlihat kebingungan dengan tuduhan Kaisar, alih-alih melepas rindu karena lama tak bertemu, Kaisar justru malah mengatakan hal-hal aneh yang tak dia mengerti.


"Bu, Ibu pasti sudah tau tentang hubungan ku dengan Laura, bu,,, tolonglah aku mencintainya, jangan ganggu dia, ini semua salah ku bu," lanjut Kaisar tetap pada pendiriannya menuduh Dara melakukan semua yang di pikirkannya.


"Kaisar! Ceritakan masalahnya dari awal, apa maksud semua ini, dan dia,,, anak ini,,, siapa dia? Ibu saja baru melihatnya sekarang," tunjuk Dara pada Firman.


Kaisar tak menggubris pertanyaan ibunya, dia malah berbalik ke arah Firman.


"Firman, ceritakan pada kakak, apa yang terjadi di kampung, dan apa benar kalau ibu itu yang datang ke rumah mu untuk menemui ibu mu?" Kaisar berjongkok di hadapan bocah itu agar bisa menatap wajahnya secara langsung dan ada eye contact sehingga dia bisa menilai apa anak itu berbohong atau tidak.


"Emhh, aku tidak begitu yakin dengan ibu itu, hanya saja wanita yang datang ke rumah wajahnya sangat mirip dengan ibu itu, tapi,,, wanita yang datang ke rumah terlihat lebih muda." Jawab Firman menceritakan apa yang di ketahuinya.

__ADS_1


Tak ada kebohongan terlihat dari mata Firman, hanya saja itu semakin membuat Kaisar sedikit bingung, wanita yang datang ke rumah orang tua Laura bukan ibunya, tapi wajahnya sangat mirip dengan ibunya, bahkan dia tak pernah tau kalau ibunya mempunyai saudara.


"Heh nak, apa ibu mu tak pernah memberi tahu mu kalau berbohong itu perbuatan dosa?" Dara mendekat ke arah Firman dan sedikit mendesak bocah itu untuk berhenti memfitnahnya melakukan hal-hal yang dia tuduhkan dan membuat sang putra menjadi murka padanya.


"Kak, sepertinya bukan ibu ini. Mereka hanya mirip, tapi itu sangat mirip." Ralat Firman.


"Bu, ini Firman, dia adik dari kekasih ku, dia baru datang dari kampung karena beberapa hari yang lalu ada wanita yang datang ke rumah mereka di kampung memfitnah dan menjelek-jelekan kekasih ku di sana," terang Kaisar.


"Lantas kamu fikir ibu mu ini yang melakukannya?" Dara membelalak tak percaya, bagaimana bisa Kaisar dengan mudahnya menuduh dirinya berbuat serendah itu hanya karena ucapan seorang anak kecil.


"Firman bilang, wanita itu wajahnya mirip dengan ibu," elak Kaisar.


"Aku pikir, ibu juga berpeluang besar untuk melakukan semua itu, bisa saja kan, karena ibu lebih memilih menjodohkan aku dengan Monik dan tak setuju dengan hubungan ku dengan Laura lantas ibu melakukan semua itu." Kaisar masih keukeuh dengan asumsinya.


"Ibu tidak seperti itu, kamu anak ibu satu-satunya, meskipun ibu tahu wanita yang sedang dekat dengan mu itu seorang penyanyi bar, asalkan kamu bahagia, ibu akan mendukung mu." Ujar dara.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu, bagaimana ibu bisa tahu kalau Laura penyanyi bar?"Mata Kaisar memicing dan mengintimidasi ibunya.


"Tentu saja ibu tahu, bahkan tentang diam-diam kamu bekerja di klub, juga ibu tahu. Pak Wirya memberi tahu ibu." Terang Dara.


"Ishhh, pak tua itu mulutnya tak bisa di jaga." Kesal Kaisar.


"Ibu tahu semua bahkan tentang rentetan kecelakaan dan kejadian yang terjadi di klub, dan ibu sedang mencoba mencari tahu siapa pelaku sebenarnya, karena pasti ada orang lain selain Prasetyo."


"I-ibu tau masalah Prasetyo juga?" Kaisar menganga tak percaya.


"Hemh, leboh baik sekarang kau jemput kekasih mu dan ibunya untuk datang ke sini, untuk sementara mereka akan tinggal di sini agar lebih aman, dengan begitu, kamu juga pasti akan mau tinggal di sini menemani ibu, biar adik kecil ini bersama ibu dulu." Dara mengamit tangan mungil Firman yang kini terlihat patuh dan tak ketakutan seperti awal perjumpaan tadi.


"Ibu serius? Mau menerima Laura?" Wajah Kaisar terlihat sangat sumringah, pancaran kebahagiaan memenuhi wajah tampannya.


"Iya, cepat jemput calon menantu ibu kesini!" Dara tersenyum sambul mengangguk ikut merasa bahagia melihat wajah putranya yang terlihat begitu bersinar.

__ADS_1


"Oke, siap laksanakan, ibu ku tersayang, aku akan membawa calon istri dan calon ibu mertuaku ke sini."


Setengah berlari Kaisar menuju pintu utama dan bersiap menjemput Laura juga Wati untuk bertemu dengan ibunya.


__ADS_2