
Ponsel Kaisar berbunyi, satu pesan masuk dari Arga.
'Bro, pacar lo di kafe, kalian berantem? Untuk sementara biarin dia di rumah gue dulu biar dia tenang, gak bakal gue apa-apain kok, sumpah!'
Kaisar menghembuskan nafasnya, rasanya lega sudah mengetahui dimana Laura berada, setidaknya Arga gak akan berani macam-macam pada Laura.
'Jagain dia, bentar lagi gue kesana.'
Kaisar bergegas menuju kafe sahabatnya, sungguh Kaisar merasa bingung, karena dia tak merasa mempunyai masalah dengan Laura, namun kekasihnya itu tiba-tiba minggat begitu saja dari apartemennya.
Laura menatap Arga dengan pandangan tajamnya saat mobil Kaisar berhenti di pelataran parkir kafe, "Dasar mulut ember, gak bisa jaga rahasia." kesal Laura sambil melirik kesal pada bosnya itu.
__ADS_1
Melihat Laura kesal, Arga malah nyengir kuda, "Sorry laila, aku gak mau di salahkan Kaisar, kamu pasti tau lah gimana tabiatnya dia, kalau sampai dia tau aku nyembunyiin kamu di sini, bisa, bisa dia ngamuk, saran ku sih lebih baik kalian selesaikan masalah kalian baik-baik, apapun itu masalahnya." Kata Arga berusaha membela dirinya sendiri.
"La, ada masalah apa sih, kita kan bisa ngomong baik-baik, aku ada salah sama kamu?" Kaisar yang ternyata sudah berada di antara Arga dan Laura langsung merangsek mendekat ke sisi Laura dan meraih jemari tangan biduan itu.
"Gak ada apa-apa!" Laura melepaskan genggaman tangan Kaisar.
"Kai, kalo cewek bilang gak apa-apa ituberarti sedang ada masalah besar, siap-siap deh lo, gue gak ikut-ikut ya!" seloroh Arga sambil berlalu begitu saja meninggalkan Kaisar yang membelalakan mata ke arah dirinya.
Namun belum saja Laura menjawab ajakan Kaisar, ponselnya berdering lagi, satu notifikasi pesan masuk terdengar di ponsel miliknya, Laura meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di hadapannya, wajahnya seketika menegang dan matanya berkaca-kaca.
"Tolong jauhi aku, kasihani aku, aku datang ke Ibukota untuk mencari nafkah untuk ibu dan adik ku, jika aku pernah menyinggung dan membuat mu marah, aku mohon maaf, tapi tolong jauhi aku mulai dari sekarang." Kata Laura dengan suara bergetar menahan tangis.
__ADS_1
Merasa penasaran dengan pesan yang di terima Laura, secepat kilat tangan Kaisar menyambar ponsel di tangan Laura dan memeriksa pesan apa yang membuat kekasihnya menjadi terlihat sangat sedih dan frustrasi itu.
"Apa karena ini, yang membuat mu tak ingin kita melanjutkan hubungan? Tapi siapa ini?" Kaisar berbicara sendiri sambil sibuk melihat pesan pesan yang berisi ancaman di ponsel milik Laura, di salah satu pesan ancamannya bahkan si peneror gelap itu mengirimkan foto seorang gadis kecil berseragam sekolah dasar yang sedang berdiri di gerbang seekolahnya, pesan itu di kirimkan tadi malam dengan tulisan 'Jika kau masih ingi adik mu tetap hidup aman, jauhi Kaisar.'
Hal itu membuat Kaisar mulai menebak-nebak, sepertinya pesan itulah yang membuat Laura memutuskan untuk pergi dari apartemen miliknya di pagi buta itu.
"Maaf sudah membuat mu terlibat dalam masalah besar karena aku, tapi demi Tuhan, aku tak tahu ini perbuatan siapa, dan Laura, tolong izinkan aku untuk membantu mu keluar dari masalah ini, izinkan aku melindungi mu, aku ingin bertenggung jawab atas semuanya." kata Kaisar.
"Aku takut Kai, sumpah aku takut, apalagi jika mereka sudah membawa-bawa keluarga ku seperti itu, mereka se-serius itu sampai bisa mengambil foto adik ku, aku bingung, aku harus bagaimana?" air mata Laura yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga, sungguh dia tidak bermaksud untuk menyalahkan Kaisar, dia juga masih ingij bersama Kaisar, namun jika kenyataannya kebersamaannya dengan Kaisar justru malah membawa petaka bagi keluarganya di desa yang tak tahu apa-apa, dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai hal buruk terjadi pada adik atau ibunya di sana.
"Tenangkan diri mu, aku akan selalu ada di sisi mu, aku akan menemani untuk menanggung semua resiko terberat sekali pun, bahkan nyawa ku pun akan ku pertaruhkan untuk melindungi mu dan keluarga mu. Percalayah, aku tidak akan mungkin melepaskan mu, apalagi setelah aku tau ada masalah sebesar ini yang di sebabkan oleh ku, aku tak akan diam dan membiarkan mu sendiran menghadapi semua ini, ayo pulang, kita bicarakan hal ini di rumah." Kaisar memeluk erat Laura dan membiarkannya menumpahkan tangis di dadanya, memberi gadis itu waktu untuk mengeluarkan kesedihan dan emosinya.
__ADS_1
Otak Kaisar berpikir keras menebak-nebak siapa orang yang dengan keji melakukan semua ini padanya, namun saat ini kepalanya belum bisa menentukan satu nama pun untuk di jadikan sebagai orang yang patut di curigai olehnya.