Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Gara-gara orang gila


__ADS_3

Tak lama setelah Kaisar kembali ke kursinya dan saling berdiam diri tak saling berbicara dengan Monik yang selalu mengikuti kemana pun Kaisar pergi dengan alasan kalau kini dirinya asisten sekaligus sekretaris pribadi pria tampan yang selalu kehilangan semangatnya jika sedang bersama wanita yang di jodohkan oleh ibunya itu, Arga datang untuk bergabung di meja mereka.


Senyum Kaisar sedikit mengembang saat sahabatnya itu mendudukan diri di kursi tepat di sampingnya itu.


"Ga, pak Darto masuk gak?" Kaisar mulai beraksi, dia mempertanyaakan juru masak di kafe sahabatnya itu.


"Pak Darto? Masuk lah, tumben tanya pak Darto, naksir?" ledek Arga.


"Sialan, ada sedikit perlu sama pak Darto, ga apa-apa kan, guea samperin?"


Meski belum mendapat jawaban iya atau tidak dari Arga, si pria tengil itu langsung berdiri dan berjalan menuju dapur,


"Hey, jangan gangguin pak Darto, dia lagi sibuk!" teriak Arga.


"Tenang aja, bukan pak Darto yang bakal gue gangguin!" cengir Kai sambil terus berjalan mendekat ke arah dapur, terang saja bukan pak darto yang bakal dia ganggu, namun asistennya pak Darto, alias Laila, karena wanita itulah yang juga menjadi tujuannya datang ke kafe siang itu.


Mata Kaisar menyapu setiap sudut ruangan Dapur dimana semua orang yang berada di sana tak ada yang menganggur, semua sibuk karena pesanan tamu yang ramai siang itu.


Pandangan memindai Kaisar terhenti saat sudah menemukan sosok yang di carinya, seorang wanita yang mengenakan celana jins robek dan kaos oblong kebesaran dan tak apron hitam yang justru menjadi daya tarik tersendiri di mata Kaisar,.


Oh, jangan lupakan rambut Laila yang di ikat dan di gulung ke atas, juga keringat yang sesekali meluncur dari dahinya membuat Laila terlihat sangat se-ksi siang itu meski make upnya siang itu hanya keringat dan minyak yang memenuhi wajah dan leher jenjangnya.


Katakan saja Kaisar sudah gila, bagaimana bisa pria yang mempunyai standart wanita tinggi mengagumi asisten koki yang dandanannya justru awur-awuran, sementara wanita-wanita cantik mulai dari wanita kelas atas, anak pejabat, anak pengusaha, mengharapkan dirinya, bahkan beberapa artis ternama pernah di pacarinya, apa selera dari seorang Kaisar Abdi Prawira sudah mulai turun kelas? Sisi batin Kaisar menertawainya.


Bukannya tak menyadari akan hal itu, namun pesona Laila saat di dapur dan di atas pentas benar-benar membuatnya seakan terbius dan kehilangan akal sehatnya, naluri kelelakiannya selalu mengatakan kalau wanita ini unik dan pantas untuk di perjuangkan.


"Eh, apaan nih!" Laila terlonjak kaget saat sebuah tangan terulur mengusap keringatnya yang menetes di dahi dengan selembar sapu tangan lembut.


Hampir saja dia melayangkan centong yang sedang di pakainya untuk memasak sup sedari tadi ke arah kepala Kaisar.

__ADS_1


"Kau--- ke-kenapa kau bisa ada di sini, hanya karyawan yang boleh masuk, pergi sana cepat, nanti aku di pecat sama bos ku gara-gara membiarkan pengunjung berkeliaran di sini!" Dengan wajah paniknya Laila menyeret Kai menuju pintu keluar.


"Aku malah senang kalau kau di pecat, jadi kau bisa bekerja menjadi koki pribadi ku,"


Kaisar mengikuti kemana Laura menarik tangannya tanpa perlawanan sedikit pun, sungguh dia terlihat pasrah dan matanya hanya terus saja memandangi wajah panik Laila.


"Ada apa Laila?" Tegur Arga yang tiba tiba sudah muncul dari balik pintu.


"Emhhh... Anu,,, ini, maaf mas, ada tamu yang salah masuk ruangan sepertinya, katanya mau ke toilet, tapi malah masuk ke dapur," kilah Laila.


"Ishhh dia tidak salah masuk ruangan, memang dia mau ke dapur dan sudah izin pada ku!"


"Gue gak di izinin ketemu pak Darto sama dia." Tunjuk Kai menggunakan tangan kirinya karena tanpa sadar, Laila masih memegangi tangan kanan Kai.


"Pak Darto?" cicit Laila gugup.


"Hemhh,,, pak Darto," angguk Kai tersenyum jahil.


"Sudah lah Laila, lepaskan tangannya, sepertinya kamu masih trauma akibat bertemu orang gila tadi pagi di ujung gang rumah mu, sampai-sampai mencurigai orang tanpa alasan." Ujar Arga yang sontak saja membuat Laila makin panik.


"Orang gila?" Tanya Kaisar yang curiga kalau orang gila yang di maksud Laila adalah dirinya.


"Iya, tadi pagi sebelum dia berangkat ke sini katanya dia ketemu orang gila di ujung gang rumahnya, makanya dia bete parah, eh malah kebawa sampe siang ini, sorry ya bro!" terang Arga.


"Pasti orang gilanya ganteng, makanya sampe terbayang-bayang dari pagi sampe siang, hati-hati biasanya yang udah-udah bisa terbayang-bayang seumur hidup!" Kai melirik tajam ke arah Laila yang terlihat kikuk dan serba salah.


"Hahaha,,, persis! Tadi dia bilang terbayang-bayang terus si orang gila, terus gua bilang hati-hati ntar jatuh cinta sama orang gilanya." Arga terbahak karena ingat ucapannya tadi pagi saat meledek karyawannya itu.


"Setuju, aku sumpahin berjodoh sama orang gila itu!" Timpal Kaisar ikut terbahak, sementara Laila hanya memberengut kesal.

__ADS_1


"Wah rame sekali, baru pernah liat kamu tertawa seperti ini, ternyata ketampananmu bertambah seribu kali lipat jika tertawa seperti ini." Kini giliran Monik yang tiba-tiba menyela perbincangan hangat di depan pintu dapur itu.


Monik merasa trauma di tinggal Kai seperti saat mereka janjian untuk makan bersama waktu itu, makanya dia menyusul ke dapur.


"Tentu saja, hanya orang tertentu yang beruntung melihat senyuman dan tawa dia," ujar Arga.


"Semoga aku menjadi salah satu orang beruntung itu ya, oh iya setengah jam lagi kita ada rapat, sebaiknya kita kembali ke kantor." Monik menyunggingkan senyumannya yang paling manis untuk Kai, sementara yang di beri senyuman kini sudah mengatupkan kembali bibirnya dan kembali bersikap dingin.


"Aku masih ada sedikit urusan dengan pak Darto, kau tunggulah di depan!" Kata Kai mengusir Monik.


Arga yang mengerti kalau sahabatnya tak ingin berdekatan dengan Monik, langsung membawa wanita itu kembali ke depan.


"Eitss tunggu!" Kai menarik tangan Laila yang berniat meninggalkannya.


"Ada apa lagi?" Tanya Laila.


"Aku ada perlu dengan mu."


"Bukannya tadi kau ingin beremu pak Darto?"


"Asistennya pak Darto maksud ku," cengir Kai tanpa dosa.


"Ingat perjanjian kita, bantu aku lepas dari wanita tadi!"


"Wanita tadi? Dia wanita yang di jodohkan oleh ibu mu itu? Padahal cantik lho, se-ksi juga, kenapa gak mau?" tanya Laila sambil melirik ke arah pintu dapur yang terbuka, mencari sosok wanita tadi yang konon katanya di jodohkan dengan pria di hadapannya itu dari kejauhan.


"Bukan urusan mu, kau hanya perlu penuhi janji mu, kau lihat tadi seberapa akrab aku dengan bos mu? Aku bisa dengan mudah mengatakan profesi sampingan mu kapan saja," ancam Kai lagi.


"Iya,,,iya,,,iya,,, bawel amat jadi cowok, lagian cewek cakep pake di tolak-tolak segala, bikin ribet deh!" Gerutu Laila.

__ADS_1


"Terima kasih La, nanti sore tak usah bawa motor, aku jemput kamu di kontrakan, aku antar kamu ke klub!" ucap Kai lirih, dia tak mau siapa pun mendengar obrolannya dengan Laila.


__ADS_2