
"Hai Kai? Sama siapa?"
Baru saja Monik menghilang dari pandangannya, kini datang Mira si LC karaoke yang juga baru keluar dari tempat spa itu, ternyata benar kata Kaisar, dunia novel memang begitu sempit, sehingga harus bertemu dengan orang itu-saja 😁.
Mira yang datang dengan beberapa teman se-profesinya itu langsung mencium pipi kiri dan kanan Kaisar seolah ingin menunjukkan pada teman-temannya kalau dirinya se dekat itu dengan Kaisar si tamu pemegang black kard di klub mereka.
"Aku sedang menunggu calon istri ku!" jawab Kaisar asal, dia sengaja mengatakan itu agar Mira tak berlama-lama berada di dekatnya, apalagi penampilan Mira dan kawan-kawannya itu cukup mencolok dengan pakaian minim yang kekurangan bahan di mana-mana, membuat dirinya kini menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Oo,,,, calon istri, ya?" ucap Mira lirih, matanya melirik ke arah teman-tenya yang kini bebisik-bisik dan menertawakan dirinya yang tadi dengan sombong dan percaya dirinya menghampiri Kaisar seolah dirinya wanita yang paling penting dan paling mengenal Kaisar di antara para wanita di klub.
Dengan kesal Mira akhirnya pergi meninggalkan Kaisar sendirian, namun dia juga sedikit mengulas senyum, pernyataan Kaisar yang mengatakan kalau dirinya sudah mempunyai calon istri membuatnya merasa seperti menjadi kesenangan tersendiri bagi dirinya.
Seharian di manjakan dengan berbagai perawatan diri, berbelanja dan makan di resto mewah membuat Laila merasa menjadi ratu hari ini, dia tak tahu menahu tentang pertemuan Kaisar dengan Mira di tempat spa tadi, Kaisar hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan Monik dii sana.
"Kenapa sih, kok ga mau sama Monik? Dia cantik lho, anggun, elegan dan yang jelas dia pasti dari kalangan atas seperti mu, kan?" tatar Laila.
"Aku tak mencari pasangan dari kalangan mana pun, status sosial bagi ku itu tak penting, karena yang terpenting dari semuanya adalah hati, ketika hati ku mengatakan aku menginginkannya, maka siapapun dia akan ku perjuangkan." Ujar Kai di sela makan siang yang sudah kesorean itu, keasikan mengelilingi mall membuat mereka lupa harus mengisi perut.
"Ah basi! Cowok kaya kamu tuh yang penting cantik, seksi, iya kan?" ledek Laila.
"Wah, kalau itu sudah jelas, dan untungnya semua itu ada pada mu, cantik dan uhhh,,,," tatapan Kaisar liar menggoda.
__ADS_1
"Ish,,, dasar mata keranjang!" Laila melempar tisyu yang di remasnya.
Menghabiskan hari bersama Laila membuat Kaisar mendapatkan pengalaman lain dalam hidup yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya, jika sebelumnya para wanita yang di ajaknya kencan selalu jaim, tak ingin terlihat jelek, dan selalu dalam situasi yang formal, itu tidak dia dapatkan sama sekali dari seorang Laila, wanita itu terlalu unik di mata Kaisar, bagaimana bisa seorang wanita yang notabene dari kalangan 'biasa' dengan embel-embel wanita pekerja di hiburan malam yang kebanyakan terkenal dengan sifat matrealistisnya itu menolak saat dirinya menawarkan berbagai baju, sepatu dan tas bermerek padanya, padahal selama ini barang-barang itu yang selalu membuat wanita takluk dan bertekuk lutut padanya, tapi tidak dengan Laila.
"La, kenapa kamu menolak berbelanja tadi?"
"Aku tidak suka, itu pemborosan, sementara pake baju beli di online shop aja bisa dapat lebih murah, aku tak addict barang mahal dan mewah, karena pake barang yang biasa dan murah pun akan terlihat mahal dan mewah jika aku yang memakainya." Seloroh Laila di akhiri gelak tawa lepasnya.
Nyaman. Satu kata itu yang kini tengah rasakan Kaisar saat bersama sang biduan yang selalu menjadi dirinya sendiri saat sedang bersamanya, Laila tak perlu memakai topeng atau di buat-buat menjadi anggun dan elegan hanya untuk menarik perhatiannya, justru sikap cuek dan apa adanya itulah yang membuat Kai terpesona karena merasa Laila berbeda dari yang lain.
Seperti biasa, menjelang malam Kai mengantar Laila ke klub, sampai detik ini bahkan Laila tak tau kalau Kai adalah atasannya di klub, dia pikir Kai hanya mengantarnya lalu bersenang-senang, dan mereka pulang bersama.
Ini malam minggu, biasanya pengunjung klub akan lebih ramai dari weekday.
"Kai, pantas saja tak pernah lagi terlihat di karaoke, ternyata kini betah menonton wanita munafik itu." Tiba-tiba saja Mira duduk di kursi kosong sebelah pria yang matanya terus mengunci ke arah Laura yang sesekali melemparkan senyum ke arah penonton, namun bukan ke arahnya meski malam itu dia menyadari kalau Kai sedang menonton dirinya, tentu saja itu membuat hati Kaisar sedikit geram di buatnya, di tambah lagi kini Mira lagi-lagi mengganggu kesenangannya, sepertinya setelah kejadian tadi siang di spa, pemandu karaoke itu masih merasa penasaran dengan Kaisar yang seolah semakin menjaga jarak dan menjauh dari dirinya.
Bahkan khusus malam ini wanita itu meminta ijin pada Pras dan mami Dewi untuk 'bertugas' di area bar dengan alasan jenuh dan ingin penyegaran, padahal dia hanya ingin lebih dekat dengan Kaisar yang di ketahuinya akhir-akhir ini sedang dekat dengan Laura, beberapa kali dirinya memergoki Laura turun dari mobil Kaisar saat berangkat kerja dan begitu pun saat pulang kerja dia beberapa kali melihat Laura masuk ke dalam mobil mewah Kaisar, sementara dirinya sekali pun tak pernah berkesempatan masuk ke dalam mobil pria tampan itu, apa lagi sampai pergi bersamanya.
Mira yakin dengan sedikit rayuan, dirinya juga pasti akan mendapat kesempatan yang sama dengan Laura, bisa dekat dan pergi bersama Kaisar adalah kebanggaan tersendiri baginya untuk di tunjukkan pada teman-temannya, meskipun selama ini dirinya seringmenemani Kaisar di dalam ruang karaoke, dan bahkan beberapa kali menuntaskan hasrat kelelakiannya, namun jika di luar ruangan tempat bernyanyi yang tertutup itu Kaisar selalu acuh dan seolah tak mengenalnya, maka dari itu dirinya merasa sangat iri pada Laura yang bisa berkali kali di antar jemput oleh tamu prioritas klub itu.
"Kau lagi, kenapa kau di sini?" ujar Kaisar dengan malas.
__ADS_1
"Malam ini aku memang bertugas di sini, biarkan aku menemani mu seperti biasanya." ucap Mira tanpa malu-malu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Kaisar seperti yang biasa dia lakukan jika sedang di dalam ruangan karaoke.
Tadinya Kai hanya membiarkan saja kelakuan Mira seperti itu di bahunya, namun saat mata Laura tiba-tiba mengarah padanya dari atas panggung dan beberapa detik kemudian memalingkan mukanya, Kaisar dengan segera menjauhkan bahunya dari kepala Mira, membuat wanita itu hampir saja terhempas dari kursinya karena kehilangan sandaran.
"Aku sedang ingin sendiri!" tegas Kaisar, entah mengapa dirinya merasa tak enak hati dan tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman dengan pandangan Laura terhadapnya, dia seperti seorang kekasih yang sedang tertangkap basah oleh pasangannya sedang bermain wanita di belakangnya, padahal sebelumnya Kaisar tak pernah punya perasaan ketakutan seperti itu.
Mendapat penolakan yang lumayan cukup menyinggung harga dirinya, Mira bergegas pergi, dia hendak menenangkan diri di toilet, namun saat dirinya baru saja sampai di lorong toilet, dua orang pria tegap menyeret tubuhnya secara paksa ke ruangan sebelah toilet yang sepi, karena di sana merupakan ruang kontrol kelistrikan dan gudang, jadi jarang sekali orang berlalu lalang di sekitar tempat itu.
Dua pria itu cukup cekatan dan terlatih, sehingga sekuat tenaga Mira berontak tenaganya tak cukup kuat melawan, apalagi mulutnya juga di bekap dengan kecang, sehingga beberapa saat saja dirinya kini sudah berada di dalam gudang yang gelap dan pengap.
Samar-samar suara hak sepatu terdengar beradu dengan ubin, dan suaranya terdengar semakin mendekat, bau parfum mahal segera menyeruak di hidung Mira, meski mulutnya masih di bekam, terlihat samar bayangan seorang wanita berdiri di hadapannya, bekapan di mulut Mira pun terlepas setelah wanita itu memberi kode pada dua orang pria tegap itu.
"Si-siapa kalian? Lepaskan aku, aku akan bereriak jika kalian macam-macam!" ancam Mira.
Plakkk!!!
Pertanyaan Mira justru di jawab oleh sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya hingga pipi dan rahangnya terasa sangat panas kini akibat tamparan wanita asing di hadapannya.
"Jangan dekati Kaisar!" ucap wanita itu lugas.
"Apa urusan mu, aku dekat dengan siapa pun itu bukan urusan mu!" teriak Mira.
__ADS_1
"Baik, jika itu pilihan mu, kalian berdua, beri pelajaran wanita sialan ini, dan kalau perlu kalian pakai saja jal-lang ini sebagai hadiah untuk kalian berdua!" titah wanita itu lantas memutar tubuhnya menjauh dari ruangan gelap dan pengap itu meninggalkan Mira dengan dua pria yang siap menerkamnya malam itu.