
"Ada hubungan apa kamu sama kang Mamat mu itu sebenarnya?" tanya Kaisar dengan nada tak suka.
"Ishh,,, kan tadi udah di bilang kalau dia tetangga kampung ku, kami orang desa saling mengenal meski tak tinggal di satu kampung yang sama, gak kaya orang kota, sama tetangga sebelah aja gak kenal dan gak pernah saling sapa." Ujar Laura santai karena merasa memang antara dirinya dan Rahmat tak ada hubungan apa-apa.
"Kenapa cemburu?" Ledek Laura lagi sambil menahan tawanya.
Kaisar hanya membuang pandangannya jauh-jauh dari Laura yang seakan menertawainya, lagi pula kalau di pikir-pikir, sejak kapan seorang Kaisar merasa cemburu, apalagi itu hanya pada seorang asisten pribadinya yang jelas-jelas bukan saingannya, Kaisar menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali, merasa semakin hari kelakuannya semakin tak karuan dan di luar kebiasaannya.
"Kai, malam ini apa kamu bisa mengantarku ke klub?" pinta Laura.
"Aku sudah bilang untuk kau istirahat dulu selama 3 hari!" Protes Kaisar.
"Aku ke sana bukan untuk bekerja, tapi membawa ponsel ku yang tertinggal, sekalian ingin bertemu dengan mami Dewi sebentar, aku ada perlu dengannya."
__ADS_1
Kaisar terlihat berpikir beberapa saat sebelum akhirnya menyetujui permintaan Laura itu, lagi pula dirinya juga harus memeriksa beberapa dokumen yang belum selesai dia lihat dan periksa karena keburu ada insiden kecelakaan Laura.
"Oke, dengan catatan tak boleh jauh-jauh dari ku dan aku harus selalu ikut kemana pun kau pergi."
"Dih, apa-apaan! Kalo aku ke toilet kamu ikut juga, gitu?" Laura membeliak.
"Iya lah, kita tak pernah tau kamu akn di serang atau di celakakan di mana, di panggung yang rane aja bisa terjadi, apalagi di toilet yang sepi," ujar Kaisar keukeuh dengan pendiriannya.
"Ishh,,, untung pacar boongan, posesif nya gak ketulungan ini," gumam Laura tak bisa mengelak dari pada dia sama sekali tak di izinkan untuk ke klub.
Setiap bulannya Laura memang selalu mengirimi ibunya uang untuk biaya sekolah adiknya, meski ibunya selalu menolak bahkan melarangnya karena merasa kalau dirinya pun masih mampu untuk membiayai anak bontotnya itu, namun Laura selalu bersikeras mengirimkan sebagian uangnya untuk sang ibu setelah sebagian lagi di simpannya untuk mewujudkan impiannya membukakan warung kelontong untuk ibunya.
Kaisar benar-benar menempel terus kemana pun Laura pergi malam itu di klub, pria itu terus memasang matanya dengan awas ke sekeliling Laura,
__ADS_1
"Maaf, selain karyawan di larang masuk!" cegah Pras saat Kaisar hendak mengekor Laura memasuki ruang ganti karyawan untuk mengambil barang-barangnya di loker.
"Apa maksud mu?"
"Tulisan nya sudah sangat jelas tuan, hanya karyawan yang boleh masuk ke ruangan ini, meski pun anda adalah tamu prioritas, namun tetap saja anda tidak di izinkan untuk memasuki wilayah yang hanya di peruntukan bagi karyawan dan staf saja." Pras tetap tak mengizinkan Kaisar yang notabene adalah atasannya tanpa dia ketahui, sungguh hatinya masih sangat kesal dengan kedekatan Laura dengan Kai yang tidak dia tahu sebagai apa.
Hanya saja melihat Kai yang sepertinya terlihat akrab dengan Laura, wanita yang di taksirnyaa itu hatinya merasa panas dan marah, namun karena pekerjaannya sebagai manajer klub yang sungguh sangat sadar kalau tamu vvip atau tamu pemegang black card seperti Kaisar adalah aset penting bagi klub, dia tak berani berkutik, bahkan jika dirinya nekat untuk bermasalah dengan Kaisar, bisa di pastikan pak Wirya yang merupakan pemilik klub sekaligus paman dari istrinya itu akan lebih memilih untuk memecatnya daripada melepas keanggotaan Kaisar.
"Oke, aku tunggu di sini, tapi pintu tetap di buka agar aku bisa memantau keadaan Laura dan menjaganya dari sini." Kaisar mencoba mengalah meski ego di hatinya ingin sekali berteriak kalau dirinya adalah pemimpin di klub saat ini, namun Kaisar ingin melihat sejauh mana si Pras itu berlagak di hadapannya.
"Itu tugas kami, ada security, ada banyak karyawan lain dan juga ada saya yang pasti akan menjaganya, anda taknperlu repot-repot," Pras menyunggingkan senyum mengejeknya, seolah ingin mengatakan kalau kali ini dirinya lebih berkuasa atas diri Laura dengan embel-embel manajer, di banding Kaisar yang menurutnya hanya sebatas tamu.
"Cih, security, karyawan sebegitu banyaknya dan juga manajer klub semuanya tak bisa di andalkan, buktinya kemarin masih tetap kecolongan, kallau sampai aku melihat Laura terluka lagi, maka kau yang akan ku cari, Prasetyo!" geram Kaisar.
__ADS_1
Benar saja, belum kering bibir Kaisar berbicara, suara teriakan Laura membuat dua pria yang sedang bersitegang di depan pintu itu terlonjak kaget dan berhamburan berlari menuju ke arah dalam ruangan dimana Laura berada.
Dua pria itu seakan sedang mengikuti lomba lari maraton berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan apapun juga, mereka benar-benar menghawatirkan keadaan Laura di dalam sana, kecelakaan yang terjadi kemarin membuat dua pria itu seakan paranoid akut dan cemas berlebihan.