Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Kesempatan


__ADS_3

"Kai, bisa gak kalau otak mu itu agak di warasin dikit aja, kenapa sih kamu bikin malu ibu, kamu ninggalin Monik di kafe, kan?" omel Dara saat anaknya itu pulang ke rumah setelah meninggalkan gadis yang di jodohkan padanya.


"Bu, aku sudah bilang kalau aku gak mau di jodohkan, aku bisa cari pasangan sendiri, lagian, kemaren Arga naksir cewek itu, sebagai sahabat yang baik, aku mengalah," kelit Kai beralasan.


"Cari sendiri, cari sendiri, kapan? Lebaran monyet? Lagian cewek kok main kasih-kasih aja sembarangan ke orang lain," gerutu Dara.


"Bu,,, Arga itu bukan orang lain, dia sahabat Kai, dia juga gak kalah oke dari Kai, mending jodohin sama Arga aja deh tuh cewek, bukan tipe ku sama sekali, dadanya rata!" oceh Kai dengan santainya sambil menyambar sebuah piring dan mengisinya dengan makanan yang tersedia penuh di meja makan rumahnya.


"Ish,, nih anak segala dada rata jadi alasan, siang ini gantikan ibu meeting, dan untuk satu bulan ke depan kamu urus perusahaan, ibu harus ke Singapur selama satu bulan, ngurus perusahaan yang di sana." Kata Dara tanpa menerima bantahan.


"Lah, sebulan?" pekik Kai sangat ingin protes, namun dia tau bagaimana sifat ibunya yang keras dan tak bisa di tentang keinginannya, jadi tidak ada pilihan lain baginya selain menuruti permintaan ibunya itu, toh hanya sebulan saja, dia juga sudah biasa menggantikan pekerjaan ibunya di kantor jika ibunya ada kepentingan beberapa hari ke luar kota, atau saat ibunya sedang tak enak badan.


"Lakukan dengan baik, dan saat ibu kembali, ibu harap ada kabar baik juga mengenai hubungan mu dengan Monik, Ibu terbang nanti malam." kata Dara lugas.


Kaisar hanya bisa mengagguk sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Untuk masalah perusahaan yang di titipkan padanya mungkin dengan tegas Kai akan mengatakan kalau dia akan menjalankan perintah ibunya itu dengan sepenuh hati, namun masalah Monik, wanita yang di jodohkan dengannya itu, dia tak berani berjanji apapun.


"Rahmat akan membantu mu dalam semua hal, dia asisten pribadi mu sekarang." Kata ibunya lagi.

__ADS_1


"Asisten apaan, bilang aja dia cepu yang sengaja ibu tanam agar bisa memata-matai kehidupan ku!" cebik Kai yang sudah sangat paham dengan jalan pikiran ibunya.


**


Seminggu berlalu sejak kepergian ibunya ke luar negeri, seminggu pula lamanya Kai tak sempat menyambangi klub malam yang biasanya menjadi rumah kedua baginya, kesibukannya di kantor membuat dirinya lelah dan tak ada tenaga untuk melakukan aktifitas lain selain tidur saat malam hari datang.


Tok,,,tok,,,tok!


Suara ketukan pintu ruang kerjanya membuat dirinya berhenti sejenak dari kesibukannya memeriksa dokumen yang menggunung di mejanya, setelah di persilakan masuk, Monik berjalan medekati ruang kerjanya dengan secangkir kopi di tangannya.


Logikanya seorang wanita dengan lulusan terbaik universitas terkemuka luar negeri dengan latar belakang keluarga yang berada dan juga mempunyai perusahaan sendiri meski tak sebesar perusahaan peninggalan ayahnya, namun mau-maunya bekerja menjadi sekretaris pribadi untuk Kai, jelas ada udang di balik bakwan, kan? Pikir Kai.


"Aku tak meminta untuk di bikinkan kopi," ujar Kai dengan nada yang dingin dan tatapan mata tak bersahabat.


Sikap dingin tak bersahabat itu sengaja Kai tunjukkan pada Monik agar wanita yang di jodohkan padanya itu tau kalau dirinya tidak ingin menjalin hubungan lebih dekat dengannya, namun sepertinya Monik tipe wanita yang pantang menyerah, dia tak pernah mundur sedikit pun meski mendapatkan respon kurang menyenangkan dari Kai, bahkan beberapa kali pernah mendapat marah dari Kai hanya karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan bosnya yang sedang dia dekati itu.


Tentu saja itu Kai lakukan agar Monik tak betah bekerja dengan nya dan memutuskan untuk mengundurkan diri, namun nyatanya wanita itu seperti bebal, Monik sudah terbius dengan wajah tampan dan tubuh atletis Kaisar, sehingga bagaimana pun caranya perjodohan ini harus terlaksana dan Kaisar harus menjadi miliknya, bagaimana tak dia perju7angkan setengah mati, selain wajah dan tubuhnya yang memanjakan mata, kekeyaannya juga pasti akan menjamin dirinya seumur hidup berada dalam kemewahan.

__ADS_1


"Kata OB, biasanya jam segini kamu minum kopi,"


Ujar Monik agak gugup.


"Itu biasanya, hari ini aku sedang tidak biasa dan tak ingin kopi, dan biasakan untuk memanggil ku dengan sebutan Pak, jika di kantor, aku atasan mu!" ketus Kai, lantas memalingkan lagi wajahnya ke tumpukan map di hadapannya.


"Baik pak, saya hanya ingin menyampaikan jika Pak Wirya pemilik klub Z ingin bertemu dengan anda sore ini," lapor Monik.


"Klub Z?" beo Kai.


Entah mengapa mendengar nama klub Z, justru yang ada di kepala Kai saat ini adalah Laura si biduan cantik yang membuatnya merasa penasaran sekaligus kesal karena dia menjadi satu-satunya wanita yang berani menolak bertemu dengannya.


"Iya pak, klub Z, katanya ingin berbicara terkait penawaran penanaman modal yang berkas proposalnya sudah di kirim sejak sebulan yang lalu, namun sampai saat ini belum ada feedback."


Kai menarik ujung bibirnya ke atas, senyum samarnya nyaris tak bisa terlihat oleh Monik.


"Carikan proposal itu dan bawa ke sini segera!" titah Kai, pucuk di cinta ulam pun tiba, akhirnya Kai bisa mengobrak abrik dan berkuasa di klub Z, jika dirinya bisa menanamkan modal di sana, sudah dapat di pastikan si biduan angkuh itu tak akan bisa lagi menolak permintaan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2