
"Hai, pacar!" Sapa Kai mengagetkan Laura yang baru saja keluar dari gang kontrakannya pagi itu, hampir saja motornya menabrak tong sampah yang berada di ujung gang sempit yang hanya muat satu sepeda motor saja itu.
"Ih, ngapain sih, pagi-pagi ngagetin aja!" Omel Laura.
"Aku menyapa pacar ku sebelum berangkat kerja, biar kerja ku semangat." Ujar Kai dengan santainya bersandar di kap mobil mewahnya.
"Ish,,, lebay!" Laura yang kini sedang menjadi Laila itu memutar bola matanya kesal, entah dari mana Kaisar mengetahui alamat kontrakannya, padahal rasa-rasanya dia sudah sangat merahasiakan tentang tempat tinggalnya itu, hanya dari siapapun, hanya mami Dewi dan Pras yang tau karena untuk kepentingan kantor, selain itu tidak ada lagi yang mengetahuinya.
Sementara bagi Kai, hanya mencari tahu tempat tinggal bahkan biodata lengkap Laura itu hal yang sangat mudah baginya, apalagi saat ini dirinya sudah bisa mengakses data karyawan klub dengan jabatannya di sana.
"Laila Utami Putri,,, hati-hati di jalan, dan sampai jumpa!" Teriak Kai.
Mendengar Kai meneriakan nama asli dan lengkapnya membuat Laura sontak mengerem laju motornya seketika, wajahnya berpaling ke belakang menoleh ke arah Kai yang sedang menatapnya dengan seringai jahilnya.
Ingin sekali Laura memaki pria berwajah tengil itu, lantas menanyakan dari mana dia tau nama lengkap dan alamat dirinya, nakun sayangnya mengingat dia di buru waktu dan harus segera sampai ke kafe, terpaksa dia mengabaikan Kai yang kini tersenyum penuh kemenangan itu dan melanjutkan laju motor matik kesayangannya itu.
__ADS_1
"Ada apa sih Lalila, baru dateng udah cemberut aja?" Sapa Arga yang kini sedang memeriksa dapur kafe nya.
Kegiatan ini memang biasa Arga lakukan, meski sudah ada penanggung jawab masing-masing bagian, dia akan tetap turun tangan memastikan dan mengcek semua hal sendiri, bukannya dia tak percaya dengan pekerjaan para karyawannya, tapi lebih ke dia akan merasa tenang jika dirinya bisa memastikannya sendiri, Arga benar-benar bukan tipe atasan yang bersifat bossy, dimana apa-apa bisa dia kerjakan bahkan untuk mencuci piring sekalipun jika keadaan sedang benar-benar ramai dan pekerjanya kewalahan. Itu lah yang membuat Laura kesengsem dengan Arga, si bos tampannya yang pekerja keras dan tak pernah macam-macam itu.
"Ah, gak apa-apa mas, hanya saja tadi baru keluar dari rumah udah apes ketemu orang gila di ujung gang, udah gitu mukanya tengil dan ngeselin pula!" Urai Laura berapi-api, apalagi saat tiba-tiba wajah tengil Kaisar tiba-tiba muncul di pelupuk matanya tanpa permisi, membuat Laura menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha menepis dan mengusir Kai dari pikirannya.
"Kenapa lagi?" Arga terlihat kebingungan melihat kelakuan konyol Laura yang tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya dan lalu tubuhnya bergidik seperti melihat sesuatu yang tak ingin di lihatnya.
"Saya masih terbayang wajah orang gila itu mas, ihhhh!" lagi-lagi Laura bergidik ngeri.
"Ih bos, itu orang gila lho ya, masa iya saya jatuh cinta padanya, kalau sama mas bos, lah itu baru masuk akal." Ujar Laura mengungkapkan kejujuran yang di balut candaan, permainan yang biasa di mainkan oleh orang-orang payah yang tak percaya pada dirinya sendiri.
Jam makan siang adalah jam sibuk di kafe milik Arga itu, berada di tempat yang lumayan strategis, membuat kafe itu tak pernah sepi jika di jam-jam makan siang seperti ini.
"Hai bro!" Sapa Kaisar siang itu yang sengaja datang ke sana untuk makan siang atau malah sengaja hanya untuk beremu dengan kekasih pura-puranya itu, namun sayangnya Laura hanya pekerja dapur yang sangat tak mungkin Kai temui di bangunan depan tempat para tamu duduk menikmati hidangan yang mereka pesan.
__ADS_1
"Wah, dalam rangka apa lkau rapi gini datang ke sini?"
"Dalam rangka istirahat jam makan siang kantor." Jawab Kai asal, matanya melirik ke arah Monik yang sudah terlebih dahulu duduk dan memesan makanan untuknya.
"Wuiiiih, makin lengket kau rupanya dengan wanita yang di jodohkan dengan mu itu." ledek Arga dengan dagu yang segaja dia majukan ke arah Monik yang duduk di pojokan kafe.
"Lengket-lengket gundul mu? Dia terus menempeli ku kemana pun aku pergi, tolonglah lepaskan aku dari wanita itu!" Mohon Kaisar dengan mengiba.
"Kenapa aku terus sih, yang di repotin? Lagi rame nih,!" Arga merasa kesal, karena lagi-lagi si sahabat arogantnya ini meminta pertolongan justru di saat pengunjung sedang ramai-ramainya.
"Tolong lah" Suara Kaisar kini menjadi sangat parau dan melemah, dia tau betul kelemahan sahabatnya yang selalu merasa tak tegaan itu.
Tepat seperti dugaannya, se-sibuk dan se -apapun dirinya, Arga
Pasti akan menolong Kai, si sahabat tengilnya itu, apalagi jika Kai sudah memasang wajah memelas dan penuh permohonan seperti itu.
__ADS_1