Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Dia kekasih ku


__ADS_3

"Pak Pras, anda---?" Laura tak sanggup menyelesaikan kata-katanya, rasanya itu sangat tidak bisa dia percaya, kalau seorang Prasetyo yang selalu baik padanya selama ini tega berbuat se-jahat itu pada nya.


"Maafkan aku Lau, aku tak suka kamu dekat-dekat dengan dia, sementara selama ini kamu tak pernah menanggapi perasaan ku," jujur Pras.


"Pak, anda sudah beristri, saya tak akan pernah mau menjadi perebut suami orang,"


"Lantas apa bedanya dengan dia yang juga sama-sama sudah mempunyai calon istri? Itu sama saja kamu menjadi orang ke tiga di antara mereka," Prasetyo tetap tak ingin ucapannya terbantahkan.


"Pak, apa kejadian kemarin di panggung itu juga ulah bapak?" dengan sangat hati-hati Laura akhirnya menanyakan hal yang menjadi ganjalan dalam hatinya saat ini.


"Demi Tuhan bukan aku! Aku tak mungkin mencelakai mu, aku hanya menaruh bangkai itu agar dia semakin terpojokan," akunya.


"Mana ada maling yang ngaku La, sudah lah tak usah kebanyakan cingcong, lu milih keluar dari klub ini atau gue laporin ke polisi?" stok sabar Kaisar sepertinya memang benar-benar sudah habis dan tak bisa mentolerir lagi kelakuan Prasetyo.


Dengan perasaan jengkeldan tentu saja marah bercampur malu Prasetyo melangkah keluar dari ruangan itu di iringin tatapan yang entah berarti sebagai tatapan apa dari para karyawan yang tiba-tiba berkerumun lagi di ruangan itu dan saling berbisik membicarakan tentang apa yang terjadi pada Pras, mereka juga nyaris tak percaya kalau Kaisar yang selama ini mereka anggap sebagai tamu biasa itu ternyata adalah atasan mereka, meskipun mereka tak begitu mendetail tau kalau kepemimpinan Kaisar di sana hanya sementara.

__ADS_1


"Bubar semua, dan kembalilah kalian bekerja!" ujar Kaisar memerintahkan para karyawan untuk pertama kalinya secara langsung sebagai bos besar mereka.


Tanpa banyak protes dan perlawanan mereka langsung membubarkan diri untuk yang keedua kalianya, kebenaran tentang Pras yang tiba-tiba di pecat karena kelakuan jahatnya melakukan ancaman ter ror pada Laura langsung menyebar luas di antara para pegawai, tak terkecuali Wirya yang masih sering memantau perkembangan klub miliknya itu pun tak luput dari berita mengagetkan dirinya itu, wajar saja, karena selain Prasetyo adalah suami dari keponakannya, pria itu juga menaruh kepercayaan yang sungguh besar pada Pras selama ini untuk menjadi manajer, sebagian banyak urusan klub termasuk urusan keuangan memang Wirya percayakan pada Pras, namun kali ini Pras malah di berhentikan begitu saja oleh Kaisar tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu.


"Ya Paka Wirya, sebaiknya kita berbicara di klub saja, saya tunggu." pungkas Kaisar mengakhiri pembicaraan nya dengan Wirya di telepon.


Tentu saja Wirya akan membicarakan perihal pemecatan suami keponakannya itu, dan Pras juga pasti tak akan tinggal diam, saat ini dia pasti sudah mengadu pada pamannya itu atas tindakan Kaisar yang menurutnya sewenang-wenang.


Benar saja kurang dari satu jam Wirya, beserta Prasetyo dan juga Novi istrinya Pras datang bergerombol ke klub, lebih tepatnya ke ruangan Wirya yang kini menjadi ruangan kerja Kaisar untuk satu bulan kedepan.


Sebelumnya Laura juga sempat beradu argumen dengan Kaisar perihal pria itu yang ternyata diam-diam menjadi atasannya di klub, Laura merasa Kaisar terlalu jauh mencampuri hidupnya, namun di sisi lain dia juga merasa tersanjung dengan usaha Kai yang sampai sejauh itu hanya demi agar lebih dekat dengan dirinya.


"La, tetap di sini!" cegah Kaisar menahan langkah Laura untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ini pembicaraan rahasia antar atasan, untuk apa pegawai rendahan seperti dia ikut berada di sini?" sinis Novi, matanya memandang sinis ke arah Laura yang selama ini sangat tak di sukainya, selain karena gosip di antara para karyawan tentang kedekatan Pras dengan Laura, yang sampai ke telinganya, Novi juga akhirnya mengetahui jika kasus suaminya yang di hadapi kini yang menyebabkan sampai pria itu kehilangan pekerjaannya ternyata ada sangkut pautnya dengan Laura juga, maka bertambahlah rasa benci Novi pada biduan cantik itu.

__ADS_1


"Maaf jika memang seperti itu aturannya, maka aku minta orang luar pun jangan ikut berada di ruangan ini, karena ini urusan intern klub." sambar Kaisar seolah ingin mengatakan kalau Novi di sini bukan siapa-siapa dan hanya orang luar.


"Aku keponakan pemilik klub, dan aku juga istri dari orang yang anda pecat tadi tuan!" kesal Novi, sebenarnya dia sejak tadi dia mencuri-curi pandang ke arah Kaisar, dan dalam hatinya memuji ketampanan Kaisar.


"Asal anda tahu keponakan pak Wirya, selain karyawan di klub ini, Laura juga kekasih ku, dan keselamatannya sedang terancam saat ini, jadi aku ingin dia tetap berada di sini, apalagi ada suami mu di sini, aku tak yakin akan keselamatan kekasih ku!" Kaisar tak kalah sinisnya, membuat Pras yang biasanya berani menjawab kini mati kutu saat berada di hadapan intrinya, dia juga bahkan tak berani menoleh ke arah Laura.


Kaisar menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya seraya menyuruh Laura untuk duduk di dekatnya.


"Sudah tak perlu berdebat lagi, aku hanya ingin mengatakan pada mu kalau kau boleh memecat karyawan lainnya jika bermasalah, tapi untuk Pras, harusnya kamu tau dia siapa dan sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan ku, jadi aku harap kamu cabut kembali pemecatan mu pada Pras, karena aku sangat percaya padanya, untuk urusan pekerjaan dia baik, namun urusan pribadi antar kalian sebaiknya jangan di campur adukan dengan masalah pekerjaan!" pinta Wirya yang intinya meminta untuk Pras kembali bekerja di klub dan Kai menarik kata-katanya.


"Dia baik dalam urusan pekerjaan? Oke, silakan lihat laporan ini, kita lihat apa pandangan anda pada suami keponakan anada ini akan berubah atau tidak, dan setelah itu baru kita berdiskusi lagi." seperti biasanya, Kai berteka teki sambil menyodorkan sebuah map pada Wirya untuk di lihat dan di baca.


Hanya membuuhkan waktu kurang dari sepuluh menit kertas-kertas dari dalam map yang kini dalam genggaman Wirya dan sedang di bacanya itu langsung membuat wajah Wirya memerah, raut kekesalan dan kemarahan sungguh sangat jelas terlihat di sana.


"Pras!" geramnya sambil matanya memicing tajam ke arah suami dari keponakannya itu, sementara Pras yang tak tau apa-apa hanya bisa bingung melihat reaksi pamannya itu, dia tak tau apa yang membuat Wirya se begitu marahnya padanya.

__ADS_1


__ADS_2