Sang Bintang Pentas

Sang Bintang Pentas
Lala?


__ADS_3

Laila pikir ucapan Kaisar tadi siang hanya gurauan semata, namun saat dirinya keluar dari gang kontrakannya Kaisar benar-benar sedang menungguinya, posisinya tepat seperti saat tadi pagi pria itu berdiri menyandar di mobil mewahnya.


'"Ish,,, sudah ku bilang tak usah bawa motor, kok ngeyel amat sih!" gerutu Kai seraya menjegal laju motor Laila dari depan dengan memegangi stang sepeda motor matik berwarna pink itu.


"Apaan sih, minggir!" kesal Laila.


Tak banyak bicara lagi, Kai mendekati motor yang di tumpangi Laila dan mencopot kuncinya,"Turun!" titahnya.


Anehnya Laila juga menurut begitu saja,


"Eeehh,,, mau di bawa kemana motor ku!" pekik Laila saat Kaisar menaiki motornya dan masuk ke gang sempit yang menuju ke kontrakannya.


Beberapa menit kemudian Kai terlihat berjalan keluar dari gang mendekati Laila yang masih kebingungan dengan sikap Kaisar yang sungguh selalu membuatnya mengelus dada itu.


"Nih, motor mu udah aku masuki ke garasi kontrakan mu, ayo berangkat!" Kai memberikan kontak motor dengan gantungan hello kitty itu.


"Memangnya kamu tau dimana kontrakan ku?" tanya Laila yang langsung di angguki dengan cepat oleh Kai.


"Ishh,,, kamu memata-matai ku?" Laila bergidik ngeri, tiba-tiba dia menjadi begitu takut dengan Kai yang seakan tau segalanya tentang dirinya.


"Tak perlu memata-matai mu hanya untuk tau dimana kontrakan mu," ujar Kai dengan sombongnya.


Tak berapa lama mereka sampai di pelataran parkir klub,


"Sudah sudah, sampai sini saja. Aku gak mau kalau orang-orang klub sampe lihat aku di antar tamu, bisa rame ntar!" oceh Laila.


"Aku bukan tamu, aku kan---" hampir saja Kai keceplosan kalau dirinya kini pimpinan di klub.

__ADS_1


"Apa?"


"Aku kan kekasih mu!" sambung Kai dengan senyum jahilnya.


"Ish,,, pede amat." Laila hanya mengerling sambil turun dari mobil seraya mengamati sekitar parkiran, memastikan kalau tak ada yang melihat dirinya turun dari mobil Kaisar.


"La,,,,!" Panggil Kaisar, membuat Laila spontan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah jendela mobil yang kini terbuka setengahnya.


"Ntar nyanyiin lagu melukis senja ya, aku suka!" Kata Kaisar.


"Gak janji ya, gimana ntar, deh!" Laila melengos melanjutkan langkahnya, sejenak dia merutuki dirinya sendiri yang spontan menoleh saat Kaisar manggilnya, padahal dia bisa saja mengabaikan panggilannya, kan?


Entah bagaimana ceritanya dia kini bisa terjebak dalam skenario drama yang di tulis Kaisar, pria asing yang tiba-tiba memproklamirkan dirinya sebagai kekasih, dan banyak tau tentang hal-hal dirinya yang tak banyak orang lain tau seperti nama aslinya, alamat kontrakannya, bahkan sampai kini Laila bingung dari mana Kaisar tau tentang semua itu.


Sementara dari ujung bangunan parkiran karyawan, sepasang mata ternyata sejak tadi memperhatikan gerak gerik Laila, bahkan dia sempat melihat dari kejauhan kalau biduan yang terkenal paling anti berurusan dengan tamu dan selalu sok jual mahal itu di antar oleh tamu klub.


"Cih, dasar sok suci!" Decihnya dengan wajah jijik.


Untuk pertama kalinya pria tampan itu datang ke klub bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk bekerja, matanya sibuk mengamati deretan angka yang terpampang di layar monitor lebar di hadapannya, namun sesekali matanya juga melirik monitor kecil di sebelahnya yang menampakan pantauan cctv di berbagai ruangan, tapi kali ini hanya menampilkan cctv yang menyorot ke arah panggung dimana tempat biduannya pentas saja.


Beberapa kali Kai terlihat menyunggingkan senyumnya saat melihat Laila bernyanyi, dan berinteraksi dengan para pengunjung, dia begitu anggun dengan dress biru tua se-mata kaki dengan heels berwarna senada.


Kaisar juga menghentikan kegiatannya memeriksa laporan bulanan klub saat tiba-tiba Laila benar-benar menyanyikan lagu yang di mintanya tadi saat di parkiran, hatinya menghangat, entah mengapa di kepalanya kini penuh sesak dengan bayangan-bayangan tentang Laila, wajahnya, senyumnya, marahnya, membuat Kaisar menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Arrrgghh,,, sepertinya aku mulai gila, aku benar-benar gila seperti yang tadi dia adukan pada Arga."


Sungguh perasaan seperti ini baru pernah Kaisar alami, selama ini semua wanita di matanya sama saja, sebagai pemuas nafsunya, sekedar pakai, bayar, dan selesai.

__ADS_1


Selalu terpatri prinsip dalam hidupnya, selama masih banyak penjual sate kambing, buat apa memelihara kambing, merepotkan.


Itu makanya dia tak pernah sekalipun merasa jatuh cinta, jika pun dia pernah pacaran beberapa kali dengan artis dan model, itu hanya sekedar untuk gengsi dan kepuasan tersendiri saja, rata-rata semuanya tak ada yang bertahan sampai satu bulan.


Tin,,,Tin,,,!


Suara klakson mobil mengagetkan Laila yang baru saja hendak masuk ke dalam taksi online yang di pesannya, sejak tadi dia kebingungan saat hendak pulang kerja, dia baru sadar kalau dia tak membawa motor gara-gara Kaisar.


Saat sadar kalau yang berada tepat di belakangnya itu adalah mobil Kaisar, justru Laila malah sengaja masuk ke dalam taksi yang di pesannya, dia mengabaikan Kaisar yang terus membunyikan klakson mobilnya berharap dirinya menghampiri dan ikut masuk ke dalam mobilnya, namun kali ini Laila tak ingin kalah begitu saja.


Baru saja Laila tersenyum bangga karena berhasil mengabaikan Kaisar, tiba-tiba taksi yang di tumpanginya mengerem dengan tiba-tiba.


Tak lama seorang pria tampan yang menghalangi laju taksi yang di tumpanginya itu mengetuk jendela kaca pintu mobil yang berada tepat di samping kiri Laila.


"Mas jangan macam-macam, saya bisa teriak dan laporkan mas ke polisi atas tindakan mas ini!" Ancam sopir taksi itu merasa bertanggung jawab atas keselamatan penumpangnya.


"Diam, dia istri ku, jangan ikut campur, iniongkos mu, dia pulang bersama ku!" Kaisar memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari jendela yang kini terbuka, lantas membawa paksa Laagar turun dari taksi dan ikut bersamanya.


"Istri,,,istri apaan sih, kamu selalu seenaknya seperti ini, aku bukan budak mu!" kesal Laila.


"Aku sudah bilang kalau aku akan mengantar dan menjemput mu, ingat perjanjian kita,"


Laila terdiam saat di ingatkan lagi tentang perjanjian yang terjadi akibat kecerobogannya itu.


"Lala, kamu tadi nyanyiin lagu yang aku minta gak?" Kai memecah kesunyian di tengah dia asik berkendara dini hari itu.


"Gak!" jawab Laila berbohong, tentu saja Kai hanya tersenyum karena tadi Laila bahkan menyanyikannya penuh penghayatan.

__ADS_1


"Lagian kenapa sih manggil aku Lala, nama ku Laila atau Laura, main ganti-ganti nama orang aja!" masih dalam mode kesal.


"La untuk Laura penyanyi yang aku sukai suaranya, dan La untuk Laila asisten koki yang aku sukai semangat kerja kerasnya." Terang Kaisar yang lantas membuat pipi Laila terasa panas dan memerah karena ucapan Kaisar padanya, terlepas dari benar atau hanya gombal, namun itu berhasil membuat darah Laila berdesir hebat.


__ADS_2