Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Part 10 Dituduh Mencuri


__ADS_3

Haruk melanjutkan langkahnya menelusuri hutan rimba yang panjang dan melelahkan. Entah sudah berapa hutan dan perkampungan penduduk yang di lewatinya hanya berjalan kaki hingga sampailah Ia di sebuah pedesaan berikutnya. Disana Haruk bertemu seorang kakek tua yang tengah duduk bersila sambil menyesapi secangkir air.


Didekatnya Kakek tua itu duduk, Haruk melihat sembilan parang berkarat tanpa garan yang mungkin sudah tidak berguna lagi bagi si kakek Tua itu. Timbulan rasa keinginan Haruk untuk memilikinya. Meski ragu di berikan oleh si Kakek tua, Haruk memberanikan diri untuk bertanya.


Ia menganggap parang itu kelak akan sangat berguna untuknya, Haruk pun pelan-pelan mendekat untuk menawar parang tersebut dari sang Kakek tua.


"Kakek, Kakek, apa parang itu masih di pakai. Jika tidak berguna bolehkan buat saya saja. Saya sangat membutuhkannya untuk gaman (senjata)?" Tanya Sang Haruk sopan.


"Ambilah, asal kau bayar dengan satu keping uang logam," jawab Sang Kakek dengan mudahnya. Ternyata beliau benar-benar tidak membutuhkan benda itu lagi.


"Terima kasih Kakek, ini sangat berarti untuk saya," jawab Haruk senang. Ia pun segera menyerahkan uangnya dan membawa parang itu pergi.


Tak mampu lagi menahan lapar, Haruk berpikir untuk membeli makanan sebentar saja di sebuah warung yang berada tepat di tepi jalan. Ramai orang datang untuk menikmati makanan di sana. Haruk sendiri tidak kepikiran dimana Ia berada sekarang, bahkan tak ada niat untuk bertanya pada penduduk setempat. Sebab belum bertanya saja, tatapan mereka seolah penuh kebencian terhadapnya.


"Gorengan ini berapa Bibi?" Tanya Sang Haruk pada seorang Ibu penjual yang tampak disibukkan melayani pelanggannyq.


"Eh, siapa kamu, orang gila ya?" Tanya perempuan paruh baya itu. Ia menodong Haruk dengan tatapan sinis karena penampilannya macam gembel.


"Bukan Bibi saya mau beli gorengan saja," jawab Haruk. Ia melihat-lihat banyak sekali makanan enak yang ada disana. Namun sayang uang yang dimilikinya sangatlah terbatas. Terpaksa Haruk harus puas dengan hanya meleguk salivanya dan membeli apa yang mampu Ia dapatkan.


"Punya uang berapa?" Selidik sang pedagang pada Sang Haruk.


Pemuda itu mengeluarkan satu keping uang logam yang Ia berikan pada penjual warung tersebut.

__ADS_1


"Baiklah ambil dua biji," tukasnya seraya merebut uang sang Haruk.


Pemuda itu menurut, Ia pun mengambil apa yang di perintahkan dan menyantapnya dengan lahap di tempat itu sampai datang seorang anak kecil yang juga ingin membeli.


"Bi, gorengannya berapa?" Tanya anak kecil tersebut.


"Satu keping uang logam 5 biji," jawab Bibi itu berubah ramah tamah.


Jawaban itu membuat Sang Haruk tidak terima, bagaimana mungkin Bibi menjual dengan harga berbeda dari dirinya kepada orang lain.


"Maaf Bibi, kenapa aku dan dia berbeda?" Protes Sang Haruk. Sebab Ia juga belum kenyang hanya menyantap 2 biji gorengan tadi.


"Emangnya kenapa? Yang jual saya, suka-suka lah mau saya jual berapa ke kamu. Masih mending saya kasih kalau tidak kamu mau mati kelaparan," hardik perempuan paruh baya itu tanpa ada baik-baiknya.


"Hei, Hei, pencuri, tolong itu pencuri," tuduh sang penjual sambil berteriak-teriak memfitnah sang Haruk.


Seluruh orang yang ada disana jadi berlarian mengejar sang Haruk hingga melemparinya batu dan ranting. Namun Haruk tidak perduli, Ia terus berlari sambil melahap gorengan tersebut sampai tandas dan dengan kecepatan kakinya Ia masuk lagi kedalam hutan belantara.


Yakin tidak ada lagi yang mengejar, Haruk merebahkan tubuhnya di tanah untuk melepas lelah.


"Apa salahku ya Rabb, kenapa semua orang mengucilkan keberadaanku," kelu Sang Haruk meratapi kemalangan nasibnya yang tidak seberuntung orang lain. Kadang terselip rasa iri kenapa orang bisa hidup enak dan mampu membeli segalanya sedang kan dia tempat tinggal saja tidak punya.


Tanpa terasa air mata sang Haruk berderai meratapi kemalangannya. Hidup tanpa orang tua maupun sanak saudara menjadikan Ia hidup luntang lantung tanpa arah dan tujuan yang jelas.

__ADS_1


Belum lagi Ia masih bingung bagaimana caranya bisa mendapatkan keuntungan yang besar sedang Ia tidak pandai berjualan. Belum lagi uang logam itu mau di belikan apa Ia juga tidak tahu. Pasti uang tersebut tidak akan cukup jika Ingin di belikan pakaian di pasar.


Lama merenung seorang diri, Haruk menguatkan kakinya lagi untuk melangkah menjauhi perkampungan itu sampai ke dasar hutan. Di tengah-tengah pohon nanas di lihatnya lah ada buah yang sudah masak dan itu satu-satunya disana.


Tanpa pikir panjang, Haruk segera menggunakan parang karatan yang di bawanya untuk memotong buah itu. Siapa sangka, meski karat-karatan parang tersebut sangatlah tajam dan ringan ketika di ayunkan.


Perasaan Haruk menjadi sangat bahagia, Ia hanya memakan nanas itu sedikit untuk bekalnya dalam perjalanan yang di rasa masih sangat panjang. Berharap Ia akan menemukan buah-buahan lainnya di hutan belantara tersebut supaya bisa mengurangi kelaparan.


Pada masa itu masih banyak pohon-pohon besar tumbuh di hutan. Banyak juga suara-suara hewan yang terdengar asing bagi Sang Haruk. Sesekali Ia melihat ada kera melintas tengah bergelayutan di atas dahan. Kadang juga ada rusa lari masuk ke semak belukar.


"Hoy, hewan liar bersahabat lah denganku. Karena aku bukan musuh kalian," sapa sang Haruk.


Teriakannya yang melengking, membuat burung-burung di atas pohon seketika berterbangan seolah takut dengan kedatangan nya. Mereka terbang menjauh entah kemana.


Haruk mengembangkan sedikit senyum, itu adalah keindahan alam yang baru pertama Ia jumpai sepanjang perjalanan. Tak terlintas sedikit pun untuk menyapa para hewan itu di hutan sebelumnya.


Ia pun Kembali mendongakkan kepala melihat pohon-pohon itu begitu rimbun. Matahari saja kesulitan menembus ke antara celah dedaunan.


Di ujung pohon jati, Ia mendapati seekor ular piton melingkar di batangnya seukuran ban gerobak. Ngeri jika di lihat tapi Haruk menganggap mereka semua adalah sahabatnya sekarang.


Sebab hanya mereka yang ada di sana menemani langkah kaki berpijak asal kemana takdir membawanya untuk pergi. Berserah pada suratan tapi tak lelah berharap akan datang keajaiban.


Siapa sang Haruk, hanya pemuda merana yang belum menemukan jati diri. Tidak ada yang akan perduli meski Ia mati atau tetap bertahan hidup.

__ADS_1


Sesaat air mata itu meleleh lagi, betapa sedihnya nasib yang di jalaninya, dan itu semua terasa sangat berat dan sulit untuk di hadapi. Setiap waktu Ia harus kuat menahan lapar dan haus.


__ADS_2