
Keesokan harinya setelah di temani Sang putri sarapan, Sang Haruk di ajak ke aula latihan kanuragan. Ia akan di bimbing oleh seorang resi yang sudah tak di ragukan lagi kesaktiannya.
"Sang Haruk apa kau sudah siap?" Tanya Eyang Kala Wijaya.
"Siap eyang, saya akan berusaha semampu saya," jawab Sang Haruk yakin.
"Baiklah, kita lakukan pemanasan dulu, pindahkan air dalam Gending itu ke gentong ini hanya dengan menggunakan gayung sampai habis," tunjuknya pada sebuah wadah berukuran jumbo membuat Sang Haruk terkejut.
"E- eyang, yang benar saja. Masak menggunakan gayung. Apa tidak boleh dengan ember saja," tawar Sang Haruk dengan wajah memelas.
Ia pasti akan kelelahan jika melakukanya karena gayung tersebut pasti memakan waktu yang sangat lama.
Plok!
Eyang Kala Wijaya memukul betis Sang Haruk
"Aduh Eyang, kenapa di pukul sih, sakit ni," protes Sang Lagi seraya monyong.
"Dasar bocah, seharusnya kau itu belum di nobatkan menjadi Raja secepat ini karena sikapmu itu masih ke kanak-kanakkan," jengah Eyang Kala Wijaya.
"Iya baiklah, saya akan melakukan ini, Eyang. Tapi jangan heran jika saya melakukannya secepat angin," dengkus Sang Haruk.
Eyang Kala Wijaya hanya tersenyum. "Buktikan saya bocah tengil, seperti apa ke ahlianmu itu!" Tantangnya balik.
Sang Haruk pun menghentakkan kakinya, lalu melangkah mendekati gending dan memulai aksinya. Tetap seperti di awal, Sang Haruk tidak menyadari kalau Ia mampu melakukan putaran 1000 kali dalam waktu bersamaan.
Pemandangan itu sudah tak di ragukan lagi oleh Eyang Kala Wijaya karena Ia dapat melihat jimat dan cincin yang ada di tangan sang Haruk bersinar dengan sangat terang.
Orang yang tidak punya kemampuan luar biasa tak akan mampu melihat kedua benda tersebut.
"Eyang... aku sudah menyelesaikan tugasku gendingnya sudah kosong!"Teriak Sang Haruk dari tempatnya.
"Bagus, ayo ikut aku!" Ajak Eyang Kala Wijaya yang berjalan lebih dulu disusul oleh Sang Haruk.
Keduanya sampai di sebuah sungai belum pernah Sang Haruk lihat sebelumnya.
"Kamu lihat ember itu?" Tanya Eyang.
"Iya...."
__ADS_1
"Kalau begitu segera isi air, lalu panggul keduanya dengan satu kakimu selama satu jam di bawah terik sinar matahari, dengan satu syarat air tidak boleh ada yang tumpah!" Perintah Eyang lagi.
Sang Haruk pun menurut, Ia tak punya pilihan lain untuk bisa melarikan diri. Usai mengisi kedua ember lekas Sang Haruk melakukan apa yang di perintahkan.
Kali ini tantangannya terasa sulit, berulang kali Sang Haruk terjatuh dan menumpahkan semua air dalam ember.
"Aduh... Eyang susah!" Teriak Sang Haruk.
"Gunakan keseimbanganmu bocah tengil!" Hardik Eyang Kala Wijaya sembari menunggui Sang Haruk.
Beliau kemudian duduk sambil menikmati udara di sungai itu sangat sejuk. Gemuruh air yang jatuh dari selokan menjadi nada tersendiri untuk Sang Haruk.
"Dasar Kakek tua curang, aku di suruh susah payah. Dianya ke enakan duduk," omel Sang Haruk dalam hati. keringat terus bercucuran dari dahinya namun usaha tersebut tetap saja gagal.
"Pokus kan pusat perhatianmu pada satu titik Sang Haruk, atau kau akan selamanya begitu!" Ucap Eyang Kala Wijaya seolah tersenyum meremehkan.
Ingin cepat mengakhiri, pemanasan tersebut. Sang Haruk pun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan begitu barulah Ia memulai menumpu tubuhnya lagi dengan satu kali sampai lama.
"Bagus Sang Haruk, lakukan itu sampai lama!" Titah Eyang, Kala Wijaya sampai merasa sudah cukup waktunya.
Eyang Kala Wijaya kemudian beralih mengajak Sang Haruk duduk di sebuah pesanggrahan, di sana Eyang menyampaikan sesuatu yang membuat Sang Haruk sangat tercengang.
"Oh cincin ini?" Tanya Sang Haruk.
"Benar...!"
"Aku mendapatkannya dari sebuah goa di tengah ular milir Raja ular raksasa dengan syarat harus mengalahkan ribuan anak ular yang menyerang."
Eyang Kala Wijaya mengangguk. Tak di sangka, Sang Haruk memang bukanlah pemuda sembarangan, dia adalah titisan Ular Naga Gandra Puspa yang mati saat berhadapan dengan seorang penyihir perempuan karena kelicikannya.
"Pantas kau telah menjadi Raja anak muda, sebab hanya keturunan Raja yang mampu mendapatkan cincin ini dengan mudah," ujar Eyang Kala Wijaya.
"Benarkah?" Sang Haruk pasti tidak percaya.
"Benar, pergunakan kekuatannya sebaik mungkin Baginda, suatu saat nanti aku akan memberi tahumu bagaimana cara menggunakannya. Untuk hari ini, pemanasan kita sudahi dulu sampai besok pagi!"
Sang Haruk pun membungkuk hormat, dia melihat Eyang Kala Wijaya pergi meninggalkannya seorang diri.
"Apa sehebat itu cincin ini?" Gumam Sang Haruk seorang diri.
__ADS_1
Ia pun berjalan mengitari hamparan bunga yang berada di sekitaran tempat itu sambil terus mencerna setiap ucapan Eyang Kala Wijaya tadi padanya.
"Baginda Raja suamiku...!" Teriak Putri yang tiba-tiba muncul dan berlari ke arahnya hingga menabrak tubuh Sang Haruk sampai tergeletak di atas rerumputan.
"Putri, dari mana kamu tahu aku ada disini?" Tanya Sang Haruk.
Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya sedikit pada Sang istrinya yang selalu saja menghibur hatinya yang gundah gulana.
"Aku kangen, sudah pasti aku tahu dimana pun Baginda Raja pergi. Karena seluruh istana tahu Baginda Raja tengah berlatih kanuragan. Apa yang terjadi tadi pasti melelahkan, bukan?"
Sang Putri mengusap sisa keringat yang masih menggumpal di kening Raja dengan tangan halusnya.
"Aku mencintaimu Putri, sungguh kau adalah wanita yang luar biasa," puji Sang Haruk.
"Terima kasih Suamiku, kau juga pemuda yang hebat," jawab Sang Putri.
Keduanya menghabiskan waktu bercengkrama di tengah taman bunga, bermain kejar-kejaran layaknya orang pacaran.
Sang Haruk memetik setangkai bunga yang Ia selipkan di telinga Putri menambah kecantikan parasnya yang hakiki. Hingga tak terasa senja kembali menghampiri.
"Ayo kita pulang, kamu pasti lelah kan?"
"Tidak, ini sangat menyenangkan," sangkal Sang Putri.
Keduanya jalan beriringan kembali ke Istana. Mereka di sambut oleh para emban yang langsung menyediakan makanan untuk keduanya.
"Silakan Baginda Raja, Tuan Putri, santap lah selagi hangat," ujar Ketua emban keraton.
"Terima kasih Bibi, kalau begitu tinggalkan kami berdua di sini," ucap Sang Putri dengan ramah.
"Baiklah yang mulya Putri, kami undur diri."
Keduanya menghantar Para emban tersebut menghilang dari balik pintu. Mereka kemudian saling menatap satu dengan yang lainnya.
"Biar aku ambilkan minum lebih dulu."
Sang Putri menuangkan satu gelas air dari bejana emas yang memang di perutukkan untuk orang penting di Istana kerajaan terkhusus Raja dan permaisuri baru mereka.
__ADS_1
"Terima kasih Putri, aku tidak mengerti mengapa Putri cepat sekali menerima keberadaanku ini padahal aku tak setampan para pangeran itu." Sang Haruk kembali merendahkan dirinya.