Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 15 Bingung


__ADS_3

Walaupun begitu, Raja segera mengangkat tangan untuk menghentikan tawa pecah mereka. Beliau tidak akan membedakan anggota sayembara yang satu dengan yang lainnya.


"Mohon berhenti, biarkan Sang Haruk menyelesaikan ucapannya!" Ujar Sang Paduka yang mempersilakan Haruk melanjutkan.


"Maafkan saya gusti Prabu, mungkin ini kedengarannya konyol. Tapi saya yakin, hasil yang saya dapatkan adalah anugerah dari Tuhan Yang Esa," jawab Sang Haruk.


"Baiklah, saya akan memenuhi permintaanmu dan membuktikan langsung apakah semua itu benar adanya," tukas Baginda Raja Anta Boga.


Setelah mendapat izin, Haruk dan ke 100 pekerja segera bersiap berangkat ke tempat tujuan membawa 41 kapal terbang ajaib yang di mintanya.


Perjalanan berlangsung sekitar setengah hari, hingga sampai ke tempat di mana pohon beringin itu berada. Tanpa menunggu lagi Sang Haruk mengerahkan para pekerja tersebut menggali emas yang terkandung di dalamnya hingga para pekerja itu tidak mempercayainya.


"Heh, Sang Haruk dari mana kamu tahu ada harta karun di sini?" Tanya salah seorangnya.


"Dari Sang hyang khalid," jawab Haruk seraya tersenyum.


Diam-diam sebagian dari para pekerja itu berusaha menyembunyikan emas ke dalam saku mereka tapi anehnya saat itu juga emas yang mereka curi berubah menjadi lembaran daun bringin.


"Ha, kok bisa?" Tanya mereka penuh keterkejutan.


Haruk yang tahu aksi mereka, diam-diam tidak melihatnya dan membiarkan mereka keheranan sendiri..


"Jangan-jangan, emas dan mutiara ini adalah sihir?" Ucap mereka bisik-bisik.


"Biarkan saja paling Sang Haruk akan di hukum pancung nanti gara-gara menipu Raja," jawab yang lainnya.


Mereka pun terus menggali emas dan mutiara itu sampai tak bersisa hingga beberapa hari barulah selesai. Bahkan 41 Kapal muatan sulit untuk menampung banyaknya ratusan peti yang sudah penuh di dalamnya.


"Ayo kita pulang!" Ajak Ketua pekerja.

__ADS_1


Hari itu juga tepat jatuh pada hari ke 40 hari perjanjian Raja dimana dari 39 Pangeran sudah kembali berkumpul di Istana untuk mendengarkan apa keputusan Raja akan hasil akhir Sayembara itu.


Seluruh penduduk Istana bahkan berduyung-duyung datang untuk turut menyaksikan sendiri siapa Raja generasi berikutnya yang akan menjadi pemimpin mereka.


"Baginda Raja, kenapa acara peresmian belum di mulai?" Tanya Pangeran Aditya yang sudah lelah duduk lama di tempat yang sudah disediakan.


"Benar Baginda, kami ingin mendengar langsung siapakah yang akan menjadi suami dari Putri Karra Sandya sebenarnya," sahut Raden Wijaya.


"Mohon untuk bersabar sebentar, karena kita masih harus menunggu Sang Haruk sampai. Jika hingga sore hari dia tidak menampakan batang hidungnya maka dia akan di diskualifikasi dengan tidak hormat," jawab Sang Raja.


Lama menunggu di bawah terik matahari serta menahan lapar dan haus, Sang Haruk dan para pekerja belum juga terlihat di atas angkasa.


Sedangkan para penduduk mulai ada yang sempoyongan, bahkan sudah ada yang pingsan karena saking antusiasnya melihat acara tersebut.


"Mohon maaf Baginda Raja, matahari sudah condong hampir setengah ke arah barat. Masihkan kita di haruskan menunggu pemuda gembel itu dengan sia-sia. Kurasa dia hanya sedang mempermainkan Baginda," Kata Tuan Arlo salah satu anak mentri.


Tak ingin menunggu harapan yang tidak Pasti, Sang Raja pun angkat bicara lagi. Ia akan mengumumkan siapa Pangeran yang menurutnya beruntung karena sebuah kejujuran dialah yang akan menjadi pemenangnya.


"Baiklah, karena Sang Haruk sepertinya tidak kembali. Maka aku akan segera mengumumkan siapakah pangeran yang akan menjadi istri Karra Sandya dan Raja yang akan menggantikan kedudukanku," Ujar sang Raja.


Sesungguhnya hati Sang Raja sangat gelisah karena Ia meragukan kepemimpinan dari Pangeran yang akan di pilihnya itu apakah sesuai dengan hati Rakyat dan putrinya atau tidak. Karena kedamaian kerajaan cili Rawe bergantung pada kebijakan Raja.


Selang beberapa waktu dalam diam, Raja memerintahkan bawahannya membawa Putri Karra Sandya keluar istana dengan memakai pakaian pengantin.


Sudah tak heran lagi, jika kecantikan parasnya telah tersebar ke pelosok negeri. Semua orang yang melihat Putri pasti akan langsung jatuh hati padanya.


Selain itu, Putri Karra Sandya juga memiliki budi pekerti luhur, ramah dan menghormati siapa saja.


Penduduk yang bernaung di bawah pemerintahan Raja Cili Rawe tak henti-hentinya memanjatkan Doa agar Putri menikah dengan Pemuda yang sama baiknya. Tak lupa juga mereka berdoa agar Suami Putri adalah Raja yang akan membawa pada Kemakmuran Rakyat.

__ADS_1


"Hai Putri, mengapa kau cantik!" Seru Raden Aditya.


"Terima kasih Raden, atas pujian," jawab Putri seraya mengembangkan senyumnya.


Untuk mempersingkat waktu, Raja Anta Boga pun bersiap menyampaikan keputusan akhir. Namun baru saja hendak membuka mulut mereka di kejutkan oleh gerombolan pesawat terbang di langit diikuti awan hitam pekat di sekelilingnya.


"Wah, apa itu?" Tanya para penduduk ketakutan. Mereka mengira itu adalah musuh yang hendak datang menyerang.


Akan tetapi, mereka terkejut saat beberapa pesawat itu lepas landas di lapangan. Seluruh pekerja mengangkut sebagian peti emas dan Mutiara kehadapan Raja di susul oleh Sang Haruk di belakang mereka.


"Apa ini?" Tanya Sang Raja bingung, begitu juga yang lainnya turut tercengang akan apa yang mereka lihat di depan mata.


Ketua pekerja tersebut pun menghadap sambil berlutut, lalu menjawab apa yang sudah diketahuinya selama membantu Sang Haruk.


"Hormat kami Paduka, ini adalah harta karun yang di temukan oleh Sang Haruk. Akan tetapi kami sendiri tidak tahu akan ke aslinya sebab kami melihat sendiri jika emas dan mutiara itu berubah menjauh daun."


"Benarkah?"


Sang Raja lekas memeriksa isi di dalamnya lalu meminta beberapa ahli emas dan mutiara terbaik istana untuk meneliti keaslian dari harta karun tersebut.


Cukup lama melakukan penelitian sesuai kepandaian mereka. Para ahli Emas dan Mutiara itu pun membisikkan sesuatu ke telinga Raja. Kemudian sang Raja memerintah Patih Yoganda membuka kembali pernyataan darinya.


"Baiklah, setelah melakukan pemeriksaan secara mendetail, kami ingin kalian mendengar baik-baik sebagai saksi Sang Haruk. Jika sang Haruk berani menipu Raja dengan emas dan mutiara yang palsu maka dia akan di hukum pancung hari ini juga tapi sebaliknya jika harta itu asli maka dia akan menjadi suami Putri Karra Sandya sekaligus Raja ke 7."


"Alah paling juga palsu!" Teriak salah seorang pangeran lagi meremehkan Sang Haruk.


"Iya Baginda, pancung saja kepalanya tanpa ampun," imbuh tang satu lagi.


Suara dari Rakyat pun turut terdengar, mereka sangat mengharapkan Raja Anta boga tidak salah menentukan keputusan karena akan berdampak pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2