
Sekembalinya dari luar, para emban itu sedikit terkejut melihat seluruh isi makanan telah habis, sedang meja sangatlah kotor oleh tindakan Sang Haruk.
Diam-diam mereka saling senggol menggosip akan perilaku tidak pantas tersebut lalu keluar dengan penampan yang sudah mirip kapal pecah.
Mereka yakin Sang Haruk tadi amatlah kelaparan sehingga beliau tak menyisakan barang sedikit pun di sana. Padahal bukan itu yang di benak Haruk melainkan karena mereka orang-orang istana telah mengecohnya.
Sedang di bilik lain seorang dayang kesayangan terlihat tengah membantu Putri Karra Sandya melepas seluruh perhiasan yang ada di rambutnya.
Kecantikan putri sangatlah memukai, dan itu membuat semua orang bakal iri melihatnya.
Lama dalam diam, Dayang Nirmala pun bertanya tentang apa yang ada di benaknya.
"Putri, kenapa Sang Haruk tidak tidur bersama Putri?"
Nirmala sangat penasaran, sebab Ia melihat sendiri Haruk telah mempersunting Putri dengan cepat sore tadi di aula sayembara.
"Belum Nir, sebab Sang Haruk masih harus di suci kan," jawab Sang Putri kalem.
"Em... iya sih dia sangat kotor dan menjijikkan. Tapi kenapa Putri bersedia dinikahinya?" Tanya Nirmala lagi.
"Tidak papa, karena aku yakin ini sudah jodohku Nir," jawab Putri lagi tanpa beban. Mereka melanjutkan kesibukannya mereka sampai usai.
Malam pun bergulir begitu lambat, Sang Haruk dan Putri sama-sama tidak bisa tidur. Karena di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
Sang Haruk takut di pancung mati dan Sang Putri meragu pada diri Sang Haruk. Tidak percaya rasanya Ia di nikahi oleh seorang pria lusuh dan tidak tampan seperti Sang Haruk.
"Ah apa itu keputusan terbaik?" Gumam Sang Putri dalam hati.
Keesokan harinya saat Fajar baru menyingsing para pelayan pria pilihan Raja datang menghampiri Sang Haruk. Mereka memaksa pemuda itu untuk ikut bersamanya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang melihat.
Haruk di dudukkan di atas sebuah kursi bundar yang terbuat dari rotan. Di sekitaran tempat itu di penuh taman bunga yang sangat menggoda.
"Kalian ma- mau apa?" Tanya Sang Haruk saat melihat Para pelayan pria itu memegang gunting dan alat-alat lainnya.
"Rambutmu harus di potong biar rapi," jawab salah seorangnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Sang Haruk pun pasrah dan membiarkan mereka menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Rambut yang sangat gimbal itu, menjadi tantangan sendiri untuk mereka. Karena gunting saja hampir tidak mampu memotongnya.
"Haruk, apa kau jarang mandi?" Protes mereka sambil menutupi indra penciuman.
"Tiga hari sekali," jawab Haruk jujur.
"Apa, 3 hari sekali?"
"Benar, itu pun kalau ketemu sungai," lanjut Sang Haruk lagi yang diam saja karena membiarkan seseorang menarik lengannya lalu memotongi kuku yang panjang dan hitam itu dengan alat pemotong kuku.
"O ya, sebenarnya kalian ini mau apa melakukan ini padaku?" Tanya Sang Haruk bingung.
Ia mulai merasakan kalau kepalanya sudah lebih ringan dari sebelumnya.
Pasalnya para pelayan pilihan Raja yang dikhususkan di tempat itu berusaha sangat keras supaya berhasil membuang rambut Sang Haruk yang gimbal dan kriting sampai menyisa kan potongan yang tipis saja.
Dari sana barulah para pelayan kaputra itu sadar, jika sebenarnya Sang Haruk memiliki garis ketampanan layaknya Arjuna.
Tak sampai di situ mereka pun meminta Sang Haruk berendam di dalam air suci hangat yang sudah di taburan berbagai bunga di dalamnya agar tubuh Sang Haruk menjadi wangi dan seger.
"Paman ayo mandi, airnya segar sekali!" Ajak Sang Haruk pada orang-orang itu
Saking polosnya, Ia melemparkan percikan air ke arah mereka agar iku bersamanya atau bahkan sengaja mengundang kemarahan mereka.
Rupanya perkiraan Sang Haruk meleset, mereka malah tersenyum akan aksinya yang jarang terjadi di istana.
"Paman, ayo kesini!" Ajak Sang Haruk terus menerus.
"Maaf Pangeran, sebaiknya Pangeran segera membersihkan tubuh karena sebentar lagi acara segera di mulai," ujar salah seorangnya.
"Benar Pangeran," sahut Patih Yoganda yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Ia mengangguk penuh takjub, melihat perubahan Sang Haruk yang bertelanjang dada sangat jauh berbeda dengan Sang Haruk sebelumnya.
__ADS_1
Hampir mustahil rasanya, jika Sang Haruk bisa setampan dan segagah sekarang walaupun agak kurus sedikit.
"Waw, ini luar biasa Pelayan, Dia jadi terlihat sangat tampan dan luar biasa," ucap Patih Yoganda.
"Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik Patih, selebihnya itu karena Sang Haruk memang memiliki ketampanan," jawab salah seorang pelayan.
"Kamu benar, mungkin ini yang di sebut garis tangan terpendam. Tidak ada yang menyangka jika pemuda yang awalnya dari gembel mendadak jadi Raja dengan cara menjadi orang nomor satu di tanah Sumatera ini."
"Benar Sang Patih, ini sangat lah ajaib," jawab mereka kompak.
"Baiklah, kalau begitu teruskan pekerjaanmu supaya lebih cepat selesai sebab semua penduduk sudah mulai berdatangan memenuhi Aula kerajaan sambil berteriak-teriak menyebut nama Sang Haruk!" Titah Pati Yoganda para para pelayan tersebut.
"Baik Tuan, kami akan mempercepat waktu dengan segera," jawab mereka seraya menundukkan kepala sampai Patih Yoganda menghilang dari pandangan.
Para pelayan pria itu pun akhirnya meminta Sang Haruk segera keluar dari dalam air. Mereka harus mendadani Sang Haruk di waktu yang tersisa di dalam sebuah kamar yang berbeda lagi dari tempat tidurnya semalam.
Dengan hati-hati mereka pun memakaikan pakaian mewah yang terbuat dari emas sampai Sang Haruk membulatkan kedua rona matanya.
"Paman, kenapa aku di pakaikan baju ini. Sungguh baju ini terlalu bagus untukku Paman?" Ucap Sang Haruk khawatir.
"Hahaha... kenapa berpikir begitu Pangeran? Ini tidak ada apa-apanya di banding pakaian-pakaian berikutnya yang akan Pangeran pakai," jawab salah seorangnya.
"Ha, benarkah itu?" Tanya Sang Haruk.
"Tentu saja, karena anugerah Pangeran," jawab mereka bersamaan.
Setelah berbagai macam aksesoris menghiasi tubuh Sang Haruk, pemuda itu pun di antar ke aula oleh para pelayan kaputra. Dimana Raja Anta Boga, permaisuri dan Putri Karra Sandya serta penduduk sudah memenuhi tempat itu hingga sesak.
"Wah, itu siapa ya?" Tanya mereka keheranan. Pasalnya pemuda baru itu asing di mata mereka.
"Eh... iya sejak kapan ada pangeran tampan di istana ini?" Seloroh mereka lagi penasaran.
Begitu pula Sang Raja dan keluarga melihat penampilan Sang Haruk, mereka sangat kagum padanya.
"Silakan duduk Pangeran!" Pinta mereka di samping Putri Karra Sandya yang tak henti-hentinya menatap sang Haruk.
__ADS_1
"Selamat siang Putri," sapa Sang Haruk.
"Selamat Siang," jawab Putri kembali dengan penuh rasa hormat.